Dalam tulisan ini saya tidak akan mengelu-elukan sosok Via Vallen secara berlebihan atau mengambil sudut pandang sebagai orang yang mengidolakannya. Yang akan menjadi fokus pembahasan dari tulisan ini adalah respon yang diberikan Via melalui akun media sosialnya setelah merasa dilecehkan oleh seorang pemain sepakbola. Berikut adalah kata-kata yang disampaikannya melalui akun Instagram @viavallen: ‘Nggak kenal dan nggak pernah ketemu tiba2 nge DM dan ngirim text gambar kayak gini. As a singer, I was being humiliated by a famous football player in my country RIGHT NOW. I’AM NOT A KIND THAT GIRL, DUDE!!!’ Adapun pesan yang dikirim oleh pemain sepak bola itu adalah ‘I want u sign for me in my bedroom, wearing sexy clothes…’

Jika menurut Nikita Mirzani tindakan yang dilakukan Via dengan menceritakan kepada publik apa yang dialaminya dan menganggapnya sebagai aksi pelecehan merupakan hal yang ‘lebay’ atau berlebihan, maka kita akan semakin menyadari arena pertarungan antar perempuan yang ada di sekitar kita. Pertarungan antar perempuan ini seringkali lewat dari perhatian pergerakan feminisme. Kita mungkin sudah hapal dengan tuntutan dan upaya perlawanan terhadap budaya dan sistem patriarki dan dunia androsentris. Namun kita sering terlupa medan pertempuran lain yang tidak kalah berbahayanya.

Apresiasi perlu diberikan kepada Via atas upayanya untuk melawan tindakan yang menurutnya mengganggu haknya sebagai seorang individu. Ia sadar benar eksistensinya sebagai manusia dan perempuan yang punya hak untuk tidak mendapatkan kekerasan verbal, fisik, maupun tekstual. Bahkan menurut saya, pendapat Nikita yang bermasalah dalam hal ini. Menurutnya, pelecehan sebenarnya baru terjadi jika meliputi aspek fisik, misalnya dipegang-pegang. Logika ini tidak bisa dibenarkan karena melanggar konsep hak personal individu untuk merasa aman. Jika menurut Nikita suatu tindakan bisa dianggap pelecehan jika melibatkan tubuh perempuan, maka hal tersebut sepertinya tidak berlaku bagi Via. Menurut Via, pesan yang dikirim oleh pemain sepak bola kepada dirinya sudah merupakan bentuk pelecehan, dan hal tersebut perlu diapresiasi.

Masing-masing orang, tidak peduli jenis kelamin, penampilan, dan segala abstraksi tentang identitas lainnya, memiliki hak untuk tidak diserang atau dilecehkan oleh orang lain. Oleh karena itu, masing-masing dari kita pun memiliki kewajiban untuk menjaga hak personal tersebut dalam ranah interpersonal. Dalam interaksi sehari-hari, keengganan kita untuk menghargai hak personal dengan mudah menyebabkan konflik yang pada akhirnya tidak hanya melibatkan dua individu, namun merambat pada konflik kelompok.

Ditambahkan pula apa yang dikatakan oleh pemain sepak bola tersebut kepada Via adalah hal yang biasa, karena ‘namanya juga laki-laki’. Kita dapat menemukan logical fallacy yang jelas kentara dari pernyataan Nikita ini. Kecenderungan pemakluman atas suatu tindakan yang salah adalah suatu hal yang paling mengganggu dalam proses pembentukan pola pikir dan kesadaran kritis. Dengan menganggap suatu tindakan yang merugikan orang lain adalah hal yang lumrah, kesadaran untuk melawan pun akan tumpul.

Bahkan perlu diketahui pergerakan feminisme gelombang keempat mengangkat isu-isu terkait penggunaan teknologi dan media sosial. Kedua hal yang telah membentuk budaya dan kecenderungan yang sebelumnya belum pernah ada itu bisa menjadi alat yang negatif juga positif. Online harassment merupakan salah satu fenomena yang muncul di tengah masyaarakat teknologi. Di saat yang sama, teknologi dan sosial media dapat digunakan sebagai alat untuk memajukan pergerakan perlawanan dan resistensi.

Sekarang mari kembali ke upaya perlawanan Via atas tindakan pelecehan yang diterimanya. Seperti yang telah disebutkan di atas, ia menggunakan bahasa Inggris (yang tidak baik dan benar) untuk mengungkapkan kemarahannya. Kalimatnya yang berbunyi I’AM NOT A KIND THAT GIRL, DUDE’ dapat diterjemahkan sebagai, ‘saya bukan perempuan seperti itu’, terlepas dari ketidaktepatan struktur bahasanya. Namun saya tidak akan menjadikan struktur bahasa tersebut sebagai masalah, karena yang akan menjadi fokus saya adalah pemaknaan kontekstual dari pernyataan tersebut.

Mungkin jika hanya dibaca secara sekilas, pernyataan Via tidak menyimpan ada masalah sedikit pun. Yang dilakukannya tidak lebih merupakan bentuk perlawanan atas tindakan yang dianggapnya melecehkan dirinya sebagai seorang perempuan. Tetapi pembacaan lebih mendalam akan menemukan adanya celah dalam pola pikir Via dalam menyikapi kasus seperti ini. Seperti yang telah disebutkan di atas, tindakan Via untuk mewartakan hal ini kepada publik dan menunjukkan resistensinya merupakan hal yang patut diapresiasi. Namun penggunaan kata-kata ‘saya bukan perempuan seperti itu’ perlu ditinjau ulang.

Potongan kalimat tersebut mengindikasikan pemaknaan yang mudah dipahami khalayak umum, yakni terkait dengan konsep segregasi ‘kelas’ perempuan. Entah disadari atau tidak, terdapat nilai-nilai yang bersifat memecah belah perempuan, yakni dengan stigma sosial yang diturunkan dari generasi ke generasi. ‘Perempuan seperti itu’ yang dirujuk oleh Via dalam pendapatnya mengarah pada kelas perempuan yang dipercayai masyarakat sebagai mereka yang mudah termakan bujukan laki-laki. Saya bisa berasumsi mungkin Via tidak menyadari pemaknaan atas pendapatnya yang bersifat ambigu itu.

Namun dapat pula dikatakan Via tidak memiliki kesadaran di taraf kritis untuk menyadari bahwa untuk melawan supremasi laki-laki, kita tidak perlu menjatuhkan perempuan lain. Karena sesungguhnya hal tersebut bukan lain malah memperkuat budaya dan sistem patriarki dengan membentuk arena pertarungan baru, yakni perempuan lawan perempuan. Karena itu saya selalu yakin pembentukan kesadaran kritis dan kesadaran kelas tentang subyektivitas, hak personal dan interpersonal perempuan tidak hanya perlu dilakukan pada laki-laki. Namun juga pada perempuan sendiri, untuk mengangkat kesadaran tentang pentingnya sisterhood atau solidaritas antar perempuan.