Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Masih Perlukah Membaca The Communist Manifesto?

Anggaplah Marx memiliki sebuah mimpi utopis yang rasa-rasanya semakin sulit terwujud di abad ke-21 di mana komoditas menjadi semakin lebih penting daripada harga diri dan hampir segala aspek kehidupan manusia menjadi barang dagangan, mulai anggota tubuh sampai agama. Fenomena ‘kebangkitan’ wacana-wacana Marxisme dan sosialisme di Indonesia pasca kejatuhan Orde Baru mungkin bisa dianggap sebagai suatu langkah maju, walaupun tidak bisa dikatakan mampu mengubah kondisi masyarakat sekarang ini. Maka muncullah pertanyaan-pertanyaan terkait apakah masih penting membaca tulisan-tulisan Marx termasuk The Communist Manifesto di era postmodern seperti sekarang ini.

Judul asli The Communist Manifesto adalah Manifesto of the Communist Party, diterbitkan dalam bentuk pamflet politik pada 1848 yang bertepatan pada awal pecahnya beberapa gerakan revolusi di berbagai daerah di Eropa, antara lain Perancis, Jerman, Austria, Hungaria, Italia, Denmark, Wallachia, dan Polandia. Tulisan tersebut merangkum pemikiran Marx dan Engels tentang keadaan sosial dan politik yang merupakan ‘sejarah dari perjuangan kelas’. Selain itu, The Communist Manifesto juga membahas pemikiran mereka tentang bagaimana masyarakat kapitalis pada akhirnya akan digantikan oleh sosialisme.

The Communist Manifesto dibagi menjadi bagian pembukaan dan empat bab. Tulisan ini dibuka dengan kalimat yang menarik, ‘ada hantu berkeliaran di Eropa–hantu komunisme.’ Mungkin kita yang hidup di masa sekarang pernah berpikir bahwa pada masanya Marx, komunisme dan sosialisme dapat berlenggang dengan leluasa di tengah-tengah masyarakat. Namun melalui tulisan tersebut kita akan menemui bahwa serangan ideologis yang ditujukan kepada komunisme bahkan telah terjadi pada abad ke 19. Beberapa pihak telah berusaha memberikan pelabelan ulang terhadap komunisme, partai-partai, serta anggotanya.

Bagian pertama buku ini, “Kaum Borjuis dan Kaum Proletar”, menjabarkan apa yang kemudian disebut sebagai historical materialism, yakni metode pendekatan yang terfokus pada masyarakat dan perkembangannya dari masa ke masa yang mengikuti sejumlah hukum deterministik. Menurut kacamata Marx, masyarakat di mana kita hidup tidak lain merupakan arena pergolakan antara kelas opresif yang jumlahnya lebih sedikit dengan kelas yang teropresi yang jumlahnya lebih banyak. Kelas borjuis merupakan pengganti dari masyarakat feodal yang mampu menjadi kelas yang berkuasa dengan kepemilikan mereka atas alat produksi. Borjuis akan secara konstan melakukan eksploitasi terhadap kelas proletar untuk menghasilkan keuntungan dan menimbun kekayaan. Menurut Marx dan Engels, yang dilakukan kelas borjuis tersebut tidak lain merupakan tindakan ‘menggali kuburan sendiri’ karena akan datang saatnya ketika kelas proletar memiliki kesadaran kelas dan bergerak melawan ke arah atas.

“Kaum Proletar dan Kaum Komunis” sebagai judul bagian kedua berisi penjelasan Marx dan Engels tentang hubungan partai komunis dengan seluruh jenis dan lapisan kelas pekerja. Partai komunis seyogyanya, menurut Marx, tidak melawan partai-partai yang dibentuk oleh kelas pekerja, namun membantu mempertahankan dan memperjuangkan kepentingan bersama dari kelas pekerja, secara independen dari kotak-kotak negara dan kewarganegaraan. Dalam bab ini, penulis mencoba menangkal tuduhan-tuduhan yang dijatuhkan terhadap partai komunis, termasuk menyatakan bahwa partai komunis mendukung free love, yakni gerakan yang menolak campur tangan negara terhadap pernikahan, hubungan seks, dan perencanaan anak, dengan berasumsi bahwa kesemuanya itu adalah urusan pribadi dari individu-individu yang terkait dalam suatu hubungan. Dalam bab ini pula pembaca akan mendapati tuntutan partai komunis yang disebut dengan Ten Planks of the Communist Party, meliputi penerapan pajak progresif, layanan kesehatan dan pendidikan gratis, dan pelarangan kerja bagi anak-anak.

