Salah satu konsep yang paling dikenal dalam teori Marxisme dan sosialisme adalah alienasi, yakni sebuah kondisi yang dialami pekerja yang disebabkan oleh berkurangnya nilai dan identitas mereka sebagai manusia karena mereka hanya dinilai menurut dan produksi yang dihasilkan. Alienasi dalam konsep Marxisme juga terkait dengan perasaan dikendalikan atau dikontrol oleh pihak pemilik kekuasaan.

Konsep ini ditawarkan oleh Marx dalam salah satu tulisannya, Economic and Philosophic Manuscripts of 1844 atau yang lebih dikenal dengan Paris Manuscript. Namun sebenarnya konsep ini tidak sepenuhnya dicetuskan oleh Marx, karena kecenderungan negatif dari agama telah dibahas oleh beberapa filsuf sebelumnya.

Dalam salah satu bagian manuskrip yang diberi judul “Alienated Labor – Pekerja yang Teralienasi”, Marx menyampaikan keterasingan (Esntfremdung) manusia dari aspek esensi spesies (Gattungswesen) merupakan konsekuensi dari kehidupan masyarakat yang berkelas. Terdapat empat jenis alienasi pekerja, yakni (a) alienasi terhadap produk mereka, (b) alienasi terhadap tindakan produksi mereka, (c) alienasi terhadap Gattungswesen, dan (d) alienasi terhadap pekerja lain.

Sistem kelas sosial yang bersifat sangat mekanis menyebabkan terasingnya seseorang dari kemanusiaan. Dasar konsep ini adalah pemikiran tentang keadaan kelas pekerja yang kehilangan kemampuannya untuk menentukan hidup dan nasibnya, mengakui tindakan yang dilakukannya, menjalin relasi dengan orang lain, dan memiliki barang dan jasa yang diproduksinya.

Paris Manuscript ditulis pada musim panas 1844 saat Marx menjalani persinggahan singkatnya di Perancis. Tulisan tersebut baru diterbitkan setelah kematian Marx, tepatnya 50 tahun setelah manuskrip tersebut selesai ditulisnya. Dalam tulisan tersebut, Marx menerapkan interpretasinya terhadap teori Ludwig Feuerbach tentang alienasi religius dalam lingkaran ilmu politik ekonomi yang dijabarkannya dalam The Essence of Christianity (1841). Marx mendapati tulisan yang terinspirasi dari filsafat teologi spekulatif oleh Hegel tersebut sangat menginspirasi gagasannya tentang alienasi pekerja. Menurut konsep alienasi Feuerbach, Tuhan sebenarnya merupakan ciptaan manusia dengan berbagai sifat dan kualitas baik yang dibentuknya.

Manusia memproyeksikan sifat-sifatnya sendiri untuk membentuk sosok Tuhan, dan aspek keilahian sesungguhnya diberikan oleh manusia sendiri kepada sosok Tuhan tersebut, dan bukan agama atau Tuhan yang bersifat ilahiah sejak dari asalnya. Tuhan tersebut kemudian disembah atau dipuja dengan ritual atau praktik tertentu.

Dan saat manusia menciptakan sosok Tuhan yang terbuat dari proyeksi diri mereka sendiri, tanpa disadari mereka akan memuja diri mereka sendiri. Karena itulah Feuerbach berpendapat agama adalah suatu bentuk alienasi yang mencegah manusia untuk mencapai kesadaran penuh atas esensi spesiesnya.

Berangkat dari konsep tersebut, Marx mengembangkan pemikirannya tentang alienasi pekerja. Di samping itu, Marx juga dikenal dengan beberapa kritiknya terhadap agama, terutama Kristiani. Salah satu pendapatnya yang paling terkenal adalah ‘Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of a heartless world, and the soul of soulless conditions. It is the opium of the people”. Kalimat ini seringkali dibagikan, diartikan, tidak secara lengkap dan dalam, sehingga memunculkan stigma-stigma tertentu terhadap diri Marx maupun konsep pemikirannya.

Baca ‘Memaknai (lagi) Agama adalah Candu

Dari dua kalimat itu, bisa muncul berbagai interpretasi yang kemudian bisa saja ditunggangi oleh kepentingan tertentu untuk mengarahkan pemaknaannya agar lebih menguntungkan. Namun jika dikaji menggunakan konsep Marxisme, pendapat itu meringkas konsep alienasi religi a la Marx.

Yang membedakan konsep alienasi religi Marx dengan pendahulunya, Feuerbach, adalah pemosisian diskursus reliji di tengah fenomena kehidupan masyarakat yang berkelas. Menurut Marx, agama menjadi salah satu faktor yang dapat menyebabkan orang-orang yang berada di kelas tertindas menjadi teralienasi dari esensinya sendiri sebagai manusia.

Oppressed creature yang dimaksud oleh Marx adalah kelas pekerja yang mengalami opresi dari pemilik modal atau kelas borjuis. Agama yang dipercaya secara berlebihan oleh kelas pekerja bisa menyebabkan bentuk alienasi terhadap Gattungswesen, yakni saat mereka kehilangan kemampuan untuk menjadi kritis dan melawan opresi yang mereka terima.

Yang mereka lakukan hanyalah berkeluh kesah dan berdoa, sambil mempercayai narasi tentang kehidupan yang lebih baik setelah meninggal. Narasi tersebut bersifat mendamaikan, meyakinkan orang-orang yang percaya bahwa kehidupan di dunia yang sengsara ini merupakan takdir yang harus diterima sebelum menikmati kehidupan surgawi yang sempurna dan membahagiakan.

Jika agama seringkali dianggap sebagai kebutuhan jiwa dan spiritual manusia, Marx menganggapnya sebagai hati dari dunia yang tidak berhati dan jiwa dari keadaan yang tidak berjiwa. Interpretasi yang jauh dari unsur kontekstual akan menyebabkan kesalahpahaman besar. Ajaran agama yang sifatnya meneduhkan, atau menumpulkan kesadaran kritis, dianggap oleh Marx sebagai sesuatu yang menghilangkan unsur batiniah manusia yang sebenarnya. Batin dan jiwa manusia merdeka seharusnya diisi dengan kemampuan untuk berpikir kritis dan melawan.

Dan klausa yang paling dikenal, agama adalah candu, menunjukkan implikasi yang jelas tentang kecenderungan Marx melihat agama. Layaknya halusinogen, agama jika dikonsumsi secara berlebihan dan mentah-mentah, maka akan menciptakan suatu keadaan yang mengaburkan kesadaran tentang realitas.

Tanpa adanya keinginan untuk melawan, berdoa dan berharap dengan perasaan yang pasrah adalah hal yang akan dilakukan orang-orang yang terbutakan oleh agama, dan hal tersebut yang dikritik habis-habisan oleh Marx. Agama dalam taraf yang ekstrem, misalnya yang bersifat dogmatis dank aku, dapat membentuk alienasi religi pada diri manusia yang membuatnya terasing dari esensi spesiesnya sebagai makhluk yang bebas untuk berpikir dan bertindak.

Oleh karena itu, alienasi religi tidak bisa dikatakan dialami oleh semua penganut agama. Konsep ini juga tidak bisa dikatakan sebagai ajaran anti agama. Namun merupakan bentuk ekspresi kegelisahan dan kritik terhadap ajaran agama yang tidak memupuk kesadaran kritis dan kesadaran kelas. Ilusi tentang kehidupan surga dengan malaikat dan bidadari yang terlalu sering disampaikan sebaiknya digantikan dengan ajaran yang membuat penganutnya melek dengan realitas dunia yang tidak memanusiakan manusia.