Tulisan ini merupakan terjemahan dari artikel terbitan RAND Corporation berjudul “The Russian “Firehose of Falsehood”: Why it Might Work and Options to Counter It” yang ditulis oleh Christopher Paul dan Miriam Matthews. Penerjemahan artikel tersebut diharapkan dapat mengarah pada interpretasi yang bersifat lebih logis atas pernyataan Jokowi tentang propaganda Rusia yang dilontarkannya beberapa hari yang lalu. Sejumlah spekulasi muncul setelah pemberitaan naik ke permukaan, dan pada beberapa titik mengarah pada perdebatan horizontal yang kurang sehat.

Firehose of Falsehood Rusia: Mengapa Hal Ini Bisa Bekerja dan Beberapa Pilihan untuk Melawannya

Sejak serangan Rusia ke Georgia pada tahun 2008 (atau sebelumnya), terjadi evolusi besar-besaran pada pendekatan yang dilakukan Rusia terhadap propaganda. Pendekatan ini terlihat jelas selama invasi yang dilakukan negara tersebut pada tahun 2014 terhadap semenanjung Crimean. Cara tersebut terus dilakukan untuk mendukung sejumlah konflik yang masih berlangsung di Ukraina dan Siria dan untuk mengejar tujuan keji dan jangka panjang Rusia dalam menyerang “negara-negara luar terdekat” dan melawan negara-negara yang tergabung dalam NATO.

Pada beberapa hal, pendekatan propaganda yang dilakukan Rusia dibangun dari teknik-teknik yang dipakai oleh Uni Soviet pada masa Perang Dingin, dengan penekanan pada pembingungan dan membuat target serangan melakukan tindakan yang menguntungkan kepentingan propagandis tanpa sepenuhnya menyadari tindakan yang dilakukannya.[1]

Di sisi lain, pendekatan ini menggunakan cara-cara baru dan digerakkan oleh karakteristik lingkungan informasi kontemporer. Rusia telah memanfaatkan teknologi dan media yang ada sekarang, suatu hal yang tidak terbayangkan pada periode Perang Dingin. Alat-alat dan kanal yang tersedia saat ini termasuk Internet, media sosial, dan sejumlah media jurnalistik profesional dan amatir.

Kami mengkarakterisasikan model propaganda Rusia kontemporer ini sebagai “firehose of falsehood” karena dua sifatnya yang khas: jumlah kanal dan pesan yang sangat banyak, dan kemampuannya untuk menyebarkan kebenaran parsial atau kabar fiksi. Meminjam istilah salah seorang peneliti, “propaganda Rusia kontemporer bersifat rumit, membingungkan, dan membanjiri audiens.”[2]

Propaganda Rusia kontemporer memiliki paling tidak dua sifat khas tersebut. Selain itu, propaganda ini juga bersifat cepat, berkelanjutan, dan berulang, serta memiliki komitmen yang rendah terhadap konsistensi.

Hal yang menarik dari fenomena ini adalah bagaimana beberapa sifat dari propaganda baru ini secara langsung berlawanan dengan kearifan konvensional terkait pengaruh dan komunikasi yang disampaikan pemerintah atau sumber-sumber lembaga pertahanan negara. Kearifan konvensional mengedepankan kebenaran, kredibilitas, dan menghindari kontradiksi.[3]Kendati mengesampingkan prinsip-prinsip tradisional tersebut, Rusia sepertinya telah menikmati sejumlah keberhasilan dengan model propaganda modern tersebut, baik melalui persuasi dan pengaruh langsung atau dengan melibatkan perumitan, pembingungan, pengacauan atau pengurangan pemberitaan atau penyampaian kebenaran. 

Kami menawarkan sejumlah penjelasan terkait efektivitas firehose of falsehood Rusia. Observasi kami dilakukan melalui tinjauan terhadap sejumlah literatur terkait pengaruh dan persuasi, dan juga penelitian eksperimental dari bidang psikologi. Kami mengeksplorasi empat fitur dari model propaganda Rusia, serta menunjukkan bagaimana dan dalam keadaan seperti apa masing-masing fitur tersebut berkontribusi terhadap efektivitas. Banyak aspek kesuksesan dari propaganda Rusia yang berdasar pada literatur psikologi, sehingga kami menawarkan sejumlah pendekatan yang memungkinkan untuk merespon atau melawan propaganda tersebut dengan berangkat dari dasar yang sama. 


Propaganda Rusia Memiliki Volume Tinggi dan Bersifat Multikanal

Propaganda Rusia diproduksi dalam volume yang sangat besar dan disiarkan atau didistribusikan melalui banyak kanal. Propaganda tersebut meliputi pesan, video, audio, dan gambar yang dibagikan melalui kanal internet, media sosial, televisi satelit, serta siaran radio dan televisi tradisional. Produser dan penyebar melibatkan massa “troll” Internet yang berbayar, yang seringkali melakukan serangan atau merusak suatu pandangan atau informasi yang menentang wacana Rusia, dilakukan melalui ruang pembicaraan daring, forum diskusi, dan kolom komentar pada situs berita dan situs-situs lain.[4]Radio Free Europe/Radio Liberty melaporkan bahwa “terdapat ribuan akun palsu yang beredar di Twitter, Facebook, LiveJournal, dan vKontakte” yang dikendalikan oleh propagandis Rusia. Menurut seorang mantan troll Internet berbayar di Rusia, para troll bekerja selama 24 jam per hari dengan shift 12 jam, dan masing-masing memiliki kuota harian 135 komentar yang terdiri dari paling tidak 200 karakter.[5]

RT (sebelumnya Russia Today) adalah salah satu penyedia berita multimedia paling penting di Rusia. Dengan anggaran lebih dari $300 juta per tahun, perusahaan ini menyiarkan berita dalam bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol, Rusia, dan beberapa bahasa yang digunakan di Eropa Utara. Kanal ini cukup popular dalam ranah daring dengan memiliki lebih dari satu juta pengunjung situs. Jika informasi ini benar, maka RT menjadi sumber berita yang paling banyak diakses di Internet.[6] Selain sumber berita terkenal Rusia seperti RT, terdapat sejumlah situs proksi berita yang merepresentasikan propaganda Rusia, namun afiliasi mereka dengan Rusia ditutupi atau disembunyikan.[7]

