Tiga periode yang menjadi latar waktu penciptaan karya dalam kumpulan cerpen Debur Zaman (2019) oleh Putu Oka Sukanta mengimplikasikan dinamika pada ideologi teks yang dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Dinamika ideologi dalam tulisan ini diasumsikan dipengaruhi oleh sejumlah faktor ekstrinsik seperti medan sastra, situasi politik, dan pengalaman pribadi penulis. Tulisan ini akan mengkaji dinamika ideologi dari tiga periode linimasa kepenulisan dengan urutan paling lama sampai terbaru–terbalik dari yang terdapat dalam buku kumpulan cerpen tersebut– dengan membaca situasi sosial, politik, dan ekonomi pada masing-masing periode kepenulisan.

Sampul Kumpulan Cerpen Debur Zaman (2019)

Periode pertama yakni tahun 1960–1965 berisi tiga cerpen yang dimuat di surat kabar Harian Rakjat, koran yang dipublikasikan oleh Partai Komunis Indonesia pada tahun 1951–1965. Secara umum, ketiga cerpen dalam periode tersebut mewakili secara jelas pemikiran “seni untuk rakyat” yang sepenuhnya berlawanan dengan “seni untuk seni”, yang ditunjukkan dari gaya penceritaan realis dan langka dengan bahasa liris. Gaya penceritaan seperti itu merupakan kekhasan dari karya sastra beraliran realisme sosialis yang pertama kali dikembangkan di Rusia. Aliran tersebut dikarakterisasikan dengan glorifikasi paham komunisme atau sosialisme dan penggambaran pergerakan atau perjuangan kelas proletar.

Indonesia pasca kemerdekaan, tepatnya di bawah pemerintahan Sukarno yang mencetuskan konsep politik Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme), menjadi salah satu negara yang menerapkan aliran realisme sosialis. Surat kabar Harian Rakjat bisa dianggap sebagai corong utama yang mengukuhkan aliran tersebut dengan memuat karya-karya penulis Lekra, lingkungan partai, maupun dari pembaca yang mengangkat tema-tema kerakyatan, terutama kelas proletar. Dua dari tiga cerpen dalam periode tersebut, “Loper” dan “Bibi Kerti”, menggambarkan perjuangan masyarakat kelas bawah untuk bertahan hidup dan mendapatkan haknya.

Cerpen “Loper” menggambarkan glorifikasi atas paham dan partai (komunis) sebagai cara untuk mencapai kesejahteraan rakyat. Terlepas dari beratnya pekerjaan menjadi loper dan gaji yang tidak sepadan, sepasang kakak adik dalam cerpen tersebut tetap mempertahankan pekerjaan tersebut karena menyadari pentingnya “peranan yang menentukan dari Harian Rakjat” dan “akibat kecintaannya kepada partai” (Sukanta: 228). Kedua tokoh tersebut merepresentasikan ideologi masyarakat Indonesia pada saat itu yang percaya kesetiaan mereka pada paham dan partai komunis akan membawa mereka pada kesejahteraan.

Kecenderungan yang sama dapat ditemukan dalam cerpen “Bibi Kerti” dengan pembahasan tentang politik perubahan tanah atau land reform. Perhatian kader partai terhadap kelas petani semakin meningkat setelah Aidit menulis “Hari Depan Gerakan Tani Indonesia” pada Juli 1953 yang menitikberatkan pada upaya pendobrakan sisa-sisa paham dan praktik feudalisme dalam kepemilikan tanah oleh petani. Bibi Kerti menjadi tokoh protagonis dalam cerpen tersebut yang bersikeras menuntut hak kepemilikan tanahnya. Pemunculan tokoh protagonis perempuan pada periode ini akan bertahan dan berkembang pada periode-periode selanjutnya. Cerpen “Bibi Kerti” juga memunculkan narasi tentang perampasan tanah dan hasil bumi yang terjadi selama pendudukan Jepang dan masih bertahan bahkan sampai kemerdekaan tercapai, sehingga memunculkan pertanyaan “(a)pa itu kemerdekaan?” dan “(d)i antara mereka hanya sedikit sekali yang mengerti” (Sukanta: 237).

