Siapa pun yang pernah terjun ke panggung teater, atau menjadi penikmat pertunjukan teater, pasti memiliki penilaian atas bagaimana suatu pertunjukan bisa dianggap bagus, baik dalam hal artistik seperti keaktoran maupun kepanggungan dan produksi. Salah satu hal yang paling sering kita kenal sebagai generasi sineas panggung teater sebagai pertanda bahwa suatu pertunjukan itu bagus dan patut dipuji adalah berkaitan dengan ‘natural’.

Dalam tulisan ini saya mengaitkan penilaian ‘natural’ pada dua hal keaktoran dan tata panggung.

Untuk keaktoran, sekarang kita cenderung memuji para pemain yang ‘bertarung’ mempertahankan karakternya masing-masing di atas panggung dengan cara yang terlihat alami dalam berdialog, melakukan tindakan yang sebenarnya sudah diatur dalam naskah drama namun terlihat seperti manusia dengan free will yang bebas dan tidak terikat. Kita kurang menyukai karakter yang tidak alami, tidak memiliki cukup alasan untuk merasa, melakukan atau mengatakan sesuatu misalnya A yang menangis tanpa ada alasan yang cukup, atau B yang tertawa tanpa ada faktor pendorong yang cukup; ini seringkali dinilai tidak alami sehingga tidak baik.

Sedangkan untuk tata panggung, pujian akan diberikan kepada pertunjukan yang mampu memberikan suasana panggung yang ‘memanjakan’ mata penonton. Misalnya dinyatakan di naskah adalah ruang berkumpul keluarga dengan latar ekonomi menengah ke atas di Amerika menjelang natal, jika penggarap mampu menyuguhkan suatu panggung yang terlihat persis atau paling tidak mendekati tatanan ruang berkumpul keluarga ekonomi menengah ke atas di Amerika menjelang natal: dengan pohon natal berukuran cukup besar, perapian yang dihiasi dengan kaos kaki, karpet tebal di atas lantai; maka bisa dijamin pujian dan tepuk tangan akan diberikan khusus untuk aspek tata panggung.

Kita yang menjadi sineas panggung teater di abad 20 telah terbiasa dengan hal tersebut, dan kita pun cenderung berusaha memenuhi kriteria ‘natural’ tersebut untuk membawa pertunjukan menjadi suatu keberhasilan. Sutradara menuntut para pemainnya untuk bisa mengolah karakter dengan sempurna, meninggalkan diri asli seorang aktor dan merasuki karakter pemain yang fiktif, prosesnya digembleng berbulan-bulan, semata-mata agar penampilannya bisa alami, seakan-akan karakter yang fiktif tersebut memiliki tubuh dan jiwa yang lengkap layaknya manusia di dunia realita. Di saat yang sama, koordinator artistik menuntut para anggotanya untuk mempersiapkan panggung selengkap mungkin, mendekati deskripsi yang ada di naskah, atau paling tidak jika deskripsi tersebut terbatas, apa yang ada di panggung benar-benar jelas dan tidak membiarkan para penonton bertanya-tanya latar tempat apa yang ada di sana.

Dalam tulisan-tulisan yang saya buat, saya sering menekankan betapa pentingnya untuk tidak berpikir atau menerima segala sesuatu yang kita tahu atau dengar secara mentah-mentah (take for granted), dan hal yang serupa juga akan saya tunjukkan di sini. Bahwa penilaian tentang bagus tidaknya pertunjukkan yang saat ini sering dikaitkan dengan ‘natural’ tidak terbentuk begitu saja, ada sebuah proses evolusi drama yang menyebabkan beberapa pergeseran pada aspek penilaian tersebut. Adapun yang akan saya jelaskan berikut adalah evolusi yang terjadi pada modern English drama yang ada di Eropa, yang terbukti memiliki pengaruh besar pada perkembangan drama di seluruh dunia termasuk Indonesia di abad ini.

Dimulai dari abad 16 yang disebut oleh para ilmuwan dengan Drama of Rhetoric atau jika diterjemahkan kasar adalah Drama Retorika. Sangat tidak bijak jika kita membayangkan drama pada abad tersebut -yang dikenal dengan Elizabethan theaterРmemiliki kondisi yang sama dengan apa yang kita punya sekarang. Tempat pertunjukan di masa ratu Elizabeth, seperti the Globe dan the Blackfriars, tidak memiliki atap di atasnya, dengan beberapa tempat bagi penonton yang dibedakan menurut harga tiket, mereka yang membayar murah akan berdiri di sekitar panggung dan para bangsawan biasanya duduk di tumpukan kotak. Biasanya akan dibuat ruangan atas yang dipakai untuk adegan balkon Juliet pada Romeo and Juliet, atau untuk karakter panglima yang menyampaikan pengumuman bagi masyarakat kota. Tidak disediakan dekorasi landskap atau pemandangan, hanya ada beberapa properti yang akan terlihat oleh penonton jika harus keluar atau masuk panggung, karena tidak ada tirai. Selain itu pertunjukkan dimainkan pada siang hari di bawah sinar matahari, sehingga bahkan untuk adegan di malam hari pun suasana terang benderang.

Maka dengan keadaan seperti itu, drama di era Elizabethan dinilai menurut dialognya yang semakin tinggi dan puitis bahasanya, maka semakin bagus. Selain itu, diperlukan narator untuk menjelaskan alur babak dan pergantian suasana untuk memudahkan penonton memahami pertunjukan secara utuh. Secara radikal, penonton sama sekali tidak dimanjakan secara visual, karena itulah mereka mengharapkan hiburan di telinga mereka yang bisa diperoleh dari lirik yang ditulis oleh penulis naskah dan disampaikan dengan jelas dan merdu oleh para aktor.

bersambung ke Evolusi Drama dan Pengaruhnya pada Penilaian Pertunjukan (bagian 2-tamat)