  • Penelitian eksperimental menunjukkan bahwa untuk mencapai kesuksesan dalam menyebarkan propaganda, sumber menjadi satu hal yang penting: Sumber yang beragam lebih persuasif daripada satu sumber, terutama jika sumber-sumber tersebut memiliki sejumlah argumen berbeda yang mengarah ke kesimpulan yang sama.
  • Menerima pesan yang sama atau mirip dari sejumlah sumber bersifat lebih persuasif. 
  • Orang-orang mengasumsikan informasi yang datang dari banyak sumber berdasar pada sejumlah perspektif yang berbeda, sehingga mereka akan beranggapan informasi tersebut perlu dipertimbangkan.[8]

Jumlah dan volume dari sumber penyedia informasi juga merupakan hal yang penting:

  • Endorsement dari sejumlah pengguna dapat meningkatkan kepercayaan terhadap informasi, walaupun seringkali kredibilitas dari pihak yang memberikan endorsement tidak terlalu diperhatikan.
  • Saat ketertarikan konsumen rendah, tingkat persuasi dari suatu pesan dapat digantungkan pada jumlah argumen yang mendukung pesan tersebut, dan bukan pada kualitas argumennya.[9]

Di samping itu, pandangan pihak lain juga penting, terutama jika pesan datang dari sumber yang memiliki karakteristik sama dengan penerimanya:

  • Informasi yang berasal dari kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan penerima pesan cenderung lebih dianggap sebagai hal yang kredibel. Hal yang sama berlaku saat sumber dianggap beriringan dengan pemikiran penerima. Jika sebuah kanal propaganda berasal dari (atau mengaku dari) kelompok yang diakui oleh penerima, maka informasinya akan cenderung lebih persuasif. 
  • Kredibilitas bisa saja bersifat sosial, karena seseorang cenderung menganggap sebuah sumber sebagai hal yang kredibel jika orang lain menganggap sumber tersebut sebagai hal yang kredibel. Pengaruh ini bahkan terasa lebih kuat saat tidak ada banyak informasi yang tersedia untuk menilai tingkat kepercayaan suatu sumber.
  • Saat volume informasi rendah, penerima cenderung memilih pendapat ahli, namun saat volume informasi tinggi, penerima cenderung menyukai informasi dari pengguna lain. 
  • Pada forum daring, komentar yang menyerang keahlian atau kepercayaan lawan akan mengurangi kredibilitas dan menurunkan kecenderungan pembaca untuk mengambil tindakan berdasarkan apa yang telah mereka baca.[10]

Literatur psikologi eksperimental menunjukkan pesan yang diterima dengan volume besar dan berasal lebih banyak sumber akan lebih persuasif. Kuantitas tentu saja memiliki kualitasnya sendiri. Volume tinggi dapat memberikan keuntungan lain yang relevan dengan konteks propaganda Rusia. Pertama, volume besar dapat memakan perhatian dan bandwidth yang tersedia untuk audiens, dan menenggelamkan pesan-pesan tandingan. Kedua, volume besar dapat menekan pesan-pesan tandingan dengan serangan pendapat tidak setuju. Ketiga, kanal yang berjumlah banyak meningkatkan kesempatan target audiens terekspos pada pesan tersebut. Keempat, menerima pesan melalui sejumlah cara dan dari sejumlah sumber meningkatkan kredibilitas pesan, terutama jika sumber penyebarnya berasal dari golongan yang sama dengan audiens. 

Literatur psikologi eksperimental menunjukkan pesan yang diterima dengan volume besar dan berasal lebih banyak sumber akan lebih persuasif. Kuantitas tentu saja memiliki kualitasnya sendiri. Volume tinggi dapat memberikan keuntungan lain yang relevan dengan konteks propaganda Rusia. Pertama, volume besar dapat memakan perhatian dan bandwidth yang tersedia untuk audiens, dan menenggelamkan pesan-pesan tandingan. Kedua, volume besar dapat menekan pesan-pesan tandingan dengan serangan pendapat tidak setuju. Ketiga, kanal yang berjumlah banyak meningkatkan kesempatan target audiens terekspos pada pesan tersebut. Keempat, menerima pesan melalui sejumlah cara dan dari sejumlah sumber meningkatkan kredibilitas pesan, terutama jika sumber penyebarnya berasal dari golongan yang sama dengan audiens. 


Propaganda Rusia bersifat Cepat, Berkelanjutan, dan Berulang

Propaganda Rusia kontemporer bersifat berkelanjutan dan sangat responsif terhadap suatu peristiwa. Karena kurangnya komitmen terhadap realitas objektif (yang akan dibahas nanti), propagandis Rusia tidak perlu menunggu untuk memeriksa fakta atau memverifikasi suatu klaim; mereka hanya membagikan interpretasi dari suatu kejadian yang mendukung tema dan tujuan mereka. Hal ini memungkinkan mereka untuk menjadi responsif dan gesit, seringkali mampu menjadi yang pertama untuk menyiarkan “berita” dari suatu kejadian (atau berita tentang hal yang tidak berdasarkan pada fakta atau bahkan berita tentang sesuatu yang tidak benar-benar terjadi). Mereka juga akan mengulang dan mengolah informasi yang salah. Weekly Disinformation Review edisi 14 Januari 2016 melaporkan kemunculan kembali sejumlah cerita propaganda bohong Rusia, termasuk Presiden Polandia, Andrzej Duda, yang berpendapat bahwa Ukraina kembali masuk dalam wilayah Polandia, para tentara Negara Islam tergabung dengan pasukan pro-Ukraina, dan bahwa terjadi sebuah kup di Kiev, ibukota Ukraina, yang didukung oleh Barat.[11]