Ilustrasi Cerpen “Ke Mana Muka Dipalingkan” oleh Gde Oka Suryadana.

Sementara itu, cerpen “Ke Mana Muka Dipalingkan” menunjukkan kecenderungan pembelaan terhadap kelompok “merah” yang dihabisi pada peristiwa Madiun 1948. Pembelaan tersebut dibungkus melalui dialog antara dua orang laki-laki yang salah satunya merupakan serdadu tentara yang turut dalam peristiwa yang dinarasikan melalui sejarah nasional sebagai pemberontakan golongan komunis. Cerpen tersebut menghadirkan narasi berbeda dari sejarah nasional dengan menggambarkan kegamangan tokoh serdadu tentara karena menyadari telah melakukan pembunuhan terhadap bangsanya sendiri. Peristiwa tersebut dikonstruksikan dalam cerpen “Ke Mana Muka Dipalingkan” sebagai sebuah konflik perang sipil yang sebenarnya tidak diharapkan oleh masyarakat dan serdadu tersebut tidak lain hanya menerima perintah dari atasannya, atau kelompok elit penguasa.

Gaya penceritaan dan tema-tema yang diangkat dalam ketiga cerpen yang ditulis pada periode tahun 1960–1965, selain berkaitan dengan situasi politik yang didominasi oleh paham sosialis, juga dipengaruhi medan sastra penulisnya. Sukanta pada saat itu merupakan bagian dari Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang memiliki kedekatan dengan PKI, sehingga ia pun menjadi agen intelektual di lingkaran sastrawan dengan karya-karya yang dipengaruhi kuat oleh aliran realisme sosialis dan paham Nasakom. Beberapa aspek dari periode awal dari linimasa pengkaryaan Sukanta sebagai seorang penulis tersebut bertahan sampai dua periode selanjutnya, termasuk pasca pelepasannya sebagai tahanan politik Orde Baru.


Peristiwa G30S 1965 menghasilkan imbas yang luar biasa bagi banyak pihak, terutama mereka yang berada dekat dengan lingkaran tokoh-tokoh dan kelompok komunis-sosialis. Sukanta menjadi salah satu dari ratusan ribu–mungkin jutaan–orang yang ditangkap dan dipenjara sebagai tahanan politik di bawah kendali kekuasaan Suharto. Pengalaman 10 tahun mendekam di dalam sel penjara tanpa proses pengadilan, kejatuhan paham politik Nasakom, pembatasan hak-hak, dan juga kejahatan terhadap kemanusiaan selama kekuasaan Suharto bercokol agaknya mentransformasi keadaan psikologis Sukanta sebagai seorang individu manusia serta sudut pandang dan pemikiran politiknya sebagai seorang penulis. Hal tersebut tercermin dalam enam cerpen yang ditulisnya pada periode tahun 1966–1998.

Gaya penceritaan realis yang menceritakan kehidupan golongan masyarakat marjinal dipertahankan pada periode kepenulisan tersebut, walaupun tidak lagi ditemukan kecenderungan glorifikasi paham dan partai komunis. Kehidupan masyarakat marjinal yang digambarkan pada periode ini diwujudkan dengan penciptaan tokoh-tokoh yang lebih beragam, antara lain penduduk desa yang tersudut di tengah kesenjangan sosial dan antagonisme kelas (“Hadiah Naik Kelas”, “Pan Blayag”, “Luh Galuh”), terbelenggu oleh hukum adat (“Meme Mokoh”), dan korban dari kejahatan kemanusiaan rezim Orde Baru (“Menanti”, “Rindu Terluka”).

Latar belakang pedesaan Bali mendominasi pada periode kepenulisan tersebut. Walaupun nama-nama Bali telah digunakan pada karya-karya yang ditulis pada periode 1960–1965, terutama dalam cerpen “Bibi Kerti”, representasi kehidupan masyarakat Bali diperkuat pada periode 1966–1998 dengan penggambaran ritual keagamaan Hindu Bali, penggunaan istilah-istilah lokal, dan penggunaan daerah-daerah setempat sebagai latar tempat.

