Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Obsesi Negara dengan Ketertiban

Setelah pengesahan RUU Cipta Kerja pada 5 Oktober 2020 yang berbuntut dengan demonstrasi besar-besaran di sejumlah daerah di Indonesia, DPR kembali merancang RUU lain yang juga mendapatkan respon keras dari masyarakat, yakni RUU Larangan Minuman Beralkohol. Pengusulan dan penyusunan RUU tersebut disebut-sebut didasarkan pada satu harapan atau cita-cita, yakni “demi ketertiban negara.”

(more…)

Militer dan Homofobia

Berita tentang pencopotan anggota militer yang ditengarai disebabkan oleh orientasi seksual sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Bagaimana tidak, negara Indonesia dan masyarakat yang hidup di dalamnya secara umum terpaku dengan konstruksi heteronormativitas dan gender biner, cenderung menunjukkan gelagat penolakan terhadap penggambaran, representasi, apalagi ekspresi yang dianggap tidak sesuai dengan dua hal tersebut. Apalagi dalam lingkup institusi militer yang menuntut kepatuhan atas perintah dan moralitas.

(more…)

Kelindan Pelanggaran Hak Cipta dan Sensor

Dunia perfilman Indonesia untuk sekian kalinya menjadi pembahasan publik karena peristiwa yang kurang menyenangkan. Beberapa bulan lalu, media sosial diramaikan dengan keberatan publik dengan penayangan Kucumbu Tubuh Indahku karena memunculkan penceritaan tentang identitas seksual di luar nilai normatif. Serangan terhadap film memang bukan hal baru di Indonesia, bahkan memiliki sejarah yang cukup panjang. Dan kasus yang baru saja terjadi bahkan melibatkan institusi negara sebagai pelaku tindakan pelanggaran hak cipta dan pemotongan karya.

(more…)

UU Cipta Kerja, Pertanda Ekonomi Fasisme

Rasanya saya tidak perlu menjelaskan dalam bagian tersendiri pada tulisan ini tentang UU Cipta Kerja yang telah disahkan oleh DPR RI melalui rapat paripurna pada Senin, 5 Oktober 2020. Sudah begitu banyak tulisan panjang, status media sosial, dan bahkan utas cuitan yang menjelaskan dengan cukup terperinci isi dari undang-undang tersebut dan mengapa penetapannya perlu direspons secara kritis oleh masyarakat.

(more…)

Paceklik Pendidikan di Masa Pandemi

Beredarnya berita terkait mata pelajaran Sejarah untuk peserta didik tingkat SMA/SMK sederajat seketika menghebohkan publik. Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) sudah membuat petisi di situs Change.org yang menyatakan ketidaksetujuan mereka dengan wacana yang digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut. Sejarawan juga sudah angkat bicara melalui akun media sosial mereka. Kebanyakan dari komentar mereka menganggap pelajaran Sejarah penting untuk membentuk jati diri dan karakter bangsa.

(more…)

Negara Kesatuan Preman

Pernyataan Wakapolri Komjen Pol Gatot Eddy Pramono baru-baru ini terkait rencana memanfaatkan tenaga preman sebagai strategi pendisiplinan publik dalam upaya menekan penyebaran virus COVID-19 mengingatkan kita pada masa-masa yang sudah lampau. Penggerakan massa preman bukan hal yang baru dalam sejarah negara ini, bahkan menurut penelitian sejarah dapat ditelusuri jejaknya sampai masa periode Kerajaan Medang. Preman atau jagoan juga berperan cukup penting pada periode Revolusi, kemudian dimanfaatkan oleh pemerintah Orde Baru sebagai salah satu strategi pemertahanan kekuasaan. 

(more…)

Ciracas dan Dendam Tak Tuntas

Proses hukum untuk kasus perusakan Kantor Polsek Ciracas yang terjadi pada Sabtu dini hari, 29 Agustus 2020, masih berlangsung. Beberapa orang yang terlibat dalam penyerangan dan pembakaran tersebut adalah anggota TNI. Konflik yang melibatkan anggota TNI dengan POLRI bukanlah hal yang baru terjadi, dan peristiwa Ciracas mengimplikasikan dendam yang tak kunjung tuntas antara dua institusi tersebut.

(more…)

Mbak Dian, Kamu Tidak Sendirian

Setelah menjadi perbincangan (baca: perdebatan) di antara para pengguna media sosial, wajah dari tokoh utama film Tilik, Bu Tedjo, semakin mudah ditemukan di jagat internet dalam bentuk meme dan stiker. Beberapa perbincangan kebanyakan menempatkan Bu Tedjo–yang di film tersebut menjadi penyulut pergunjingan–sebagai bahan pembicaraan, mulai dari cara berbicaranya, ekspresi dan mimik wajahnya, dan tentu dialog-dialog yang disampaikan. Namun tulisan ini saya tujukan untuk Mbak Dian, tokoh yang dibicarakan di sepanjang film tersebut.

(more…)

Pertentangan Tagar dan Dasar

Penangkapan Jerinx SID pada beberapa hari lalu seketika menjadi pembahasan hangat di masyarakat, terutama pengguna media sosial. Sebelum penangkapan tersebut, pernyataan-pernyataan Jerinx terkait pandemi COVID-19 cukup sering ditentang. Namun wacana lain berkembang beberapa hari setelah penangkapannya, yakni pembelaan atasnya dan kebebasan berpendapat.

(more…)

Ambivalensi Media Sosial bagi Perempuan dan Gender Non-Biner

Internet dan media sosial telah memberikan kesempatan dan ruang yang lebih luas bagi perempuan dan gender non-biner untuk hadir dan bersuara, baik secara individu maupun dalam kelompok. Dalam beberapa tahun terakhir, gerakan yang dibentuk dengan tujuan mendobrak dan menentang nilai-nilai patriarki dan norma-norma seksisme, serta mendorong solidaritas pun tumbuh dari ruang media sosial. Namun apakah sosial media benar-benar telah menjadi rumah bagi perempuan dan gender non-biner?

(more…)
Follow Us