Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Nyawa Manusia di Tangan Algoritma

Sejak pertama kali melanda dunia pada 2019, pandemi Covid-19 telah menunjukkan beragam wajahnya. Begitu banyak aspek yang berkaitan langsung atau paling tidak bersinggungan dengan fenomena global tersebut, melampaui esensi dasarnya sebagai suatu kasus krisis kesehatan. Keragaman tersebut pada beberapa titik berkenaan dengan semakin terkoneksinya negara dan manusia dalam konteks global yang didorong sejumlah faktor, termasuk salah satunya yang paling berpengaruh adalah perkembangan internet dan media sosial.

(more…)

Pandemi bukan Ring Tinju

Situasi yang dihadapi Indonesia akibat pandemi Covid-19 belum juga membaik, jika dapat dikatakan semakin menantang. Peningkatan kasus positif, aktif, bahkan jumlah pasien yang meninggal terus terjadi paling tidak sejak penghujung Juni lalu. Pemerintah pusat pun merespons situasi tersebut dengan instruksi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Namun, agaknya sulit untuk mengatakan kita telah berhasil “mengendalikan” penularan virus ataupun penanganannya. Yang kemudian menarik untuk dibaca lebih lanjut adalah bagaimana kita saling membaca satu sama lain, saling menuding satu sama lain. 

(more…)

Kebebasan: Tarik Menarik antara Retorika dan Utopia

Kebebasan berpendapat masih menjadi salah satu perdebatan terbesar dalam konteks kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Baru-baru ini, respons jajaran rektorat Universitas Indonesia atas kiriman akun resmi BEM UI kembali mengangkat pembahasan tentang kebebasan berpendapat ke permukaan. Seperti kasus-kasus sebelumnya, ada pihak-pihak yang mendukung kebebasan berpendapat –khususnya dalam lingkup kehidupan perguruan tinggi– dan tidak sedikit pula yang menentang atau paling tidak mempertanyakannya.

(more…)

Krisis Politik, Krisis Kesehatan

Selama situasi pandemi terjadi, salah satu hal yang paling sering kita dengar adalah perihal globalitas dari Covid-19. Tingkat ekonomi pun acap kali dijadikan indikator pembukti, yakni bahwa virus Corona bisa menjangkiti siapa pun terlepas kelas ekonominya. Pendapat itu kemudian juga berlaku untuk konteks yang lebih besar, yaitu negara. Kita sudah melihat sendiri pandemi ini tidak hanya menghantam negara-negara berkembang dan miskin, tetapi juga negara-negara maju dan berkembang. Tingkat kesejahteraan negara pada gilirannya berhubungan erat dengan langkah-langkah penanganan dan mitigasi pandemi yang diambil oleh pemerintah dengan nyawa rakyat sebagai taruhannya.

(more…)

Mengambang dengan Pelampung Utang

Indonesia baru saja menerima bantuan utang baru dari Bank Dunia sebesar 800 juta dolar AS atau setara dengan Rp11,36 triliun. Jumlah tersebut menyumbangkan kenaikan pada jumlah total utang Indonesia, yang dicatat oleh Kementerian Keuangan mencapai Rp6.527,29 triliun. Utang terbaru ini kabarnya akan digunakan untuk reformasi sistem kebijakan investasi dan perdagangan, serta membantu percepatan pemulihan ekonomi. Pandemi tentu saja menjadi salah satu faktor jatuhnya kondisi ekonomi nasional dengan penetapan pembatasan sosial dan tergoncangnya rantai produksi dan konsumsi secara umum. Namun, situasi kejatuhan yang kemudian disusul dengan utang bukanlah hal yang baru dilakukan Indonesia sekarang di tengah situasi sulit yang dihadapi oleh hampir semua negara di dunia.

(more…)

KPK = Komisi Empat Era Reformasi (?)

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sempat dielu-elukan sebagai sebuah badan yang dapat mengentaskan Indonesia dari pusaran korupsi. Status awal pembentukannya sebagai badan independen dipercaya akan menjadikannya seekor singa buas yang akan menerkam para pejabat negara yang korup. Namun, semakin ke sini, masyarakat semakin pesimis dengan kemampuan dan sepak terjang organisasi tersebut.

(more…)

Lengsernya Soeharto, Ambruknya Cendana

Pengunduran diri Soeharto pada 21 Mei 1998 dapat dianggap sebagai salah satu babak transisi yang penting dalam linimasa sejarah Indonesia. Memasuki dua puluh tiga tahun kejatuhan Orde Baru, pemberitaan satu bulan terakhir dipenuhi dengan kabar terbaru pewaris harta kekayaan Soeharto, yang terhormat keluarga Cendana. Permainan yang dilakukan keluarga Cendana untuk menumpuk kekayaan akhirnya terkuak.

(more…)

Kesehatan Publik dalam Sistem Kapitalistik

Tanggal 5 Mei lalu, beberapa orang mengingat dan merayakan ulang tahun Karl Marx ke-203. Pengakuan atas perannya sebagai salah satu dari empat pemikir terbesar di dunia cukup sulit dibantah jika mengingat masih cukup banyak pembacaan atas fenomena-fenomena kontemporer dengan kerangka teori atau pemikiran Marx. Salah satunya pembacaan atas pandemi dan isu-isu kesehatan dengan kacamata Marxisme.

(more…)

Alienasi Berganda: Kemelut Pandemi dan Gig Economy

Satu tahun menjalani hidup dalam situasi pandemi, tentu kita semua telah menyadari dan mengetahui bahwa fenomena global ini bukan hanya perkara kesehatan publik, tetapi juga disrupsi sosial-ekonomi yang mungkin tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Alienasi sosial berganda menjadi ancaman yang mengintai atau bahkan telah dialami beberapa orang yang berjuang bertahan hidup di tengah ketidakajegan kondisi ekonomi dan kesehatan global.

(more…)

Pewarisan Ingatan dan Perjuangan Rehumanisasi

Sejak pertama kali dicetuskan pada 1 Juni 1945 sampai hari ini, Pancasila terus digaungkan sebagai falsafah negara yang menjadi dasar perancangan perundang-undangan dan pengendali kehidupan sosial. Sila kedua dari Pancasila, kemanusiaan yang adil dan beradab, menyiratkan harapan akan sebuah lingkup masyarakat yang menjadikan nilai-nilai kemanusiaan sebagai landasan tatanan sosial. Namun dalam perjalanan negara dan bangsa ini, Pancasila telah dijadikan tunggangan atau tameng politik untuk menutupi kebobrokan dan keserakahan pemerintah, khususnya berkaitan dengan upaya pemertahanan kekuasaan. 

(more…)
Follow Us