“Hadiah Naik Kelas”, “Pan Blayag”, dan “Luh Galuh” merepresentasikan kehidupan masyarakat pedesaan Bali yang terpinggirkan di tengah perkembangan zaman. Peralihan kekuasaan dari Sukarno ke Suharto membawa perubahan drastis pada keadaan sosial ekonomi masyarakat yang tidak terlibat langsung dalam panggung politik praktis. Masuknya investor-investor asing dan obsesi pembangunan infrastruktur yang tertuang dalam Trilogi Pembangunan sebagai wacana pembangunan nasional Orde Baru terbukti tidak sepenuhnya mengangkat kesejahteraan rakyat, terutama di pedesaan. Hanya segelintir orang yang merasakan keuntungan sehingga menyebabkan kesenjangan sosial yang cukup tajam, seperti yang digambarkan dalam “Hadiah Naik Kelas”.

Tokoh Blayag dalam “Pan Blayag” mewakili penduduk desa yang dikalahkan oleh laju roda perubahan zaman dan modernisasi. Sistem ekonomi tradisional yang telah dijalankannya bersama anggota masyarakat lain di komunitas pedesaan selama beberapa generasi tergerus oleh modernisasi yang direpresentasikan melalui pembangunan jalan beraspal yang kemudian dipenuhi dengan kendaraan bermotor lalu lalang tanpa henti. Nasib serupa juga dialami oleh Luh Galuh, seorang perempuan renta asli Bali yang “terbawa, terseret, terbuang dan terdampar dan, ter, ter, ter” (Sukanta: 121), atau dalam kata lain tidak memiliki otoritas untuk menentukan jalan kehidupannya. Kehadiran seorang tokoh laki-laki berbahasa asing yang memotret Luh Galuh dan memberinya uang di akhir cerita pendek tersebut dapat dibaca sebagai modernisasi yang menjajah masyarakat pedesaan. Perasaan Luh Galuh setelah bertemu dengan laki-laki tersebut: malu, bangga, rikuh, takut, dan gelisah; merepresentasikan kekacauan yang dialami oleh penduduk desa saat menghadapi modernisasi yang salah satunya diwakili dengan masuknya investor dan pengusaha asing pada periode pemerintahan Orde Baru.

Ilustrasi cerpen “Luh Galuh” oleh Gde Oka Suryadana.

Penggambaran pakaian yang dikenakan Luh Galuh, yakni kaos bertuliskan PARADISE juga menyimbolkan kontradiksi dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat lokal. Pulau Bali telah disulap menjadi surga pariwisata bagi pelancong luar negeri dan mendatangkan keuntungan yang besar bagi pemerintah, tetapi pada saat yang sama, kehidupan penduduk lokal tidak sepenuhnya membaik. Mereka tidak menikmati surga di tanah kelahiran mereka yang dapat dijajaki oleh para tamu dan wisatawan yang datang ke pulau tersebut.

Selanjutnya, perjuangan tokoh perempuan di pedesaan Bali yang berjuang bertahan hidup dapat ditemukan kembali pada cerpen “Meme Mokoh”. Ia dikonstruksikan tidak hanya sebagai perempuan yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri dan keluarganya dengan bertani dan menerima pesanan banten, namun juga menjadi anggota keluarga yang memiliki pengaruh besar bagi keberlangsungan keluarganya. Meme Mokoh menjadi sosok yang menyelamatkan keluarganya saat penangkapan dan pembunuhan marak di pemukimannya. Hal lain yang menarik dari konstruksi tokoh Meme Mokoh adalah keberaniannya menentang hukum adat yang membelenggu anggota keluarganya dalam urusan pernikahan dan warisan.

