Hukum dialektika merupakan hukum-hukum yang menguasai gerak dan dunia kenyataan obyektif (materiil). Perlu diketahui bahwa gerak dan perkembangan dunia kenyataan obyektif itu bukan digerakkan oleh sesuatu kekuatan yang ada di luarnya, dan bentuk geraknya tidak terbatas pada gerakan mekanis saja, melainkan digerakkan oleh kekuatan yang ada di dalam dirinya sendiri, misalnya segala macam gerak alam pikiran kita. Oleh karena itu, hukum-hukum dialektika adalah hal yang obyektif, artinya baik kita menyadari atau tidak, hukum-hukum tersebut ada dan tetap berlaku.

Saya akan membuat beberapa tulisan berseri untuk membahas hukum-hukum umum dialektik, dimulai dari artikel ini yang membahas hukum dialektik pertama yakni kesatuan dari segi-segi yang berlawanan.

Dalam karyanya Anti Duhring, Engels mengemukakan tiga hukum umum dialektik. Hukum umum dialektika yang pertama adalah kesatuan dari segi-segi yang berlawanan, atau yang lebih populer dikenal dengan hukum kontradiksi. Hukum ini menunjukkan bahwa gerak dunia materiil atau dunia kenyataan objektif itu ada karena adanya segi-segi atau faktor-faktor yang berlawanan yang ada dalam dirinya sendiri. Menurut Lenin, menurut arti yang sebenarnya, “dialektika adalah studi tentang kontradiksi di dalam hakekat segala sesuatu itu sendiri” (Buku Catatan Filsafat). Dengan kata lain, hukum kontradiksi itu merupakan jiwanya dialektika.

Kontradiksi dalam pengertian filsafat sangatlah luas, tidak terbatas pada segi-segi yang saling bertentangan atau berlawanan saja, tapi segi-segi yang berlainan atau berbeda pun termasuk dalam pengertian kontradiksi.

Kemudian ada dua pengertian keumuman kontradiksi. Yang pertama bahwa di setiap hal terdapat segi-segi yang berlawanan. Kedua bahwa suatu hal dalam seluruh proses perkembangannya, dari satu tingkat perkembangan ke tingkat perkembangan yang lain, selalu terdapat kontradiksi di dalamnya. Arti praktis dari pengertian keumuman kontradiksi ini adalah bahwa kita tidak boleh melarikan diri dari kontradiksi atau persoalan, bahwa kita tidak boleh merasa lelah atau jera untuk menghadapi kontradiksi atau persoalan, karena pada suatu hal, setelah suatu kontradiksi di suatu tingkat perkembangan usai, maka akan diikuti oleh kontradiksi baru di tingkat perkembangan baru. Begitu seterusnya tanpa akhir.

Kekhususan kontradiksi juga memiliki dua pengertian, yang pertama bahwa dalam setiap hal terdapat kontradiksinya sendiri yang khusus yang berbeda dengan kontradiksi pada hal lain. Yang kedua bahwa pada dua hal yang sama dalam hal proses dan tingkat perkembangan, selalu memiliki kontradiksinya yang khusus sehingga dapat dibedakan tingkat perkembangannya, seperti tingkat perkembangan dari telur menjadi ulat menjadi kepompong dst. Makna praktisnya adalah bahwa kita perlu melihat persoalan secara konkret dan mendetail, tidak bisa secara umum dan garis besar saja.

Kontradiksi dasar adlaah dimana suatu kontradiksi atau beragam kontradiksi yang menentukan kualitas suatu materi atau kenyataan objektif. Terjadinya perubahan kontradiksi dasar berarti terjadinya perubahan kualitas yang satu menjadi kualitas yang lain, berarti terjadinya perubahan dari satu materi berkembang menjadi materi lain. Misalnya jika kontradiksi penghisapan kaum kapitalis lenyap, maka akan berubah menjadi masyarakat lain. Arti praktis dari konsep ini adalah kita hanya bisa mengenal suatu hal dengan baik dengan mengetahui kontradiksi dasarnya.

Kontradiksi pokok atau utama merupakan kontradiksi dalam satu hal yang memainkan peran paling menonjol. Contohnya adalah kontradiksi antara rakyat pribumi dengan penjajah kolonial merupakan kontradiksi pokok dalam masyarakat Indonesia pada tingkat akhir zaman penjajahan. Arti praktisnya adalah bahwa kita harus dapat mengenal kunci persoalan untuk memudahkan penyelesaian kontradiksi lain.

Namun kontradiksi pokok tersebut tidak tetap kedudukannya. Dalam keadaan tertentu, keadaan atau syarat tertentu bisa diambil oleh kontradiksi lain, dan hal ini disebut dengan mutasi kontradiksi pokok. Arti praktis dari mutasi kontradiksi adalah bahwa kita harus mengenal baik keadaan atau syarat yang dibutuhkan oleh suatu kontradiksi hingga dapat menempati kontradiksi pokok.

Selanjutnya, kedudukan dua segi dalam suatu kontradiksi. Dua segi yang berkontradiksi tersebut tentu berbeda kualitasnya, dan memiliki kedudukan yang tidak sama dalam proses perkembangan. Sebagai contoh adalah kepemimpinan lama dan baru, dimana pada awalnya kepemimpinan lama berkedudukan di atas yang baru, namun seiring waktu kedudukan tersebut akan berubah dan terjadi mutasi. Arti praktisnya adalah dalam mengalahkan musuh, kita perlu mempelajari segi-segi dan keadaan dan posisinya, juga posisi kita sendiri.

Antagonisme dalam arti kontradiksi memiliki dua pengertian. Pertama, menurut wataknya. Ada kontradiksi yang antagonistik seperti kaum buruh dengan kaum kapitalis, buruh-tani lawan tuan-tanah feodal, yang kepentingannya bertentangan secara langsung. Dan ada pula kontradiksi non-antagonis seperti buruh dengan tani yang kepentingannya tidak bertentangan secara langsung. Kedua, menurut bentuknya. Serupa dengan pengertian pertama, namun bentuk merujuk pada aksi perjuangan yang juga bersifat antagonis (dengan kekerasan atau eksplosif) dan non-antagonis. Arti praktisnya adalah kita memperkuat kekuatan barisan dengan bergabung sekutu kita.

Bagian berikutnya akan membahas hukum umum dialektika yang kedua, yakni perubahan kuantitatif ke kualitatif.