Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Jaringan Media Sosial = Jaringan Impunitas (?)

Kasus kekerasan yang melibatkan oleh A, seorang siswi SMP dan beberapa orang pelajar SMA di Pontianak baru-baru ini telah menjadi pembahasan hangat di media massa dan media sosial. Media sosial berhasil melancarkan ‘sihir’ untuk menggiring pendapat, menggerakkan jemari-jemari di permukaan layar ponsel, menyebarkan kabar dengan sangat cepat. Dan secepat itu juga semuanya berganti arah dalam waktu yang sangat singkat.

(more…)

Mengenal Orde Baru: Genosida

Selama dua dekade terakhir, tepatnya setelah kejatuhan rezim Orde Baru, sejumlah upaya telah dilakukan beberapa kelompok untuk mengkaji ulang peristiwa kekerasan massal yang terjadi di Indonesia pada periode tahun 1965–1966. Salah satunya adalah para peneliti, relawan, dan penyintas yang menginisiasi Peradilan Rakyat Internasional 1965 (International People’s Tribunal of 1965). Putusan final panel hakim menyatakan peristiwa berdarah yang terjadi beririsan dengan pergantian kekuasaan dari Sukarno ke Suharto tersebut sebagai genosida.

(more…)

Menjual Asa, Menebar Tagar

Istilah ‘menjual asa’, ‘mengobral janji’, adalah beberapa dari sekian frasa yang sering kita dengar setiap kali menjelang pemilihan umum. Visi dan misi yang disampaikan oleh para politikus yang bertanding di panggung pemilihan umum seringkali dianggap tidak lain sebagai janji yang diobral. Tidak ada yang salah dari pendapat itu, karena masyarakat punya hak penuh untuk menyampaikan pemikirannya terkait siapa pun yang ada di singgasana politik praktis.

(more…)

Mengenal Orde Baru: Golongan Putih

Sejak pertama kali muncul dan menjadi perbincangan hangat pada tahun 1970-an, kelompok yang menolak untuk berpartisipasi dalam pemilihan umum dan kemudian diberi nama golongan putih selalu berada di posisi tengah; tidak kalah juga tidak menang. Banyak yang mendukung, tidak kalah banyak pula yang tidak setuju, dan bahkan mengecam. Bahkan di negara-negara yang katanya menerapkan sistem dan ideologi politik reformasi, mereka sering dianggap sebagai pemberontak.

(more…)

Kekariban Agama dan Kekuasaan

Beberapa orang di luar sana mungkin tidak akan pernah berhenti menuliskan komentar atau meneriakkan protes: “jangan jual agama (untuk kekuasaan)!” Tapi pada kenyataannya, fenomena yang menunjukkan kekariban agama dan kekuasaan terus saja terjadi, seakan-akan protes itu tidak ada gunanya. Kedekatan dua sistem pemikiran tersebut sebenarnya memang sudah berlangsung dan diamini sangat lama, jauh sebelum mereka yang memilih golput dituding sebagai benalu.

(more…)

Gelanggang Militerisme di Indonesia

Publik Indonesia kembali dibuat ketar-ketir dengan penangkapan Robertus Robert setelah orasinya pada Aksi Kamisan pada 7 Maret 2019. Masyarakat pun sekali lagi terpecah menjadi dua kubu; satu pihak mengecam tindakan Polri yang telah melakukan penangkapan, sementara pihak lain menganggap penangkapan tersebut sebagai hal yang “pantas” bagi Robertus Robet. Ia dituding telah melakukan penghinaan terhadap institusi TNI saat menyampaikan orasi yang disertai dengan menyanyikan salah satu lagu yang sering dikumandangkan oleh para aktivis periode Orde Baru.

(more…)

Mengenal Orde Baru: Golkar

Pemerintahan Orde Baru dikenal mampu bertahan selama lebih dari tiga dekade karena berjayanya Golongan Rakyat sebagai partai politik yang mengusung Suharto dan sejumlah kroninya. Pertama kali didirikan sebagai sebuah kesekretariatan (Sekretariat Bersama Golongan Karya) pada tahun 1964 dan berpartisipasi dalam pemilihan umum untuk pertama kalinya pada 1971, Golkar kemudian terbukti menjadi salah satu partai politik yang paling besar di Indonesia sampai hari ini.

(more…)

Tunduk terhadap Kelompok Fundamentalis (?)

Fenomena menarik terkait ‘jalanan sebagai panggung pergerakan’ harus diakui telah terjadi pada periode reformasi ini. Sebagian dari kita mungkin adalah mereka yang pernah dengan begitu semangat turun ke jalan dengan memakai almamater kampus untuk melawan tirani rezim Orde Baru. Dan mahasiswa pun mendapatkan ‘gelar’nya sebagai penyampai aspirasi masyarakat. Dan kritik terhadap mahasiswa milenial pasca kejatuhan Orde Baru tidak muncul satu atau dua kali saja.

(more…)

Media Sosial, Kebebasan Berekspresi, dan Labelisasi

Sejumlah penulis telah menyampaikan dengan cukup apik analisis mereka terhadap fenomena ‘pertempuran’ antara kelompok Kampret-Cebong. Dua istilah tersebut mungkin tidak akan terdengar saat kita berbincang politik secara tatap muka di sudut sebuah di kedai kopi, tapi merupakan hal yang dapat kita temui hampir setiap hari di jaringan media sosial. Setelah merasakan sendiri berada dalam ‘lingkaran maya’ yang (begitu mudahnya) memberikan label, berikut adalah sedikit catatan saya.

(more…)

Jokowi dan Propaganda Rusia

Tulisan ini merupakan terjemahan dari artikel terbitan RAND Corporation berjudul “The Russian “Firehose of Falsehood”: Why it Might Work and Options to Counter It” yang ditulis oleh Christopher Paul dan Miriam Matthews. Penerjemahan artikel tersebut diharapkan dapat mengarah pada interpretasi yang bersifat lebih logis atas pernyataan Jokowi tentang propaganda Rusia yang dilontarkannya beberapa hari yang lalu. Sejumlah spekulasi muncul setelah pemberitaan naik ke permukaan, dan pada beberapa titik mengarah pada perdebatan horizontal yang kurang sehat.

(more…)
Follow Us