Begitu pun dalam cerpen “Menanti”, Alit menjadi tokoh perempuan protagonis yang berperan sebagai kepala keluarga bagi kedua anaknya, Ramli dan Aminah. Tokoh ini memiliki kompleksitas dalam dirinya sebagai orang asli Bali yang kemudian hijrah ke Jakarta dan menikah dengan seorang pria yang beragama Islam lalu pindah agama untuk mengikuti suaminya. Keputusannya tersebut sempat membuatnya terbuang dari keluarganya di kampung halaman. Permasalahan yang diangkat dalam cerpen “Menanti” dan “Meme Mokoh” mengkritik tradisi, adat, dan norma lokal yang seringkali membelenggu masyarakat. Selain itu, setelah penangkapan suaminya, Alit tidak hanya harus bergelut mencari biaya untuk menutup kebutuhan sehari-hari dan uang sekolah anak-anaknya, namun juga menghadapi perubahan sikap Ramli yang kehilangan respek terhadap ayahnya karena kesalahpahaman sejarah.

Keadaan yang dihadapi Ramli merupakan representasi permasalahan psikologis yang dialami keturunan tahanan politik Orde Baru yang disebabkan oleh sejumlah faktor. Yang pertama, narasi tentang kejahatan para tahanan politik menjadi salah satu bahan yang didengungkan oleh pemerintah melalui sejumlah media, termasuk di bangku sekolah. Keluarga tahanan juga sering mengalami perundungan di lingkungan masyarakatnya, sehingga seringkali mereka dikucilkan oleh tetangga, teman, bahkan saudara. Keadaan tersebut dapat menyebabkan permasalahan pada keadaan psikologis tahanan dan juga keluarganya yang kemudian termanifestasikan dalam perubahan perilaku. Pada saat yang sama, di tengah tekanan permasalahan tersebut, Alit dikonstruksikan sebagai seorang istri dan ibu yang mampu menjaga kesadaran dan kesetiaannya untuk tetap melanjutkan hidupnya.

Konflik yang terdapat di lingkungan masyarakat karena propaganda anti-komunis juga digambarkan dalam cerpen “Rindu Terluka” dengan mempertahankan penggambaran tentang masyarakat Bali. Cerpen tersebut didominasi dengan dialog antara kakak beradik yang berdiri di dua posisi berseberangan, yakni “jagal” dalam peristiwa pembunuhan massal di Bali dan “korban” penangkapan yang harus mendekam di penjara. Runtutan dialog tersebut menggambarkan kekacauan sosial yang berlangsung di beberapa daerah di Bali; menangkap dan membunuh dianggap sebagai cara untuk menyelamatkan diri dari penangkapan dan pembunuhan itu sendiri. Cinta kasih dan kemanusiaan menjadi suatu harta karun yang sulit untuk dicari dan ditemukan. Cerpen tersebut ditutup dengan dialog yang mewakili gagasan serupa dengan cerpen “Ke Mana Muka Dipalingkan” yang ditulis pada periode sebelumnya, yakni bahwa yang dibunuh maupun yang membunuh sesungguhnya sama-sama korban kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh rezim otoriter.

Sebagai kesimpulan, keenam cerpen yang ditulis pada periode tahun 1966–1998 menyuguhkan narasi yang lebih beragam daripada karya-karya pada periode sebelumnya. Hal tersebut ditunjukkan dari pengembangan tokoh, latar tempat, dan tema yang diangkat dalam karya-karya pada periode 1966–1998. Jika tiga cerpen pada periode 1960–1965 memunculkan tokoh-tokoh dari golongan ekonomi bawah yang merepresentasikan perjuangan kelas bersama partai (komunis), karya-karya pada periode 1966–1998 didominasi oleh tokoh-tokoh yang merepresentasikan kelompok masyarakat yang kalah dan berupaya bertahan hidup bukan lagi sebagai bakti kepada partai, melainkan sebagai manusia. Mereka berjuang sebagai manusia untuk dimanusiakan.