Terkadang propaganda Rusia ditanggapi dan disiarkan ulang oleh kanal berita terpercaya; dan yang lebih sering terjadi, media sosial mengulangi tema, pesan, atau informasi salah yang diawali oleh salah satu kanal penyebar pesan Rusia. Sebagai contoh, sumber berita Jerman menyiarkan kembali disinformasi oleh Rusia tentang kekacauan di Ukraina pada awal tahun 2014, dan disinformasi Rusia tentang rencana Uni Eropa untuk menolak visa penduduk Ukraina yang disebarkan ulang dengan frekuensi tinggi oleh media Ukraina sampai-sampai para petinggi negara Ukraina menyatakan keberatannya.[12]

Literatur psikologi eksperimental menunjukkan bahwa impresi pertama sangat mudah berubah: Seorang individu cenderung menerima informasi pertama yang ia terima terkait suatu topik dan mendukungnya saat informasi tersebut dihadapkan dengan pesan lain yang bersifat berlawanan.[13] Kemudian, pengulangan mengarah ke familiaritas, dan familiaritas mengarah ke penerimaan:

  • Paparan yang berulang terhadap sebuah pernyataan telah terbukti dapat meningkatkan penerimaannya sebagai hal yang benar. 
  • “Efek kebenaran ilusi” telah diteliti dengan baik, yaitu saat orang-orang menilai suatu pernyataan sebagai hal yang lebih benar, valid, dan terpercaya saat mereka mendapatkan telah pernyataan tersebut sebelumnya; dibandingkan dengan sebuah pernyataan baru. 
  • Jika orang-orang kurang tertarik dengan suatu topik, mereka cenderung menerima familiaritas yang dibawa oleh pengulangan sebagai suatu indikator bahwa informasi (yang diulang tersebut) benar. 
  • Saat mengolah informasi, konsumen dapat menyimpan waktu dan energi dengan menggunakan penilaian frekuensi, yakni lebih menyukai informasi yang mereka dengar lebih sering. 
  • Hal yang sama berlaku untuk cerita tidak masuk akal dan legenda urban, mereka yang telah mendengarkannya untuk beberapa kali cenderung percaya bahwa kabar tersebut benar. 
  • Jika seorang individu sudah familiar dengan sebuah argumen atau pernyataan (pernah membaca sebelumnya, misalnya), ia akan mengolahnya dengan kurang hati-hati, seringkali gagal untuk membedakan argumen lemah dengan argumen kuat.[14]

Propaganda Rusia memiliki kemampuan untuk menjadi yang pertama, sehingga memberikan kesempatan bagi propagandis untuk membuat impresi pertama. Kemudian, kombinasi penyebaran pesan dalam volume besar, multikanal, dan berkelanjutan membuat tema Rusia lebih familiar bagi para audiensnya, yang memberikan dukungan dalam hal kredibilitas, keahlian, dan kepercayaan. 


Propaganda Rusia Tidak Berkomitmen terhadap Realitas Objektif

Cukup mengejutkan bagi kami untuk mengetahui literatur psikologi mendukung potensi persuasif dari kanal dan sumber yang memiliki volume besar, juga kecepatan dan pengulangan penyebaran pesan. Aspek-aspek dari propaganda Rusia ini membentuk pemikiran intuitif. Orang-orang akan berpikir bahwa upaya memengaruhi akan berhasil jika didukung dengan kemauan untuk berinvestasi pada volume dan kanal pesan, juga jika mereka mengetahui cara untuk meningkatkan frekuensi dan responsivitas dari suatu pesan. Namun karakteristik selanjutnya ini berhubungan dengan intuisi dan kebijaksanaan konvensional, yang dapat diparafrasekan sebagai “Kebenaran selalu menang.”

Propaganda Rusia kontemporer memiliki sedikit atau bahkan memiliki tidak sama sekali komitmen terhadap kebenaran. Bukan berarti bahwa semuanya salah. Bahkan seringkali propaganda tersebut menyimpan potongan kebenaran yang signifikan. Tetapi terkadang kejadian yang dilaporkan melalui propaganda Rusia sepenuhnya rekayasa, seperti misalnya kampanye media sosial pada tahun 2014 untuk menciptakan kepanikan tentang sebuah ledakan kimia di St. Mary, Louisiana, yang sebenarnya tidak pernah terjadi.[15] Propaganda Rusia bergantung pada alat-alat yang mendukung rekayasa–seringkali foto atau gambar. Beberapa gambar ini mudah dideteksi kepalsuannya karena editing foto yang buruk, misalnya perbedaan pada skala, atau ketersediaan gambar asli yang belum diedit.[16] Propagandis Rusia telah terbukti mempekerjakan aktor untuk berperan sebagai korban dari suatu bencana atau kejahatan untuk laporan berita (seperti saat Viktoria Schmidt berpura-pura diserang oleh pengungsi Siria di Jerman untuk jaringan televisi Zvezda di Rusia), atau reportase berita langsung dengan latar palsu (seperti yang ditunjukkan pada sebuah video sindiran oleh “reporter” Maria Katasonova yang sebenarnya diambil di sebuah ruangan gelap dengan efek suara ledakan dimainkan di belakang, dan bukan di medan perang Donetsk).[17]

Di samping merekayasa informasi, propagandis Rusia sering merekayasa sumber. Kanal berita Rusia seperti RT dan Sputnik News, lebih cenderung terlihat seperti penggabungan antara infotainment dan pemberitaan kabar salah dibandingkan jurnalisme dengan pengecekan fakta, walaupun formatnya sengaja dibuat seperti program berita sebenarnya. Kanal berita Rusia dan bentuk media lain juga menggambil kutipan dengan cara yang salah dari sumber-sumber kredibel atau merujuk sumber yang lebih kredibel sebagai sumber untuk membuat pemberitaan yang salah. Sebagai contoh, RT menyatakan bahwa penulis blog Brown Moses (seorang kritikus rezim Assad di Siria dengan nama asli Eliot Higgins) telah membuat sebuah analisis atas suatu rekaman video dan ia berpendapat serangan senjata kimia pada 21 Agustus 2013 telah dilakukan oleh pemberontak Siria. Pada kenyataannya, analisis Higgin menyimpulkan pemerintah Siria bertanggung jawab atas serangan itu dan video tersebut direkayasa untuk mengalihkan tudingan.[18] Hal yang sama juga terjadi pada beberapa peneliti dan wartawan, seperti Edward Lucas, Luke Harding, dan Don Jensen, yang melaporkan sejumlah buku –yang berisi pandangan yang berlawanan dengan pemikiran mereka– yang diterbitkan di Rusia dengan nama mereka, padahal mereka tidak pernah menulis dan menerbitkan buku-buku tersebut. “Mesin pemutar Kremlin ingin menampilkan Rusia sebagai sebuah benteng yang dikelilingi dengan orang-orang asing yang jahat” tulis Lucas dalam buku yang tidak pernah diterbitkannya, berjudul How the West Lost to Putin.[19]

