Gencarnya isu intoleransi beragama dan berkepercayaan akhir-akhir ini mungkin membuat kita bertanya-tanya apa yang salah dengan pendidikan atau masyarakat kita. Pendidikan berkaitan dengan pengajaran agama dan toleransi yang diberikan di sekolah atau orang tua, dan masyarakat berhubungan dengan relasi sosial yang terbangun di dalam lingkungan yang majemuk. Jari-jari menuding ke beberapa pihak seperti pemerintah dengan ketimpangan regulasinya, kementerian pendidikan dengan kurikulumnya, pemuka agama dengan ajarannya, atau orang tua dengan tuntutan akademis semata kepada anaknya.

Namun dalam tulisan ini saya tidak akan meneruskan sketsa lingkaran tuduh menuduh yang telah terjadi. Refleksi dalam tataran ideologis lebih saya pilih dalam menganalisis fenomena intoleransi agama dan kepercayaan yang terjadi di sekitar saya atau menimpa saya sendiri. Tataran ideologis ini tidak akan merujuk pada satu pihak tertentu untuk dipersalahkan, namun bertujuan untuk membangunkan kesadaran dalam diri masing-masing pembaca baik yang memutuskan untuk memegang kepercayaan tertentu maupun yang tidak.

Dalam hal ini, saya melihat tindakan atau pemikiran intoleran berakar dari alienasi religi yang tercipta secara subtil, hampir tidak dipahami secara sadar atau masuk dalam ruang alam bawah sadar. Konsep alienasi dipopulerkan oleh Hegel, terutama dalam karyanya Phenomenology of Spirit (1807) yang menempatkan alienasi sebagai subyek utama.

Tulisan tersebut merupakan kritik Hegel terhadap filosofi epistemologis Descartes dan Kant yang menyatakan bahwa untuk mengetahui sesuatu, diperlukan penentuan sifat dan kriteria dari ilmu pengetahuan. Sedangkan menurut Hegel, kita harus mengetahui sesuatu yang terjadi dalam proses pengetahuan yang sebenarnya. Jika kesadaran manusia hanya melihat pada yang ada dan hubungannya dengan obyek-obyek yang lain, maka pengetahuan akan terlihat sebagai suatu hal yang telah pasti dan stabil. Dengan cara pemikiran epistemologis, Hegel berpendapat bahwa pemikiran deduktif tidak akan bisa berkembang. Kesadaran manusia terhadap apa yang “muncul” merupakan pusat pemikiran Hegel, membuatnya memilih istilah ‘fenomenologi’ dalam memperkenalkan konsepnya.

Konsep alienasi yang dipopulerkan Hegel kemudian digunakan beberapa pemikir Eropa lain untuk memperkenalkan teori mereka. Salah satunya adalah Ludwig Feuerbach yang menggunakannya untuk menganalisis fenomena agama. Feuerbach merupakan seorang filsuf Jerman yang melahirkan kritik terhadap konsep agama Kristiani yang kemudian menjadi inspirasi bagi Marx, Wagner, dan Nietzsche. Dalam bukunya The Essence of Christianity (1841), ia meneruskan pemikiran teologis Hegel tentang konsep penciptaan. Feuerbach menyebut tulisannya sebagai “esensi antropologis dari agama”, yakni dengan memperlakukan Tuhan dalam berbagai cara, mulai dari Tuhan sebagai pemahaman, sebagai wujud moral dan hukum, sebagai cinta, dan lain-lain.

Konsep Feuerbach sangat menekankan pentingnya kesadaran dalam memahami sifat manusia, berpijak pada teori sifat manusia sebagai wujud spesies. Alienasi religi, menurut Feuerbach, terjadi saat manusia mengalienasi wujud esensialnya dengan menghubungkan kualitas manusia terhadap tuhan yang kemudian disembah karena telah memberikan kualitas-kualitas tersebut pada manusia. Sebagai contoh adalah penyembahan tuhan karena kualitas intelektual manusia karena dianggap kemampuan tersebut merupakan pemberian tuhan. Padahal kualitas tersebut tidak dapat secara langsung diberi makna sebagai hal yang divine (bersifat ketuhanan), namun manusialah yang menempatkannya sebagai sesuatu yang ilahiah. Hal ini mengindikasikan bahwa manusia sendiri pulalah yang memaknai keilahian agama, bukan agama yang menjadikan manusia memiliki sifat divinitas.

Sehubungan dengan konsep penciptaan Feuerbach di mana tuhan tidak lain merupakan proyeksi dari sifat manusia, sehingga secara tidak sadar penyembahan terhadap tuhan merupakan penyembahan terhadap diri sendiri. Dalam taraf ekstrim, penyembahan terhadap tuhan (diri sendiri) akan menutup kesadaran untuk mengakui sifat humanitas dari manusia. Pada titik inilah saya mengembangkan argumen adanya hubungan antara alienasi religi dengan pola pikir intoleran.

Alienasi religi yang membentuk pola pikir bahwa semua sifat dan karakteristik manusia sebagai hal yang bersifat ketuhanan akan mengesampingkan kemampuan manusia untuk menyadari humanitas. Kesengsaraan yang dialami manusia pun dianggap sebagai suatu takdir yang digariskan tuhan, seperti bagaimana masyarakat Abad Pertengahan mempercayai secara mutlak bahwa kehamilan dan proses melahirkan merupakan hukuman turunan yang diberikan tuhan kepada Hawa karena telah termakan godaan ular di Taman Eden. Pada saat itu, konsekuensi yang muncul adalah bagaimana masyarakat lebih mengutamakan ‘bantuan spiritual’ dengan pergi ke gereja daripada menerapkan ilmu kesehatan biologis pada perempuan.

Sedangkan pada masa sekarang ini, alienasi religi membentuk pola pikir egoistis dan individualis yang menempatkan kepatuhan terhadap tuhan dan agama lebih penting daripada menjaga hubungan yang harmonis antar manusia. Masih banyak yang beranggapan bahwa mengambil hak dasar orang lain untuk sekedar hidup dan memenuhi kebutuhannya adalah hal yang diperlukan untuk menjadikan suatu bentuk relijiusitas yang sempurna di mata tuhan. Sehingga tindakan kekerasan terhadap sesama manusia, yang merupakan bentuk pengesampingan kesadaran humanis, ditolerir begitu saja demi kepentingan agama.

Krisis pada taraf ideologis ini memang tidak secara langsung terlihat dari regulasi pemerintah, kurikulum pendidikan, atau materi khutbah, karena membutuhkan pemahaman mendalam tentang filsafat pemikiran, kesadaran, dan humanisme. Namun karena sifatnya yang subtil itulah yang menjadikan krisis tersebut mudah dibungkus dengan hal-hal yang bersifat lebih material seperti dialog, wacana, dan ceramah.

Pada akhirnya, saya tiba pada kesimpulan yang menyatakan bahwa untuk menghadapi intoleransi di masyarakat tidak semudah yang dipikirkan selama ini yakni hanya dengan menambahkan unsur-unsur pemahaman antar agama di buku pelajaran sekolah. Namun lebih pada hal-hal yang bersifat ideologis yakni membentuk kesadaran tentang sifat humanisme sehingga alienasi religius tidak akan mengkungkung pola pikir ke arah egoisitas.