Satu tahun menjalani hidup dalam situasi pandemi, tentu kita semua telah menyadari dan mengetahui bahwa fenomena global ini bukan hanya perkara kesehatan publik, tetapi juga disrupsi sosial-ekonomi yang mungkin tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Alienasi sosial berganda menjadi ancaman yang mengintai atau bahkan telah dialami beberapa orang yang berjuang bertahan hidup di tengah ketidakajegan kondisi ekonomi dan kesehatan global.

Pandemi dan Lapis Pertama Alienasi

Bagi beberapa orang, khususnya pekerja kantoran di lanskap urban, pandemi telah mengubah sistem kerja secara cukup signifikan. Hilangnya aktivitas meninggalkan dan tiba di rumah, monitor komputer yang terus menyala, kalender digital yang dipenuhi jadwal pertemuan daring, tempat tidur yang bertambah fungsi menjadi tempat kerja. Terjadi peleburan batas-batas antara diri manusia dengan diri pekerja.

Aturan pembatasan sosial dan bekerja dari rumah menyisakan ruang yang amat terbatas bagi manusia untuk bersosialisasi. Teknologi hadir sebagai alternatif, belum sebagai solusi atau substitusi. Pada dasarnya, interaksi makhluk hidup, termasuk manusia, tidak terbatas pada pertukaran verbal. Jaringan internet mungkin membuka ruang pertukaran verbal itu, tapi tidak mampu memenuhi kebutuhan interaksi badaniah.

Baca juga: Privilese "New Normal"

Bahkan saat pertemuan tatap muka secara langsung dapat dilakukan, kita harus menjaga jarak satu sama lain dan meminimalisir kontak fisik. Nilai-nilai keakraban yang biasanya ditunjukkan melalui jabatan tangan dan pelukan menjadi hal yang hampir tidak mungkin dilakukan lagi. Di tempat-tempat umum juga terpasang lusinan tanda yang selalu mengingatkan kita untuk tidak berada terlalu dekat dengan orang lain.

Kewajiban pemakaian masker pada beberapa titik juga menciptakan jarak dengan menghilangkan kemungkinan dan kesempatan melihat ekspresi wajah. Terlebih bagi difabel tuli, masker mengurangi–atau bahkan mungkin menghilangkan sama sekali–pemahaman atas lawan bicara mereka karena sulitnya membaca gerak bibir. 

Dalam upaya pencegahan penularan virus, terjadi amplifikasi luar biasa atas jarak, berjarak, dan keberjarakan. 

Pada taraf tertentu, amplifikasi tersebut akan membawa manusia pada keterasingan dari dunia di luar dirinya sendiri. Tuntutan isolasi sosial dalam waktu yang lama menyimpan risiko alienasi sosial. Manusia tercerabut dari fenomena-fenomena sosial, yakni interaksi yang melibatkan kelima indera, karena sejauh ini teknologi yang ada baru memungkinkan pertukaran verbal dan visual. Sementara itu, temuan-temuan yang berupaya menghadirkan sensasi perabaan, penciuman, dan rasa dalam rentangan spasial sejauh ini masih bersifat representatif dan belum memungkinkan interaksi waktu nyata.


Gig Economy dan Lapis Kedua Alienasi

Pada saat yang sama, pandemi yang kita hadapi saat ini terjadi di tengah periode ekonomi yang tidak bisa dikatakan bersahabat. Gig economy modern merupakan salah satu fenomena global yang turut dirasakan imbasnya oleh Indonesia. Sistem ekonomi global dapat dikatakan semakin jauh dari stabilitas dan keajegan, yang dapat dibaca salah satunya melalui gig economy.Menurut sejarahnya, gig economy ataupun kemunculan pekerja gig sama sekali bukanlah hal yang baru. Konsep tersebut dicetuskan di sekitar awal 1900-an oleh sekelompok musisi jazz di Amerika Serikat yang bekerja secara lepas untuk pertunjukan-pertunjukan kecil di klub-klub musik. Istilah gig dalam perkembangannya pun menjadi lumrah digunakan di dunia seni pertunjukan, khususnya musik.

