Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Pasca COVID-19

Mungkin terlalu dini untuk meramalkan atau membayangkan hal-hal yang akan terjadi setelah berakhirnya penyebaran Coronavirus disease 2019 (COVID-19), sementara saat ini saja pertimbangan untuk karantina wilayah masih belum diputuskan dengan pasti dan setiap pagi kita terbangun untuk mendengar kabar peningkatan jumlah orang yang terjangkit dan jumlah orang yang meninggal. Namun kita juga tidak bisa mengelak sejumlah perubahan yang telah terjadi saat ini, dan mungkin juga bertahan pasca semua kekacauan ini berakhir.

(more…)

Meninabobokan Wabah

Sampai hari ini, pemerintah Indonesia masih terus melancarkan “propaganda ninabobo” terkait wabah virus Corona, di saat sejumlah negara lain telah melakukan tindakan-tindakan medis yang bertujuan untuk menangani pasien yang dicurigai dan positif terjangkit virus Corona, dan mencegah penyebarannya. Dan tentu saja propaganda semacam itu bukanlah hal pertama yang pernah dilakukan oleh pemerintah.

(more…)

Pemerintah Bukan Orang Tua, Masyarakat Bukan Anak

Kemunculan berita tentang RUU Ketahanan Keluarga yang diikuti dengan pendapat Dwi Purnowo, Staf Khusus Presiden, berlanjut dengan diskusi di laman media sosial, meja makan kantor, dan ruang obrolan daring. Sebagian besar pembicaraan mempermasalahkan intervensi pemerintah terhadap urusan domestik yang dianggap terlalu berlebihan.

(more…)

(Mungkin) Kita Semua adalah Penganut Kultus

Kemunculan berita tentang Keraton Agung Sejagat, yang kemudian disusul dengan pemberitaan tentang Sunda Empire kembali menarik perhatian publik Indonesia. Beberapa tahun sebelumnya, nama Lia Eden menjadi bahan pembicaraan utama di kalangan masyarakat dengan kelompok Salamullah yang dilarang oleh MUI pada 1997 dan kemudian berganti nama menjadi Kaum Eden pada 2003, sampai pada penangkapannya pada 2005. Yang menarik kemudian, label “agama sesat”, “kelompok sesat”, atau “kelompok kultus” disematkan dan disebarkan seakan telah ada suatu konsensus yang disetujui oleh masyarakat.

(more…)

Seks, Tubuh, dan Periode Ketakutan

Respon masyarakat terhadap konten-konten video Kimi Hime di kanal YouTube sampai panggilan oleh Kominfo bukanlah kasus pertama upaya pencekalan suatu media yang berhubungan dengan seks dan tubuh di Indonesia. Sepanjang tahun ini, masyarakat disibukkan dengan membuat atau mengisi petisi untuk mencekal iklan yang dibintangi Black Pink, film Kucumbu Tubuh Indahku dan Dua Garis Biru. Fenomena ini saya baca sebagai sebuah periode ketakutan yang terus bergulir di kalangan masyarakat Indonesia.

(more…)

Membawa Kota ke Atas Panggung

Kota menjadi tema yang diangkat dalam dua pertunjukan teater dalam perhelatan Djakarta Teater Platform bertajuk “Kekuasaan dan Ketakutan”. Setengah Komplek-X oleh Teater Alamat dan Suara-Suara Gelap: Dari Ruang Dapur oleh Teater Kala adalah dua pertunjukan yang mengangkat isu perkotaan dengan strategi penceritaan yang berbeda. Dramaturgi yang tidak sama persis untuk mengangkat satu tema serupa menjadi kajian menarik untuk dibahas.

(more…)

Kerja Sama Menghancurkan Sukarno

Kematian Sukarno pernah menjadi sebuah momen penting dalam narasi sejarah Indonesia, baik sejarah sosial maupun politik. Beberapa anggota keluarga saya termasuk di antara orang-orang yang berjejal di pinggir jalan yang dilewati oleh mobil pembawa jenazah Sukarno ke Blitar. Sukarno pernah menjadi sebuah diskursus yang diagungkan, dipertentangkan, dan coba dihancurkan. Upaya penghancuran tersebut melibatkan tidak hanya kelompok militer di Indonesia, namun juga sejumlah negara seperti Inggris dan Amerika Serikat.

(more…)

Jaringan Media Sosial = Jaringan Impunitas (?)

Kasus kekerasan yang melibatkan oleh A, seorang siswi SMP dan beberapa orang pelajar SMA di Pontianak baru-baru ini telah menjadi pembahasan hangat di media massa dan media sosial. Media sosial berhasil melancarkan ‘sihir’ untuk menggiring pendapat, menggerakkan jemari-jemari di permukaan layar ponsel, menyebarkan kabar dengan sangat cepat. Dan secepat itu juga semuanya berganti arah dalam waktu yang sangat singkat.

(more…)

Media Sosial, Kebebasan Berekspresi, dan Labelisasi

Sejumlah penulis telah menyampaikan dengan cukup apik analisis mereka terhadap fenomena ‘pertempuran’ antara kelompok Kampret-Cebong. Dua istilah tersebut mungkin tidak akan terdengar saat kita berbincang politik secara tatap muka di sudut sebuah di kedai kopi, tapi merupakan hal yang dapat kita temui hampir setiap hari di jaringan media sosial. Setelah merasakan sendiri berada dalam ‘lingkaran maya’ yang (begitu mudahnya) memberikan label, berikut adalah sedikit catatan saya.

(more…)
Follow Us