Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Seks, Tubuh, dan Periode Ketakutan

Respon masyarakat terhadap konten-konten video Kimi Hime di kanal YouTube sampai panggilan oleh Kominfo bukanlah kasus pertama upaya pencekalan suatu media yang berhubungan dengan seks dan tubuh di Indonesia. Sepanjang tahun ini, masyarakat disibukkan dengan membuat atau mengisi petisi untuk mencekal iklan yang dibintangi Black Pink, film Kucumbu Tubuh Indahku dan Dua Garis Biru. Fenomena ini saya baca sebagai sebuah periode ketakutan yang terus bergulir di kalangan masyarakat Indonesia.

(more…)

Membawa Kota ke Atas Panggung

Kota menjadi tema yang diangkat dalam dua pertunjukan teater dalam perhelatan Djakarta Teater Platform bertajuk “Kekuasaan dan Ketakutan”. Setengah Komplek-X oleh Teater Alamat dan Suara-Suara Gelap: Dari Ruang Dapur oleh Teater Kala adalah dua pertunjukan yang mengangkat isu perkotaan dengan strategi penceritaan yang berbeda. Dramaturgi yang tidak sama persis untuk mengangkat satu tema serupa menjadi kajian menarik untuk dibahas.

(more…)

Kerja Sama Menghancurkan Sukarno

Kematian Sukarno pernah menjadi sebuah momen penting dalam narasi sejarah Indonesia, baik sejarah sosial maupun politik. Beberapa anggota keluarga saya termasuk di antara orang-orang yang berjejal di pinggir jalan yang dilewati oleh mobil pembawa jenazah Sukarno ke Blitar. Sukarno pernah menjadi sebuah diskursus yang diagungkan, dipertentangkan, dan coba dihancurkan. Upaya penghancuran tersebut melibatkan tidak hanya kelompok militer di Indonesia, namun juga sejumlah negara seperti Inggris dan Amerika Serikat.

(more…)

Jaringan Media Sosial = Jaringan Impunitas (?)

Kasus kekerasan yang melibatkan oleh A, seorang siswi SMP dan beberapa orang pelajar SMA di Pontianak baru-baru ini telah menjadi pembahasan hangat di media massa dan media sosial. Media sosial berhasil melancarkan ‘sihir’ untuk menggiring pendapat, menggerakkan jemari-jemari di permukaan layar ponsel, menyebarkan kabar dengan sangat cepat. Dan secepat itu juga semuanya berganti arah dalam waktu yang sangat singkat.

(more…)

Media Sosial, Kebebasan Berekspresi, dan Labelisasi

Sejumlah penulis telah menyampaikan dengan cukup apik analisis mereka terhadap fenomena ‘pertempuran’ antara kelompok Kampret-Cebong. Dua istilah tersebut mungkin tidak akan terdengar saat kita berbincang politik secara tatap muka di sudut sebuah di kedai kopi, tapi merupakan hal yang dapat kita temui hampir setiap hari di jaringan media sosial. Setelah merasakan sendiri berada dalam ‘lingkaran maya’ yang (begitu mudahnya) memberikan label, berikut adalah sedikit catatan saya.

(more…)

Jokowi dan Propaganda Rusia

Tulisan ini merupakan terjemahan dari artikel terbitan RAND Corporation berjudul “The Russian “Firehose of Falsehood”: Why it Might Work and Options to Counter It” yang ditulis oleh Christopher Paul dan Miriam Matthews. Penerjemahan artikel tersebut diharapkan dapat mengarah pada interpretasi yang bersifat lebih logis atas pernyataan Jokowi tentang propaganda Rusia yang dilontarkannya beberapa hari yang lalu. Sejumlah spekulasi muncul setelah pemberitaan naik ke permukaan, dan pada beberapa titik mengarah pada perdebatan horizontal yang kurang sehat.

(more…)

Ruang Sunyi di Tengah Gemerlap Kota

Kepergian saya ke Yogyakarta pada awalnya hanya didasarkan pada kebutuhan memperoleh data tambahan untuk penelitian tesis saya tentang naskah wayang. Walaupun ini bukan pertama kalinya bagi saya mendatangi kota tersebut, ada satu kesempatan yang tidak saya peroleh pada perjalanan sebelumnya yang membuat kepergian yang terakhir ini terasa lebih menarik.

(more…)

Utopia Kebebasan Ekspresi di Indonesia Mendatang

Mendekati hari yang digadang-gadangkan sebagai perayaan kemerdekaan negara Indonesia, publik dibuat tercengang dengan berita tentang pasangan calon presiden dan wakil presiden yang akan berlaga di Pemilu raya tahun depan. Paling tidak hal tersebut terbaca dari komentar-komentar masyarakat di media sosial terkait pasangan Jokowi-Maruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno yang menunjukkan kebingungan untuk memilih di antara kedua pasangan calon pemimpin pusat tersebut.

(more…)

Politik Kekuasaan dalam Kasus Tahanan Nurani

Istilah tahanan nurani yang merupakan terjemahan dari prisoner of conscious mungkin tidak terlalu sering didengar dibandingkan tahanan perang atau tahanan politik di Indonesia. Walaupun begitu, sesungguhnya istilah ini telah digunakan dalam dokumen Pernyataan Publik Amnesty International edisi 17 Juni 2014 yang membahas kasus pemenjaraan pemimpin komunitas Syiah, Tajul Muluk. Tulisan ini akan membahas lebih dalam istilah tahanan nurani untuk memberikan pemahaman lebih mendalam tentang fenomena-fenomena yang terjadi di lingkungan masyarakat Indonesia.

(more…)

Follow Us