Judul Buku: Cahaya Mata Sang Pewaris: Kisah Nyata Anak-Cucu Tragedi ’65

Penulis: Putu Oka Sukanta (ed.), Astuti Ananta Toer, Awal, Dhianita Kusuma Pertiwi, Efdi, Fidellia Dayatoen, Gita Laras, Gusti, I Wayan Willyana, Ieda Fitriani, IGP Wiranegara, Karina Arifin, Konrad Penlaana, Pdt., Mado, Nasti Rukmawati, Ni Wayan Sinten Astiti, Nurhasanah, Phoa Bing Hauw, Putranda, Siauw Tiong Djin, Soe Tjen Marching, Sono, Syafrina Alam Sitompoel, Tuti Martoyo, Uchikowati, Wangi Indria

Penerbit: Ultimus Bandung

Tahun: 2016

Jumlah halaman: 411

Beberapa buku memang ditulis untuk dibaca, ada pula yang untuk dibaca dan dianalisis, namun tidak banyak yang mampu membuat penikmatnya membaca dan merasa. Diperlukan suatu pendekatan yang humanis dalam penyampaian narasi untuk bisa membuat suatu karya itu dibaca oleh mata dan otak, lalu dirasa oleh hati dan batin. Sebagai sebuah buku kumpulan cerita dengan cara berujar, latar belakang, isi kepala, dan pengalaman yang beragam Cahaya Mata Sang Pewaris: Kisah Nyata Anak-Cucu Tragedi ’65 secara unik mampu menggabungkan semua variasi tersebut menjadi sebuah bahan literasi yang menggugah perasaan pembacanya.

Buku ini berisi tentang kenyataan, tentang pengalaman yang mungkin selama ini tidak pernah dibagi secara luas, tentang masa lalu yang bahkan mungkin ingin dilupakan saja oleh beberapa orang. Yakni kisah nyata para anggota keluarga korban tragedi 65, yakni anak dan cucu dari orang-orang yang sempat merasakan betapa sulitnya keadaan hidup di bawah pemerintah anti komunisme. Masing-masing penulis yang berbesar hati membagikan ceritanya di sini memainkan tugas mereka masing-masing dalam lingkup keluarga, dengan menjadi anak perempuan, anak laki-laki, atau cucu; namun begitu keluar dari lingkungan keluarga itu semuanya bertindak dengan tujuan yang sama: keadilan dan kebenaran.

Kumpulan kisah pengalaman ini memang tidak seperti buku sejarah yang memiliki detail rincian tanggal atau bahkan jam atas suatu kejadian, namun mampu meyakinkan para penggiat literasi bahwa buku ini tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang ringan. Karena masing-masing cerita memperkenalkan pelajaran, baik pelajaran tekstual secara sejarah maupun pelajaran psikologis yakni menumbuhkan rasa empati pada korban ketidakadilan atas tragedi kemanusiaan yang pernah terjadi di negeri ini. Sehingga karya ini dapat menjadi pilihan bacaan bagi pembaca yang ingin menelisik lebih jauh tentang tragedi kemanusiaan yang terjadi setelah tahun 1965, terutama dalam hal yang sifatnya lebih personal melalui pendekatan humanisme.