Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Mbak Dian, Kamu Tidak Sendirian

Setelah menjadi perbincangan (baca: perdebatan) di antara para pengguna media sosial, wajah dari tokoh utama film Tilik, Bu Tedjo, semakin mudah ditemukan di jagat internet dalam bentuk meme dan stiker. Beberapa perbincangan kebanyakan menempatkan Bu Tedjo–yang di film tersebut menjadi penyulut pergunjingan–sebagai bahan pembicaraan, mulai dari cara berbicaranya, ekspresi dan mimik wajahnya, dan tentu dialog-dialog yang disampaikan. Namun tulisan ini saya tujukan untuk Mbak Dian, tokoh yang dibicarakan di sepanjang film tersebut.

(more…)

Membawa Kota ke Atas Panggung

Kota menjadi tema yang diangkat dalam dua pertunjukan teater dalam perhelatan Djakarta Teater Platform bertajuk “Kekuasaan dan Ketakutan”. Setengah Komplek-X oleh Teater Alamat dan Suara-Suara Gelap: Dari Ruang Dapur oleh Teater Kala adalah dua pertunjukan yang mengangkat isu perkotaan dengan strategi penceritaan yang berbeda. Dramaturgi yang tidak sama persis untuk mengangkat satu tema serupa menjadi kajian menarik untuk dibahas.

(more…)

Dinamika Ideologi dalam Kumpulan Cerpen Debur Zaman (2019)

Tiga periode yang menjadi latar waktu penciptaan karya dalam kumpulan cerpen Debur Zaman (2019) oleh Putu Oka Sukanta mengimplikasikan dinamika pada ideologi teks yang dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Dinamika ideologi dalam tulisan ini diasumsikan dipengaruhi oleh sejumlah faktor ekstrinsik seperti medan sastra, situasi politik, dan pengalaman pribadi penulis. Tulisan ini akan mengkaji dinamika ideologi dari tiga periode linimasa kepenulisan dengan urutan paling lama sampai terbaru–terbalik dari yang terdapat dalam buku kumpulan cerpen tersebut– dengan membaca situasi sosial, politik, dan ekonomi pada masing-masing periode kepenulisan.

(more…)

Memaknai Ulang ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’

Terlepas masih ‘menariknya’ hari Kartini sampai hari ini, akhir-akhir ini sedikit sekali adanya pembahasan tekstual tentang Door duisternis tot licht (Through Darkness into Light [pen. Agnes L. Symmers] –  Habis Gelap Terbitlah Terang [pen. Armijn Pane]). Sosok Kartini dan karyanya dewasa ini disebut-sebut setiap tahun semata karena kita ingin terlihat turut merayakan Hari Kartini. Sementara itu, apakah kita benar-benar memahami makna dikotomi ‘gelap-terang’ yang disampaikan oleh Kartini pada tulisannya?

(more…)

Bunga Penutup Abad yang Tidak Mekar dengan Sempurna



Saya pikir semua penonton yang hadir pada pertunjukan teater bertajuk Bunga Penutup Abad, selanjutnya disebut dengan BPA, di gedung Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta memiliki ekspektasi dalam kepala mereka masing-masing. Ekspektasi itu bahkan mungkin sudah terbangun sejak jauh-jauh hari pementasan, yang salah satunya dapat terlihat dari penjualan tiket yang laku keras. Saya diberi kesempatan untuk bisa hadir pada pertunjukan hari pertama, tanggal 16 November 2018, yang dikhususkan untuk tamu undangan dan media massa. Dan walaupun saya tidak perlu turut dalam kompetisi pembelian tiket, tetap saja dalam kepala saya sudah ada satu konstruksi ekspektasi dari pertunjukan tersebut.

(more…)

Kritik terhadap Segregasi Ruang Domestik/Ruang Publik Perempuan dalam Novel Trilogi Putu Oka Sukanta



Wacana terkait ruang domestik dan ruang publik hampir tidak pernah luput dari ranah kajian feminisme. Hal ini berhubungan erat dengan gagasan ‘perempuan ideal’ yang dikaitkan dengan ruang-ruang di mana mereka sepatutnya berada. Secara historis, fenomena sosial ini telah dialami perempuan paling tidak sejak periode Yunani Kuno dan kemudian bertahan selama berabad-abad di negara-negara Barat (Vickery, 1993: 414), dikenal dengan istilah separate sphere.

(more…)

Follow Us