Mengapa berita yang salah bisa menjadi efektif? Pertama, orang-orang seringkali malas secara kognitif. Karena banyaknya informasi (terutama di internet), mereka menggunakan sejumlah heuristik dan jalan pintas beragam untuk menentukan apakah suatu informasi baru dapat dipercaya.[20] Kedua, orang-orang seringkali kurang mampu membedakan informasi yang benar dengan informasi yang salah–atau mengingat-ingat bahwa mereka pernah melakukannya sebelumnya. Berikut ini adalah sejumlah contoh yang kami dapatkan dari literatur:

  • Pada fenomena yang diberi nama “sleeper effect”, sumber-sumber dengan kredibilitas rendah mewujudkan pengaruh persuasif yang lebih besar seiring waktu. Saat orang-orang membuat penilaian awal tentang kredibilitas atas suatu sumber, pada prosesnya, informasi seringkali terpisah dari sumbernya. Sehingga informasi yang berasal dari sumber yang perlu dipertanyakan pun diingat sebagai hal yang benar, sementara sumbernya tidak lagi diingat. 
  • Informasi yang awalnya dinilai valid tapi kemudian ditarik atau terbukti salah dapat terus membentuk ingatan masyarakat dan memengaruhi pemikiran mereka. 
  • Bahkan saat masyarakat sadar bahwa beberapa sumber (misalnya retorika kampanye politik) memiliki potensi mengandung informasi salah, mereka masih menunjukkan kemampuan yang rendah untuk membedakan antara informasi yang salah dengan informasi yang benar.[21]

Tema atau pesan yang familiar bisa menjadi hal yang menarik bahkan jika tema atau pesan tersebut salah. Informasi yang berhubungan dengan identitas kelompok atau narasi kekeluargaan –atau yang memainkan perasaan– bisa menjadi persuasif. Literatur yang kami gunakan menjelaskan pengaruh dari pendekatan ini:

  • Seseorang cenderung menerima informasi yang konsisten dengan pesan lain yang dipercaya sebagai benar. 
  • Masyarakat mengalami “bias konfirmasi”: mereka menganggap berita dan opini yang mendukung kepercayaan mereka bersifat lebih kredibel daripada berita dan opini yang lain, terlepas dari kualitas argumen.
  • Seseorang yang sudah pernah mengalami misinformasi (percaya atas suatu hal yang tidak benar) cenderung tidak lagi mudah untuk menerima bukti yang melawan berita salah tersebut. 
  • Orang-orang yang berada dalam kelompok yang terpengaruh oleh suatu peristiwa cenderung lebih mudah menerima teori konspirasi dari peristiwa tersebut. 
  • Cerita atau penuturan yang menyebabkan gejolak emosi pada pendengarnya (misalnya jijik, takut, atau senang) cenderung lebih mudah dipercaya, terlepas benar atau tidak. 
  • Pesan kemarahan lebih persuasif bagi audiens yang sedang emosi.[22]

Pernyataan yang salah cenderung diterima jika didukung dengan bukti, bahkan jika bukti tersebut salah:

  • Keberadaan bukti dapat mengesampingkan pengaruh kredibilitas sumber atas kebenaran suatu pernyataan. 
  • Dalam simulasi persidangan, saksi yang memberikan lebih banyak rincian –bahkan rincian kecil– dinilai lebih terpercaya.[23]

Kesimpulannya, kredibilitas sumber sering dinilai berdasarkan “petunjuk periferal” yang bisa saja mendukung atau tidak mendukung realitas dari suatu situasi.[24] Siaran yang terlihat seperti siaran berita, walaupun sebenarnya siaran propaganda, bisa mendapatkan pengakuan kredibilitas yang sama dengan siaran berita sungguhan.[25] Temuan dari bidang psikologi menunjukkan bagaimana petunjuk periferal dapat meningkatkan kredibilitas propaganda:

  • Petunjuk periferal, misalnya keberadaan seorang ahli atau format dari informasi yang dibawakan, mengarahkan orang-orang untuk menerima –dengan refleksi yang minim– bahwa informasi datang dari sumber kredibel. 
  • Keahlian dan kepercayaan adalah dua dimensi penting dari kredibilitas, dan kualitas ini dapat dievaluasi berdasarkan petunjuk visual, misalnya format, tampilan, atau klaim ahli. 
  • Situs berita daring dianggap lebih kredibel daripada format daring yang lain, terlepas dari kesalahan pada kontennya.[26]

Firehose of falsehood Rusia memanfaatkan kelima faktor tersebut. Proporsi kesalahan pada propaganda Rusia bisa diterima begitu saja oleh audiens karena mereka tidak menyadarinya sebagai hal yang salah, atau karena sejumlah petunjuk mengarahkan mereka untuk memberikan penilaian kredibilitas lebih tinggi daripada semestinya. Proporsi ini sebenarnya meningkat seiring waktu, saat orang-orang terus melupakan bahwa mereka telah menolak sejumlah “fakta” yang ditawarkan. Proporsi kesalahan yang diterima meningkat lebih jauh saat kabar yang salah konsisten dengan narasi atau prasangka yang dimiliki oleh kebanyakan orang. Saat bukti ditunjukkan atau sumber yang terlihat kredibel membagikan pesan salah, pesan tersebut cenderung lebih diterima. Itulah mengapa kanal propaganda berita palsu Rusia seperti RT dan Sputnik sangat berbahaya. Secara visual, mereka terlihat seperti program berita, dan orang-orang yang muncul dalam acara tersebut direpresentasikan sebagai jurnalis dan ahli, membuat audiens lebih mudah memberikan penilaian kredibilitas terhadap misinformasi yang disebarkan oleh sumber tersebut. 


