Judul Buku: Bunga Tabur Terakhir: Cinta, Dendam, dan Karma di Balik Tragedi ’65

Penulis: GM Sudarta

Tahun: 2011

Penerbit: GalangPress

Jumlah Halaman: 156

Tragedi 65 sudah dikaji sebagai salah satu fenomena besar di lini masa perkembangan negara Indonesia dengan beberapa pendekatan ilmu seperti sosial, politik, dan sejarah, bahkan juga cukup sering menjadi inspirasi untuk karya sastra maupun seni. Layaknya bintang panggung yang tidak pernah habis pesonanya, tragedi 65 juga hampir tidak pernah berhenti menelisik di rongga-rongga literasi fiksi maupun non-fiksi selama berpuluh tahun. Dalam buku ini, GM Sudarta -yang juga tenar dikenal sebagai Oom Pasikom- memberikan suatu dimensi baru dalam ‘pemanfaatan’ fenomena tragedi 65 sebagai inspirasi karya sastra, terutama fiksi.

Terdapat sepuluh karya cerpen yang terkumpul menjadi satu buku berjudul Bunga Tabur Terakhir: Cinta, Dendam, dan Karma di Balik Tragedi ’65. Kesepuluh cerita tersebut tidak dituturkan sebagai satu rangkaian berurutan dari awal sampai akhir, cenderung tidak berkaitan dalam gagasan utama, namun memiliki benang merah latar yang sama; yakni bahwa semua lakon bermain di latar tempat yang tidak berjauhan walaupun tidak bisa dibilang sama persis pula. Para pembaca dibuat membayangkan tentang sebuah desa pada tahun-tahun pasca G30S 1965 di mana terjadi penangkapan masyarakat, penyiksaan fisik dan mental, bahkan pembunuhan. Latar seperti itu mungkin bisa kita temui di buku teks sejarah, namun GM Sudarta mampu menambahkan bumbu-bumbu fiksi yang tidak hanya menggugah perasaan iba atau prihatin atas kejahatan kemanusiaan yang digambarkan, namun juga sensasi tegang, takut, namun juga tersipu.

Penulis mampu membawa pembaca serasa melihat dengan langsung sekuen peristiwa yang terjadi. Dendam dan kengerian bisa dirasakan pada sebagian besar cerita yang digunakan oleh penulis untuk mengaduk-aduk kejadian traumatis tersebut menjadi sebuah konstruksi atas peristiwa sejarah yang disuguhkannya kepada pembaca. Di saat yang sama, kisah percintaan Trimo dan Maryam yang bersemi pada masa sebelum tragedi 65 dan pupus dengan pahit di kemudian hari, yang diceritakan dalam cerpen Bunga Tabur Terakhir juga menyiratkan betapa hal sederhana seperti cinta kasih tidak lagi dianggap sebagai pendamai atau penyelamat di kala krisis seperti itu.

Walaupun bukan merupakan sebuah buku teks sejarah, dan lebih tepat disebut dengan karya fiksi sejarah, karya kumpulan cerpen yang disertai dengan ilustrasi gambaran sang penulisnya sendiri ini dapat dianggap sebagai karya sastra yang patut dibaca oleh siapa pun yang tertarik dengan sejarah modern Indonesia, terutama tragedi 65. Buku ini mampu membentuk konstruksi perasaan dan kebatinan para pembaca yang mungkin tidak bisa disampaikan oleh buku teks sejarah, sehingga bahan bacaan ini disarankan untuk dinikmati sebagai pelengkap dari literasi-literasi berbasis penelitian.