Pergeseran ideologi tersebut dipengaruhi oleh perubahan signifikan yang terjadi di bidang politik, sosial, dan ekonomi pasca naiknya Suharto ke tampuk kekuasaan. Propaganda anti-komunis dan strategi pecah belah yang diluncurkan oleh pemerintah Orde Baru menyebabkan kekacauan di masyarakat, mulai dari saling tangkap dan saling bunuh, dan juga perundungan. Pada saat yang sama, strategi pembangunan ekonomi Orde Baru yang sepenuhnya berbeda dengan yang dicetuskan oleh Sukarno menyebabkan ketimpangan kelas yang tajam dan juga tergusurnya sistem ekonomi kemasyarakatan dengan masuknya investor-investor asing.

Transformasi lain yang dapat ditangkap dari keenam cerpen pada periode 1966–1998 adalah penggambaran emosi tokoh yang lebih kentara daripada karya-karya pada periode sebelumnya. Cerpen “Pan Blayag” ditutup dengan umpatan Blayag untuk menggambarkan kegundahan hatinya karena harapan untuk bisa menjalani kehidupan lebih baik setelah diaspalnya jalanan di kampung pupus begitu saja. Begitu pun dengan Alit yang tidak selalu ditampilkan sebagai seorang tokoh yang selalu mampu menahan emosinya. Ia digambarkan seringkali merasa sedih dan tertekan, juga terkadang menangis. Penggambaran tersebut berhubungan dengan keadaan psikologis penulis sebagai seorang mantan tahanan yang masih mengalami tekanan walaupun telah terbebas dari belenggu sel. Hal tersebut sekali lagi dipengaruhi oleh situasi sosial yang berlangsung di bawah pemerintahan Orde Baru.


Penggambaran keadaan psikologis tokoh kembali diperkuat pada karya-karya yang ditulis pada periode 1998–sekarang. Selain itu, strategi penulisan dalam cerpen-cerpen pada periode tersebut juga semakin berkembang, yang ditunjukkan dengan penciptaan tokoh yang terasing di tengah kehidupannya (“Aku Kangen Matari”, “Pulang”, “Sunyi”, “Ia Menangis di Depan Televisi”), eksil Orde Baru (“Masa Lalu di Meja Makan”), waria (“Nita”), pasangan kekasih (“Cinta Berdarah di Balik Foto”), perempuan bermata indah (“Mata”). Pembahasan tentang tragedi kemanusiaan 65–66 diselipkan dengan cara yang halus sehingga membentuk motif atau logika konstruksi penokohan pada cerpen-cerpen tersebut.

Ilustrasi cerpen “Sunyi” oleh Gde Oka Suryadana.

“Sunyi” adalah cerpen paling liris di antara semua karya yang tergabung dalam kumpulan cerpen Debur Zaman. Cerpen tersebut menghadirkan seorang tokoh aku yang menyimpan rasa rindu mendalam kepada Sunyi. Sunyi dihadirkan dengan nyata namun abstrak, muncul di dekat aku namun tidak mampu digapai. Pada akhir cerita, ditunjukkan bahwa Sunyi adalah harapan. Harapan yang musnah dari kehidupan aku, seorang mantan tahanan.

Pemilihan “sunyi” sebagai simbol untuk mewakili cita-cita dan harapan eks-tapol tidak dapat dikatakan sebagai hal yang tidak sengaja. Sunyi yang dapat diartikan sebagai keadaan sepi merepresentasikan ketidakhadiran harapan di tengah-tengah kehidupan seorang manusia. Cerpen tersebut merepresentasikan keadaan psikologis mantan tahanan politik Orde Baru yang sepanjang hidupnya sejak pertama kali ditangkap sampai bebas, bahkan sampai meninggal, tidak mendapatkan keadilan. Hal tersebut menjadikan eks-tapol sebagai manusia yang tidak utuh, karena tidak seperti orang lain yang bisa berharap dan memiliki cita-cita, mereka terjebak dalam kehidupan yang alpa dari harapan.