Propaganda Rusia Tidak Berkomitmen pada Konsistensi

Karakteristik terakhir dari propaganda Rusia adalah tidak adanya komitmen pada konsistensi. Pertama, beberapa media propaganda yang berbeda tidak selalu menyiarkan tema atau pesan yang sama. Kedua, sejumlah kanal tidak selalu menyiarkan berita yang sama tentang suatu kejadian. Ketiga, beberapa kanal atau siaran tidak takut untuk “merubah ragam”. Jika sebuah berita atau representasi terbukti salah atau tidak diterima dengan baik, propagandis akan menariknya dan bergerak ke penjelasan yang baru (walaupun tidak selalu masuk akal). Salah satu contoh dari tindakan tersebut adalah pernyataan yang diberikan terkait jatuhnya pesawat Malaysia Airlines penerbangan 17. Sumber Rusia telah menawarkan sejumlah teori terkait bagaimana pesawat tersebut ditembak jatuh dan siapa pelakunya, dan hanya sedikit dari teori itu yang masuk akal.[27] Kurangnya komitmen terhadap konsistensi juga terlihat dari pernyataan yang dibuat oleh Presiden Rusia Vladimir Putin. Sebagai contoh, ia awalnya menolak bahwa “pria hijau kecil” di Crimea adalah tentara Rusia, tapi kemudian mengakui hal tersebut. Begitu juga saat pada awalnya ia menolak untuk mengakui adanya keinginan agar Crimea bergabung dengan Rusia, tapi kemudian mengatakan bahwa ia telah merencanakan hal tersebut sejak lama.[28]

Sekali lagi, hal ini berhubungan dengan kebijaksanaan konvensional tentang pengaruh dan persuasi. Jika sumber tidak konsisten, bagaimana mereka bisa dianggap kredibel? Jika sumber-sumber itu tidak kredibel, bagaimana mereka bisa berpengaruh? Penelitian menunjukkan bahwa kurangnya konsistensi dapat memberikan pengaruh yang berbahaya terhadap persuasi–misalnya, saat penerima pesan berusaha memeriksa pesan yang tidak konsisten dari sumber yang sama.[29]Tetapi literatur dalam bidang psikologi eksperimental juga menunjukkan bahwa audiens dapat mengabaikan kontradiksi yang ada dalam sejumlah keadaan:

  • Kontradiksi dapat memunculkan keinginan untuk mencari tahu mengapa perubahan pada pesan atau opini dapat terjadi. Saat sebuah argumen kuat berubah (misalnya diberikan lebih banyak interpretasi dan informasi), pesan yang baru dapat memberikan pengaruh persuasif yang besar. 
  • Saat sebuah sumber terlihat memiliki beberapa perspektif, kepercayaan diri konsumen menjadi lebih besar. Sebuah sumber yang mengubah opini atau pesannya dapat dianggap memiliki perhatian atau pertimbangan yang besar terhadap suatu topik yang dibahas, sehingga memengaruhi kepercayaan diri penerima pada pesan yang baru.[30]

Potensi hilangnya kredibilitas karena tidak konsisten mengimbangi karakteristik lain dari propaganda kontemporer. Seperti yang telah dicatat sebelumnya pada bagian pembahasan multikanal, presentasi dari sejumlah argumen yang ditunjukkan oleh sejumlah sumber lebih persuasif dibandingkan presentasi sejumlah argumen oleh satu sumber atau presentasi satu argumen oleh sejumlah sumber.[31] Hilangnya kredibilitas juga dapat diimbangi dengan petunjuk periferal yang menguatkan persepsi kredibilitas, kepercayaan, atau legitimasi.[32] Bahkan jika sebuah kanal atau propagandis mengubah pernyataannya tentang sebuah kejadian dari satu hari ke hari yang lain, penonton akan cenderung menilai kredibilitas dari pernyataan yang baru tanpa terlalu memikirkan yang sebelumnya. Terdapat sejumlah petunjuk periferal yang membuat sebuah sumber tampak kredibel. 

Literatur psikologi menunjukkan bahwa perusahaan propaganda Rusia akan mengalami sedikit kerugian saat beberapa kanal saling tidak konsisten satu sama lain, atau saat satu kanal tidak konsisten secara internal. Tetapi belum jelas bagaimana tingkat ketidakkonsistensian ini berakumulasi untuk satu tokoh propagandis individual. Pendapat yang tidak konsisten oleh sejumlah propagandis dalam RT dapat ditutupi dengan alasan perbedaan pendapat di antara para jurnalis atau perubahan karena informasi terbaru. Tetapi pemalsuan yang dilakukan Vladimir Putin selama ini selalu menyebutkan namanya, sesuatu hal yang tidak baik untuk kredibilitas personalnya. Tetu saja mungkin banyak orang memiliki ekspektasi terkait pernyataan salah yang disampaikan oleh politisi dan pemimpin dunia.[33] Terkait dengan hal ini, pemalsuan oleh Putin, walaupun mengerikan, mungkin sebelumnya telah diperkirakan akan dilakukan oleh politisi secara umum dan tidak akan terlalu memengaruhi potensi pengaruhnya di masa depan. 


Apa yang Bisa Dilakukan untuk Melawan Firehose of Falsehood?

Penelitian eksperimental di bidang psikologis menunjukkan bahwa fitur-fitur pada propaganda Rusia kontemporer berpotensi menjadi media yang efektif. Bahkan fitur-fitur yang berlawanan dengan kebijaksanaan konvensional tentang pengaruh (seperti pentingnya kebenaran dan konsistensi) mendapatkan dukungan dari literatur yang kami gunakan. 