Baca juga: UU Cipta Kerja, Pertanda Ekonomi Fasis

Pada saat yang sama, istilah gig mengalami perluasan makna dan merujuk pada jenis pekerjaan yang berbasis pada proyek, berbeda dengan jenis pekerjaan konvensional yang dilakukan pada jangka waktu tertentu berdasarkan perjanjian perekrut dengan pekerja. Pekerjaan gig secara umum dinarasikan bisa memberikan kebebasan kepada para pekerja kapan dan di mana mereka melakukan tugas mereka. Kombinasi antara kondisi ekonomi global dan narasi tersebut agaknya mendukung peningkatan tajam jumlah pekerja gig pada satu dekade terakhir.

Sejumlah pengamat mendefinisikan fenomena ini sebagai gig economy modern, untuk membedakannya dengan definisi dan kondisi pekerja gig pada awal kemunculannya. Gig economy modern berkaitan erat dengan perkembangan dan pemanfaatan teknologi digital, seperti aplikasi berbasis telepon pintar yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Secara khusus, kemunculan beragam aplikasi transportasi telah meningkatkan secara signifikan jumlah pekerja gig yang kebanyakan memilih profesi sebagai sopir. Pekerjaan gig modern yang pada awalnya lebih banya dimanfaatkan sebagai peluang untuk menambah pemasukan, kini telah menjadi pekerjaan utama bagi sebagian orang.

Terlepas dari wacana kebebasan yang sering dimunculkan dalam pembahasan tentang perkembangan gig economy, terdapat satu hal yang sering luput dari perhatian, yakni kerentanan para pekerja gig. Pekerja gig benar-benar harus berdikari. Kebebasan yang mereka miliki sebenarnya menyimpan risiko rendahnya hak yang mereka dapatkan sebagai pekerja. Tidak ada pengaturan jam kerja terkadang dimanfaatkan oleh perekrut untuk secara langsung maupun tidak langsung menuntut pekerjanya untuk dapat selalu tersedia. Selain itu, perekrut juga kebanyakan tidak akan menyediakan asuransi kesehatan atau keselamatan pekerja gig. Hal tersebut terkadang diperparah dengan rendahnya pendapatan pekerja gig, karena tidak semua pekerjaan mereka menghasilkan jumlah yang sesuai atau lebih tinggi dari standar upah minimum.

Baca juga: Skenario Ekonomi di Masa Pandemi

Dengan sejumlah situasi tersebut, pekerja gig sering kali tanpa disadari telah tercerabut kemanusiaannya sebagai konsekuensi dari menjadi aspek mekanistik dari kehidupan yang terbagi ke dalam kelas-kelas sosial. Mereka tidak menyadari hal tersebut karena wacana-wacana kebebasan yang memberikan kesadaran palsu terkait situasi yang mereka hadapi sebagai pekerja. Sementara itu, dalam konteks regulasi, pekerja gig juga seringkali tidak masuk dalam aturan-aturan terkait kesejahteraan tenaga kerja karena lemahnya posisi mereka jika dibandingkan dengan pekerja konvensional.

Alienasi Berganda

Pandemi yang terjadi di tengah menguatnya gig economy modern berpotensi tinggi memberikan imbas alienasi sosial berganda yang terjadi dalam konteks sosiologi dan ekonomi pada pekerja gig. Ekonomi global tengah mengalami disrupsi luar biasa yang disebabkan oleh penurunan tingkat produksi dan konsumsi, di samping ketidaksiapan ekonomi sejumlah negara untuk menghadapi situasi krisis yang datang tiba-tiba. Pekerja gig semakin kehilangan pegangan atas kemanusiaannya dan kesejahteraannya sebagai pekerja.

Dalam hal ini, diperlukan kesadaran dalam lapisan berganda juga. Perekrut dan pekerja gig perlu menyadari bahwa “kebebasan” merupakan karakteristik inheren dari sektor pekerjaan tersebut, tapi tidak dapat secara langsung dimaknai sebagai hak pekerja. Selain itu, tren gig economy perlu diantisipasi sebagai suatu fenomena ekonomi dan sosial jangka menengah, atau bahkan jangka panjang. Intervensi strategis diperlukan untuk menjamin hak-hak pekerja gig di tengah kerentanan sistem ekonomi, paling tidak untuk memberi ruang bagi mereka, juga semua pekerja, menjadi manusia yang bekerja, dan bukan manusia pekerja.