Sebagai konsekuensinya, tokoh aku dalam cerpen “Sunyi” dan juga tokoh-tokoh lain dalam cerpen “Aku Kangen Matari”, “Pulang”, dan “Ia Menangis di Depan Televisi” merasa terasing dari orang-orang di sekitarnya. Mereka terjebak dalam ingatan akan peristiwa masa lalu dan tidak mampu untuk mentas dari trauma yang menyiksa benak. Waktu yang berjalan terus tidak mampu menyembuhkan luka yang pernah tertoreh karena penyiksaan di dalam penjara dan juga ketidakadilan yang tidak dihadirkan oleh pemerintah bagi warga negaranya.

Penciptaan tokoh eksil Orde Baru dan waria juga menjadi kekuatan tersendiri dari cerpen-cerpen dalam periode 1999–sekarang. Dua cerpen tersebut memunculkan dimensi baru yang tidak dapat ditemukan pada dua periode kepenulisan sebelumnya, mengindikasikan transformasi pada sudut pandang penulis, terutamanya tergambarkan pada kutipan berikut.

“Aku merasa bersalah besar, menganggap teman-teman yang kelayapan terhalang pulang itu, beban hidupnya jauh lebih ringan, tidak bisa dibandingkan dengan orang yang tertuduh di tanah air.” (Sukanta: 21)

Kutipan di atas menunjukkan pembelaan yang diberikan kepada eksil yang juga merupakan korban kejahatan terhadap kemanusiaan oleh pemerintah Orde Baru. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa yang disekolahkan oleh pemerintahan Sukarno di beberapa negara yang memiliki kedekatan politik dengan Indonesia, seperti Rusia dan Cina. Setelah drama pergantian kekuasaan, paspor dan hak warga negara mereka dicabut sehingga mereka tidak bisa kembali ke Indonesia.

Di samping itu, penciptaan tokoh Nita yang seorang waria–yang kemungkinan menderita HIV/AIDS–juga merupakan dimensi baru yang diperkenalkan dalam karya yang ditulis pada periode pasca kejatuhan Orde Baru. Cerpen “Nita” menghadirkan tokoh tersebut sebagai seorang manusia yang utuh, berbeda dari konstruksi dan stigma sosial yang berkembang di masyarakat. Ia dikonstruksikan sebagai seorang individu yang mengharapkan cinta dan kasih sayang terlepas dari pekerjaannya sebagai penjaja jasa seks. Oleh karena itu, penciptaan tokoh Nita mengimplikasikan upaya mengembalikan sosok “manusia” dari anggota kelompok masyarakat marjinal.

Selanjutnya, tema lokalitas Bali kembali diangkat dalam cerpen “Cinta Berdarah di Balik Foto” yang menceritakan kompleksitas hubungan percintaan muda mudi Bali. Hubungan percintaan I Putu Putra dan Ni Made Sari tidak berjalan dengan baik sesuai harapan mereka karena I Putu Putra diamankan oleh tentara, sehingga pada akhirnya Ni Made Sari menikah dengan pria lain dengan menyimpan perasaan cinta yang mendalam kepada I Putu Putra sampai ia menghembuskan nafas terakhir. Kegagalan hubungan percintaan yang digambarkan dalam cerpen tersebut merepresentasikan sisi lain dari permasalahan sosial yang disebabkan oleh peristiwa penangkapan dan pembantaian massal 65–66 di sejumlah daerah di Indonesia, termasuk Bali.

Penggambaran tokoh perempuan yang dominan dan memiliki otoritas tetap dipertahankan pada periode 1999–sekarang seperti yang ditunjukkan dalam cerpen “Mata”. Selain mengedepankan kepemilikan otoritas dari tokoh perempuan tersebut dapat dibaca sebagai simbolisme dalam karya tersebut sebagai harapan yang diimpikan oleh tahanan politik Orde Baru. Harapan tersebut hadir di hadapan tokoh aku namun tidak dapat dimilikinya secara penuh, berlalu dan tidak bisa digapainya. Selain itu, tokoh aku juga sempat mengenang harapan yang sempat hadir di masa lalunya. Cerpen tersebut merepresentasikan permasalahan psikologis yang dihadapi oleh seseorang yang kehilangan seseorang yang dicintainya karena tragedi kemanusiaan 65–66.

