Tan Malaka lahir pada 2 Juni 1897, namun tidak ada perayaan hari ulang tahunnya di setiap tanggal 2 Juni. Tentu saja ada kepentingan politik dan propaganda yang menyebabkan ia tersingkir dari daftar orang-orang penting yang hari lahirnya perlu dirayakan, walaupun pemikiran yang dituangkan dan perjuangan yang digerakkan mungkin lebih dari pahlawan-pahlawan yang diperkenalkan di sekolah selama ini.

Komunis.

Ideologi itulah yang menjauhkannya dari peraturan pemerintah tentang perayaan hari ulang tahunnya. Sejarah Indonesia menyatakan bagaimana komunisme yang pernah mencuat namanya, bahkan digerakkan perjuangannya selama masa Orde Lama, kemudian menjadi public enemy semasa orde-orde selanjutnya. Bahkan sekedar kata ‘komunis’ pun kemudian menjadi mimpi buruk, perlu diberangus, dan menjadi suatu ejekan untuk mereka yang memiliki pemikiran yang tidak sama persis dengan konsep yang diguguskan oleh pemerintah.

Keberhasilan propaganda untuk menjadikan komunis sebagai public enemy bahkan berhasil mengesampingkan ideologi lain yang sempat diperjuangkan Tan Malaka, yakni Pan-Islamisme. Padahal pada kenyataannya, Indonesia merupakan salah satu negara yang paling ‘perhatian’ dengan isu agama bahkan sampai ke lingkup pribadi dan individual, namun sekali lagi karena propaganda berpuluh-puluh tahun yang dibombardirkan dengan cara yang terorganisir dan menelisik ke hampir semua aspek dari politik sampai budaya, kebencian laten atas komunisme pun terbukti membutakan dan menyesatkan.

Rasanya semua orang tahu bahwa Tan Malaka adalah ‘orang PKI’, karena ia memang menerima ajakan Semaoen untuk menjadi anggota partai tersebut, bahkan kemudian menjadi ketua PKI setelah kongres tahun 1921. Tan Malaka adalah salah satu tokoh perjuangan Indonesia yang percaya dengan kesatuan antara Islam dan Komunisme, sesuatu yang kemudian dijadikan bahan pemecah belah oleh pemerintah Orde Baru. Ia merasa bahwa Islam dan Komunisme memiliki kecocokan untuk bergerak bersama, sehingga menurutnya revolusi pun perlu dibangun dengan kedua ideologi tersebut. Dengan kepercayaannya itu, ia mendukung aliansi Serikat Islam (SI) dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), karena menurutnya kedua kelompok tersebut memiliki propaganda yang serupa, yakni kekuatan untuk petani miskin, kekuatan untuk proletariat.

Sebagai seorang Muslim, Tan Malaka menganalisis Pan-Islamisme sebagai sesuatu yang lebih praktikal. Menurut sejarahnya, Pan-Islamisme merupakan gerakan politik yang mendukung persatuan umat Muslim dengan adanya satu negara Islam, di bawah pimpinan Khalifah yang harus memiliki darah Arab. Kita bisa memahami konsep ini dengan menelusuri sejarah kekhalifahan negara Islam pasca kematian Nabi Muhammad.

Namun Tan Malaka tidak lagi melihatnya sebagai suatu gerakan yang kaku dan opresif, karena menurutnya konsep Pan-Islamisme bisa digunakan di Indonesia pada saat itu untuk menyatukan para petani miskin dan proletariat untuk melawan imperialisme nasional dan internasional. Seperti layaknya Njoto dan Aidit, Tan Malaka sebagai seorang tokoh komunis Indonesia, tidak ingin menerapkan secara mentah-mentah konsep komunisme dan sosialisme yang berakar di Eropa di negaranya, karena mereka memahami bahwa kondisi ekonomi, sosial, dan politik Indonesia berbeda dengan negara-negara di Eropa. Karena itulah Tan Malaka berusaha merumuskan suatu gagasan pergerakan kaum miskin tertindas di negaranya dengan pendekatan yang sangat merakyat, salah satunya dengan memahami bahwa mayoritas penduduk Indonesia, dan mayoritas petani miskin di Indonesia merupakan pemeluk agama Islam atau Muslim.

Gagasan akan Pan-Islamisme ini sebenarnya ditentang habis-habisan oleh organisasi komunis internasional, karena secara umum menurut mereka sistem agama tidak mendukung gagasan sosialisme dan nasionalisme, bahkan merupakan alat bagi kelas penguasa untuk menekan kelas tertindas. Namun Tan Malaka menyampaikan pidatonya pada tahun 1922 di Kongres Komunis Internasional keempat sebagai respon dari tesis Lenin tentang perlunya ‘perlawanan terhadap Pan-Islamisme’. Dan dalam pidatonya, Tan Malaka menjelaskan tentang konsep persaudaraan Islam dan Komunis yang dipikirkan dalam kepalanya, mencoba merasionalkan gambaran betapa perlunya persaudaraan antara kedua konsep tersebut untuk masyarakat Indonesia, terutama di Jawa.

Dan jika kita mencoba merefleksikan atas apa yang selama ini coba disampaikan tentang Tan Malaka, apa yang kita peroleh adalah melulu tentang seorang tokoh revolusioner yang suka menentang pemerintah. Kita tidak disuguhkan dengan teks-teks pidatonya yang menjelaskan apa yang sebenarnya ada dalam kepalanya, bahwa ia adalah seseorang yang melawan kekuasaan imperialisme yang bisa menyiksa rakyat kecil. Bukankah itu yang menjadi cita-cita bangsa? Sehingga di hari ini, 2 Juni 2017, hari ulang tahun Tan Malaka yang ke 120 tahun, mari kita rayakan dengan gegap gempita perlawanan atas keserakahan penguasa.

 

*Artikel ini didasarkan pada pidato Tan Malaka berjudul ‘Communism and Pan-Islamism’ yang bisa disimak di sini.