Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Media Sosial, Kebebasan Berekspresi, dan Labelisasi

Sejumlah penulis telah menyampaikan dengan cukup apik analisis mereka terhadap fenomena ‘pertempuran’ antara kelompok Kampret-Cebong. Dua istilah tersebut mungkin tidak akan terdengar saat kita berbincang politik secara tatap muka di sudut sebuah di kedai kopi, tapi merupakan hal yang dapat kita temui hampir setiap hari di jaringan media sosial. Setelah merasakan sendiri berada dalam ‘lingkaran maya’ yang (begitu mudahnya) memberikan label, berikut adalah sedikit catatan saya.

(more…)

Jokowi dan Propaganda Rusia

Tulisan ini merupakan terjemahan dari artikel terbitan RAND Corporation berjudul “The Russian “Firehose of Falsehood”: Why it Might Work and Options to Counter It” yang ditulis oleh Christopher Paul dan Miriam Matthews. Penerjemahan artikel tersebut diharapkan dapat mengarah pada interpretasi yang bersifat lebih logis atas pernyataan Jokowi tentang propaganda Rusia yang dilontarkannya beberapa hari yang lalu. Sejumlah spekulasi muncul setelah pemberitaan naik ke permukaan, dan pada beberapa titik mengarah pada perdebatan horizontal yang kurang sehat.

(more…)

Ruang Sunyi di Tengah Gemerlap Kota

Kepergian saya ke Yogyakarta pada awalnya hanya didasarkan pada kebutuhan memperoleh data tambahan untuk penelitian tesis saya tentang naskah wayang. Walaupun ini bukan pertama kalinya bagi saya mendatangi kota tersebut, ada satu kesempatan yang tidak saya peroleh pada perjalanan sebelumnya yang membuat kepergian yang terakhir ini terasa lebih menarik.

(more…)

Utopia Kebebasan Ekspresi di Indonesia Mendatang

Mendekati hari yang digadang-gadangkan sebagai perayaan kemerdekaan negara Indonesia, publik dibuat tercengang dengan berita tentang pasangan calon presiden dan wakil presiden yang akan berlaga di Pemilu raya tahun depan. Paling tidak hal tersebut terbaca dari komentar-komentar masyarakat di media sosial terkait pasangan Jokowi-Maruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno yang menunjukkan kebingungan untuk memilih di antara kedua pasangan calon pemimpin pusat tersebut.

(more…)

Politik Kekuasaan dalam Kasus Tahanan Nurani

Istilah tahanan nurani yang merupakan terjemahan dari prisoner of conscious mungkin tidak terlalu sering didengar dibandingkan tahanan perang atau tahanan politik di Indonesia. Walaupun begitu, sesungguhnya istilah ini telah digunakan dalam dokumen Pernyataan Publik Amnesty International edisi 17 Juni 2014 yang membahas kasus pemenjaraan pemimpin komunitas Syiah, Tajul Muluk. Tulisan ini akan membahas lebih dalam istilah tahanan nurani untuk memberikan pemahaman lebih mendalam tentang fenomena-fenomena yang terjadi di lingkungan masyarakat Indonesia.

(more…)

Kegarangan (Pemuda) Pancasila

Saya pertama kali mengetahui nama organisasi Pemuda Pancasila saat duduk di bangku sekolah menengah pertama, tepatnya saat melihat beberapa orang berpakaian seragam doreng oranye berjalan di depan rumah kakek saya. Awalnya saya berpikir mereka anggota dari unit kelompok angkatan bersenjata, mengingat corak seragam yang mereka pakai. Setelah bertanya pada ibu saya, ternyata mereka adalah anggota kelompok Pemuda Pancasila dengan semua rekam jejak yang cenderung menyeramkan.

(more…)

Belajar dari Via Vallen

Dalam tulisan ini saya tidak akan mengelu-elukan sosok Via Vallen secara berlebihan atau mengambil sudut pandang sebagai orang yang mengidolakannya. Yang akan menjadi fokus pembahasan dari tulisan ini adalah respon yang diberikan Via melalui akun media sosialnya setelah merasa dilecehkan oleh seorang pemain sepakbola. Berikut adalah kata-kata yang disampaikannya melalui akun Instagram @viavallen: ‘Nggak kenal dan nggak pernah ketemu tiba2 nge DM dan ngirim text gambar kayak gini. As a singer, I was being humiliated by a famous football player in my country RIGHT NOW. I’AM NOT A KIND THAT GIRL, DUDE!!!’ Adapun pesan yang dikirim oleh pemain sepak bola itu adalah ‘I want u sign for me in my bedroom, wearing sexy clothes…’

(more…)

Dosa Iqbaal ‘Dilan’ dan Kelupaan Kita untuk Berkaca

Berita tentang pengumuman para aktor dan aktris yang akan memerankan tokoh-tokoh dalam film adaptasi Bumi Manusia yang disutradari Hanung Bramantyo memenuhi beranda media sosial saya. Rata-rata dibumbui dengan kritik, celaan, dan ungkapan kekecewaan terkait pemilihan Iqbaal sebagai pemeran tokoh Minke. Sayangnya, seperti biasanya, yang diserang adalah pribadi Iqbaal yang menurut saya tidak berdasar.

(more…)

Mahasiswa Alias Selebgram

Saya sebenarnya sudah cukup lama ingin membahas fenomena ini ke dalam tulisan, namun sempat berpikir berkali-kali sebelum akhirnya memutuskan untuk benar-benar menjadikannya suatu teks. Pertimbangan tersebut berhubungan dengan refleksi terhadap diri saya sendiri sebagai seorang mahasiswa yang walaupun kritis tapi tidak mau menjadi polisi moral. Tapi kemudian saya menemukan sebuah jalan tengah kesimpulan yang meyakinkan saya sendiri bahwa tulisan ini bukan tentang moralitas, namun hubungannya dengan intelektualitas mahasiswa.

(more…)

Mengenali ‘Fad’

Selama ini kita telah hidup bersama fad namun tidak -atau mungkin- kurang mengenalnya. Di samping itu, saya belum menemukan terjemahan yang sepadan dari kata fad dalam bahasa Indonesia, sehingga saya akan membahasnya dengan menggunakan istilah aslinya dalam bahasa Inggris.

(more…)

Follow Us