Bagian ketiga dari The Communist Manifesto adalah “Literatur Sosialis dan Literatur Komunis” yang berisi penjelasan tentang perbedaan partai komunis dengan doktrin sosialis yang berkembang pada abad ke-19. Marx dan Engels membagi beberapa kelompok gerakan menjadi Sosialisme Reaksioner, Sosialisme Konservatif, dan Sosialisme Kritik-Utopis. Semua golongan tersebut dianggap Marx gagal untuk menyadari kemampuan kelas pekerja untuk meluncurkan sebuah revolusi.

Kemudian bagian terakhir dari buku ini, “Sikap Kaum Komunis terhadap Berbagai Partai Oposisi” memaparkan posisi komunisme dalam gerakan revolusi yang terjadi di Eropa pada pertengahan abad ke-19 termasuk Perancis, Swiss, Polandia, dan Jerman, dan meramalkan bahwa revolusi dunia akan mengikuti jika kelas proletar di seluruh dunia bersatu, tidak lagi mementingkan dari negara mana mereka berasal. Tulisan ini ditutup dengan slogan yang masih sering ditemukan sampai sekarang, Kaum Proletar Semua Negeri, Bersatulah!

The Communist Manifesto pun kemudian menjadi dokumen politik yang paling berpengaruh baik untuk gerakan aktivisme maupun dalam ranah ilmu pengetahuan. Tentu saja prediksi Marx dan Engels tentang masa depan borjuisme menghidupi cita-cita gerakan aktivisme buruh dan kelas pekerja, tidak hanya di Eropa, namun bahkan sampai di Indonesia. Sedangkan dalam ranah ilmu pengetahuan, tulisan tersebut yang kemudian melegalkan beberapa teori dan pendekatan baru seperti sosialisme dan materialisme sejarah. Sosialisme tidak lagi dianggap sebagai suatu konsep gerakan sosial kemasyarakatan belaka namun menjadi teori baru yang bisa digunakan untuk menganalisis fenomena di masyarakat. Dan pendekatan materialisme sejarah memungkinkan penelitian terhadap perkembangan masyarakat dari masa ke masa.

Di sisi lain, konsep tentang pengukuhan kekuatan kelas proletar untuk menjatuhkan kekuasaan borjuis dianggap beberapa pihak sebagai suatu bukti betapa utopisnya teori Marx. Namun ada satu hal yang kurang dipahami oleh masyarakat luas, yakni bahwa Marx memang mengakui kuatnya kekuasaan borjuis dengan kekayaan yang mereka miliki dan hubungan mereka dengan pihak-pihak pemegang kekuasaan lain seperti gereja dan pemerintah. Namun ia melihat berjayanya kapitalisme tersebut tidak lain merupakan sebuah fase yang memang harus dilampaui sebelum mencapai kemenangan proletar. Argumen tersebut didasarkan pada keruntuhan sistem feodal di Eropa yang sebelumnya juga mampu bertengger di puncak kekuasaan dalam waktu yang cukup lama. Revolusi pembebasan dari feodalisme di Eropa tidak lain juga dilakukan oleh masyarakat kelas bawah yang telah muak dengan sistem pajak dan upeti serta sistem pemerintahan yang tidak demokratis. Sehingga, menurut Marx, pada akhirnya masyarakat kapitalis yang berjaya selama beberapa waktu akan mampu diruntuhkan pula jika kekuatan kelas proletar telah cukup untuk melawan.

Kita sampai hari ini mungkin belum merasakan adanya gejala-gejala kebersatuan kelas pekerja yang solid dan cukup kuat untuk menumbangkan borjuasi. Bahkan pada kenyataannya masih sering ditemukan kasus-kasus pertikaian yang melibatkan sesama kelas pekerja dengan basis ketimpangan penghasilan –yang pada akhirnya juga akan dinikmati oleh korporasi-korporasi yang memperkerjakan mereka– yang mereka peroleh. Lalu kita akan mulai bertanya-tanya, masih perlukah kita, yang hidup bersamaan dengan jaringan internet yang menghubungkan lintas negara, membaca The Communist Manifesto yang ditulis 30 tahun sebelum teknologi telepon ditemukan?

