Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Kegarangan (Pemuda) Pancasila

Saya pertama kali mengetahui nama organisasi Pemuda Pancasila saat duduk di bangku sekolah menengah pertama, tepatnya saat melihat beberapa orang berpakaian seragam doreng oranye berjalan di depan rumah kakek saya. Awalnya saya berpikir mereka anggota dari unit kelompok angkatan bersenjata, mengingat corak seragam yang mereka pakai. Setelah bertanya pada ibu saya, ternyata mereka adalah anggota kelompok Pemuda Pancasila dengan semua rekam jejak yang cenderung menyeramkan.

(more…)

Belajar dari Via Vallen

Dalam tulisan ini saya tidak akan mengelu-elukan sosok Via Vallen secara berlebihan atau mengambil sudut pandang sebagai orang yang mengidolakannya. Yang akan menjadi fokus pembahasan dari tulisan ini adalah respon yang diberikan Via melalui akun media sosialnya setelah merasa dilecehkan oleh seorang pemain sepakbola. Berikut adalah kata-kata yang disampaikannya melalui akun Instagram @viavallen: ‘Nggak kenal dan nggak pernah ketemu tiba2 nge DM dan ngirim text gambar kayak gini. As a singer, I was being humiliated by a famous football player in my country RIGHT NOW. I’AM NOT A KIND THAT GIRL, DUDE!!!’ Adapun pesan yang dikirim oleh pemain sepak bola itu adalah ‘I want u sign for me in my bedroom, wearing sexy clothes…’

(more…)

Dosa Iqbaal ‘Dilan’ dan Kelupaan Kita untuk Berkaca

Berita tentang pengumuman para aktor dan aktris yang akan memerankan tokoh-tokoh dalam film adaptasi Bumi Manusia yang disutradari Hanung Bramantyo memenuhi beranda media sosial saya. Rata-rata dibumbui dengan kritik, celaan, dan ungkapan kekecewaan terkait pemilihan Iqbaal sebagai pemeran tokoh Minke. Sayangnya, seperti biasanya, yang diserang adalah pribadi Iqbaal yang menurut saya tidak berdasar.

(more…)

Mahasiswa Alias Selebgram

Saya sebenarnya sudah cukup lama ingin membahas fenomena ini ke dalam tulisan, namun sempat berpikir berkali-kali sebelum akhirnya memutuskan untuk benar-benar menjadikannya suatu teks. Pertimbangan tersebut berhubungan dengan refleksi terhadap diri saya sendiri sebagai seorang mahasiswa yang walaupun kritis tapi tidak mau menjadi polisi moral. Tapi kemudian saya menemukan sebuah jalan tengah kesimpulan yang meyakinkan saya sendiri bahwa tulisan ini bukan tentang moralitas, namun hubungannya dengan intelektualitas mahasiswa.

(more…)

Mengenali ‘Fad’

Selama ini kita telah hidup bersama fad namun tidak -atau mungkin- kurang mengenalnya. Di samping itu, saya belum menemukan terjemahan yang sepadan dari kata fad dalam bahasa Indonesia, sehingga saya akan membahasnya dengan menggunakan istilah aslinya dalam bahasa Inggris.

(more…)

Bagaimana Hari Buruh Lahir?

Perlu dipahami bahwa sejarah Hari Buruh berkaitan erat dengan gerakan sosialisme, komunisme, dan anarkisme yang berkawan dengan persatuan buruh di Eropa dan Amerika. Sehingga harusnya nilai-nilai paham tersebut tidak dianggap musuh oleh kalangan buruh yang berdikari, berusaha mendapatkan nilai kemanusiaannya dengan berada di bawah tekanan pemilik modal dan mesin.

(more…)

Pikiran Perempuan di Hari Perempuan: Merayakan dari Kemenangan

Di tengah kusak-kusuk para sosiolog di ruang kerja mereka, atau bahkan orang tua di tengah rutinitas mereka yang monoton, tentang kecemasan perkembangan teknologi canggih yang begitu pesat seakan tidak mampu disumbat, ada beberapa dari kita yang menganggapnya sebagai sesuatu yang lebih pantas disanjung daripada dihujat. Salah satu alasannya adalah karena peningkatan ‘instan’ kesadaran masyarakat, terutama pengguna media sosial. Yang saya maksud dengan kesadaran masyarakat yang instan itu adalah bagaimana media sosial mengingatkan otak kita yang mulai malas menghafal tentang perayaan hari besar atau penting, mulai ulang tahun ayah sendiri sampai peringatan tahunan atas suatu kejadian yang tercetus puluhan tahun lalu.

(more…)

Follow Us