Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Mengenal Orde Baru: Cina

Rasanya kita tidak bisa mengenal Orde Baru tanpa mengingat-ingat bagaimana kata ‘Cina’ yang sederhana, hanya terdiri dari empat huruf dan secara literal bermakna netral itu menjadi sangat signifikan dalam lingkungan bermasyarakat Indonesia. Sebenarnya saya sudah pernah membahas tentang hal ini di artikel sebelumnya, namun kata populer ini tidak bisa dihilangkan dari seri tulisan ‘Mengenal Orde Baru’ sehingga dianggap perlu untuk diulas kembali.

(more…)

Mengenal Orde Baru: Ciduk

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ciduk merujuk pada benda untuk mengambil air yang terbuat dari tempurung kelapa atau bahan lain yang bertangkai. Kita pun mengenal benda yang dipakai setiap hari ini dengan istilah yang beragam menurut bahasa daerah. Bahkan pada Bahasa Jawa saja, ada lebih dari satu istilah, seperti cibuk dan siwur. Tetapi sejatinya artikel ini tidak akan membahas etimologi kata ciduk secara linguistik. Yang akan dibahas adalah penggunaan kata ‘ciduk’ yang sempat menjadi salah satu istilah hits semasa rezim Orde Baru.

(more…)

Mengenal Orde Baru: Cendana

Hampir dua dekade sejak Suharto lengser dari kursi kepresidenannya, media seakan belum muak untuk menjadikan Keluarga Cendana sebagai subjek berita. Mulai dari kasus pidana yang membelit mereka, sampai yang sifatnya urusan pribadi seperti pernikahan dan perceraian. Memang harus diakui betapa kuatnya pengaruh keluarga besar Suharto itu, bahkan setelah mereka dianggap ‘tidak lagi memiliki kekuatan politik‘.

(more…)

Mengenal Orde Baru: Cekal

Menjadi salah satu istilah yang paling sering dan umum digunakan selama rezim Orde Baru, kata ‘cekal’ sebenarnya merupakan sebuah akronim, yang kepanjangannya adalah ‘cegah tangkal’. Kita perlu menyadari fakta bahwa memang begitu banyak hal yang perlu dicegah dan ditangkal karena kepentingan pemerintah yang sangat besar untuk mempertahankan kekuasaan dan menjaga wajah mereka agar selalu terlihat bagus.

(more…)

Mengenal Orde Baru: Buruh

Walaupun dengan semakin berkembangnya industrialisasi di Indonesia, rezim Orde Baru seringkali merasa risih dengan istilah ‘buruh’. Ada konotasi negatif yang disematkan pada beberapa kata dan frasa seperti buruh, massa buruh, atau organisasi buruh yakni komunisme, PKI, gerakan kiri; segala hal yang menjadi agenda rezim untuk diberangus sampai ke akar-akarnya. Sehingga bahkan semasa bercokolnya rezim tersebut, jarang sekali yang berani mengungkapkan kata-kata tersebut dengan lantang di depan umum.

(more…)

Mengenal Orde Baru: Bhinneka Tunggal Ika

Motto Bhinneka Tunggal Ika memang bukanlah ciptaan Suharto, namun bisa dirunut sejarahnya sampai ke peradaban kerajaan Nusantara. Bhinneka Tunggal Ika diambil dari sebuah puisi yang ditulis dalam Bahasa Jawa Kuno dalam kitab kumpulan puisi berjudul Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular semasa kekuasaan kerajaan Majapahit atau sekitar abad ke 14. Sutasoma merupakan buku kumpulan puisi yang ditulis dengan metrum.

(more…)

Mengenal Orde Baru: Bersih Diri

Rezim Orde Baru pernah membentuk suatu klasifikasi untuk membagi (baca: memecah belah) warga negara Indonesia menurut penilaian yang mereka bentuk sendiri, dinamai dengan ‘bersih diri’. Masyarakat yang tidak bersih diri adalah mereka yang kekiri-kirian sehingga tidak Pancasilais dan tidak nasionalis. Sedangkan di sisi lain, mau sekorup apapun selama tidak ada hubungannya dengan komunisme pun dianggap bersih.

(more…)

Mengenal Orde Baru: Beras

Rezim Orde Baru memang bisa dianggap sebagai pemerintahan paling kreatif dalam mempergunakan komoditas-komoditas yang ada untuk menjadi tunggangan politik. Bukan hal yang baru lagi untuk menggunakan media massa seperti penerbitan berita di surat kabar atau penyiaran pidato di televisi sebagai alat propaganda. Namun semasa rezim Orde Baru, bahkan beras pun tidak lagi semata-mata dianggap sebagai komoditi pangan, karena telah digunakan sebagai kendaraan politik demi kelanggengan kekuasaan.

(more…)

Mengenal Orde Baru: Bapak Pembangunan

Layaknya seorang raja di sebuah kerajaannya di mana ia bisa bertindak sesuka hatinya karena merupakan pemimpin paling benar, Suharto menjadi satu-satunya presiden yang mentahbiskan dirinya sendiri sebagai ‘Bapak Pembangunan’. Lalu kita sebagai rakyatnya pun, tidak punya pilihan lain disamping mengiyakan keegoan pria itu. Bahkan titel itu bertengger di buku-buku pelajaran sekolah, membuat para peserta didik yang haus akan sosok pahlawan manggut-manggut percaya.

(more…)

Mengenal Orde Baru: Atheisme

Ada satu kalimat yang ditulis oleh Marx yang digunakan sebagai senjata propaganda pemerintah Orde Baru, yakni ‘Die Religion … ist das Opium des Volkes’ – yang diterjemahkan lalu dipublikasikan sebagai ‘agama adalah candu bagi rakyat’ (baca Memaknai (lagi) Agama adalah Opium milik Marx). Propaganda yang diluncurkan oleh pemerintah Orde Baru terbukti berhasil, karena nyatanya penggeseran makna ‘atheis’ dan ‘atheisme’ yang merongrong dalam kepala rakyat Indonesia dipercaya, disebarkan, dan diturunkan selama beberapa generasi masyarakat.

(more…)

Follow Us