Jika pendekatan Rusia terhadap propaganda begitu efektif, maka apa yang bisa kita lakukan? Kami menyimpulkan sejumlah pendapat tentang bagaimana NATO, Amerika Serikat, atau musuh-musuh lain dari firehose of falsehood berkompetisi. Langkah pertama yang perlu disadari adalah bahwa ini bukan merupakan tantangan yang kecil. Tentu saja faktor yang membuat firehose falsehood efektif membuatnya sulit untuk dilawan. Misalnya volume yang tinggi dan jumlah kanal untuk propaganda Rusia tidak akan bermasalah jika sebuah kanal menyebarkan berita secara luring, atau jika sebuah pesan yang salah tidak dihargai. Keuntungan persuasif yang diterima oleh propaganda Rusia dengan memberikan versi pertama dari suatu kejadian (yang kemudian harus dilawan oleh kabar benar dengan usaha lebih) dapat dihilangkan jika kabar yang benar dipresentasikan di awal. Namun di saat para jurnalis kredibel dan professional memeriksa fakta mereka, firehose of falsehood Rusia telah mengudara. Dibutuhkan waktu yang lebih sedikit untuk ‘membuat’ fakta daripada memverifikasinya.

Kami sebenarnya tidak merasa optimis dengan efektivitas upaya kontrapropaganda tradisional. Tentu saja sejumlah upaya harus dilakukan untuk menunjukkan kesalahan dan ketidakkonsistenan, namun bukti psikologis yang telah menunjukkan bagaimana kesalahan dan ketidakkonsistensian memiliki daya tarik juga menunjukkan bahwa penarikan atau penolakan atas propaganda jarang sekali efektif. Terutama setelah beberapa waktu berlalu, masyarakat akan kesulitan untuk mengingat informasi yang mereka telah terima sebelumnya; mana yang salah dan mana yang merupakan kebenaran. Sederhananya, saran kami adalah jangan berharap bisa melawan firehose of falsehood dengan tembakan kebenaran. 

Terlepas dari hal tersebut, upaya untuk melawan atau menyanggah propaganda Rusia secara langsung adalah hal yang penting, dan ada sejumlah cara yang bisa dan harus diterapkan. Cara-cara ini juga diambil dari bidang psikologi. Tiga faktor yang telah terbukti dapat meningkatkan efektifitas penarikan dan penyanggahan atas propaganda antara lain: (1) peringatan di awal paparan terhadap misinformasi, (2) pengulangan penarikan atau penyanggahan, dan (3) pembetulan yang memberikan cerita alternatif untuk mengisi kekosongan pemahaman saat “fakta” yang salah dihilangkan.[34]

Peringatan awal mungkin lebih efektif daripada penarikan atau penyanggahan propaganda yang sudah disebarkan dan diterima. Penelitian ini menyarankan dua cara yang memungkinkan:

  • Propagandis mendapatkan keuntungan dari menawarkan impresi pertama, dan hal ini sulit untuk dicegah. Namun jika audiens telah dipersiapkan dengan informasi yang benar, maka berita yang salah akan memiliki peran yang sama sebagai penyanggah: ketidakberuntungan untuk hal yang sudah diketahui.[35]
  • Saat seseorang menolak persuasi atau dipengaruhi, tindakan tersebut menguatkan kepercayaan mereka.[36] Perlu digarisbawahi bahwa propagandis Rusia berupaya memanipulasi audiens, dan bukan melawan manipulasi tertentu.

Dalam praktiknya, berhadapan dengan kabar yang salah dan meningkatkan kesadaran tentang misinformasi dapat melibatkan upaya yang lebih kuat dan publikasi yang lebih luas untuk “menggeser” sumber propaganda Rusia dan menghilangkan sifat-sifat dari propaganda tersebut. Cara lain yang bisa diterapkan adalah sanksi, denda, dan hukuman lain yang dapat melawan praktik propaganda dengan jurnalisme. Ofcom, peraturan komunikasi Inggris, telah memberikan sanksi terhadap RT atas program mereka yang bias atau sesat, namun tindakan lain masih diperlukan.[37]Saran kami berikutnya adalah mencari cara untuk melindungi target firehose of falsehood. 

Kemungkinan lain adalah dengan terfokus untuk melawan pengaruh propaganda Rusia, di samping melawan propagandanya sendiri. Para propagandis bekerja untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan mereka bisa berupa perubahan pada perilaku, tindakan audiens, atau keduanya. Identifikasi tujuan yang diinginkan tersebut dan kemudian ciptakan upaya untuk menentang pengaruh yang berlawanan dengan tujuan anda. Misalnya, tujuan dari sebuah produk propaganda Rusia adalah mengacaukan keinginan masyarakat di negara-negara NATO untuk merespon agresi Rusia. Daripada berusaha menghentikan, melawan, atau mengacaukan propaganda itu, lebih baik fokus untuk melawan tujuannya. Hal ini bisa dicapai melalui meningkatkan dukungan untuk merespon agresi Rusia, mendukung solidaritas dan identitas yang mengancam partner NATO, atau menegaskan kembali komitmen internasional. 

Menanggapi masalah tersebut dengan cara ini dapat mengarah pada sejumlah perkembangan positif. Yang pertama, dapat membantu menentukan prioritas: tidak perlu terlalu khawatir untuk melawan propaganda yang memberikan pengaruh yang bukan merupakan perhatian anda. Pandangan ini juga membuka celah. Daripada hanya berupaya melawan informasi yang salah dengan informasi lain, akan lebih memungkinkan untuk menggagalkan tujuannya dengan cara yang lain–atau menerapkan upaya informasi yang benar untuk mengarah pada tindakan atau perilaku tanpa benar-benar melakukan perlawanan terhadap propaganda. Hal ini mengarah pada saran kami yang ketiga: tidak perlu mengarahkan informasi yang anda buat untuk menyerang firehose of falsehood secara langsung. Lebih baik untuk mengarah pada target firehose of falsehood, dan mendorong target audiens dengan cara yang lebih produktif. 

Metafora dan pola pikir tersebut mengarahkan kami ke saran keempat untuk merespon propaganda Rusia: Bersaing! Jika propaganda Rusia berupaya untuk mencapai pengaruh tertentu, maka hal tersebut bisa dilawan dengan mencegah atau menghilangkan pengaruh terssebut. Namun cara yang dimiliki oleh propagandis Rusia mungkin tidak bisa digunakan karena keterbatasan sumber atau hambatan hukum, aturan, atau etika. Walaupun sulit atau rasanya tidak mungkin untuk melawan propaganda Rusia secara langsung, baik NATO dan Amerika Serikat memiliki kemampuan untuk menyebarkan informasi, memengaruhi, dan meyakinkan audiens yang menjadi target. Tingkatkan alur informasi yang persuasif dan mulai bersaing, lakukan upaya untuk menciptakan pengaruh yang mendukung tujuan Amerika Serikat dan NATO. 

