Salah satu hal yang sering menjadi bahan kritik bagi para mahasiswa pada akhir-akhir ini adalah semakin matinya semangat pergerakan mereka sebagai muda mudi Indonesia. ‘Keberhasilan’ gerakan kelompok mahasiswa untuk menjatuhkan Suharto dari singgasana penguasa yang telah merongrong selama lebih dari tiga dekade sering dijadikan narasi untuk merefleksikan betapa besarnya peran mahasiswa sebagai agen perubahan masyarakat. Sayangnya kritik tersebut sering kali hanya bersifat satu sisi, menyalahkan para mahasiswa saat ini sebagai pemuda pemudi malas yang cenderung apatis.

Sedangkan sesungguhnya ada realitas yang lebih rumit dari fenomena tersebut. Yakni pola pengajaran dan pendidikan saat ini yang memang mengesampingkan konsep dan peran intelektual organik. Istilah intelektual organik pertama kali dicetuskan oleh Antonio Gramsci, yang juga dikenal sebagai penemu konsep hegemoni. Ia merupakan salah satu pemikir Marxian yang tidak hanya mengikuti jejak pemikiran Marx, namun juga menambahkan beberapa konsep yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman.

Marx, sama halnya dengan Lenin, menekankan pentingnya kepemimpinan yang bersifat politis di kalangan kelas pekerja untuk bisa melakukan perlawanan. Kelas pekerja harus memiliki kesadaran dan kekuatan kelas yang akan berguna untuk menjatuhkan sistem ekonomi kapitalis. Dalam kata lain, pergerakan revolusioner harus dilakukan dari dan untuk kelas pekerja. Pada perkembangannya, Gramsci menawarkan konsep yang berbeda untuk membangun kekuatan revolusioner.

Gramsci menekankan kepemimpinan moral dan intelektual dan hubungan non-ekonomi yang terjalin antar kelas. Menurut Gramsci, sesungguhnya istilah intelektual tidak hanya merujuk pada golongan masyarakat yang berada dalam lingkungan akademis. Tentu saja peneliti, pelajar, dan pekerja seni termasuk dalam golongan intelektual, yang disebutnya sebagai “organizer of culture”, namun pada saat yang sama, orang-orang yang bersifat fungsioner juga masuk dalam golongan intelektual. Masyarakat fungsioner yang dimaksud Gramsci adalah mereka yang bekerja di tingkat birokrasi, politisi, dan manajer industri. Golongan intelektual dibagi menjadi dua, yakni intelektual tradisional dan intelektual organik, yang ditempatkan pada dimensi horizontal dalam masyarakat.

Intelektual organik adalah mereka yang secara kapital lebih dari masyarakat kebanyakan, dapat dikatakan mereka juga bagian dari kelas atas. Contohnya adalah mahasiswa. Mahasiswa bisa digolongkan dalam bagian dari kelas atas karena mereka memiliki kapital ekonomi yang memungkinkan mereka mendapatkan pendidikan tinggi yang pada akhirnya akan mengantarkan mereka menikmati kapital budaya dengan status dan gelar yang mereka miliki. Jika Marx secara gamblang menyatakan mereka yang bisa masuk ke universitas dan menikmati kenyamanan pendidikan formal sebagai bagian dari kelas borjuis yang berseberangan dengan kelas proletar, Gramsci menawarkan pemikiran yang berbeda.

Golongan intelektual organik tersebut, menurut Gramsci, memiliki peran untuk ‘berbicara’ dengan kelas pekerja untuk menumbuhkan kesadaran kelas dan memantik semangat pergerakan revolusioner. Hal tersebut akan lebih mudah dilakukan oleh intelektual organik daripada golongan intelektual di posisi vertikal karena mereka merupakan bagian dari masyarakat sipil yang tidak memiliki kepentingan kuasa atau politis. Sekarang mari kita kembali pada contoh gerakan mahasiswa yang melakukan demonstrasi di Jakarta pada tahun 1998 untuk menjatuhkan kekuasaan Orde Baru.

Menurut kacamata konsep Gramsci, para mahasiswa tersebut tidak bisa dimaknai sebagai demonstran yang ingin melakukan kudeta untuk kemudian menjadikan diri mereka sebagai penerus kekuasaan Suharto atas Indonesia. Karena pada kenyataannya, tidak ada dari mereka yang menduduki kursi pemerintahan setelah Orde Baru berhasil dijatuhkan. Namun pada kenyataannya, para mahasiswa itu menjadi agen pembawa wacana baru yang sebelumnya dibekukan, yakni kebebasan. Selain itu, mereka juga menjadi agen penyadaran kelas, bahwa selama pemerintahan Orde Baru sebagian besar golongan masyarakat telah ditindas oleh sistem politik yang bersifat otoriter tersebut.

Lalu bagaimana dengan keadaan pergerakan mahasiswa yang disebut-sebut mati suri? Sebenarnya fenomena ini berhubungan dengan pola pendidikan dan pembentukan karakter di institusi akademik formal. Beberapa kali saya mendengar dari mulut pengajar yang kurang menyukai gerakan revolusioner mahasiswa karena dianggap kurang akademis, pendapat yang sama juga pernah dilontarkan oleh tokoh penting di salah satu lembaga beasiswa. Mahasiswa saat ini diarahkan menjadi kaum intelektual yang hanya terfokus pada dunia akademisi, menyibukkan diri dengan permohonan hibah penelitian yang menghasilkan uang, dituntut lulus dengan cepat agar segera menjadi pekerja.

Kecenderungan tersebut pada akhirnya membentuk mental mahasiswa untuk menjadikan diri mereka bagian yang eksklusif dari masyarakat, yakni golongan intelektual yang tidak diharapkan untuk memiliki keterkaitan dengan kelas bawah. Bahkan yang lebih parah, mereka digiring untuk mendekat dengan masyarakat kelas atas dengan semakin gencarnya tuntutan menjalin kerja sama dengan lembaga-lembaga komersial yang berkedok institusi pendukung pendidikan. Selain itu, fenomena tersebut diperparah dengan gejolak politik dan sosial yang sering kali membuat pola pikir masyarakat menjadi salah kaprah dalam memaknai gerakan sosial kemasyarakatan.

Sehingga adapun kritik tentang mati surinya pergerakan mahasiswa harusnya perlu juga diarahkan kepada pihak-pihak yang memiliki peran fungsional dalam peraturan pendidikan. Jika terus menerus membentuk mahasiswa sebagai orang-orang akademisi yang berjarak dari masyarakat, terutama kelas bawah, maka kemudian akan muncul wacana tentang dosa menjadi intelektual organik, karena mereka dianggap tidak menaati konstruksi yang dibentuk.