Sejarah evolusi drama menggambarkan bahwa perubahan pada unsur teknis ternyata mempengaruhi penilaian penikmat drama dan teater pada suatu pertunjukan dari abad ke abad. Apa yang kita sebut baik sekarang dengan keaktoran yang ‘natural’ sebenarnya merupakan perkembangan dari batas-batas penilaian yang ada di masa sebelumnya.

Parlemen kerajaan Inggris di masa Renaissance sempat melarang pertunjukan drama dan menutup tempat-tempat pertunjukan, tepatnya setelah ditetapkannya keputusan tersebut pada 1642. Kemudian pada 1660, drama kembali menjadi bagian dari masyarakat Inggris, dan terdapat banyak evolusi yang terjadi di bidang drama dan teater. Manajer Theatre Royal, Thomas Killigrew merupakan orang pertama yang melibatkan perempuan sebagai pemain di atas panggung teater, yang membuka kesempatan karir sebagai aktor yang sebelumnya hanya dimiliki laki-laki. Pada saat ini pula dekorasi latar belakang (scenery) yang sebelumnya hanya dipakai di opera, mulai dipakai untuk produksi teater komedi dan tragedi. Tempat pertunjukan pun telah memiliki atap dan dilengkapi dengan penerangan dan tirai di depan panggung. Lokasi penonton tidak lagi terbagi-bagi, namun semuanya dipusatkan di depan panggung. Kostum mulai diperhatikan dan menyesuaikan gambaran yang ada pada naskah, sesuai dengan karakter masing-masing.

Dengan kemampuan untuk memberikan penampilan yang lebih alami daripada pertunjukan pada era Elizabethan, Drama of Rethoric pun pada abad 17 bergeser menjadi Drama of Conversation (Drama Perbincangan). Pertunjukan lebih menekankan pada dialog yang terjadi di antara karakter, narator tidak lagi terlalu dibutuhkan. Namun kekurangan pada masa ini adalah aktor yang ingin melakukan adegan atau menyampaikan dialog penting dan perlu mendapatkan atensi lebih, harus berdiri di area apron yang mendapatkan paparan sinar di tengah-tengah panggung, sehingga terkadang pertunjukan masih terlihat tidak ‘alami’.

Dan sejarah drama mengakui penemuan listrik mendorong evolusi besar-besaran pada pertunjukan teater, terutama pada abad ke 19. Dipasangnya penerangan listrik memungkinkan para penonton untuk melihat setiap sudut panggung, yang pada saat yang sama juga mengizinkan para pemain untuk berkelana di atas panggung dan melakukan adegan dengan lebih leluasa daripada sebelumnya. Dengan dipasangnya lampu-lampu tersebut, area apron pun dihilangkan dan menjadi penanda bergantinya Drama of Rhetoric menjadi Drama of Illusion.

Ilusi tersebut diartikan bahwa sejak abad ke 19, para dramatis memberikan perhatian yang jauh lebih besar pada visual panggung dan pertunjukan, seperti kostum, tata rias, dekorasi panggung, sampai ke pengaturan warna dan intensitas lampu. Sejak evolusi besar inilah, muncul maksim di dunia drama yang berbunyi: action is better than words, karena penilaian penonton semakin mengarah pada hal-hal yang memanjakan mata daripada memanjakan telinga.

Dan memasuki abad ke 20, para sineas drama semakin digembleng untuk menampilkan pertunjukan yang ‘alami’, dibarengi dengan perluasan yang cepat di bidang analisis drama, seperti adanya modernisme yang cenderung ingin menyanggah nilai-nilai yang berkembang pada era sebelumnya. Sehingga jika kita pernah berada pada lingkaran produksi teater, baik menjadi aktor, jajaran sutradara, atau bahkan belakang panggung, penilaian akan pertunjukan yang ‘semakin alami semakin baik’ perlu dipahami sebagai sebuah proses evolusi dunia sastra terutama drama yang terjadi selama berabad-abad. Dengan berkembang pesatnya teknologi canggih, bisa saja pada abad 21, penilaian terhadap bagaimana suatu pertunjukan itu bisa dianggap sebagai karya yang bagus pun bergeser lagi dan ke-natural-an menjadi bagian dari sejarah drama.