Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

(Toksisitas) Wacana Dominan Heteroseksualitas

Setelah ramai diperbincangkannya protes dan pelarangan penayangan film Kucumbu Tubuh Indahku (2019, sut. Garin Nugroho), ruang ekspresi seksualitas di Indonesia kembali menjadi bahasan publik dengan diberhentikannya seorang anggota polisi berinisial TT di Jawa Tengah. TT diberitakan dipecat dari kesatuannya karena orientasi seksualnya.


Diskriminasi terhadap mereka yang mengidentifikasi diri mereka atau dituduh memiliki orientasi seksual sesama jenis tentu saja bukan pertama kali terjadi. Pada tahun 2017, Universitas Andalas mengeluarkan formulir pernyataan tidak termasuk LGBT dari Universitas Andalas kepada calon mahasiswa yang lulus SNMPTN. Di samping itu, tindakan razia yang dilakukan oleh kelompok-kelompok vigilante masyarakat di berbagai daerah terhadap individu atau kelompok LGBT seringkali tidak berbasis hukum dan melibatkan tindak kekerasan. Tindakan-tindakan tersebut dimotivasi oleh homofobia, lesbofobia, bifobia, transfobia, dan dapat dipengaruhi oleh budaya, agama atau bias dan kebiasaan politik.

Baca juga: Diskriminasi dalam Lingkungan Pendidikan

Diskriminasi hukum pada kasus ini semakin kentara dengan tidak adanya peninjauan atau pengusutan bagi pelaku tindak kekerasan tersebut. Seakan tindakan tersebut dibenarkan secara hukum untuk menegakkan ‘norma kesopanan’ di masyarakat. Sementara itu, mereka yang berada di kelompok LGBT mengalami kerentanan luar biasa baik dalam ranah pribadi mereka seperti keadaan psikologis dan juga ranah sosial.

Beberapa kelompok atau organisasi atau pun juga individu yang memiliki perhatian terhadap isu pelanggaran kemanusiaan tersebut pun bukannya hanya tinggal diam. Berbagai upaya telah dilakukan misalnya dengan menyuguhkan narasi-narasi “perdamaian” dari berbagai sudut pandang, terutama agama; dan memberikan jasa advokasi bagi mereka yang mengalami kekerasan atau diskriminasi. Namun tekanan yang datang sifatnya lebih masif dan diberi dukungan yang kuat dari pihak-pihak pemegang kendali.

Wacana di luar tatanan gender biner dan heterosekstualitas sebenarnya bukan hal yang asing dalam historiografi budaya Nusantara. Beberapa kelompok etnis di Indonesia mengenal jenis gender selain perempuan dan laki-laki, seperti calalai dan calabai pada masyarakat Bugis. Selain itu, kesenian Lengger di kebudayaan Jawa juga meleburkan konsep gender biner perempuan dan laki-laki seperti yang diangkat dalam film Kucumbu Tubuh Indahku. Praktik homoseksualitas juga dipercaya dilakukan oleh pelaku kesenian reog. Wacana dominan heteroseksualitas hadir dengan masuknya kebudayaan dan kepercayaan dari luar Nusantara yang kemudian menggerus nilai-nilai lokal yang cenderung mengedepankan pencapaian harmoni dalam diri manusia dan manusia dengan lingkungannya. Atau dalam kata lain, penjajahan budaya dan pengetahuan.

Baca juga: Berbohong adalah Cara Bertahan Hidup di Indonesia

Wacana heteroseksualitas dan tatanan gender biner pun dijadikan sebagai standar yang benar secara moral. Timbangan moral menjadi tidak lagi seimbang, karena kecenderungan dan praktik lain di samping heteroseksualitas selalu dianggap sebagai ketidakpantasan, dan bahkan pelanggaran. Tidak hanya dibenarkan, bahkan heteroseksualitas dibentuk sebagai tatanan yang “normal” dan “alami”; manusia diciptakan untuk menyukai lawan jenisnya. Hal tersebut dikenal dengan heteronormativitas. Narasi tersebut secara sadar maupun tidak diajarkan oleh orang tua kepada anak-anaknya, guru kepada muridnya, juga melalui media-media lain seperti buku dan tontonan bagi anak-anak. Sebagai konsekuensinya, heteroseksualitas tidak lagi dipahami sebagai konstruksi, melainkan sebagai suatu hal yang lumrah adanya.