Paling tidak ada tiga pernyataan dalam buku tersebut untuk menjawab pertanyaan terkait relevansi The Communist Manifesto di abad ke-21. Yang pertama adalah tentang keadaan masyarakat kapitalis yang membagi penduduknya menjadi dua kutub yakni bos dan pekerja yang memiliki kepentingan saling berlawanan dan tidak dapat didamaikan. Yang kedua adalah tentang sistem masyarakat kapitalis yang pada dasarnya tidak stabil, rentan terhadap krisis, dan bersifat destruktif. Yang terakhir, gambaran ‘dunia lain’ yang dapat dicapai suatu hari nanti, seakan terus menjadi harapan bagi kelas pekerja di seluruh dunia bahwa di depan mereka terdapat suatu masa di mana mereka tidak lagi menjadi pihak yang ditekan dan dihilangkan harga dirinya demi kepentingan borjuasi.

Melalui pemaknaan di atas, mungkin pembaca akan berpikir The Communist Manifesto memang masih relevan untuk keadaan masyarakat saat ini, namun terbatas pada kelas pekerja yang memimpikan perubahan nasib. Lalu bagaimana untuk generasi yang lahir dan hidup dalam kelas bukan pekerja, sebutlah lingkaran masyarakat intelektual? Apa yang masih bisa dianggap penting dari pamflet politik tersebut?

Dalam hal ini, walaupun mungkin slogan-slogan pembakar semangat yang dituangkan oleh Marx dan Engels dalam tulisannya itu tidak terdengar menarik, paling tidak hasil observasi terhadap fenomena sosial ekonomi di masyarakat yang dilakukan pasangan pemikir itu dapat membuka pikiran menjadi lebih luas. Dengan mengetahui bahwa sistem kapitalis dan masyarakat borjuasi bisa berkembang awalnya karena kejatuhan feodalisme, maka pembaca dari kelas bukan pekerja akan menyadari bahwa masyarakat yang ada saat ini bukan sesuatu yang semata-mata ditakdirkan atau disuratkan sekonyong-konyong. Namun bahwa yang ada saat ini tidak lain merupakan proses pembentukan masyarakat yang memang masih memiliki sifat serupa dengan masyarakat feodal, di mana terdapat pertarungan kelas.

Dalam kata lain, membaca The Communist Manifesto tetaplah bagaimana pun tidak sama dengan membaca kisah roman picisan tentang kekasih yang sulit dimiliki. Semangat perjuangan mungkin bagi beberapa orang tidak bisa sejurus muncul setelah membaca tulisan Marx, namun membacanya di abad ke-21 membuat kita tidak mudah terjebak dalam arus krisis kebudayaan di mana semuanya menjadi terlihat indah yang pada akhirnya menjadi masyarakat yang terbutakan oleh kesengsaraan yang dibalut oleh keindahan.

Membunuh Marx Berkali-Kali

Jika saya diberi sebuah kesempatan untuk bisa menjelajah ke masa lalu dan memilih satu kejadian untuk dialami, maka saya akan memilih upacara kematian Marx pada bulan Maret 1883 di pemakaman Highgate, London, agar menambah jumlah pelayat menjadi 12 orang. Mungkin akan sulit untuk dipercaya bagaimana Marx yang pemikirannya menyebar ke seluruh dunia tidak mendapatkan penghormatan terakhir yang meriah, apalagi jika dibandingkan dengan fenomena arakan karangan bunga yang khas di antara tokoh-tokoh berpengaruh di masa sekarang.

(more…)

Mahasiswa Alias Selebgram

Saya sebenarnya sudah cukup lama ingin membahas fenomena ini ke dalam tulisan, namun sempat berpikir berkali-kali sebelum akhirnya memutuskan untuk benar-benar menjadikannya suatu teks. Pertimbangan tersebut berhubungan dengan refleksi terhadap diri saya sendiri sebagai seorang mahasiswa yang walaupun kritis tapi tidak mau menjadi polisi moral. Tapi kemudian saya menemukan sebuah jalan tengah kesimpulan yang meyakinkan saya sendiri bahwa tulisan ini bukan tentang moralitas, namun hubungannya dengan intelektualitas mahasiswa.

(more…)

Paradoksal Merah

Menurut ilmu semiotika, hampir segala hal yang ada di masyarakat merupakan simbol yang menyimpan makna, mulai dari lambang nasional negara, pakaian yang kita pakai, sampai warna sekali pun merupakan simbol yang mewakili suatu makna. Tanpa kita sadari, sejak kecil kita telah dipaparkan dengan pemaknaan warna, walaupun mungkin kita akan mendengar istilah semiotik pada tingkat pendidikan. Misalnya sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, kita telah dipaksa untuk menerima pemaknaan warna bendera Indonesia, merah artinya berani dan putih artinya suci. Rasanya tidak ada pengajar atau guru yang  mendorong kita untuk mengkritisi pemaknaan simbolik tersebut, atau untuk memaparkan sudut pandang lain tentang warna tersebut. (more…)

Bolehkah Kita Dendam pada Negara?

