Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Sikap Positif terhadap Tubuh Bukan Budaya Kita

Kiriman foto Tara Basro yang menunjukkan lipatan perut di akun Instagramnya pada 3 Maret 2020 rupanya mengundang respon yang–sepertinya–tidak pernah dibayangkan oleh dirinya sendiri atau para pengguna media sosial yang familiar dengan gerakan body positivity atau sikap positif terhadap tubuh. Kominfo mengeluarkan pernyataan bahwa kiriman tersebut merupakan konten pornografi, menunjukkan bagaimana gerakan tersebut “bukan budaya kita”.

(more…)

Meninabobokan Wabah

Sampai hari ini, pemerintah Indonesia masih terus melancarkan “propaganda ninabobo” terkait wabah virus Corona, di saat sejumlah negara lain telah melakukan tindakan-tindakan medis yang bertujuan untuk menangani pasien yang dicurigai dan positif terjangkit virus Corona, dan mencegah penyebarannya. Dan tentu saja propaganda semacam itu bukanlah hal pertama yang pernah dilakukan oleh pemerintah.

(more…)

Pemerintah Bukan Orang Tua, Masyarakat Bukan Anak

Kemunculan berita tentang RUU Ketahanan Keluarga yang diikuti dengan pendapat Dwi Purnowo, Staf Khusus Presiden, berlanjut dengan diskusi di laman media sosial, meja makan kantor, dan ruang obrolan daring. Sebagian besar pembicaraan mempermasalahkan intervensi pemerintah terhadap urusan domestik yang dianggap terlalu berlebihan.

(more…)

Mengenal Orde Baru: Harmoko

Semasa Suharto menjadi pemegang kekuasaan tertinggi di Indonesia, hampir tidak pernah ada hari tanpa kemunculan wajah Harmoko di layar televisi, terutama siaran TVRI. Ia pernah benar-benar mencapai kejayaan karier dengan menjadi Ketua Umum Golkar, Menteri Penerangan, Ketua DPR dan Ketua MPR. Di tengah puncak kariernya, nama Harmoko sempat menjadi guyonan masyarakat Indonesia yang menjadikannya sebagai akronim dari HARi-hari oMOng KOsong.

(more…)

Pertentangan Kelas adalah Pertentangan Waktu

“Jangan bangga dengan overwork“–kira-kira seperti itulah pesan yang beberapa bulan terakhir sering muncul dalam kiriman yang diedarkan oleh jaringan media sosial saya. Sebagai seorang pekerja, kiriman semacam itu sering kali membuat saya terhenyak lalu berpikir selama beberapa saat. Memikirkan tentang definisi overwork, kewajiban dan hak pekerja, dan menimbang-nimbang hal-hal yang telah terjadi pada diri saya sendiri.

(more…)

(Mungkin) Kita Semua adalah Penganut Kultus

Kemunculan berita tentang Keraton Agung Sejagat, yang kemudian disusul dengan pemberitaan tentang Sunda Empire kembali menarik perhatian publik Indonesia. Beberapa tahun sebelumnya, nama Lia Eden menjadi bahan pembicaraan utama di kalangan masyarakat dengan kelompok Salamullah yang dilarang oleh MUI pada 1997 dan kemudian berganti nama menjadi Kaum Eden pada 2003, sampai pada penangkapannya pada 2005. Yang menarik kemudian, label “agama sesat”, “kelompok sesat”, atau “kelompok kultus” disematkan dan disebarkan seakan telah ada suatu konsensus yang disetujui oleh masyarakat.

(more…)

Bencana ‘Alam’ Sudah Punah

Masih relevankah menyalahkan hujan untuk peristiwa banjir dan tanah longsor, menuding lempeng tektonik sebagai penyebab gempa bumi? Sampai kapan menggerutu tentang perubahan iklim? Apakah masih ada di dunia ini yang dinamakan bencana ‘alam’? Sejumlah pertanyaan itu mengganggu benak saya selama beberapa hari terakhir, tepatnya setelah banjir melanda kawasan Jabodetabek, dan beranda media sosial dipenuhi dengan segala macam pemberitaan dan opini.

(more…)

Mengenal Orde Baru: Hilang

Sejumlah orang di kalangan masyarakat Indonesia menyimpan luka mendalam terkait sejumlah peristiwa yang pernah terjadi saat rezim Orde Baru berkuasa. Salah satunya adalah kawan saya di Malang yang sempat menceritakan kegundahan hati dan rasa penasaran dalam benaknya setelah mengetahui dari orang tuanya bahwa kakeknya tidak pernah kembali semenjak suatu malam di akhir tahun 1965. Kakek dari kawan saya tersebut tentu saja hanya salah satu dari sejumlah orang yang hilang (baca: dihilangkan) di tangan rezim Orde Baru.

(more…)

Pancasila, Masih Relevankah sebagai Tolok Ukur?

Suara-suara kekecewaan memenuhi ruang-ruang dunia maya, beberapa diikuti dengan tuntutan agar Menteri Agama Fachrul Razi dicopot dari jabatannya. Keputusannya untuk memperpanjang izin organisasi Front Pembela Islam (FPI) menuai kecaman publik. Fachrul Razi berpendapat FPI telah menyatakan kesediaannya untuk patuh pada Pancasila. Pancasila pun –sekali lagi– menjadi tolok ukur untuk menentukan nasib sebuah organisasi atau kelompok. Namun apakah Pancasila memang masih relevan untuk dijadikan sebagai tolok ukur?

(more…)
Follow Us