Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Merdeka Belajar itu Bernama Netflix

Sejak seminggu terakhir, tanggapan dan kritik sudah bermunculan di kanal-kanal pemberitaan terkait keputusan Nadiem Makarim untuk bekerja sama dengan Netflix untuk menyediakan tayangan gratis yang ditujukan bagi peserta didik yang diharuskan belajar dari rumah karena pandemi COVID-19. Namun kritik tersebut kebanyakan berkisar tentang keberatan atas putusan Nadiem yang seakan tidak menganggap keberadaan dan kemampuan pelaku dunia industri film di Indonesia. Lalu bagaimana dalam kaitannya dengan pendidikan itu sendiri?

(more…)

Ancaman Pasca Pandemi bagi Pekerja Kerah Putih di Bidang Kebudayaan

Sejak awal abad ke-20, pembagian kelas pekerja secara umum didasarkan pada jenis pekerjaan, dan terkadang gender, dengan menggunakan warna pakaian yang sering dipakai oleh jenis pekerjaan tertentu sebagai penanda. Sampai hari ini, pembagian kelas pekerja yang masih cukup umum digunakan antara lain kerah putih, kerah biru, kerah merah muda, kerah emas, dan kerah hitam. Khusus untuk pembahasan kali ini, saya akan fokus pada pekerja kerah putih.

(more…)

Privilese “New Normal”

Sebagian dari kita, terutama yang tinggal di daerah Jabodetabek, telah menjalani karantina rumah selama paling tidak tiga bulan lamanya. Penetapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta yang diperpanjang sampai 4 Juni 2020 digadang-gadangkan akan menjadi babak terakhir dari “Kerja dari Rumah”. Pembicaraan tentang “new normal” atau kehidupan normal yang baru pun mengudara. Mengapa istilah “new normal” bisa muncul, dan apa saja hal yang diimplikasikan dari istilah itu?

(more…)

Skenario Ekonomi di Masa Pandemi

Penerapan pembatasan sosial untuk menekan tingkat penularan COVID-19 telah menyebabkan permasalahan ekonomi bagi sebagian besar negara di dunia, bahkan termasuk raksasa ekonomi seperti Amerika Serikat. Sistem ekonomi yang berlaku di sebuah negara tidak dapat dipisahkan dari sistem politik dan dapat dipastikan selalu memengaruhi kehidupan sosial masyarakatnya.

(more…)

“Kerja, Kerja, Kerja” dan Kartu Prakerja

Pandemi COVID-19 telah terbukti tidak hanya menjadi isu kesehatan masyarakat, namun juga memunculkan permasalahan ekonomi. Permasalahan ini tidak hanya dihadapi oleh Indonesia, bahkan juga negara-negara lain yang termasuk dalam kategori negara maju. Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah di masing-masing negara untuk memperlambat kemerosotan ekonomi, salah satunya dengan menerbitkan Kartu Prakerja oleh pemerintah Indonesia.

(more…)

Represi Berganda di Tengah Wabah

Wabah memang menakutkan. Ia tidak hanya mengancam kesehatan fisik, namun juga dapat memberikan tekanan psikologis bagi beberapa orang. Di saat yang sama, wabah juga telah terbukti memberikan ancaman besar terhadap keberlangsungan ekonomi dalam tingkat makro maupun mikro. Keadaan tersebut selanjutnya diperparah dengan represi pemerintah yang ternyata punya ketakutan sendiri terhadap masyarakatnya.

(more…)

Wabah, Ekonomi, dan Kelas

Beberapa dari kita mungkin masih ingat dengan jargon-jargon humor satir yang pernah sangat populer di kalangan masyarakat Indonesia, seperti “kalau miskin jangan sakit”. Penyebaran COVID-19 yang telah menjadi pandemi seluruh dunia mungkin pada awalnya tidak dapat disangkutpautkan dengan kelas sosial–miskin atau kaya secara umum memiliki risiko yang sama untuk terpapar virus tersebut. Namun seiring berjalannya waktu, mulai terlihat permasalahan yang berhubungan dengan kelas sosial.

(more…)

Sikap Positif terhadap Tubuh Bukan Budaya Kita

Kiriman foto Tara Basro yang menunjukkan lipatan perut di akun Instagramnya pada 3 Maret 2020 rupanya mengundang respon yang–sepertinya–tidak pernah dibayangkan oleh dirinya sendiri atau para pengguna media sosial yang familiar dengan gerakan body positivity atau sikap positif terhadap tubuh. Kominfo mengeluarkan pernyataan bahwa kiriman tersebut merupakan konten pornografi, menunjukkan bagaimana gerakan tersebut “bukan budaya kita”.

(more…)

Pancasila, Masih Relevankah sebagai Tolok Ukur?

Suara-suara kekecewaan memenuhi ruang-ruang dunia maya, beberapa diikuti dengan tuntutan agar Menteri Agama Fachrul Razi dicopot dari jabatannya. Keputusannya untuk memperpanjang izin organisasi Front Pembela Islam (FPI) menuai kecaman publik. Fachrul Razi berpendapat FPI telah menyatakan kesediaannya untuk patuh pada Pancasila. Pancasila pun –sekali lagi– menjadi tolok ukur untuk menentukan nasib sebuah organisasi atau kelompok. Namun apakah Pancasila memang masih relevan untuk dijadikan sebagai tolok ukur?

(more…)

Prabowo, Kopassus dan Timor Timur: Sejarah Tersembunyi dari Perang Non Konvensional Modern Indonesia

Oleh: Ingo Wandelt
Alih Bahasa: Dhianita Kusuma Pertiwi dan Giovani Fabiano

Kekerasan milisi yang terjadi pada masa referendum kemerdekaan Timor Timur pada Agustus 1999 telah direncanakan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) bahkan semenjak April 1999, saat sekelompok preman pertama kali muncul di media internasional. Upaya untuk mencari jejak organisasi tersebut dimulai semenjak tahun 1998, sebelum gagasan referendum dikeluarkan oleh Presiden Jusuf Habibie pada Januari 1999. Bentuk milisi yang baru dirancang pada awal 1990-an dan memiliki keterkaitan dengan nama Prabowo Subianto Djojohadikusumo, Jenderal Komando Pasukan Khusus, Kopassus, yang merupakan menantu dari diktator dan penguasa Orde Baru, Jenderal Suharto. Kapan tepatnya Prabowo memperkenalkan untuk pertama kali gagasannya tentang bentuk milisi baru ini di depan khalayak?

(more…)
Follow Us