Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Mengenal Orde Baru: ET

Ada potongan yang menarik dalam wacana sejarah modern Indonesia, yakni dengan kemunculan gagasan para petinggi negara untuk menciptakan label tertentu bagi lapisan masyarakat tertentu. Lapisan masyarakat yang ‘terpilih’ itu adalah para eks-tapol yang dilepaskan dari tahanan pada periode tahun 1977-1979. Label tersebut singkat namun mudah diingat dan mudah untuk ditemukan, yakni ‘ET’.
(more…)

Euforia dan Utopia Pram

Saya tidak akan mengatakan bahwa saya mengenal pribadi seorang Pram, pernah menjabat tangannya, atau bertatap muka dengannya. Saya juga tidak akan mengatakan bahwa saya turut bersuka cita dengan ulang tahunnya yang jatuh pada hari ini dengan membagi kalimat-kalimat mutiara yang pernah ditulis dalam bukunya melalui akun media sosial. Karena menurut pendapat saya pribadi, kesemuanya itu tidak lain hanya sebuah euforia yang menjadi ritual seremonial di masyarakat teknologi saat ini. Dan semuanya tidak akan menjadikan utopia Pram tiba-tiba menjadi kenyataan yang gamblang di depan mata.

(more…)

Perempuan di Mata Marx

Bagi pembaca yang berusaha mengenal Marx melalui tulisan-tulisannya yang baru sampai pada tahap awalan, mereka akan menganggap bahwa dalam kepala Marx isinya hanya ada ide-ide tentang kritik sistem ekonomi dan pergolakan antar kelas dalam pengertian yang sempit. Implikasi yang kemudian muncul adalah bahwa Marx dengan teori-teorinya itu sangatlah maskulin, dan tidak ada tempat untuk femininitas. Pada kenyataannya, hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Bahkan alih-alih anti feminisme, beberapa gagasan Marx tentang perempuan sebagai individu dan peran perempuan dalam keluarga menjadi landasan bagi teori-teori feminisme yang berkembang setelah ideologi Marxisme terbukti berpengaruh di Eropa, kemudian di seluruh dunia.
(more…)

Kesadaran Palsu Menantu Idaman

Sebenarnya apa yang akan saya bahas dalam tulisan ini tidak terlalu mendesak dan seru isunya layaknya berita tentang keputusan-keputusan kontroversial pasangan Anies-Sandiaga. Namun materi ini munculnya karena obrolan yang ada di sekitar saya, terutama golongan pemuda biasa yang secara hirarkis tidak ada kaitannya dengan bisnis di panggung politik. Karena obrolan tentang pernikahan memang tidak pernah menjadi hal biasa jika dibumbui dengan perdebatan tentang nilai-nilai yang diturunkan dari generasi-generasi sebelumnya.
(more…)

Mengenal Orde Baru: Ekspor

Ekspor menjadi salah satu hal penting yang patut dibahas jika kita mendiskusikan sejarah kedaulatan Orde Baru. Hal tersebut berdasarkan pada kenyataan bahwa aspek ekonomi memainkan peran yang sangat penting pada saat itu. Tentu saja ekonomi menjadi salah satu hal yang turut diperhitungkan dan diatur oleh semua periode pemerintahan, namun Orde Baru merupakan pemerintahan yang menjual dirinya sebagai penyelamat ekonomi negara setelah kehancuran di penghujung periode Orde Lama. Salah satu elemen penting yang dianggap mampu membangkitkan perekonomian Indonesia selama rezim Orde Baru adalah praktik ekspor. Namun benarkah ekspor sepenuhnya menyebabkan kesejahteraan rakyat?
(more…)

Merunut Perjalanan Sosialisme

Bagi mahasiswa ilmu sosial dan humaniora, istilah ‘sosialisme’ bukanlah suatu hal yang asing, bahkan menjadi bagian dari kehidupan akademis mereka. Beberapa bahkan mengamininya sebagai ideologi yang pantas diterapkan di masyarakat dan mengeluarkannya dari buku-buku teks. Di saat yang sama, Indonesia memiliki sejarah tersendiri dalam memaknai, menerima, dan menolak keberadaan sosialisme. Dalam tulisan ini saya tidak akan menggiring pembaca kepada satu ideologi tertentu, mentahbiskan dogma-dogma agar dipercayai mentah-mentah, namun saya hanya akan menuliskan narasi perjalanan sosialisme dari awal terbentuknya hingga saat ini.

(more…)

Munir yang Menelanjangi Militer

Kita sebagai warga Indonesia boleh saja berbangga diri menjadi bagian dari sebuah negara yang mendasarkan prinsip kebangsaannya pada Pancasila, falsafah yang mengedepankan pencapaian persatuan bangsa, kemakmuran dan keadilan sosial yang dicita-citakan melalui cara-cara yang beradab dan tidak melanggar hak azasi manusia. Namun di sisi lain, kita perlu melihat ke belakang sejenak untuk berkaca pada sejarah modern Indonesia yang ternyata cukup jauh dari konsep Pancasila itu sendiri, dipenuhi oleh tindakan ofensif dan opresif aparat militer pada masyarakat sipil.

(more…)

Mengenal Orde Baru: Eks-Tapol

Istilah eks-tapol di Indonesia merujuk pada sekian ratus orang yang ditangkap dan ditahan oleh pemerintah Orde Baru karena tuduhan samar. Saya bisa mengatakannya sebagai tuduhan samar karena memang sedikit sekali atau hampir tidak ada bukti orang-orang yang dijadikan tahanan politik itu terlibat dengan G30S. Setelah menjadi tahanan, status mereka berubah menjadi eks-tapol, dengan kehidupannya sendiri yang tidak bisa dibilang mudah.

(more…)

Mengenal Orde Baru: Eksil

Pilihan apa yang dimiliki oleh orang-orang Indonesia yang dituduh termasuk dalam golongan kiri oleh rezim Orde Baru? Bisa dibilang cukup banyak, dan semuanya bukanlah pilihan yang menyenangkan. Antara dipenjara, dieksekusi, disiksa, atau dibuang. Rezim Orde Baru punya dua tempat pembuangan bagi para tapol di dalam negeri, yakni Pulau Buru untuk tahanan laki-laki dan Kamp Plantungan untuk tahanan perempuan. Naasnya kehidupan mereka selama menjadi tapol telah banyak dijadikan bahan tulisan setelah kekuasaan Orde Baru runtuh. Namun ada kisah pembuangan lain yang kurang tersentuh, yakni kehidupan para eksil.

(more…)

Berbohong adalah Cara Bertahan Hidup di Indonesia

Tiba-tiba gagasan menulis hal ini muncul dalam kepala saya setelah menonton ulang film Senyap yang disutradarai Joshua Oppenheimer. Saya tidak akan menjadikan tulisan ini sebagai resensi film tersebut, namun menempatkannya sebagai sebuah refleksi atas kehidupan sosial dan politik di Indonesia. Tidak hanya terkait tentang pembunuhan massal yang terjadi pasca Tragedi 65, namun melingkupi aspek sosial kemasyarakatan di Indonesia secara umum.

(more…)