Wacana dominan heteroseksualitas pun juga terus disebarkan melalui pengajaran agama yang bersifat dogmatis dan diterjemahkan sebagai norma masyarakat yang dianggap beradab. Konflik yang terdapat di antara kelompok LGBT dengan para kelompok agama, militer, kepolisian, atau bahkan institusi pendidikan, sesungguhnya merupakan pertarungan wacana di lingkungan masyarakat. Banyak faktor yang menyebabkan dan memengaruhi pertarungan wacana tersebut selain hanya perkara aib, dosa, dan neraka. Keterlibatan tindakan kekerasan yang kemudian membuktikan toksisitas dari wacana dominan heteroseksualitas karena tidak memberi ruang bagi perbedaan dan keberagaman.

Pembatasan kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi dan bekerja juga merupakan bentuk pelanggaran atas hak asasi manusia. Negara ini pernah menerapkan aturan serupa bagi mereka yang dituduh berhubungan dengan kelompok komunis beserta juga keluarganya. Belum tuntas penyidikan terhadap kasus tersebut, bentuk diskriminasi lain yang berhubungan dengan orientasi seksual kini menjadi kasus yang menyeruak ke pemberitaan. Hal tersebut membuktikan rendahnya kemauan untuk memanusiakan manusia lain terlepas dari masih besarnya kecenderungan masyarakat untuk menyembah menaati Pancasila sebagai azas kehidupan bernegara dan bermasyarakat.

Benang Merah Mei 1993-Mei 1998-Mei 2019

Narasi besar yang paling sering dimunculkan tentang bulan Mei di Indonesia adalah Hari Pendidikan Nasional yang jatuh setiap tanggal 2 Mei. Padahal sejarah Indonesia modern telah menyimpan dua peristiwa besar lain di bulan Mei. Namun kedua peristiwa itu memang hampir tidak pernah diangkat ke permukaan oleh pemerintah apalagi diperingati. Yakni kematian Marsinah pada Mei 1993 dan peristiwa Mei 1998.

(more…)

Memaknai Ulang ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’

Terlepas masih ‘menariknya’ hari Kartini sampai hari ini, akhir-akhir ini sedikit sekali adanya pembahasan tekstual tentang Door duisternis tot licht (Through Darkness into Light [pen. Agnes L. Symmers] –  Habis Gelap Terbitlah Terang [pen. Armijn Pane]). Sosok Kartini dan karyanya dewasa ini disebut-sebut setiap tahun semata karena kita ingin terlihat turut merayakan Hari Kartini. Sementara itu, apakah kita benar-benar memahami makna dikotomi ‘gelap-terang’ yang disampaikan oleh Kartini pada tulisannya?

(more…)

Menjual Asa, Menebar Tagar

Istilah ‘menjual asa’, ‘mengobral janji’, adalah beberapa dari sekian frasa yang sering kita dengar setiap kali menjelang pemilihan umum. Visi dan misi yang disampaikan oleh para politikus yang bertanding di panggung pemilihan umum seringkali dianggap tidak lain sebagai janji yang diobral. Tidak ada yang salah dari pendapat itu, karena masyarakat punya hak penuh untuk menyampaikan pemikirannya terkait siapa pun yang ada di singgasana politik praktis.

(more…)

Gelanggang Militerisme di Indonesia

Publik Indonesia kembali dibuat ketar-ketir dengan penangkapan Robertus Robert setelah orasinya pada Aksi Kamisan pada 7 Maret 2019. Masyarakat pun sekali lagi terpecah menjadi dua kubu; satu pihak mengecam tindakan Polri yang telah melakukan penangkapan, sementara pihak lain menganggap penangkapan tersebut sebagai hal yang “pantas” bagi Robertus Robet. Ia dituding telah melakukan penghinaan terhadap institusi TNI saat menyampaikan orasi yang disertai dengan menyanyikan salah satu lagu yang sering dikumandangkan oleh para aktivis periode Orde Baru.

