Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Mengambang dengan Pelampung Utang

Indonesia baru saja menerima bantuan utang baru dari Bank Dunia sebesar 800 juta dolar AS atau setara dengan Rp11,36 triliun. Jumlah tersebut menyumbangkan kenaikan pada jumlah total utang Indonesia, yang dicatat oleh Kementerian Keuangan mencapai Rp6.527,29 triliun. Utang terbaru ini kabarnya akan digunakan untuk reformasi sistem kebijakan investasi dan perdagangan, serta membantu percepatan pemulihan ekonomi. Pandemi tentu saja menjadi salah satu faktor jatuhnya kondisi ekonomi nasional dengan penetapan pembatasan sosial dan tergoncangnya rantai produksi dan konsumsi secara umum. Namun, situasi kejatuhan yang kemudian disusul dengan utang bukanlah hal yang baru dilakukan Indonesia sekarang di tengah situasi sulit yang dihadapi oleh hampir semua negara di dunia.

(more…)

KPK = Komisi Empat Era Reformasi (?)

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sempat dielu-elukan sebagai sebuah badan yang dapat mengentaskan Indonesia dari pusaran korupsi. Status awal pembentukannya sebagai badan independen dipercaya akan menjadikannya seekor singa buas yang akan menerkam para pejabat negara yang korup. Namun, semakin ke sini, masyarakat semakin pesimis dengan kemampuan dan sepak terjang organisasi tersebut.

(more…)

Lengsernya Soeharto, Ambruknya Cendana

Pengunduran diri Soeharto pada 21 Mei 1998 dapat dianggap sebagai salah satu babak transisi yang penting dalam linimasa sejarah Indonesia. Memasuki dua puluh tiga tahun kejatuhan Orde Baru, pemberitaan satu bulan terakhir dipenuhi dengan kabar terbaru pewaris harta kekayaan Soeharto, yang terhormat keluarga Cendana. Permainan yang dilakukan keluarga Cendana untuk menumpuk kekayaan akhirnya terkuak.

(more…)

Kesehatan Publik dalam Sistem Kapitalistik

Tanggal 5 Mei lalu, beberapa orang mengingat dan merayakan ulang tahun Karl Marx ke-203. Pengakuan atas perannya sebagai salah satu dari empat pemikir terbesar di dunia cukup sulit dibantah jika mengingat masih cukup banyak pembacaan atas fenomena-fenomena kontemporer dengan kerangka teori atau pemikiran Marx. Salah satunya pembacaan atas pandemi dan isu-isu kesehatan dengan kacamata Marxisme.

(more…)

Alienasi Berganda: Kemelut Pandemi dan Gig Economy

Satu tahun menjalani hidup dalam situasi pandemi, tentu kita semua telah menyadari dan mengetahui bahwa fenomena global ini bukan hanya perkara kesehatan publik, tetapi juga disrupsi sosial-ekonomi yang mungkin tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Alienasi sosial berganda menjadi ancaman yang mengintai atau bahkan telah dialami beberapa orang yang berjuang bertahan hidup di tengah ketidakajegan kondisi ekonomi dan kesehatan global.

(more…)

Pewarisan Ingatan dan Perjuangan Rehumanisasi

Sejak pertama kali dicetuskan pada 1 Juni 1945 sampai hari ini, Pancasila terus digaungkan sebagai falsafah negara yang menjadi dasar perancangan perundang-undangan dan pengendali kehidupan sosial. Sila kedua dari Pancasila, kemanusiaan yang adil dan beradab, menyiratkan harapan akan sebuah lingkup masyarakat yang menjadikan nilai-nilai kemanusiaan sebagai landasan tatanan sosial. Namun dalam perjalanan negara dan bangsa ini, Pancasila telah dijadikan tunggangan atau tameng politik untuk menutupi kebobrokan dan keserakahan pemerintah, khususnya berkaitan dengan upaya pemertahanan kekuasaan. 

(more…)

Kekuasaan dalam Pembahasaan Perempuan

Selama menjadi siswa jurusan Bahasa di SMA, lalu meneruskan studi di perguruan tinggi mengambil jurusan Bahasa dan Sastra, saya mendapati satu paradigma teori mendasar yang dangkal terkait eksistensi dan fungsi bahasa. Yakni bahasa adalah perantara komunikasi atau produk kebudayaan yang luhur. Pendidikan bahasa dengan paradigma tersebut membentuk pemikiran bahwa bahasa tidak memiliki implikasi yang amat berpengaruh dalam kehidupan manusia sebagai anggota dari suatu kelompok masyarakat.

(more…)

Nahas karena Beras

“Tidak, soal makanan rakyat ini tidak dapat dipecahkan dengan cynisme, dengan sekadar menuduh, dengan sekadar mencemooh. Sebab kesulitan soal ini terletak obyektif kepada ketidak-seimbangan antara produksi dan konsumsi, antara persediaan yang ada dan jumlah mulut yang memakannya, dan tidak subyektif karena durhakanya sesuatu orang. Tiap tahun, zonder kecuali, zonder pause, zonder ampun, soal beras ini akan datang – dan akan datang crescendo – makin lama makin hebat – makin lama makin sengit – makin lama makin ngeri – selama tambahnya penduduk yang cepat itu tidak kita imbangi dengan tambahnya persediaan bahan makanan yang cepat pula!”

(more…)

Berkilah Limbah

Aturan turunan dari Undang-Undang No. 11/2020–atau yang lebih dikenal dengan UU Cipta Kerja–yakni PP No. 22/2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang ditetapkan dan diundangkan pada 2 Februari lalu menuai kecaman dari sejumlah pihak, khususnya kelompok aktivis lingkungan hidup. Kecaman tersebut terbit akibat adanya pengubahan pada status sejumlah limbah dari yang sebelumnya tergolong sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) sebagaimana diatur dalam PP No. 10/2014 tentang Pengelolaan Limbah Berbahaya dan Beracun.

(more…)

Perempuan di Kumparan Pendidikan–Agama–Politik

Penetapan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri antara Mendikbud, Mendagri dan Menag yang mengatur penggunaan seragam dan atribut di lingkungan pendidikan oleh peserta didik, guru dan tenaga pendidik –seperti yang telah diduga– memicu polemik di masyarakat. Pembahasan tentang pemakaian jilbab oleh siswa perempuan di sekolah sebenarnya bukan hal yang baru dalam dunia pendidikan Indonesia.

(more…)
Follow Us