Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Vaksin: Kisah-Kisah Lama yang Tak Tuntas

Program vaksinasi massal untuk pandemi Covid-19 telah dimulai di sejumlah negara sejak awal tahun 2021, termasuk Indonesia. Angka-angka target telah tersebar di pemberitaan dan menumbuhkan harapan, juga kekhawatiran dan penolakan. Namun keriuhan terkait vaksin Covid sebenarnya bukanlah kasus baru di Indonesia, bahkan di sejumlah negara lain. Vaksin sebagai salah salah satu temuan di bidang kesehatan yang membawa perubahan besar bagi dunia, dalam perjalanannya telah menghadapi penerimaan, keengganan, sampai penolakan.

(more…)

Pemakzulan: Makar atau Demokrasi?

Pasca kerusuhan yang terjadi di Gedung Kongres Capitol Hill, Washington DC. pada 6 Januari lalu, Presiden Donald Trump harus menghadapi sidang pemakzulannya yang kedua pada 9 Februari 2021 setelah pemakzulan pertama yang dilayangkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat pada 18 Desember 2019. Donald Trump menjadi presiden pertama dalam sejarah Amerika yang dimakzulkan sebanyak dua kali.

(more…)

Siapa yang Patut Dianggap Manusia?

Sejak mencuatnya pemberitaan terkait penembakan enam laskar Front Pembela Islam di jalan raya Tol Jakarta–Cikampek kilometer 50 pada Senin 7 Desember 2020, saya mendapati pertentangan pendapat di media sosial terkait perlukah kita bersimpatik kepada anggota FPI jika mengingat tindakan-tindakan mereka yang telah menyebabkan ketidaknyamanan publik dan mengganggu harmoni interaksi sosial masyarakat Indonesia yang pada sejatinya memang terdiri atas beragam latar belakang identitas etnis dan agama.

(more…)

Populisme Islam dan Politik Penzaliman

Belum tuntas penyidikan kasus yang menjerat Rizieq Shihab untuk pengumpulan massa di Petamburan di tengah masa pandemi dan penembakan enam anggota Front Pembela Islam, perhatian publik sekali lagi mengarah pada organisasi tersebut setelah dikeluarkannya Surat Keputusan Bersama (SKB) pada 1 Januari 2021 tentang pembubaran Front Pembela Islam.

(more…)

Kontestasi Penerimaan dan Penolakan Politik Dinasti

Pemberitaan yang cukup mengguncang dunia perpolitikan Indonesia beberapa hari ini membahas kemenangan Gibran Rakabuming Raka dan Bobby Nasution, masing-masing anak kandung dan menantu presiden Joko Widodo, sebagai walikota Solo dan Medan. Masyarakat pun mengkritisi hal tersebut sebagai praktik kepemimpinan dinasti di tengah kehidupan politik demokrasi Indonesia.

(more…)

Obsesi Negara dengan Ketertiban

Setelah pengesahan RUU Cipta Kerja pada 5 Oktober 2020 yang berbuntut dengan demonstrasi besar-besaran di sejumlah daerah di Indonesia, DPR kembali merancang RUU lain yang juga mendapatkan respon keras dari masyarakat, yakni RUU Larangan Minuman Beralkohol. Pengusulan dan penyusunan RUU tersebut disebut-sebut didasarkan pada satu harapan atau cita-cita, yakni “demi ketertiban negara.”

(more…)

UU Cipta Kerja, Pertanda Ekonomi Fasisme

Rasanya saya tidak perlu menjelaskan dalam bagian tersendiri pada tulisan ini tentang UU Cipta Kerja yang telah disahkan oleh DPR RI melalui rapat paripurna pada Senin, 5 Oktober 2020. Sudah begitu banyak tulisan panjang, status media sosial, dan bahkan utas cuitan yang menjelaskan dengan cukup terperinci isi dari undang-undang tersebut dan mengapa penetapannya perlu direspons secara kritis oleh masyarakat.

(more…)

Paceklik Pendidikan di Masa Pandemi

Beredarnya berita terkait mata pelajaran Sejarah untuk peserta didik tingkat SMA/SMK sederajat seketika menghebohkan publik. Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) sudah membuat petisi di situs Change.org yang menyatakan ketidaksetujuan mereka dengan wacana yang digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut. Sejarawan juga sudah angkat bicara melalui akun media sosial mereka. Kebanyakan dari komentar mereka menganggap pelajaran Sejarah penting untuk membentuk jati diri dan karakter bangsa.

(more…)

Negara Kesatuan Preman

Pernyataan Wakapolri Komjen Pol Gatot Eddy Pramono baru-baru ini terkait rencana memanfaatkan tenaga preman sebagai strategi pendisiplinan publik dalam upaya menekan penyebaran virus COVID-19 mengingatkan kita pada masa-masa yang sudah lampau. Penggerakan massa preman bukan hal yang baru dalam sejarah negara ini, bahkan menurut penelitian sejarah dapat ditelusuri jejaknya sampai masa periode Kerajaan Medang. Preman atau jagoan juga berperan cukup penting pada periode Revolusi, kemudian dimanfaatkan oleh pemerintah Orde Baru sebagai salah satu strategi pemertahanan kekuasaan. 

(more…)

Ciracas dan Dendam Tak Tuntas

Proses hukum untuk kasus perusakan Kantor Polsek Ciracas yang terjadi pada Sabtu dini hari, 29 Agustus 2020, masih berlangsung. Beberapa orang yang terlibat dalam penyerangan dan pembakaran tersebut adalah anggota TNI. Konflik yang melibatkan anggota TNI dengan POLRI bukanlah hal yang baru terjadi, dan peristiwa Ciracas mengimplikasikan dendam yang tak kunjung tuntas antara dua institusi tersebut.

(more…)
Follow Us