(more…)

Tunduk terhadap Kelompok Fundamentalis (?)

Fenomena menarik terkait ‘jalanan sebagai panggung pergerakan’ harus diakui telah terjadi pada periode reformasi ini. Sebagian dari kita mungkin adalah mereka yang pernah dengan begitu semangat turun ke jalan dengan memakai almamater kampus untuk melawan tirani rezim Orde Baru. Dan mahasiswa pun mendapatkan ‘gelar’nya sebagai penyampai aspirasi masyarakat. Dan kritik terhadap mahasiswa milenial pasca kejatuhan Orde Baru tidak muncul satu atau dua kali saja.

(more…)

Sepak Terjang Kejaksaan Agung dalam Praktik Pelarangan Buku

Publik Indonesia seminggu terakhir dikejutkan kembali dengan pemberitaan yang menyatakan usulan dari Jaksa Agung Muhammad Prasetyo untuk merazia buku-buku yang diduga berpaham komunisme dan ideologi terlarang lainnya secara besar-besaran. Pemberitaan ini menyusul kabar perampasan sejumlah buku yang dilakukan aparat TNI di beberapa toko buku di Pare, Kediri. Sejumlah pihak menyatakan keberatannya atas tindakan perampasan dan usulan razia buku-buku tersebut, dengan pertimbangan pemerintah seharusnya tidak lagi melakukan pemerkosaan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

(more…)

Sisi Gelap Pemilihan Umum

Agaknya sudah terlalu sering kita mendengar wacana glorifikasi dari pemilihan umum yang sudah dilakukan oleh pemerintah Indonesia sejak tahun 1955. Glorifikasi tersebut berkaitan dengan keberhasilan negara dalam menerapkan konsep demokrasi yang memungkinkan masyarakat berperan aktif dalam pemilihan pemimpin mereka. Tetapi pada kenyataannya, proses persiapan dan pelaksanaan pemilu terbukti tidak selalu tentang hal-hal yang baik saja. Apalagi menjelang pemilihan presiden di bulan April 2019, arena persaingan kedua pasangan calon telah dijejali dengan sejumlah peristiwa negatif.

(more…)

Bunga Penutup Abad yang Tidak Mekar dengan Sempurna

Saya pikir semua penonton yang hadir pada pertunjukan teater bertajuk Bunga Penutup Abad, selanjutnya disebut dengan BPA, di gedung Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta memiliki ekspektasi dalam kepala mereka masing-masing. Ekspektasi itu bahkan mungkin sudah terbangun sejak jauh-jauh hari pementasan, yang salah satunya dapat terlihat dari penjualan tiket yang laku keras. Saya diberi kesempatan untuk bisa hadir pada pertunjukan hari pertama, tanggal 16 November 2018, yang dikhususkan untuk tamu undangan dan media massa. Dan walaupun saya tidak perlu turut dalam kompetisi pembelian tiket, tetap saja dalam kepala saya sudah ada satu konstruksi ekspektasi dari pertunjukan tersebut.

(more…)

Kritik terhadap Segregasi Ruang Domestik/Ruang Publik Perempuan dalam Novel Trilogi Putu Oka Sukanta

Wacana terkait ruang domestik dan ruang publik hampir tidak pernah luput dari ranah kajian feminisme. Hal ini berhubungan erat dengan gagasan ‘perempuan ideal’ yang dikaitkan dengan ruang-ruang di mana mereka sepatutnya berada. Secara historis, fenomena sosial ini telah dialami perempuan paling tidak sejak periode Yunani Kuno dan kemudian bertahan selama berabad-abad di negara-negara Barat (Vickery, 1993: 414), dikenal dengan istilah separate sphere.

(more…)

Follow Us