Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Benang Merah Mei 1993-Mei 1998-Mei 2019

Narasi besar yang paling sering dimunculkan tentang bulan Mei di Indonesia adalah Hari Pendidikan Nasional yang jatuh setiap tanggal 2 Mei. Padahal sejarah Indonesia modern telah menyimpan dua peristiwa besar lain di bulan Mei. Namun kedua peristiwa itu memang hampir tidak pernah diangkat ke permukaan oleh pemerintah apalagi diperingati. Yakni kematian Marsinah pada Mei 1993 dan peristiwa Mei 1998.

(more…)

Memaknai Ulang ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’

Terlepas masih ‘menariknya’ hari Kartini sampai hari ini, akhir-akhir ini sedikit sekali adanya pembahasan tekstual tentang Door duisternis tot licht (Through Darkness into Light [pen. Agnes L. Symmers] –  Habis Gelap Terbitlah Terang [pen. Armijn Pane]). Sosok Kartini dan karyanya dewasa ini disebut-sebut setiap tahun semata karena kita ingin terlihat turut merayakan Hari Kartini. Sementara itu, apakah kita benar-benar memahami makna dikotomi ‘gelap-terang’ yang disampaikan oleh Kartini pada tulisannya?

(more…)

Menjual Asa, Menebar Tagar

Istilah ‘menjual asa’, ‘mengobral janji’, adalah beberapa dari sekian frasa yang sering kita dengar setiap kali menjelang pemilihan umum. Visi dan misi yang disampaikan oleh para politikus yang bertanding di panggung pemilihan umum seringkali dianggap tidak lain sebagai janji yang diobral. Tidak ada yang salah dari pendapat itu, karena masyarakat punya hak penuh untuk menyampaikan pemikirannya terkait siapa pun yang ada di singgasana politik praktis.

(more…)

Gelanggang Militerisme di Indonesia

Publik Indonesia kembali dibuat ketar-ketir dengan penangkapan Robertus Robert setelah orasinya pada Aksi Kamisan pada 7 Maret 2019. Masyarakat pun sekali lagi terpecah menjadi dua kubu; satu pihak mengecam tindakan Polri yang telah melakukan penangkapan, sementara pihak lain menganggap penangkapan tersebut sebagai hal yang “pantas” bagi Robertus Robet. Ia dituding telah melakukan penghinaan terhadap institusi TNI saat menyampaikan orasi yang disertai dengan menyanyikan salah satu lagu yang sering dikumandangkan oleh para aktivis periode Orde Baru.

(more…)

Tunduk terhadap Kelompok Fundamentalis (?)

Fenomena menarik terkait ‘jalanan sebagai panggung pergerakan’ harus diakui telah terjadi pada periode reformasi ini. Sebagian dari kita mungkin adalah mereka yang pernah dengan begitu semangat turun ke jalan dengan memakai almamater kampus untuk melawan tirani rezim Orde Baru. Dan mahasiswa pun mendapatkan ‘gelar’nya sebagai penyampai aspirasi masyarakat. Dan kritik terhadap mahasiswa milenial pasca kejatuhan Orde Baru tidak muncul satu atau dua kali saja.

(more…)

Sepak Terjang Kejaksaan Agung dalam Praktik Pelarangan Buku

Publik Indonesia seminggu terakhir dikejutkan kembali dengan pemberitaan yang menyatakan usulan dari Jaksa Agung Muhammad Prasetyo untuk merazia buku-buku yang diduga berpaham komunisme dan ideologi terlarang lainnya secara besar-besaran. Pemberitaan ini menyusul kabar perampasan sejumlah buku yang dilakukan aparat TNI di beberapa toko buku di Pare, Kediri. Sejumlah pihak menyatakan keberatannya atas tindakan perampasan dan usulan razia buku-buku tersebut, dengan pertimbangan pemerintah seharusnya tidak lagi melakukan pemerkosaan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

(more…)

Sisi Gelap Pemilihan Umum

Agaknya sudah terlalu sering kita mendengar wacana glorifikasi dari pemilihan umum yang sudah dilakukan oleh pemerintah Indonesia sejak tahun 1955. Glorifikasi tersebut berkaitan dengan keberhasilan negara dalam menerapkan konsep demokrasi yang memungkinkan masyarakat berperan aktif dalam pemilihan pemimpin mereka. Tetapi pada kenyataannya, proses persiapan dan pelaksanaan pemilu terbukti tidak selalu tentang hal-hal yang baik saja. Apalagi menjelang pemilihan presiden di bulan April 2019, arena persaingan kedua pasangan calon telah dijejali dengan sejumlah peristiwa negatif.

(more…)

Bunga Penutup Abad yang Tidak Mekar dengan Sempurna

Saya pikir semua penonton yang hadir pada pertunjukan teater bertajuk Bunga Penutup Abad, selanjutnya disebut dengan BPA, di gedung Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta memiliki ekspektasi dalam kepala mereka masing-masing. Ekspektasi itu bahkan mungkin sudah terbangun sejak jauh-jauh hari pementasan, yang salah satunya dapat terlihat dari penjualan tiket yang laku keras. Saya diberi kesempatan untuk bisa hadir pada pertunjukan hari pertama, tanggal 16 November 2018, yang dikhususkan untuk tamu undangan dan media massa. Dan walaupun saya tidak perlu turut dalam kompetisi pembelian tiket, tetap saja dalam kepala saya sudah ada satu konstruksi ekspektasi dari pertunjukan tersebut.

(more…)

Kritik terhadap Segregasi Ruang Domestik/Ruang Publik Perempuan dalam Novel Trilogi Putu Oka Sukanta

Wacana terkait ruang domestik dan ruang publik hampir tidak pernah luput dari ranah kajian feminisme. Hal ini berhubungan erat dengan gagasan ‘perempuan ideal’ yang dikaitkan dengan ruang-ruang di mana mereka sepatutnya berada. Secara historis, fenomena sosial ini telah dialami perempuan paling tidak sejak periode Yunani Kuno dan kemudian bertahan selama berabad-abad di negara-negara Barat (Vickery, 1993: 414), dikenal dengan istilah separate sphere.

(more…)

Negara (Masih) Mengukuhkan Kecemasan Massal

Bagi beberapa kelompok masyarakat di Indonesia, memasuki bulan September di setiap tahun terasa lebih menarik daripada perayaan kemerdekaan pada bulan sebelumnya. Jika pencapaian kemerdekaan negara pada 17 Agustus 1945 telah dianggap sebagai suatu hal yang tidak perlu, bahkan mungkin tidak bisa dipertentangkan lagi; hal yang berbeda terjadi dengan narasi tentang peristiwa malam 30 September 1965. Jika kita mau membuka mata lebih lebar dan menyadari riak-riak yang bergerak di tengah-tengah masyarakat, maka akan ditemukan begitu banyak paradoks.

(more…)

Follow Us