Kaum nasionalis mungkin akan menjawab dengan lantang pertanyaan itu, “tidak!”, dan tulisan ini akan diberangus karena dianggap melanggar etika dan azas cinta tanah air dan bangsa. Bahkan pemerintahan feudal akan menyuruh saya mencium kaki raja atas pertanyaan sederhana itu. Lalu bagaimana dengan masyarakat kita yang bersifat republik dan -katanya- berazas demokrasi ini? Salahkah jika kita punya dendam?

Kalian yang pernah hadir dalam diskusi di mana saya turut menjadi pembicara, atau menjadi pembaca dari tulisan-tulisan saya tentang Orde Baru, mungkin pernah berpikir barang sekali saja, bahwa saya ini berasal dari kelompok anti Orba dan anti Suharto. Sehingga segala hal tentang Orba dan Suharto adalah hal yang buruk dan perlu dikritisi, atau bahkan dicaci maki. Belum lagi posisi sebagai korban yang sering saya tunjukkan, membuat kalian mungkin berpikir bahwa saya tidak lain adalah antek propaganda kiri yang ingin membela diri atas kesalahan di masa lalu. Dan sebagai seseorang yang saat ini berada dalam lingkup akademisi, saya pikir tindakan paling bijaksana untuk memberikan sanggahan dan tanggapan adalah dengan cara menulis, menggunakan kata-kata yang bermartabat, tidak serampangan melakukan tindakan represif pada lawan.

Kata dendam itu sendiri secara kebahasaan dan pemaknaan memang diberi konotasi yang cenderung negatif, menjadikannya sesuatu yang dianggap melawan moralitas yang agung dan dibenarkan. Dan dendam itulah yang sering kali sampai sekarang dijadikan legitimasi untuk menindas satu pihak yang memiliki kesempatan sehelai rambut untuk menuliskan sejarah. Di saat yang sama, sangat sedikit ruang yang diberikan untuk menjelaskan apakah, mengapa, dan bagaimana dendam itu ada -jika ada- sehingga praktik represif dibenarkan dengan topeng penghilangan rasa dendam yang laknat itu.

Menurut hemat saya, dendam itu sah-sah saja. Yang kemudian menjadi masalah adalah praktik fisik yang muncul dari perasaan dendam itu. Kami, yang berdiri di kubu tertekan, merasakan dendam yang bergumpal dalam hati atas apa yang telah terjadi di masa lalu. Ini lebih dari sekedar dendam atas perlakuan tidak adil yang dilakukan oleh pemerintah Orba pada individual, namun kejahatan kemanusiaan massal yang melukai bangsa dan meninggalkan luka menganga yang tidak kunjung sembuh. Saya pun bisa yakin bahwa hal mendasar yang menggerakkan para laskar rakyat untuk merebut kekuasaan bangsa mereka adalah suatu rasa dendam terhadap sistem kolonialisme yang menggerogoti kesejahteraan, bahkan identitas mereka sebagai manusia. Mereka tidak bisa membiarkan penyiksaan atas bangsa dan negaranya, karena itulah dendam itu dijadikan minyak pelumas semangat mereka untuk melawan kolonialisme. Karena jika tidak punya dendam, maka mereka pun akan membiarkan nyawa-nyawa terus melayang demi kekayaan pemerintah kolonial dengan kerja paksa. Namun sekarang kita tidak lagi melihat dendam sebagai sesuatu yang bisa menjadi dasar tindakan bermanfaat, apalagi kaitannya dengan isu kekirian. Kaum kiri adalah kaum yang dipenuhi dendam untuk berkuasa.

Sesungguhnya itu sangatlah konyol. Bahkan para pemikir dan teoris telah beranggapan bahwa paham komunisme dan Marxisme yang murni memang sudah mati, yang ada sekarang tidak lain penyelewengan konsep untuk kekuasaan. Maka akan tidak masuk akal jika kaum kiri di Indonesia menyimpan dendam hanya untuk naik ke kursi kekuasaan. Bukankah itu yang coba dilakukan kaum penekan sebenarnya?

Sepanjang yang saya pernah temui, mereka yang mengagungkan pemerintahan Orba adalah orang-orang yang merasa bersyukur mereka bisa aman dan menjaga perut tetap kenyang pada saat itu. Menurut saya itu adalah suatu pemikiran yang egoistik, hanya berdasarkan insting pertahanan diri. Kita belum menjadi manusia sepenuhnya jika hanya berpikir tentang makan, memikirkan kepentingan kelompok terdekat kita saja. Dan dendam yang ada dalam diri kami, tidak lain serupa dengan yang pernah tertanam dalam benak laskar rakyat yang haus akan kemerdekaan, berangkat dari kegelisahan akan kejahatan kemanusiaan. Ini lebih dari masa lalu kakek dan keluarga saya, namun tentang puluhan ribu tahanan politik Orba yang lain, aktivis yang dihilangkan keberadaannya, dan nyawa-nyawa yang dicabut dengan mudah hanya karena ‘tuduhan’.

Lalu jika kembali pada pertanyaan tentang apakah kami memiliki dendam? Iya, kami menyimpannya dengan rapi dalam sudut perasaan, untuk menjadikannya dasar untuk berpikir dengan waras, bahwa luka itu harus diobati dan mencegahnya agar menggores lagi. Kami menjaga dendam untuk menjaga kewarasan, bukan untuk menghilangkannya. Kami menjaga dendam untuk tidak lupa menjadi manusia dengan kemanusiaan, bukan manusia dengan insting bertahan diri saja. Bukan hal yang aneh jika kalian ingin kami menghilangkan dendam itu, karena kekuasaan adalah tujuan dari kehidupan kalian semata. Dan pada akhirnya, apakah kita boleh memiliki dendam pada negara? Menurut hemat saya, boleh saja, karena dendam tersebut membuat kita kembali berpikir untuk melakukan kesalahan yang sama atau serupa yang pernah terjadi di masa lalu. Tanpa dendam yang menjaga kita tetap waras, kita akan mengagungkan kekuasaan di atas kemanusiaan, dan menjadikan konsep negara dan pemerintahan sebagai ajang pertarungan mendapatkan kemenangan yang paling unggul di atas semua orang.