Dhianita Kusuma Pertiwi

Kata, Frasa, dan Rasa

Ring Tinju Pergerakan Antar Generasi

Perjuangan masyarakat sipil melawan kesewenang-wenangan pemerintah, aparat keamanan, atau pemegang modal telah menjadi salah satu bagian cerita dari linimasa sejarah sosial Indonesia. Termasuk yang baru saja menjadi fenomena cukup menggemparkan, demonstrasi besar oleh mahasiswa, pelajar, dan buruh yang melibatkan perlawanan masyarakat terhadap pemerintah dan aparat kepolisian. Namun di balik serangan gas air mata dan jatuhnya korban jiwa, ada pertarungan lain yang melibatkan sesama masyarakat sipil.

(more…)

Upaya Depolitisasi Perempuan di Era Demokrasi

Peran gender sampai hari ini masih menjadi perbincangan (baca: perdebatan) hangat di antara sejumlah kalangan di Indonesia. Terutamanya berkaitan dengan peran gender yang dikonstruksikan sebagai ideal bagi perempuan; mana yang lebih baik, beraktivitas di ruang domestik atau publik? Saat perempuan sejatinya memiliki hak untuk memilih, patriarki telah meracuni sejumlah aspek dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa di Indonesia dari masa ke masa.

(more…)

Kompleksitas Homofobia Terselubung

Pemukulan yang dialami pasangan lesbian Melanie Geymonat dan Chris di London oleh sekelompok pria yang memaksa mereka berciuman di tempat umum adalah bukti apa yang saya sebut dengan homofobia terselubung. Hal tersebut sebenarnya bukanlah hal yang baru dan dapat ditemukan di lingkungan sekitar kita, namun seringkali narasinya kalah dibandingkan tindakan kekerasan berbasis homofobia yang lebih nyata.

(more…)

Mengenang Ekaprasetia Pancakarsa

Mungkin saya bukan satu-satunya orang yang selalu bertanya-tanya apa yang seharusnya dilakukan di Hari Pancasila. Apalagi semenjak ditetapkannya tanggal 1 Juni sebagai hari libur, benak saya semakin dipenuhi pertanyaan dengan apa hubungan peringatan tercetusnya Pancasila dengan libur sekolah dan bekerja? Pancasila memang akan terus menarik untuk dibahas, mengingat keberadaannya yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah politik dan negara Indonesia.

(more…)

Dinamika Ideologi dalam Kumpulan Cerpen Debur Zaman (2019)

Tiga periode yang menjadi latar waktu penciptaan karya dalam kumpulan cerpen Debur Zaman (2019) oleh Putu Oka Sukanta mengimplikasikan dinamika pada ideologi teks yang dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Dinamika ideologi dalam tulisan ini diasumsikan dipengaruhi oleh sejumlah faktor ekstrinsik seperti medan sastra, situasi politik, dan pengalaman pribadi penulis. Tulisan ini akan mengkaji dinamika ideologi dari tiga periode linimasa kepenulisan dengan urutan paling lama sampai terbaru–terbalik dari yang terdapat dalam buku kumpulan cerpen tersebut– dengan membaca situasi sosial, politik, dan ekonomi pada masing-masing periode kepenulisan.

(more…)

(Toksisitas) Wacana Dominan Heteroseksualitas

Setelah ramai diperbincangkannya protes dan pelarangan penayangan film Kucumbu Tubuh Indahku (2019, sut. Garin Nugroho), ruang ekspresi seksualitas di Indonesia kembali menjadi bahasan publik dengan diberhentikannya seorang anggota polisi berinisial TT di Jawa Tengah. TT diberitakan dipecat dari kesatuannya karena orientasi seksualnya.

(more…)

Benang Merah Mei 1993-Mei 1998-Mei 2019

Narasi besar yang paling sering dimunculkan tentang bulan Mei di Indonesia adalah Hari Pendidikan Nasional yang jatuh setiap tanggal 2 Mei. Padahal sejarah Indonesia modern telah menyimpan dua peristiwa besar lain di bulan Mei. Namun kedua peristiwa itu memang hampir tidak pernah diangkat ke permukaan oleh pemerintah apalagi diperingati. Yakni kematian Marsinah pada Mei 1993 dan peristiwa Mei 1998.

(more…)

Memaknai Ulang ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’

Terlepas masih ‘menariknya’ hari Kartini sampai hari ini, akhir-akhir ini sedikit sekali adanya pembahasan tekstual tentang Door duisternis tot licht (Through Darkness into Light [pen. Agnes L. Symmers] –  Habis Gelap Terbitlah Terang [pen. Armijn Pane]). Sosok Kartini dan karyanya dewasa ini disebut-sebut setiap tahun semata karena kita ingin terlihat turut merayakan Hari Kartini. Sementara itu, apakah kita benar-benar memahami makna dikotomi ‘gelap-terang’ yang disampaikan oleh Kartini pada tulisannya?

(more…)

Menjual Asa, Menebar Tagar

Istilah ‘menjual asa’, ‘mengobral janji’, adalah beberapa dari sekian frasa yang sering kita dengar setiap kali menjelang pemilihan umum. Visi dan misi yang disampaikan oleh para politikus yang bertanding di panggung pemilihan umum seringkali dianggap tidak lain sebagai janji yang diobral. Tidak ada yang salah dari pendapat itu, karena masyarakat punya hak penuh untuk menyampaikan pemikirannya terkait siapa pun yang ada di singgasana politik praktis.

(more…)
Follow Us