Dalam pemaknaan awam, konsep emansipasi seringkali dihubungkan dengan relasi gender yang berlangsung di masyarakat. Yang paling sering digencarkan adalah emansipasi perempuan di tengah-tengah sistem masyarakat patriarkis. Padahal emansipasi pada awalnya memiliki dasar pemikiran yang lebih luas, dan perkembangan ilmu pengetahuan yang menyebabkan digunakannya konsep ini dalam berbagai ranah keilmuan.

Secara umum, emansipasi berarti usaha untuk mewujudkan kesetaraan hak ekonomi, sosial, dan politik. Di antara beberapa pemikir yang pernah membahas konsep emansipasi adalah Karl Marx, yakni pada tulisannya yang berjudul “On the Jewish Question” (1844). Dalam tulisan tersebut, Marx menyampaikan kritiknya terhadap tulisan rekannya sendiri, Young Hegelian Bruno Bauer, tentang upaya yang dilakukan komunitas Yahudi untuk memperoleh hak politik mereka di Prussia. Marx menggunakan kritik tersebut untuk mengembangkan analisisnya tentang hak liberal.

Bauer pada awalnya berpendapat bahwa agama di negara sekuler tidak akan memainkan peran yang penting lagi di kehidupan sosial. Sedangkan menurut Marx, negara sekuler tidak melawan agama, melainkan agama malah menjadi aspek yang mendasari pembentukan negara sekuler. Marx pun membahas kebebasan beragama yang berkaitan dengan emansipasi politik. Menurutnya saat seseorang bisa bebas secara spiritual dan politik di negara sekuler, mereka masih terikat dengan keterbatasan material yang menyebabkan ketidaksetaraan ekonomi. Tulisan inilah yang menjadi cikal bakal kritik Marx terhadap sistem ekonomi dan masyarakat kapitalis.

Membahas emansipasi politik merupakan awalan yang sengaja saya pilih daripada ujug-ujug menulis konsep emansipasi gender. Hal ini didasari pada kenyataan bahwa emansipasi politik juga merupakan salah satu agenda terpenting yang digalakkan oleh gerakan feminisme generasi awal. Gerakan feminisme di Eropa yang berkembang pada abad ke-19 sampai ke-20 yang disebut dengan suffrage menuntut hak suara dalam pemilihan umum bagi perempuan. Gerakan ini didasari oleh kegeraman para suffragette yang melihat adanya ketidakadilan dalam perundang-undangan negara yang dibuat oleh politisi laki-laki yang menempatkan perempuan pada posisi yang tidak diuntungkan.

Perjuangan yang dihadapi pergerakan tersebut tentu saja tidak bisa dibilang mudah, karena sistem perundang-undangan dan moralitas agama membentuk pola pikir patriarkal yang sangat kuat. Karena perempuan tidak memiliki kekuatan hukum dan politik, mereka menyatukan diri dalam kelompok-kelompok non kepemerintahan yang pada kenyataannya mudah untuk dipatahkan oleh supremasi hukum dan politik kaum laki-laki. Permohonan-permohonan yang mereka sampaikan seringkali ditolak oleh parlemen. Selain itu, saat melakukan demonstrasi, mereka sering mendapatkan kekerasan fisik dan verbal, menjalani hukuman kurungan di penjara, bahkan menjadi korban persekusi sosial dari kelurga dan masyarakat sekitar.

Diperlukan perjuangan yang berat dan panjang sampai akhirnya perempuan mulai mendapatkan hak politik mereka, mulai dari hak pilih sampai hak dipilih. Negara kita sesungguhnya patut cukup berbangga karena sejak awal dilakukannya pemilihan umum, perempuan dan laki-laki mendapatkan hak pilih yang sama selama sudah mencapai usia dewasa. Bahkan Indonesia sempat memiliki presiden perempuan dan cukup banyak posisi penting di pemerintahan yang diisi oleh perempuan. Namun pada saat yang sama, kita tidak bisa mengesampingkan realitas ketidaksetaraan gender yang masih terjadi di sekitar kita.

Emansipasi gender, terutama perempuan, masih sering dilihat sebagai suatu gerakan yang mencoba mengeluarkan diri perempuan dari kodratnya. Masih banyak yang melihat kodrat sebagai sesuatu yang alami dan bukan merupakan konstruksi sosial yang sarat dengan kepentingan. Mari ambil contoh yang sering terjadi di sekitar kita. Saat muncul berita kriminal yang dilakukan oleh tersangka perempuan, banyak yang berkomentar secara sinis. Biasanya akan muncul sinisme yang diluncurkan terhadap jenis kelamin pelaku, dan konsep-konsep emansipasi dan feminisme.

Kejahatan yang dilakukan pelaku perempuan tidak dilihat menggunakan kacamata filsafat moral di mana terdapat tindakan merugikan yang lakukan agen X terhadap pasien Y, tanpa embel-embel jenis kelamin. Namun malah dianggap sebagai hasil dari perjuangan emansipasi perempuan yang pada akhirnya mengizinkan mereka untuk berbuat kejahatan. Padahal emansipasi tidak bekerja seperti itu, tidak digagas untuk menciptakan permissiveness atas tindakan-tindakan yang merugikan.

Sebagai contoh nyata, masyarakat Amerika pernah digegerkan dengan pasangan perempuan dan laki-laki bernama Bonnie and Clyde yang bekerja sebagai kriminal pada masa Great Depression sekitar tahun 1930-an. Kejahatan yang dilakukan Bonnie sebagai seorang perempuan tidak pernah dilihat sebagai bagian dari upaya atau kesuksesan misi emansipasi, namun semata sebagai tindakan yang merugikan masyarakat. Mereka berdua pada akhirnya ditembak mati oleh polisi saat mobil mereka terkepung setelah rentetan kejadian perampokan bahkan pembunuhan yang mereka lakukan.

Oleh karena itu, emansipasi seharusnya tidak dilihat sebagai upaya pemberontakan untuk melepaskan diri dari kodrat. Karena pada dasarnya apa yang dianggap sebagai kodrat pun tidak lain adalah konstruksi sosial. Sebagian dari kita mengamini konsep yang menyatakan kodrat perempuan adalah memiliki kekuatan fisik yang lebih rendah daripada laki-laki, sehingga adalah suatu hal yang patut dan alami jika laki-laki melakukan pekerjaan fisik yang berat dan perempuan sebaiknya melakukan pekerjaan yang tidak membutuhkan banyak kekuatan fisik.

Padahal konsep kodrat tersebut digunakan oleh masyarakat pada beberapa abad sebelumnya untuk membentuk dualisme ruang sosial vs ruang domestik yang masing-masing ditujukan untuk laki-laki dan perempuan. Tujuannya adalah untuk membuat laki-laki bisa bekerja di luar rumah, mendapatkan penghasilan lebih besar, dan mendongkrak supremasi atas anggota keluarga perempuan. Sedang yang dilakukan oleh emansipasi adalah mendobrak dualisme tersebut sehingga tidak ada lagi garis pembatas yang memisahkan secara hitam putih tentang di mana seharusnya perempuan dan laki-laki beraktivitas dan bekerja.

Sehingga emansipasi sesungguhnya memberikan ruang yang lebih bebas untuk pemenuhan hak, bukan tindakan kejahatan yang melukai hak orang lain. Emansipasi bukan upaya pembentukan konsep permisif di mana segala tindakan, bahkan yang merugikan orang lain, menjadi suatu hal yang lumrah dan berterima. Emansipasi tidak melawan kodrat melainkan menentang konstruksi sosial yang ditudungi kelambu kodrat.