Saran kami yang kelima dan yang terakhir untuk menghadapi tantangan propaganda Rusia adalah menggunakan sejumlah periode teknis untuk mematikan aliran propaganda. Jika firehose of falsehood diterapkan sebagai bagian dari strategi pertentangan, atau jika upaya kontrapropaganda meningkat hingga penggunaan peralatan pembuat dan penyebar informasi yang beragam, maka menghentikan, merusak, merendahkan, menghancurkan, merebut, atau melakukan intervensi terhadap propaganda dapat menghilangkan pengaruh dari upaya propaganda tersebut. Penguatan persetujuan dengan layanan penyedia Internet dan jasa media sosial atau operator elektronik dan dunia maya dapat mengurangi volume –dan pengaruh– propaganda Rusia. 


[1] Olga Oliker, “Russia’s New Military Doctrine: Same as the Old Doctrine, Mostly,” Washington Post, 15 Januari 2015.
[2] Giorgio Bertolin, “Conceptualizing Russian Information Operations: Info-War and Infiltration in the Context of Hybrid Warfare,” IO Sphere, Summer 2015, h. 10.
[3] Lihat U.S. Department of Defense, Defense Science Board, Report of the Defense Science Board Task Force on Strategic Communication, Washington, D.C., January 2008; Christopher Paul, Strategic Communication: Origins, Concepts, and Current Debates, Santa Barbara, Calif.: Praeger Security International, 2011; Arturo Muñoz, U.S. Military Information Operations in Afghanistan: Effectiveness of Psychological Operations 2001–2010, Santa Monica, Calif.: RAND Corporation, MG-1060, 2012.
[4]Lihat Adrian Chen, “The Agency,” New York Times Magazine, June 2, 2015, dan Peter Pomerantsev & Michael Weiss, The Menace of Unreality: How the Kremlin Weaponizes Information, Culture and Money, New York: Institute of Modern Russia and The Interpreter, 2014.
[5] Dmitry Volchek dan Daisy Sindelar, “One Professional Russian Troll Tells All,” Radio Free Europe/Radio Liberty, 25 Maret 2015.
[6] Pomerantsev dan Weiss, 2014.
[7] Joel Harding, “Russian News and Russian Proxy News Sites,” To Inform Is to Influence, November 15, 2015.
[8] Dua poin pertama diambil dari Stephen G. Harkins dan Richard E. Petty, “The Multiple Source Effect in Persuasion: The Effects of Distraction,” Personality and Social Psychology Bulletin, Vol. 7, No. 4, Desember 1981; poin ketiga dari Harkins and Petty, “Information Utility and the Multiple Source Effect,” Journal of Personality and Social Psychology, Vol. 52, No. 2, 1987.
[9] Poin pertama diambil dari Andrew J. Flanagin dan Miriam J. Metzger, “Trusting Expert- Versus User-Generated Ratings Online: The Role of Information Volume, Valence, and Consumer Characteristics,” Computers in Human Behavior, Vol. 29, No. 4, Juli 2013; poin kedua diambil dari Joseph W. Alba dan Howard Marmorstein, “The Effects of Frequency Knowledge on Consumer Decision Making,” Journal of Consumer Research, Vol. 14, No. 1, Juni 1987.
[10] Masing-masing poin yang tercantum diambil dari Chanthika Pornpitakpan, “The Persuasiveness of Source Credibility: A Critical Review of Five Decades’ Evidence,” Journal of Applied Social Psychology, Vol. 34, No. 2, Februari 2004; Michael G. Hughes, Jennifer A. Griffith, Thomas A. Zeni, Matthew L. Arsenault, Olivia D. Copper, Genevieve Johnson, Jay H. Hardy, Shane Connelly, and Michael D. Mumford, “Discrediting in a Message Board Forum: The Effects of Social Support and Attacks on Expertise and Trustworthiness,” Journal of Computer-Mediated Communication, Vol. 19, No. 3, April 2014; Flanagin and Metzger, 2013; dan Hughes et al., 2014.
[11]Disinformation, “Weekly Disinformation Review,” Disinfo, 14 Januari 2016.
[12] Contoh dari propaganda berita salah yang dilakukan Rusia masing-masing diambil dari Milan Lelich, “Victims of Russian Propaganda,” New Eastern Europe, July 25, 2014, dan Paul A. Goble, “Top 10 Fakes of Russian Propaganda About Ukraine in 2015,” Euromaidan Press, 26 Desember 2015.[13]  Richard E. Petty, John T. Caccioppo, Alan J., Strathman, dan Joseph R. Priester, “To Think or Not To Think: Exploring Two Routes to Persuasion,” dalamTimothy C. Brock dan Melanie C. Green, eds., Persuasion: Psychological Insights and Perspectives, 2nd ed., Thousand Oaks, Calif.: Sage Publications, 2005.
[14] Masing-masing poin tentang pengulangan dan familiaritas diambil dari Stephan Lewandowsky, Ullrich K. H. Ecker, Colleen M. Seifert, Norbert Schwarz, dan John Cook, “Misinformation and Its Correction: Continued Influence and Successful Debiasing,” Psychological Science in the Public Interest, Vol. 13, No. 3, December 2012; Linda A. Henkel dan Mark E. Mattson, “Reading Is Believing: The Truth Effect and Source Credibility,” Consciousness and Cognition, Vol. 20, No. 4, Desember 2011; Heather M. Claypool, Diane M. Mackie, Teresa Garcia-Marques, Ashley McIntosh, dan Ashton Udall, “The Effects of Personal Relevance and Repetition on Persuasive Processing,” Social Cognition, Vol. 22, No. 3, June 2004; Alba, dan Marmorstein, “The Effects of Frequency Knowledge on Consumer Decision Making,” Journal of Consumer Research, Vol. 14, No. 1, June 1987; Jean E. Fox Tree dan Mary Susan Eldon, “Retelling Urban Legends,” American Journal of Psychology, Vol. 120, No. 3, Fall 2007; dan Teresa Garcia-Marques dan Diane M. Mackie, “The Feeling of Familiarity as a Regulator of Persuasive Processing,” Social Cognition, Vol. 19, No. 1, 2001.
