Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Polisi Moral dan Etika, Perlu atau Tidak?

‘Polisi moral’ sebenarnya merupakan istilah tidak resmi yang awalnya muncul di masyarakat India. Istilah ini merujuk pada kelompok vigilante yang bertindak untuk memperkuat moralitas di India. Namun pada perkembangannya, istilah ini masuk ke dalam ranah lain dalam masyarakat dan meleburkan batas negara dan budaya. Saat ini, di Indonesia, kita juga mengenal istilah polisi moral yang berkaitan dengan aktivitas sosial media.

(more…)

Hilangnya Dosa dan Doxa

Sebagai seorang individu yang dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan masyarakat Indonesia, harus diakui bahwa saya sering menghadapi kesulitan dalam mengekspresikan diri. Tidak hanya berkaitan dengan penampilan, namun juga ideologi dan kepercayaan spiritualitas. Saya sudah memutuskan untuk melepas atribut agama apapun yang pernah melekat sebelumnya karena ketidaknyamanan akal dan batin. Dan menggantinya dengan konsep spiritualisme yang sifatnya lebih memerdekakan dan mendamaikan saya dalam lingkup pribadi maupun sosial.

(more…)

Dengan atau Tanpa Beasiswa, Urip Mung Sawang Sinawang, Mbak, Mas!

Akhirnya saya memutuskan untuk ikut bicara di tengah-tengah ‘peperangan’ kecil antara dua kubu anak muda saat ini: penerima beasiswa dan bukan penerima beasiswa. Ada apa sebenarnya? Beasiswa tentu bukanlah sesuatu yang baru dalam dunia pendidikan, apalagi jika kita bicara tentang Indonesia, mengingat tokoh-tokoh nasional yang bahkan di era sebelum kemerdekaan sudah kuliah di Belanda, Rusia, dan negara-negara lain dengan dibiayai beasiswa. Yang sedang ramai dijadikan pergunjingan adalah bahwa ‘kabar-kabarnya’ anak-anak penerima beasiswa sekarang ini hobi plesir dengan menggunakan beasiswa tersebut.

(more…)

Hukum Umum Dialektik (Satu:Kesatuan dari Segi-Segi yang Berlawanan)

Hukum dialektika merupakan hukum-hukum yang menguasai gerak dan dunia kenyataan obyektif (materiil). Perlu diketahui bahwa gerak dan perkembangan dunia kenyataan obyektif itu bukan digerakkan oleh sesuatu kekuatan yang ada di luarnya, dan bentuk geraknya tidak terbatas pada gerakan mekanis saja, melainkan digerakkan oleh kekuatan yang ada di dalam dirinya sendiri, misalnya segala macam gerak alam pikiran kita. Oleh karena itu, hukum-hukum dialektika adalah hal yang obyektif, artinya baik kita menyadari atau tidak, hukum-hukum tersebut ada dan tetap berlaku.

(more…)

Yen Ora Gelem Dijiwit, Ojo Njiwit

Dalam bahasa Indonesia istilah ini bisa diartikan: ‘kalau tidak ingin dicubit, jangan mencubit’. Saya yang lahir dan dibesarkan di Jawa, dengan keluarga yang masih sangat ‘njawani’, filosofi semacam ini menyimpan nilai berharga dalam kehidupan bermasyarakat, walaupun saya tidak ingat kapan pertama kali saya mendengar kalimat tersebut. Namun yang jelas saya mengamini filosofi yang sederhana namun fundamental ini.

(more…)

Perjalanan Spiritual yang Merdeka

Perjalanan spiritual yang akan dibahas dalam tulisan ini tidak merujuk pada satu sistem agama atau kepercayaan tertentu yang dikenal oleh masyarakat di dunia, baik yang secara sah diakui secara hukum maupun yang tidak. Konsep perjalanan spiritual yang coba saya jelaskan di sini diharapkan bisa diterapkan pada semua sistem agama atau kepercayaan, karena bersifat umum dan tidak menyinggung aspek detail atau istilah tertentu yang hanya digunakan untuk satu sistem agama atau kepercayaan. Sebagai tambahan, saya juga bukan agen pembawa firman atau penyampai ajaran sistem agama atau kepercayaan tertentu.

(more…)

Memaknai Ideologi: Materialisme Dialektik (Bagian I)

Dengan mudahnya kita mengakses informasi saat ini, semakin mudah juga hegemoni dibentuk, terutama oleh mereka yang memegang kekuasaan. Baru-baru ini saya ingat penjelasan Kiki Syahnakri di Simposium Nasional bertema “Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan PKI”. Saat ditanya oleh wartawan tentang perbedaan komunisme, Marxisme, Leninisme; berikut penjelasannya:

(more…)