Sebagai seorang individu yang dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan masyarakat Indonesia, harus diakui bahwa saya sering menghadapi kesulitan dalam mengekspresikan diri. Tidak hanya berkaitan dengan penampilan, namun juga ideologi dan kepercayaan spiritualitas. Saya sudah memutuskan untuk melepas atribut agama apapun yang pernah melekat sebelumnya karena ketidaknyamanan akal dan batin. Dan menggantinya dengan konsep spiritualisme yang sifatnya lebih memerdekakan dan mendamaikan saya dalam lingkup pribadi maupun sosial.

Namun untuk mengekspresikan hal tersebut bisa dibilang tidak mudah, terutama dalam lingkup sosial kemasyarakatan. Lingkungan di sekitar saya terkadang masih mengharuskan saya mencantumkan agama yang diturunkan dari orang tua saya hanya untuk mendapatkan hak-hak saya sebagai warga negara dan anggota masyarakat. Selain itu, saya kurang bisa mengekspresikan kepercayaan saya dengan bebas karena sering mendapatkan diskriminasi atau stigmatisasi dari mereka yang menyebut dirinya sebagai ‘kawan’.

Hal serupa mungkin dialami oleh beberapa orang di luar sana. Terkungkung oleh diskursus paradoks yang seakan sengaja dibentuk oleh pemegang kekuasaan, di mana ada pasal dalam undang-undang tentang kebebasan memeluk kepercayaan namun pada saat yang sama, agama dikotak-kotakkan menurut definisi sempit. Sehingga wacana tentang ‘kebhinekaan’ itu sesungguhnya masih menjadi suatu ideologi kosong yang dipakai oleh pemegang kekuasaan untuk melanggengkan kedudukannya pada beberapa kasus. Kita dikelilingi oleh dosa dan doxa yang mengungkung kebebasan pribadi kita sebagai individu yang sesungguhnya memiliki hak untuk memilih.

Dua pekan lalu, saya masuk dalam suatu lingkaran baru yang membuat saya merasa nyaman dan merdeka, yang saya anggap sebagai momentum hilangnya dosa dan doxa. Momentum tersebut tidak bisa dimaknai sesederhana dosa yang dihapuskan oleh tuhan karena telah menyesal dan melakukan pengakuan dosa atau bertobat dan meminta maaf ke handai taulan. Namun saat di mana lingkaran sosial di sekitar saya tidak merasa punya hak untuk menganggap orang lain itu berdosa karena menganut atau bahkan tidak menganut suatu kepercayaan tertentu. Dan saat di mana doxa yang biasanya bekerja dalam ruang berbau ritus agama, seakan telah kehilangan kesaktiannya dalam menentukan nilai-nilai ideal yang perlu dianut.

Padahal di sana banyak sekali mereka yang menamakan diri pemuka agama. Namun mereka tidak berbicara tentang betapa agungnya agama yang mereka anut dan sebarkan. Mereka juga tidak menghakimi orang-orang yang tidak berjalan di belakang mereka dengan identitas sebagai umat beragama. Bahkan mereka dengan lantang dan tanpa ragu menyatakan keprihatinan atas kekerasan-kekerasan simbolik yang terjadi dalam relasi sosial masyarakat, di mana kita mau tidak mau membohongi diri sendiri dan orang lain dengan memasukkan diri dalam satu agama tertentu untuk mendapatkan hak-hak dasar atau memakai topeng agar masih dianggap sebagai anggota masyarakat yang baik dan beradab.

Jika dianalisis menurut teori yang dicetuskan Habermas, mungkin acara 6th Borobudur Writers and Cultural Festival dengan tema ‘Gandawyuha dan Pencarian Religiusitas Agama-Agama Nusantara’ tidak masuk dalam definisi ruang publik. Karena di sana masih ada pihak panitia yang membatasi diskusi untuk tidak melebihi waktu tertentu, dan ada moderator yang mengatur berapa orang yang boleh bertanya atau menyatakan pendapat. Namun sekiranya pantas atau tidak acara tersebut masuk ke dalam denifisi ruang publik pun tidak begitu penting, karena suatu konsep demokrasi dan kemerdekaan nyatanya malah lebih terasa di sana. Rasanya sungguh jauh berbeda dengan duduk di tengah-tengah acara ritual keagamaan atau di ruang diskusi umum di tempat-tempat lain, di mana masih berlangsung kekerasan simbolik yang membuat beberapa orang ragu atau bahkan takut untuk mengakui kepercayaan apa yang dianutnya.

Menurut saya, masyarakat luas perlu belajar dari ruang yang terbatas oleh waktu dan ruang tersebut. Kita sudah terlalu sering ingin dianggap beragama dan ingin dikenal sebagai orang suci dan baik. Kita sudah terlalu sering ingin menjatuhkan orang lain dengan tuduhan dosa dan kekuatan doxa. Ekspresi beragama dan berkepercayaan harusnya tidak lagi menjadi alasan diskriminasi atau bahan gunjingan umum. Ada yang lebih penting dari semua upaya untuk menjadikan diri sendiri benar dan orang lain salah, yakni menghargai dan mengenal batin sendiri dan melakukan hal yang sama untuk keputusan yang diambil oleh orang lain.