Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Bunga Penutup Abad yang Tidak Mekar dengan Sempurna

Saya pikir semua penonton yang hadir pada pertunjukan teater bertajuk Bunga Penutup Abad, selanjutnya disebut dengan BPA, di gedung Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta memiliki ekspektasi dalam kepala mereka masing-masing. Ekspektasi itu bahkan mungkin sudah terbangun sejak jauh-jauh hari pementasan, yang salah satunya dapat terlihat dari penjualan tiket yang laku keras. Saya diberi kesempatan untuk bisa hadir pada pertunjukan hari pertama, tanggal 16 November 2018, yang dikhususkan untuk tamu undangan dan media massa. Dan walaupun saya tidak perlu turut dalam kompetisi pembelian tiket, tetap saja dalam kepala saya sudah ada satu konstruksi ekspektasi dari pertunjukan tersebut.

(more…)

Kritik terhadap Segregasi Ruang Domestik/Ruang Publik Perempuan dalam Novel Trilogi Putu Oka Sukanta

Wacana terkait ruang domestik dan ruang publik hampir tidak pernah luput dari ranah kajian feminisme. Hal ini berhubungan erat dengan gagasan ‘perempuan ideal’ yang dikaitkan dengan ruang-ruang di mana mereka sepatutnya berada. Secara historis, fenomena sosial ini telah dialami perempuan paling tidak sejak periode Yunani Kuno dan kemudian bertahan selama berabad-abad di negara-negara Barat (Vickery, 1993: 414), dikenal dengan istilah separate sphere.

(more…)

Negara (Masih) Mengukuhkan Kecemasan Massal

Bagi beberapa kelompok masyarakat di Indonesia, memasuki bulan September di setiap tahun terasa lebih menarik daripada perayaan kemerdekaan pada bulan sebelumnya. Jika pencapaian kemerdekaan negara pada 17 Agustus 1945 telah dianggap sebagai suatu hal yang tidak perlu, bahkan mungkin tidak bisa dipertentangkan lagi; hal yang berbeda terjadi dengan narasi tentang peristiwa malam 30 September 1965. Jika kita mau membuka mata lebih lebar dan menyadari riak-riak yang bergerak di tengah-tengah masyarakat, maka akan ditemukan begitu banyak paradoks.

(more…)

Ruang Sunyi di Tengah Gemerlap Kota

Kepergian saya ke Yogyakarta pada awalnya hanya didasarkan pada kebutuhan memperoleh data tambahan untuk penelitian tesis saya tentang naskah wayang. Walaupun ini bukan pertama kalinya bagi saya mendatangi kota tersebut, ada satu kesempatan yang tidak saya peroleh pada perjalanan sebelumnya yang membuat kepergian yang terakhir ini terasa lebih menarik.

(more…)

Mengenal Orde Baru: Genjer-Genjer

Saya masih ingat saat pertama kali ibu saya memasak sayur genjer untuk kudapan makan siang, jenis tanaman sayur yang namanya tidak diperkenalkan saat di sekolah seperti bayam atau kangkung. Tanpa diminta, ada sebuah kisah yang keluar dari mulut ibu saya sambil tangannya sibuk mengolah sayur tersebut. Cerita tentang sebuah lagu berjudul Genjer-Genjer yang ia sendiri sudah tidak ingat liriknya, cuma bisa mendehamkan irama dan nadanya.

(more…)

Postmemory dalam Skema Penyintas Tragedi G30S: Menjaga Ruang Tumbuh bagi Narasi Kecil

Kajian ilmu humaniora dan budaya agaknya memang tengah gencar-gencarnya ‘diserang’ oleh gejala post-, yang bisa diterjemahkan secara harfiah sebagai pasca. Paling tidak diskursus post-truth atau pasca kebenaran merupakan salah satu hal yang paling sering dibahas dan didiskusikan akhir-akhir ini. Kemudian, masih dalam kerangka konsep pasca-, baru saja saya mengikuti sebuah diskusi yang membahas tentang konsep postmemory.

(more…)

Utopia Kebebasan Ekspresi di Indonesia Mendatang

Mendekati hari yang digadang-gadangkan sebagai perayaan kemerdekaan negara Indonesia, publik dibuat tercengang dengan berita tentang pasangan calon presiden dan wakil presiden yang akan berlaga di Pemilu raya tahun depan. Paling tidak hal tersebut terbaca dari komentar-komentar masyarakat di media sosial terkait pasangan Jokowi-Maruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno yang menunjukkan kebingungan untuk memilih di antara kedua pasangan calon pemimpin pusat tersebut.

(more…)

Politik Kekuasaan dalam Kasus Tahanan Nurani

Istilah tahanan nurani yang merupakan terjemahan dari prisoner of conscious mungkin tidak terlalu sering didengar dibandingkan tahanan perang atau tahanan politik di Indonesia. Walaupun begitu, sesungguhnya istilah ini telah digunakan dalam dokumen Pernyataan Publik Amnesty International edisi 17 Juni 2014 yang membahas kasus pemenjaraan pemimpin komunitas Syiah, Tajul Muluk. Tulisan ini akan membahas lebih dalam istilah tahanan nurani untuk memberikan pemahaman lebih mendalam tentang fenomena-fenomena yang terjadi di lingkungan masyarakat Indonesia.

(more…)

Perempuan Sudah Sekolah, Lalu?

Tulisan ini sesungguhnya merupakan bagian dari keluhan pribadi atas beberapa hal yang menimpa saya berkaitan dengan identitas ‘gender’ saya sebagai perempuan. ‘Gender’ saya beri tanda kutip karena menjadi penekanan tersendiri dalam tulisan kali ini, merujuk pada konsepsi konstruksi sosial yang sebenarnya tidak berlaku seiringan dengan jenis kelamin saya. Beberapa hal yang akan saya sampaikan di bawah ini mungkin bukan hal yang besar bagi beberapa pembaca, namun cukup menganggu kesadaran saya sebagai seorang perempuan.

(more…)