Kaum nasionalis mungkin akan menjawab dengan lantang pertanyaan itu, “tidak!”, dan tulisan ini akan diberangus karena dianggap melanggar etika dan azas cinta tanah air dan bangsa. Bahkan pemerintahan feudal akan menyuruh saya mencium kaki raja atas pertanyaan sederhana itu. Lalu bagaimana dengan masyarakat kita yang bersifat republik dan -katanya- berazas demokrasi ini? Salahkah jika kita punya dendam?

(more…)

Mengenal Orde Baru: Dwifungsi ABRI

Dalam artikel sebelumnya, saya sudah pernah membahas tentang ABRI. Namun mengingat betapa besarnya ‘peran’ ABRI dalam sejarah Orde Baru, maka pembahasan tentang Dwifungsi ABRI saya rasa penting untuk dijadikan satu tulisan yang terpisah. Penerapan Dwifungsi ABRI menjadi suatu fenomena penting yang perlu dikaji karena memiliki pengaruh yang cukup besar dalam pembentukan hegemoni peran dan -yang paling penting- pencitraan ABRI dalam sejarah modern Indonesia.

(more…)

Mengenal Orde Baru: Dibon

Istilah ‘dibon’ memang bukan merupakan satu kata utuh, melainkan terdiri dari awalan ‘di-‘ dan kata utamanya adalah ‘bon’. Bon dalam penggunaan sehari-harinya pun memiliki beberapa pengertian, terutama dalam bidang ekonomi. Pertama bon dimaknai sebagai kertas yang digunakan sebagai bukti pembayaran atas suatu komoditas yang telah diperdagangkan. Kedua, juga diartikan sebagai hutang atas komoditas yang dibeli. Biasanya penjual warung-warung kecil tidak keberatan jika tetangganya ‘ngebon’ dulu saat membeli barang dagangan.

(more…)

Mengenal Orde Baru: Dharma Wanita

Sebelum Dharma Wanita, Indonesia sudah punya Gerwani sebagai organisasi perempuan yang aktif pada tahun 1950-1960an sebelum akhirnya diberangus bersamaan dengan dikutuknya semua organisasi dan kelompok yang dianggap bersaudara dengan PKI dan kekomunisan. Secara organisasi, keanggotaan  kedua organisasi perempuan tersebut memang berbeda jauh, apalagi jika dilihat menggunakan kacamata kelas sosial. Gerwani tidak hanya beranggotakan perempuan-perempuan yang memiliki latar pendidikan formal yang pada saat itu masih cukup sukar untuk dicapai.

(more…)

Mengenal Orde Baru: Demokrasi Pancasila

Salah satu pondasi mendasar yang digunakan Orde Baru untuk membangun kekuasaan adalah kebohongan dan kudeta militer. Suharto terbukti berupaya menambah-nambahi kesalahan yang pernah dilakukan pemerintah Orde Lama, dengan tujuan untuk membenarkan tindakan kudeta yang telah dilakukannya dan tentunya mendapatkan dukungan atas rencana-rencana jahat yang siap diluncurkannya. Suharto menekankan sistem pemerintahan Nasakom yang ditetapkan oleh Sukarno sebagai suatu kesalahan besar yang telah dilakukan Orde Lama dalam pidatonya pada 16 Agustus 1967.

(more…)

Dengan atau Tanpa Beasiswa, Urip Mung Sawang Sinawang, Mbak, Mas!

Akhirnya saya memutuskan untuk ikut bicara di tengah-tengah ‘peperangan’ kecil antara dua kubu anak muda saat ini: penerima beasiswa dan bukan penerima beasiswa. Ada apa sebenarnya? Beasiswa tentu bukanlah sesuatu yang baru dalam dunia pendidikan, apalagi jika kita bicara tentang Indonesia, mengingat tokoh-tokoh nasional yang bahkan di era sebelum kemerdekaan sudah kuliah di Belanda, Rusia, dan negara-negara lain dengan dibiayai beasiswa. Yang sedang ramai dijadikan pergunjingan adalah bahwa ‘kabar-kabarnya’ anak-anak penerima beasiswa sekarang ini hobi plesir dengan menggunakan beasiswa tersebut.

(more…)