Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Budi Darma, Media Sosial, dan Fast Idolism

Setelah jarang menjadi buah bibir selama beberapa waktu lamanya, nama Budi Darma kembali ramai diperbincangkan. Mungkin lebih tepatnya: setelah jarang menjadi buah bibir selama beberapa waktu lamanya, dan selepas kematiannya, nama Budi Darma kembali ramai diperbincangkan. Hal seperti itu memang bukan hal yang baru dalam sastra dan seni, bahkan juga sains. Beberapa orang bahkan benar-benar baru dikenal setelah kematiannya, sebut saja Vincent Van Gogh, Emily Dickinson, dan Gregor Johann Mendel yang sekarang baru diakui penemuannya sebagai muasal dari teori genetika modern.

(more…)

Kecerdasan Demokrasi: 404 Not Found

Presiden Jokowi agaknya benar-benar merebut panggung pembicaraan masyarakat Indonesia pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-76. Pembicaraan yang berkembang paling tidak meliputi dua hal: pakaian adat yang digunakan Jokowi saat menyampaikan pidato kenegaraan dan mural 404: Not Found di Batuceper, Tangerang. Dan tulisan saya kali ini akan lebih membahas (baca: mengomel) tentang ihwal yang kedua.

(more…)

Partisipasi Berbuah Diskriminasi

Setelah mengalami penundaan selama satu tahun karena pandemi Covid-19, Olimpiade Tokyo 2020 seakan menjadi angin penyemangat bagi warga dunia. Paling tidak kecemasan dan ketakutan yang dirasakan masyarakat dalam taraf berbeda-beda tiap individunya bisa sedikit reda dengan berita-berita keberhasilan dan kemenangan. Namun, di antara gempita di tengah nestapa, ada juga hal lain yang perlu ditelusuri lebih lanjut, yakni terkait partisipasi perempuan dalam turnamen olahraga dan isu gender yang meliputinya.

(more…)

Nyawa Manusia di Tangan Algoritma

Sejak pertama kali melanda dunia pada 2019, pandemi Covid-19 telah menunjukkan beragam wajahnya. Begitu banyak aspek yang berkaitan langsung atau paling tidak bersinggungan dengan fenomena global tersebut, melampaui esensi dasarnya sebagai suatu kasus krisis kesehatan. Keragaman tersebut pada beberapa titik berkenaan dengan semakin terkoneksinya negara dan manusia dalam konteks global yang didorong sejumlah faktor, termasuk salah satunya yang paling berpengaruh adalah perkembangan internet dan media sosial.

(more…)

Pandemi bukan Ring Tinju

Situasi yang dihadapi Indonesia akibat pandemi Covid-19 belum juga membaik, jika dapat dikatakan semakin menantang. Peningkatan kasus positif, aktif, bahkan jumlah pasien yang meninggal terus terjadi paling tidak sejak penghujung Juni lalu. Pemerintah pusat pun merespons situasi tersebut dengan instruksi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Namun, agaknya sulit untuk mengatakan kita telah berhasil “mengendalikan” penularan virus ataupun penanganannya. Yang kemudian menarik untuk dibaca lebih lanjut adalah bagaimana kita saling membaca satu sama lain, saling menuding satu sama lain. 

(more…)

Alienasi Berganda: Kemelut Pandemi dan Gig Economy

Satu tahun menjalani hidup dalam situasi pandemi, tentu kita semua telah menyadari dan mengetahui bahwa fenomena global ini bukan hanya perkara kesehatan publik, tetapi juga disrupsi sosial-ekonomi yang mungkin tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Alienasi sosial berganda menjadi ancaman yang mengintai atau bahkan telah dialami beberapa orang yang berjuang bertahan hidup di tengah ketidakajegan kondisi ekonomi dan kesehatan global.

(more…)

Nahas karena Beras

“Tidak, soal makanan rakyat ini tidak dapat dipecahkan dengan cynisme, dengan sekadar menuduh, dengan sekadar mencemooh. Sebab kesulitan soal ini terletak obyektif kepada ketidak-seimbangan antara produksi dan konsumsi, antara persediaan yang ada dan jumlah mulut yang memakannya, dan tidak subyektif karena durhakanya sesuatu orang. Tiap tahun, zonder kecuali, zonder pause, zonder ampun, soal beras ini akan datang – dan akan datang crescendo – makin lama makin hebat – makin lama makin sengit – makin lama makin ngeri – selama tambahnya penduduk yang cepat itu tidak kita imbangi dengan tambahnya persediaan bahan makanan yang cepat pula!”

(more…)

Berkilah Limbah

Aturan turunan dari Undang-Undang No. 11/2020–atau yang lebih dikenal dengan UU Cipta Kerja–yakni PP No. 22/2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang ditetapkan dan diundangkan pada 2 Februari lalu menuai kecaman dari sejumlah pihak, khususnya kelompok aktivis lingkungan hidup. Kecaman tersebut terbit akibat adanya pengubahan pada status sejumlah limbah dari yang sebelumnya tergolong sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) sebagaimana diatur dalam PP No. 10/2014 tentang Pengelolaan Limbah Berbahaya dan Beracun.

(more…)

Pramoedya Ananta Toer: Yang Terkenal dan Terkenang

Pada penghujung tahun lalu, saya sempat mendapatkan kesempatan mahal untuk memandu salah satu program Festival Sastra Lontar yang diadakan Yayasan Lontar, yakni pemutaran film dokumenter Mendengar Si Bisu Bernyanyi yang disutradarai Srikaton dan diskusi dengan John H. McGlynn, penerjemah karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Bagi John, acara tersebut memang bukan pertama kalinya ia hadir di hadapan publik untuk menceritakan pengalamannya menjadi penerjemah Pram. Namun menurut saya, pada momentum itulah John mengingat kembali sosok penulis itu sebagai seseorang yang ia kenal dan kenang.

(more…)

Indonesia, Bencana, dan Perjanjian Paris

Pergantian tahun dari 2020 ke 2021 diharapkan oleh penduduk dunia akan menjadi momentum perubahan kehidupan menjadi lebih baik setelah kemunculan dan tersebarnya virus corona yang membawa perubahan drastis pada kehidupan masyarakat sehari-hari. Namun rupanya tidak semudah itu, khususnya bagi Indonesia yang telah dilanda bencana alam bertubi di sejumlah daerah pada awal tahun ini.

(more…)
Follow Us