Aturan turunan dari Undang-Undang No. 11/2020–atau yang lebih dikenal dengan UU Cipta Kerja–yakni PP No. 22/2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang ditetapkan dan diundangkan pada 2 Februari lalu menuai kecaman dari sejumlah pihak, khususnya kelompok aktivis lingkungan hidup. Kecaman tersebut terbit akibat adanya pengubahan pada status sejumlah limbah dari yang sebelumnya tergolong sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) sebagaimana diatur dalam PP No. 10/2014 tentang Pengelolaan Limbah Berbahaya dan Beracun.

Pengubahan status limbah batu bara dan limbah sawit dari limbah B3 menjadi non-B3 dalam PP terbaru tersebut mendapatkan respons keras dari kelompok aktivis lingkungan hidup. Respons tersebut sebenarnya tidaklah berlebihan, karena penambangan batu bara dan perkebunan kelapa sawit serta pengolahan kedua bahan tersebut telah memberikan imbas besar terhadap kondisi alam Indonesia. Sementara itu, pemerintah Indonesia selama ini secara umum belum menunjukkan komitmen yang kuat dalam mengupayakan perlindungan lingkungan hidup. Pengubahan status jenis limbah tersebut pun dinilai sebagai bukti lebih lanjut dari ketidakseriusan pemerintah dalam menangani isu lingkungan hidup.

Khusus untuk batu bara, dikenal dua jenis abu batu bara, yakni abu terbang atau fly ash dan abu padat atau bottom ash (FABA), yang keduanya dikeluarkan dari kategori limbah B3. Dua jenis limbah tersebut bersumber dari proses pembakaran batu bara di fasilitas pembangkit listrik tenaga uap, stocker boiler, dan tungku industri, yang dikeluarkan melalui cerobong asap. Abu terbang yang terdiri dari partikel-partikel halus akan naik ke mulut cerobong, sementara abu padat merupakan residu yang dihasilkan dari bagian yang tidak terbakar dari batu bara dan menempel pada bagian bawah atau tembok tungku pembakaran.

Baca juga: Bencana "Alam" Sudah Punah

Penambangan dan pengolahan batu bara sejatinya sudah sejak lama disadari sebagai salah satu aktivitas penyumbang limbah. Raja Edward I pada tahun 1272 telah menetapkan aturan pelarangan pembakaran batu bara di London karena polusi udara yang disebabkan oleh aktivitas tersebut. Revolusi Industri kemudian menjadi salah satu babak sejarah peradaban manusia yang memberikan imbas signifikan terhadap tingkat kerusakan lingkungan dan polusi dengan mulai dibukanya penambangan batu bara dalam skala besar dan pemakaian batu bara sebagai bahan bakar transportasi, mesin uap, penghangat ruangan, dan penghasil listrik.

Pengolahan batu bara menjadi bahan bakar membutuhkan proses pembakaran, sehingga polusi udara menjadi konsekuensi utama dari pemakaian sumber daya batu bara. Sebelum diterapkannya standar kendali polusi udara, limbah pembakaran batu bara disalurkan begitu saja ke atmosfer melalui cerobong. Dan semenjak penentuan standar tersebut, abu terbang akan ditangkap oleh peralatan filtrasi sebelum gas buang mencapai cerobong, sementara abu padat dikeluarkan dari bagian bawah tungku. Abu yang ditangkap tersebut kemudian selanjutnya disimpan dalam danau buatan dalam bentuk limbah cair.

Menanggapi respons dari pegiat pelindungan lingkungan hidup, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah Limbah dan B3 menyatakan tidak semua jenis limbah batu bara dicoret dari kategori B3. Hanya abu terbang dan abu padat yang menggunakan sistem pembakaran chain grade stoker dan pulverized fuel yang tidak lagi perlu digolongkan dalam kategori limbah B3 karena dapat dimanfaatkan kembali. Di samping itu, sejumlah pengusaha mengutarakan dukungan dan kelegaan dengan dikeluarkannya beberapa jenis limbah batu bara dari kategori limbah B3. Menurut mereka, pengolahan limbah batu bara menjadi bahan baku substitusi atau komplementer untuk kebutuhan konstruksi akan jauh lebih mudah dibandingkan dulu saat masih termasuk dalam kategori limbah B3.

