Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Sisi Gelap Pemilihan Umum

Agaknya sudah terlalu sering kita mendengar wacana glorifikasi dari pemilihan umum yang sudah dilakukan oleh pemerintah Indonesia sejak tahun 1955. Glorifikasi tersebut berkaitan dengan keberhasilan negara dalam menerapkan konsep demokrasi yang memungkinkan masyarakat berperan aktif dalam pemilihan pemimpin mereka. Tetapi pada kenyataannya, proses persiapan dan pelaksanaan pemilu terbukti tidak selalu tentang hal-hal yang baik saja. Apalagi menjelang pemilihan presiden di bulan April 2019, arena persaingan kedua pasangan calon telah dijejali dengan sejumlah peristiwa negatif.

(more…)

Bunga Penutup Abad yang Tidak Mekar dengan Sempurna

Saya pikir semua penonton yang hadir pada pertunjukan teater bertajuk Bunga Penutup Abad, selanjutnya disebut dengan BPA, di gedung Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta memiliki ekspektasi dalam kepala mereka masing-masing. Ekspektasi itu bahkan mungkin sudah terbangun sejak jauh-jauh hari pementasan, yang salah satunya dapat terlihat dari penjualan tiket yang laku keras. Saya diberi kesempatan untuk bisa hadir pada pertunjukan hari pertama, tanggal 16 November 2018, yang dikhususkan untuk tamu undangan dan media massa. Dan walaupun saya tidak perlu turut dalam kompetisi pembelian tiket, tetap saja dalam kepala saya sudah ada satu konstruksi ekspektasi dari pertunjukan tersebut.

(more…)

Kritik terhadap Segregasi Ruang Domestik/Ruang Publik Perempuan dalam Novel Trilogi Putu Oka Sukanta

Wacana terkait ruang domestik dan ruang publik hampir tidak pernah luput dari ranah kajian feminisme. Hal ini berhubungan erat dengan gagasan ‘perempuan ideal’ yang dikaitkan dengan ruang-ruang di mana mereka sepatutnya berada. Secara historis, fenomena sosial ini telah dialami perempuan paling tidak sejak periode Yunani Kuno dan kemudian bertahan selama berabad-abad di negara-negara Barat (Vickery, 1993: 414), dikenal dengan istilah separate sphere.

(more…)

Negara (Masih) Mengukuhkan Kecemasan Massal

Bagi beberapa kelompok masyarakat di Indonesia, memasuki bulan September di setiap tahun terasa lebih menarik daripada perayaan kemerdekaan pada bulan sebelumnya. Jika pencapaian kemerdekaan negara pada 17 Agustus 1945 telah dianggap sebagai suatu hal yang tidak perlu, bahkan mungkin tidak bisa dipertentangkan lagi; hal yang berbeda terjadi dengan narasi tentang peristiwa malam 30 September 1965. Jika kita mau membuka mata lebih lebar dan menyadari riak-riak yang bergerak di tengah-tengah masyarakat, maka akan ditemukan begitu banyak paradoks.

(more…)

Postmemory dalam Skema Penyintas Tragedi G30S: Menjaga Ruang Tumbuh bagi Narasi Kecil

Kajian ilmu humaniora dan budaya agaknya memang tengah gencar-gencarnya ‘diserang’ oleh gejala post-, yang bisa diterjemahkan secara harfiah sebagai pasca. Paling tidak diskursus post-truth atau pasca kebenaran merupakan salah satu hal yang paling sering dibahas dan didiskusikan akhir-akhir ini. Kemudian, masih dalam kerangka konsep pasca-, baru saja saya mengikuti sebuah diskusi yang membahas tentang konsep postmemory.

(more…)

Perempuan Sudah Sekolah, Lalu?

Tulisan ini sesungguhnya merupakan bagian dari keluhan pribadi atas beberapa hal yang menimpa saya berkaitan dengan identitas ‘gender’ saya sebagai perempuan. ‘Gender’ saya beri tanda kutip karena menjadi penekanan tersendiri dalam tulisan kali ini, merujuk pada konsepsi konstruksi sosial yang sebenarnya tidak berlaku seiringan dengan jenis kelamin saya. Beberapa hal yang akan saya sampaikan di bawah ini mungkin bukan hal yang besar bagi beberapa pembaca, namun cukup menganggu kesadaran saya sebagai seorang perempuan.

(more…)

Reformasi yang Hanya di Permukaan

Hari ini dianggap sebagai momentum 20 tahun berjayanya pemerintahan Reformasi yang menggantikan rezim Orde Baru, yang ditandai dengan pernyataan pengunduran diri Suharto sebagai presiden kedua Indonesia. Pada saat itu, Reformasi menjadi sebuah mimpi besar yang ingin dicapai oleh para demonstran yang menyatakan mewakili rakyat Indonesia yang sudah muak dengan keserakahan para pemegang kekuasaan di era Orde Baru. Dan apakah selama dua dekade yang mengikuti turunnya Suharto dari kursi kepresidenan tersebut menandai tercapainya mimpi besar Reformasi?

(more…)

Tragedi 65-66 = McCarthyism a la Orde Baru

Pasca malam 30 September 1965, kekacauan politik dan sosial terjadi di Indonesia hampir secara merata. Kekacauan politik ditandai dengan kudeta ‘halus’ untuk menurunkan Sukarno dari tampuk kekuasaan untuk diduduki oleh Suharto. Dan kekacauan sosial di lapisan masyarakat terlihat dari maraknya isu komunisme yang seakan mengizinkan satu sama lain untuk saling melaporkan, menangkap, bahkan membunuh. Dengan dibukanya akses terhada dokumen-dokumen rahasia negara, para peneliti mulai berani menyatakan adanya keterlibatan negara lain dalam periode kekacauan tersebut, terutama Amerika Serikat.

(more…)

Posisi Karya Sastra di Tengah Perpolitikan Indonesia

Memang perlu diakui keputusan saya untuk menyampaikan tulisan ini masih berhubungan dengan permasalahan yang muncul terkait puisi yang dibacakan oleh Sukmawati Soekarnoputri. Saya tidak akan membahas apakah puisi tersebut bisa dikatakan menghina atau memojokkan salah satu pihak. Juga tidak akan mengatakan perlu atau tidak sebenarnya Sukmawati meminta maaf kepada publik. Tulisan ini juga berkaitan dengan hebohnya berita Indonesia akan bubar pada 2030 seperti pernyataan Prabowo yang ternyata dikutip dari novel Ghost Fleet.

(more…)

Sekelebat tentang Reformasi Agraria di Indonesia

Reformasi agraria merupakan salah satu agenda yang hampir tidak pernah berhenti diperjuangkan oleh kelas tertentu di Indonesia. Sejak Indonesia masih bersahabat karib dengan sosialisme pada tahun 1950-an, sempat ditenggelamkan selama rezim Orde Baru, namun kini menjadi salah satu perhatian penting terutama bagi kelompok-kelompok pergerakan rakyat. Yang perlu dipahami adalah bahwa reformasi agrarian tidak semata memperjuangkan hak kepemilikan tanah namun juga terkait dengan proses penggunaan, produksi dan konsumsi dari lahan tersebut.

(more…)

Follow Us