[15]Chen, 2015.
[16]Julia Davis, “Russia’s Top 100 Lies About Ukraine,” The Examiner, 11 Agustus, 2014.
[17] Contoh dari propagandis Rusia yang menggunakan aktor untuk membuat berita palsu diambil dari Balmforth, 2016, dan Oli Smith, “Watch: Russia’s Fake Ukraine War Report Exposed in Putin PR Disaster,” Express, 24 Agustus 2015.
[18]James Miller, “Russian Media: Conspiracy Theories and Reading Comprehension Issues,” The Interpreter, 18 September 2013.
[19]Edward Lucas, “Russia Has Published Books I Didn’t Write!” Daily Beast, 20 Agustus 2015.
[20] Miriam J. Metzger and Andrew J. Flanagin, “Credibility and Trust of Information in Online Environments: The Use of Cognitive Heuristics,” Journal of Pragmatics, Vol. 59, Bagian B, Desember 2013.
[21]Penjelasan tentang sleeper effect dan kredibilitas diambil dari Pornpitakpan, 2004, dan Henkel and Mattson, 2011. Lihat juga Lewandowsky et al., 2012, dan Ullrich K. H. Ecker, Stephan Lewandowsky, Olivia Fenton, and Kelsey Martin, “Do People Keep Believing Because They Want to? Preexisting Attitudes and Continued Influence of Misinformation,” Memory and Cognition, Vol. 42, No. 2, 2014. Penjelasan tentang informasi yang ditarik kemudian atau terbukti salah diambil dari Ecker et al., 2014. Lihat juga Lewandowsky et al., 2012. Penjelasan tentang kesadaran akan potensi misinformasi diambil dari Lewandowsky et al., 2012.
[22] Penjelasan tentang pesan, familiaritas, dan emosi, masing-masing diambil dari Lewandowsky et al., 2012; Pornpitakpan, 2004; Ecker et al., 2014; Jan-Willem Van Prooijen dan Eric van Dijk, “When Consequence Size Predicts Belief in Conspiracy Theories: The Moderating Role of Perspective Taking,” Journal of Experimental Social Psychology, Vol. 44, November 2014; Lewandowsky et al., 2012; dan David Destono, Richard E. Petty, Derek D., Rucker, Duane T. Wegener, dan Julia Braverman, “Discrete Emotions and Persuasion: The Role of Emotion-Induced Expectancies,” Journal of Personality and Social Psychology, Vol. 86, No. 1, Januari 2004.
[23] Penjelasan tentang bukti dan kredibilitas masing-masing diambil dari Pornpitakpan, 2004, dan Brad E. Bell dan Elizabeth F. Loftus, “Trivial Persuasion in the Courtroom: The Power of (a Few) Minor Details,” Journal of Personality and Social Psychology, Vol. 56, No. 5, Mei 1989.
[24]Petty et al., 2005.
[25]Metzger dan Flanagin, 2013.
[26] Penjelasan tentang petunjuk periferal dan kepercayaan diambil dari Petty et al., 2005; James C. McCroskey dan Thomas J. Young, “Ethos and Credibility: The Construct and Its Measurement After Three Decades,” Central States Speech Journal, Vol. 32, No. 1, 1981, dan Pornpitakpan, 2004; dan Andrew J. Flanagin dan Miriam J. Metzger, “The Role of Site Features, User Attributes, and Information Verification Behaviors on the Perceived Credibility of Web-Based Information,” New Media and Society, Vol. 9, No. 2, April 2007.
[27]Michael B. Kelley dan Brett LoGiurato, “Russia’s Military Tells a Very Different Story About What Happened to MH17,” Business Insider, 21 Juli 2014.
[28]Steven Pifer, “Putin, Lies and His ‘Little Green Men,’” CNN, 20 Maret 2015.
[29] René Ziegler, Michael Diehl, Raffael Zigon, and Torsten Fett, “Source Consistency, Distinctiveness, and Consensus: The Three Dimensions of the Kelley ANOVA Model of Persuasion,” Personality and Social Psychology Bulletin, Vol. 30, No. 3, Maret 2004.
[30] Penjelasan tentang kontradiksi yang menyebabkan keinginan untuk memahami dan alasan perubahan pada sebuah opini diambil dari Taly Reich and Zakary L. Tormala, “When Contradictions Foster Persuasion: An Attributional Perspective,” Journal of Experimental Social Psychology, Vol. 49, No. 3, May 2013. Penjelasan tentang kepercayaan diri atas sumber yang mengganti sudut pandangnya diambil dari Derek D. Rucker, Richard E. Petty, and Pablo Briñol, “What’s in a Frame Anyway? A Meta-Cognitive Analysis of the Impact of One Versus Two Sided Message Framing on Attitude Certainty,” Journal of Consumer Psychology, Vol. 18, No. 2, April 2008.
[31] Stephen G. Harkins dan Richard E. Petty, “Information Utility and the Multiple Source Effect,” Journal of Personality and Social Psychology, Vol. 52, No. 2, Februari 1987.
[32]Petty et al., 2005.
[33]Richard R. Lau, “Negativity in Political Perception,” Political Behavior, Vol. 4, No. 4, Desember 1982.
[34]Lewandowsky et al., 2012.
[35]  Ecker et al., 2014.
[36]  Zakary L. Tormala dan Richard E. Petty, “Source Credibility and Attitude Certainty: A Metacognitive Analysis of Resistance to Persuasion,” Journal of Consumer Psychology, Vol. 14, No. 4, 2004.
[37]Jasper Jackson, “RT Sanctioned by Ofcom over Series of Misleading and Biased Articles,” The Guardian, 21 September 2015.