Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Siapa yang Patut Dianggap Manusia?

Sejak mencuatnya pemberitaan terkait penembakan enam laskar Front Pembela Islam di jalan raya Tol Jakarta–Cikampek kilometer 50 pada Senin 7 Desember 2020, saya mendapati pertentangan pendapat di media sosial terkait perlukah kita bersimpatik kepada anggota FPI jika mengingat tindakan-tindakan mereka yang telah menyebabkan ketidaknyamanan publik dan mengganggu harmoni interaksi sosial masyarakat Indonesia yang pada sejatinya memang terdiri atas beragam latar belakang identitas etnis dan agama.

(more…)

Populisme Islam dan Politik Penzaliman

Belum tuntas penyidikan kasus yang menjerat Rizieq Shihab untuk pengumpulan massa di Petamburan di tengah masa pandemi dan penembakan enam anggota Front Pembela Islam, perhatian publik sekali lagi mengarah pada organisasi tersebut setelah dikeluarkannya Surat Keputusan Bersama (SKB) pada 1 Januari 2021 tentang pembubaran Front Pembela Islam.

(more…)

Kontestasi Penerimaan dan Penolakan Politik Dinasti

Pemberitaan yang cukup mengguncang dunia perpolitikan Indonesia beberapa hari ini membahas kemenangan Gibran Rakabuming Raka dan Bobby Nasution, masing-masing anak kandung dan menantu presiden Joko Widodo, sebagai walikota Solo dan Medan. Masyarakat pun mengkritisi hal tersebut sebagai praktik kepemimpinan dinasti di tengah kehidupan politik demokrasi Indonesia.

(more…)

Obsesi Negara dengan Ketertiban

Setelah pengesahan RUU Cipta Kerja pada 5 Oktober 2020 yang berbuntut dengan demonstrasi besar-besaran di sejumlah daerah di Indonesia, DPR kembali merancang RUU lain yang juga mendapatkan respon keras dari masyarakat, yakni RUU Larangan Minuman Beralkohol. Pengusulan dan penyusunan RUU tersebut disebut-sebut didasarkan pada satu harapan atau cita-cita, yakni “demi ketertiban negara.”

(more…)

UU Cipta Kerja, Pertanda Ekonomi Fasisme

Rasanya saya tidak perlu menjelaskan dalam bagian tersendiri pada tulisan ini tentang UU Cipta Kerja yang telah disahkan oleh DPR RI melalui rapat paripurna pada Senin, 5 Oktober 2020. Sudah begitu banyak tulisan panjang, status media sosial, dan bahkan utas cuitan yang menjelaskan dengan cukup terperinci isi dari undang-undang tersebut dan mengapa penetapannya perlu direspons secara kritis oleh masyarakat.

(more…)

Paceklik Pendidikan di Masa Pandemi

Beredarnya berita terkait mata pelajaran Sejarah untuk peserta didik tingkat SMA/SMK sederajat seketika menghebohkan publik. Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) sudah membuat petisi di situs Change.org yang menyatakan ketidaksetujuan mereka dengan wacana yang digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut. Sejarawan juga sudah angkat bicara melalui akun media sosial mereka. Kebanyakan dari komentar mereka menganggap pelajaran Sejarah penting untuk membentuk jati diri dan karakter bangsa.

(more…)

Negara Kesatuan Preman

Pernyataan Wakapolri Komjen Pol Gatot Eddy Pramono baru-baru ini terkait rencana memanfaatkan tenaga preman sebagai strategi pendisiplinan publik dalam upaya menekan penyebaran virus COVID-19 mengingatkan kita pada masa-masa yang sudah lampau. Penggerakan massa preman bukan hal yang baru dalam sejarah negara ini, bahkan menurut penelitian sejarah dapat ditelusuri jejaknya sampai masa periode Kerajaan Medang. Preman atau jagoan juga berperan cukup penting pada periode Revolusi, kemudian dimanfaatkan oleh pemerintah Orde Baru sebagai salah satu strategi pemertahanan kekuasaan. 

(more…)

Ciracas dan Dendam Tak Tuntas

Proses hukum untuk kasus perusakan Kantor Polsek Ciracas yang terjadi pada Sabtu dini hari, 29 Agustus 2020, masih berlangsung. Beberapa orang yang terlibat dalam penyerangan dan pembakaran tersebut adalah anggota TNI. Konflik yang melibatkan anggota TNI dengan POLRI bukanlah hal yang baru terjadi, dan peristiwa Ciracas mengimplikasikan dendam yang tak kunjung tuntas antara dua institusi tersebut.

(more…)

Pandemi dan Komunikasi Sains

Beberapa pekan terakhir, saya mulai mendengar celetukan seperti “sepertinya orang-orang sudah lupa dengan COVID” dari orang-orang di sekitar saya. Celetukan itu muncul dari pengamatan bebas atas pergerakan aktivitas yang telah kembali seperti sebelum diterapkannya aturan-aturan yang bertujuan menekan tingkat penyebaran virus corona: gerbong KRL yang telah kembali penuh sesak di jam pulang kerja, kemacetan kendaraan di jalanan, dan dicabutnya sistem kerja dari rumah. Pada saat yang sama, pemberitaan tentang penemuan vaksin dan obat semakin gencar. Lalu apa yang menjadikan masyarakat seakan-akan dengan mudah “terlupa” dengan pandemi?

(more…)

Merdeka Belajar itu Bernama Netflix

Sejak seminggu terakhir, tanggapan dan kritik sudah bermunculan di kanal-kanal pemberitaan terkait keputusan Nadiem Makarim untuk bekerja sama dengan Netflix untuk menyediakan tayangan gratis yang ditujukan bagi peserta didik yang diharuskan belajar dari rumah karena pandemi COVID-19. Namun kritik tersebut kebanyakan berkisar tentang keberatan atas putusan Nadiem yang seakan tidak menganggap keberadaan dan kemampuan pelaku dunia industri film di Indonesia. Lalu bagaimana dalam kaitannya dengan pendidikan itu sendiri?

(more…)
Follow Us