Saya tidak akan mengatakan bahwa saya mengenal pribadi seorang Pram, pernah menjabat tangannya, atau bertatap muka dengannya. Saya juga tidak akan mengatakan bahwa saya turut bersuka cita dengan ulang tahunnya yang jatuh pada hari ini dengan membagi kalimat-kalimat mutiara yang pernah ditulis dalam bukunya melalui akun media sosial. Karena menurut pendapat saya pribadi, kesemuanya itu tidak lain hanya sebuah euforia yang menjadi ritual seremonial di masyarakat teknologi saat ini. Dan semuanya tidak akan menjadikan utopia Pram tiba-tiba menjadi kenyataan yang gamblang di depan mata.

Kartu pos yang dikirimkan untuk Pak Suwadi (kakek saya) saat berada di Unit III Wanayasa Tefaat Pulau Buru (dokumentasi pribadi)

Namun memang benar adanya jika tulisan Pram yang menjadikan saya seperti sekarang, dengan perantara kakek saya. Saya sudah sering menulis dan mengatakan secara langsung di hadapan publik bahwa kakek saya yang pernah satu unit dengan Pram di Pulau Buru, yakni Unit III Wanayasa, yang mengenalkan saya pada Pram. Buku pertama yang saya baca adalah Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Saya kini tahu bahwa kakek saya memilih buku tersebut untuk saya baca di usia sekolah dasar untuk menunjukkan wacana lain yang tidak dituliskan melalui narasi agung yang dibuat pemerintah pada saat itu. Dan walaupun ia tidak mengatakan secara langsung bahwa saya harus menjadi penulis yang fokus pada isu ini, namun ada petuah tersembunyi yang coba ia suguhkan dengan meminta saya membaca tulisan Pram tersebut.

Oleh karena itu pun saya tidak terbiasa untuk ikut-ikutan merayakan euforia Pram yang ditandai dengan kemunculan buku-bukunya di toko buku berkelas tinggi di Indonesia setelah keruntuhan Orde Baru. Saya telah memilih untuk secara sadar memasukkan beberapa ideologi Pram ke dalam alam bawah sadar saya sebagai penggerak untuk menulis dan berpikir. Karena akan lebih beresensi daripada merayakan euforia Pram seperti layaknya Dilan yang agaknya serupa dengan seremonial wisuda yang melelahkan namun miskin makna.

Kita sudah terlalu sering mendengar pendapat yang menempatkan Pram sebagai penulis beraliran realisme, dengan semua pendekatan ilmu sastra yang teliti. Namun saya tidak akan membahas pendekatan-pendekatan dan teori-teori tersebut dalam tulisan ini, karena saya telah memilih untuk mengatakan bahwa ada utopia Pram di balik euforia masa kini. Perlu diakui bahwa kemampuan Pram untuk menangkap kehidupannya sendiri dan orang-orang di sekitarnya dan menjadikannya sebagai narasi yang nyaman dibaca adalah hal yang perlu diacungi jempol. Ada kekuatan dalam tulisannya yang membuat pembaca bisa menjadi dekat dengan apa yang dituliskannya tanpa perlu membuat karyanya terlihat seperti laporan perjalanan atau diari kehidupannya. Namun dari sekian tulisannya yang telah saya baca, tersirat utopia yang bisa dibilang belum menjadi bagian dari realisme itu.

Pram sebagai sosok penulis sebenarnya tidak jauh berbeda dari penulis lain yang sering menjadikan pengalaman pribadinya sebagai bahan cerita. Mulai dari permasalahan dalam keluarganya sampai perjalanan sebagai tahanan politik. Dan banyak karya lain yang memunculkan ideologi-ideologinya tentang bagaimana hubungan sosial yang lebih baik daripada yang dialami selama hidupnya. Saya ambil contoh Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, sebuah buku yang digadang-gadangkan sebagai bagian dari otobiografi seorang Pram yang menceritakan potongan kehidupannya di Pulau Buru. Ada beragam susasana yang coba dimunculkannya di sana, mulai guyonan sarkas sampai deskripsi lingkungannya yang membuat perasaan ngenes atau prihatin.

Namun di balik semuanya, saya mendapati sesuatu yang tentu tidak saya sadari saat pertama kali membacanya di usia sekolah dasar. Salah satunya harapan agar para tahanan politik seperti dirinya diperhatikan –tidak hanya sekedar dibebaskan– sebagai manusia, yang ditunjukkan dengan penyampaian sarkasnya saat ditemui oleh beberapa wartawan dari Jakarta yang menanyakan kabar dan apa keinginannya. Harapan serupa juga muncul pada bagian awal buku yang menceritakan surat yang dikirimkannya kepada anaknya yang ditinggalkannya karena harus menjalani pembuangan di Pulau Buru. Layaknya surat pribadi antar anggota keluarga yang dikirimkan pada saat itu, ada harapan-harapan tersirat atas sesuatu yang tidak mereka peroleh, yakni keadilan.

Di sanalah bentukan harapan-harapan Pram dipaparkan dengan manis, sehingga tulisannya tidak seperti buku-buku teori ideologi atau buku inspiratif yang digilai pada beberapa tahun lalu. Lalu mengapa saya perlu menyatakan bahwa harapan itu telah sampai pada taraf definisi utopia?

Hal tersebut saya dasarkan pada kenyataan yang ada saat ini, mendekati dua dekade runtuhnya rezim pembuangan dan pemenjaraan tahanan politik. Di sudut-sudut kesibukan pemberitaan korupsi yang terus dilakukan pemangku otoritas, ada mereka yang masih berjuang untuk sekedar dibersihkan namanya dari embel-embel komunis, G30S, pembunuh jenderal, pengkhianat Pancasila, ateis, dan lain-lain. Ada utopia Pram yang tidak disadari di tengah euforia ini.

Saya tidak menuntut semua orang untuk menyukai dan setuju dengan apa yang telah dituliskan Pram, karena saya rasa ia pun sepertinya tidak pernah merasa perlu untuk melakukan hal tersebut. Yang ada saat ini sebenarnya juga tidak lain adalah utopia-utopia lain, yakni bagaimana kita tidak hanya sekedar numpang bangga karena satu warga negara dengannya yang telah mendapatkan pengakuan sebagai penulis besar di ranah internasional. Bagaimana kita tidak hanya mengumumkan melalui sosial media bahwa kita telah membaca buku Pram dalam waktu singkat. Bagaimana kita tidak larut dalam euforia yang kosong atau minim makna.

Namun menjadikannya lebih dari itu, yakni penggerak mesin-mesin perjuangan untuk menyembuhkan luka Pram dan generasi sebelum kita yang pernah dikorbankan untuk kepentingan penguasa. Untuk selangkah demi selangkah menjadikan utopia Pram menjadi lebih nyata.