Berdasarkan pembacaan atas semua karya yang terdapat dalam kumpulan cerpen Debur Zaman, dapat ditemukan dinamika ideologi yang berubah dari satu periode kepenulisan ke periode kepenulisan selanjutnya. Dinamika ideologi tersebut tidak dapat dipisahkan dari faktor ekstrinsik karya, antara lain situasi sosial, ekonomi, dan politik; pengalaman pribadi penulis; dan medan sastra. Cerpen-cerpen pada periode 1960–1965 merupakan karya realisme sosialis yang merepresentasikan glorifikasi atas paham dan partai komunis sebagai manifestasi paham politik dominan di Indonesia di bawah kepemimpinan Sukarno, yakni Nasakom. Selain itu, ketergabungan penulis dalam organisasi Lekra juga memengaruhi kecenderungan-kecenderungan artistik dan ideologis dari karya yang dibuatnya pada periode awal kariernya.

Beranjak ke periode kedua, yakni 1966–1998, gaya penceritaan realis tetap dipertahankan meskipun glorifikasi atas paham tertentu tidak lagi dapat ditemukan. Hal tersebut dipengaruhi oleh keadaan sosial politik Indonesia pasca pergantian kekuasaan dari Sukarno ke Suharto yang diikuti dengan penghancuran massal dan terstruktur terhadap hal-hal yang dianggap berkaitan dengan komunisme. Paham tersebut pun tidak lagi dianggap sebagai jawaban atau alat untuk mencapai kesejahteraan rakyat. Pada saat yang sama, pemerintah Orde Baru menggunakan pelanggaran atas kemanusiaan sebagai strategi untuk menggalakkan propaganda anti-komunisme dan menyebabkan kekacauan sosial di lapisan masyarakat non-elit. Permasalahan sosial yang disebabkan oleh propaganda tersebut direpresentasikan dalam cerpen-cerpen yang dituliskan pada periode kedua. Di samping itu, pengalaman penulis sebagai tahanan politik Orde Baru dan represi yang diterimanya sebagai mantan tahanan juga menjadi faktor penting yang menyebabkan munculnya dimensi baru dalam karya-karya yang dibuat selama rezim Orde Baru tersebut.

Aspek estetik dan ideologis dalam cerpen-cerpen Sukanta terus berkembang pasca kejatuhan Orde Baru. Karya-karya pada periode 1999–sekarang menunjukkan penciptaan karakter yang lebih variatif dan mendalam. Tidak hanya merepresentasikan keadaan masyarakat yang terpinggirkan, karya-karya pada periode tersebut menggambarkan tekanan psikologis dan perasaan teralienasi yang mereka rasakan karena represi yang diterima dari masyarakat sekitar dan trauma akan luka masa lalu. Gaya penceritaan realis pun tidak lagi menjadi satu-satunya strategi kepenulisan karena penulis mulai mengeksplorasi teknik-teknik penulisan yang romantik untuk melukiskan permasalahan dalam alam bawah sadar para tokoh.

Sebagai kesimpulan, dinamika ideologi yang mengalir dari satu periode ke periode lain pada cerpen-cerpen dalam Debur Zaman dipengaruhi oleh unsur-unsur ekstrinsik karya. Definisi “kemanusiaan” berkembang dari yang terbatas pada masyarakat yang termarjinalkan secara ekonomi sampai juga meliputi orang-orang yang dikorbankan oleh pemerintah dan selama ini mendapatkan stigma negatif dari lingkungan sosial mereka. Perkembangan tersebut dicerminkan melalui penggunaan strategi-strategi kepenulisan baru yang dapat ditemukan pada periode 1966–1998 dan 1999–sekarang. Debur Zaman tidak hanya memberikan penggambaran sejarah sosial Indonesia, namun juga menyuguhkan dimensi kehidupan manusia yang tidak dimanusiakan di tengah debur dan laju zaman yang terus bergulir.