Baca juga: Indonesia, Bencana, dan Perjanjian Paris

Sementara itu, pemanfaatan limbah batu bara untuk bahan baku produksi semen sebenarnya sudah menjadi praktik yang umum dilakukan di sejumlah negara, termasuk Indonesia, oleh pelaku dunia industri, khususnya di bidang konstruksi.

Pada Maret 2018, saat FABA masih tergolong limbah B3 sesuai dengan PP No. 101/2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, PLN meneken nota kesepahaman pemanfaatan FABA dengan PT Semen Indonesia dan PT Semen Baturaja di Kementerian BUMN. Bahkan pada saat itu, Direktur Human Capital Managemen PLN, Muhamad Ali, menuturkan bahwa PLN telah bekerja sama dengan empat perusahaan swasta untuk pemanfaatan FABA. Adapun kesepakatan penjualan abu terbang dan abu padat kepada perusahaan swasta maupun BUMN diatur secara business to business. Selain Semen Indonesia dan Semen Baturaja, PT WIKA Beton merupakan perusahaan BUMN bidang konstruksi lain yang juga mengimplementasikan pengelolaan limbah abu terbang sebagai material substitusi sebagian semen pada campuran beton. Penggunaan abu terbang sebagai material konstruksi telah diterapkan di beberapa pabrik PT WIKA di Pasuruan dan Bogor. Hal tersebut menunjukkan praktik pemanfaatan limbah pembakaran batu bara sebenarnya telah berlangsung bahkan saat FABA masih tergolong sebagai limbah B3.

Di samping itu, pemaparan Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 KemenKLHK, Rosa Vivien Ratnawati, pada 12 Maret 2021 terkait jenis tungku pembakaran yang menentukan kategorisasi baru limbah batu bara juga perlu dikritisi lebih lanjut. Sejak Revolusi Industri, sejumlah insinyur telah mengembangkan beragam jenis teknologi pengolahan batu bakar sebagai sumber daya energi. Chain grate stoker dan pulverized fuel boiler hanyalah dua di antara sejumlah teknik yang telah ditemukan dan diterapkan oleh pabrik dan industri. Sejauh ini, paling tidak terdapat dua jenis klasifikasi utama dari stoker fire boiler yang dianggap memiliki kelebihan yang signifikan dalam hal fleksibilitas bahan bakar, efisiensi pembakaran dan pengurangan emisi dari polutan, yakni fluidized bed boiler dan pulverized fuel boiler. Sementara itu, chain grate stoker, juga dikenal dengan travelling grate stoker, yang dikembangkan paling tidak sejak awal 1900-an merupakan jenis tungku yang masih belum mampu mencapai temperatur terlalu tinggi untuk proses pembakaran yang sempurna, sehingga impas yang dihasilkan masih mengandung polutan yang cukup tinggi.


Desember 2008, Kingston, Tennessee, Amerika Serikat.

Suka cita perayaan Hari Natal sudah mulai dirasakan oleh masyarakat yang bermukim di sekitar lokasi pembangkit energi Kingston Fossil yang dikelola oleh Tennessee Valley Authority (TVA). Namun ria itu pupus sebelum mekar, larut dan tenggelam dalam larutan kental kehitaman limbah batu bara yang membuncah keluar dari Watts Bar Reservoir. Danau tersebut telah digunakan sebagai lokasi penyimpanan limbah abu terbang dan abu padat hasil pembakaran batu bara yang telah diolah menjadi limbah cair. Lima belas rumah penduduk tenggelam dalam larutan limbah tersebut, di samping Sungai Emory yang selama ini menjadi sumber mata air bagi masyarakat sekitar berubah menjadi nadi yang menggelontorkan senyawa berbahaya dan beracun. Peristiwa tersebut sampai hari ini masih menyisakan permasalahan bagi masyarakat dan menjadi insiden kebocoran limbah batu bara terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Namun, Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat masih menolak untuk menjadikan limbah batu bara sebagai limbah B3.

Dengan berkaca pada peristiwa tersebut, sejauh mana pemerintah Indonesia akan terus berkilah terkait limbah?