Tiba-tiba gagasan menulis hal ini muncul dalam kepala saya setelah menonton ulang film Senyap yang disutradarai Joshua Oppenheimer. Saya tidak akan menjadikan tulisan ini sebagai resensi film tersebut, namun menempatkannya sebagai sebuah refleksi atas kehidupan sosial dan politik di Indonesia. Tidak hanya terkait tentang pembunuhan massal yang terjadi pasca Tragedi 65, namun melingkupi aspek sosial kemasyarakatan di Indonesia secara umum.

Saat pertama kali menonton film tersebut, saya terbawa suasana sedih yang ditampikan Oppenheimer melalui adegan-adegan kehidupan yang dialami oleh keluarga Ramli, salah satu korban pembantaian di Deli Serdang. Namun kemudian ada hal lain yang terbentuk dalam pikiran saya saat menonton ulang film tersebut, yakni pentingnya berbohong atau menutup-nutupi kebenaran demi keselamatan. Lalu saya menarik fenomena tersebut ke dalam lingkungan masyarakat Indonesia yang dipenuhi kebohongan dalam hampir segala aspek.

Saya pun mungkin salah satu orang yang banyak berbohong di depan masyarakat. Menutup mulut kencang-kencang walaupun kuping panas karena sindiran-sindiran yang muncul dalam bentuk tulisan atau perbincangan tentang tahanan politik Orde Baru yang digadang-gadangkan sebagai pengkhianat negara dan agama. Jika berada dalam lingkungan yang dipenuhi sinisme terhadap komunisme, saya tidak berani untuk berbicara dengan lantang bahwa keluarga saya pernah masuk dalam lingkaran itu, dipenjara, bahkan dibuang ke Pulau Buru. Hanya pada lingkaran-lingkaran tertentu yang sifatnya netral atau membela kemanusiaan saya akan berani membuka diri.

Begitu halnya dengan identitas kepercayaan yang saya anut. Saya tidak pernah membahasnya di depan umum untuk menghindari adanya sinisme yang ditujukan atas keputusan saya. Padahal saya tahu benar mereka tidak tahu bagaimana perjalanan spiritual yang telah saya jalani selama beberapa tahun, dan secara hukum saya punya hak untuk membicarakannya. Namun lingkungan masyarakat umum yang dididik dan dibentuk oleh dogma membuat saya ragu untuk mengatakan secara lantang terkait kepercayaan yang saya anut.

Mungkin pembaca juga adalah para pembohong itu. Yang ragu untuk mengaku orientasi ataupun identitas seksual anda, karena takut dikucilkan atau bahkan takut diserang massa. Yang menuliskan nama agama di kartu identitas secara terpaksa, hanya agar tetap bisa mendapatkan layanan publik yang sifatnya diskriminatif itu. Yang memutuskan diam dan tidak mengutarakan ideologi dalam kepala anda agar tidak menjadi bahan perdebatan.

Bahkan mungkin di antara kita adalah orang-orang yang takut untuk mengakui bahwa kita pernah menjadi korban kekerasan seksual atau KDRT, karena masyarakat yang masih suka menyalahkan korban dengan alasan pakaian yang dikenakan atau nilai-nilai ketidakadilan gender yang masih berlaku kuat.

Semuanya kita lakukan hanya untuk satu tujuan, yakni bertahan hidup. Iya, bertahan hidup di Indonesia yang memang lebih mengamini persamaan, bukannya keberagaman. Ada resiko-resiko yang mengancam siapa pun yang ingin jujur. Kami yang berusaha membuka narasi lain dari apa yang terjadi pada tahun 1966 pasti akan dicap komunis atau dituduh anggota PKI yang tidak tercatat, dan sedang berusaha melakukan pemberontakan seperti yang katanya pernah terjadi dulu. Kami yang harus berbohong mencantumkan salah satu dari enam agama yang sah di kartu identitas seringkali mendapat tekanan dari lingkungan karena dianggap tidak beragama yang sesuai dan tidak menyembah pada tuhan yang sah. Kami yang memutuskan untuk tidak membicarakan orientasi seksual sadar bahwa menjadi selain heteroseksual adalah hal yang tabu dan dianggap perlu untuk disembuhkan dengan cara apapun, termasuk dengan diperkosa.

Ibu saya bahkan sering berpesan, “jangan dengan mudah mengaku kamu itu cucu siapa, karena itu bisa membawa masalah untuk dirimu sendiri.” Begitu pun saat saya membuat tugas yang berkaitan dengan narasi lain tentang isu 65, saya pernah ditanyai dosen, “kamu PKI, ya?”. Saya menjadi semakin paham bahwa berbohong memang suatu hal yang pada beberapa titik dibutuhkan hanya untuk sekedar bisa terus bertahan dalam lingkungan masyarakat dan mendapatkan hak-hak yang seharusnya bersifat mendasar, tidak peduli identitas apapun yang melekat pada diri kita.

Inilah yang menurut saya salah satu bukti betapa Indonesia dipenuhi dengan paradoks-paradoks yang bergentayangan. Yang bagi beberapa pihak menguntungkan karena sesuai dengan kepentingan mereka, dan pada saat yang sama menekan lapisan masyarakat lain yang tidak berada di posisi pemegang otoritas. Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekuatan massa agamis yang besar di dunia, yang menganggap kebohongan sebagai salah satu bentuk dosa. Dan pada saat yang sama, kita dipaksa berbohong sebagai senjata bertahan hidup di negara ini. Sampai kapan kita harus berbohong, saya tidak tahu pasti.