Setelah beberapa minggu terlewatkan dengan kesibukan yang tidak mau saya jelaskan secara rinci di sini, saya akhirnya bertemu dengan salah seorang pembaca novel ‘Buku Harian Keluarga Kiri’ yang sempat mengirim pesan ingin bertemu dan ngobrol dengan saya. Awalnya saya berpikir dia yang mengenalkan diri sebagai seorang mahasiswa di salah satu universitas negeri di Malang itu hanya ingin membicarakan hal-hal ringan yang tidak akan membuat saya terus berpikir sampai detik ini. Namun rupanya dia berhasil menjadikan saya terus memikirkannya.

Begitu datang dia langsung memanggil nama saya dan menjabat tangan saya, tentu langsung saya sambut. Mungkin karena saya ini masih seorang penulis anyaran, saya cukup blak-blakan untuk membuka obrolan, “jadi Mas baca buku saya?”, dan ia mengiyakan. Lalu seperti layaknya orang-orang lain yang memposisikan diri sebagai pembaca, ia menanyakan proses kreatif penulisan buku saya, terutama dalam mencari informasi yang berkaitan dengan kisah hidup kakek saya yang seorang eks-tapol Orde Baru. Saya jelaskan saja semuanya, tentang kebuntuan yang sebenarnya juga sudah saya curhatkan di novel saya tersebut, sampai ia akhirnya menyatakan maksud mendasar dari keinginannya bertemu dengan saya.

Bahwa ia ingin membuat skripsi tentang represi yang dialami oleh keluarga korban atau penyintas tragedi kemanusiaan ’65. Hal tersebut sudah cukup menarik bagi saya, karena menurut saya pribadi, walaupun skripsi memang bisa dibilang merupakan salah satu prasyarat kelulusan mahasiswa, namun akan semakin baik jika karya tersebut diperlakukan dan dikerjakan dengan serius dengan menjadi refleksi dari kehidupan sosial dan jika memungkinkan menawarkan solusi isu yang dicurahkan dari otak seorang mahasiswa yang kritis. Saya sudah menghargai niatannya tersebut, terlebih dulu saat saya berada di masa-masa itu, saya juga sempat ingin mengangkat pengalaman kakek dan keluarga saya menjadi skripsi, namun dicegah oleh dosen pembimbing dengan alasan teknis seperti nomenklatur jurusan sampai alasan retoris tentang keselamatan saya.

Namun tidak sampai di situ, karena ada hal lain yang kemudian saya ketahui dari laki-laki itu yang membuat saya terus berpikir sampai detik ini. Yakni saat ia mulai bercerita bahwa keluarganya sendirilah yang akan dijadikannya subjek penelitian, karena kakeknya pun seorang korban kejahatan kemanusiaan pasca ’65. Dan bukannya dipenjara dari satu bui ke bui lain sampai kemudian tiba di Pulau Buru dan masih diberi kesempatan untuk kembali ke keluarganya seperti yang terjadi pada kakek saya, yang dialami kakeknya jauh lebih buruk.

Beliau hilang. Beliau tidak pernah pulang.

Benak saya terhenyak. Saya tidak pernah bisa membayangkan seperti apa kekalutan yang dialami keluarganya saat pertama kali kakeknya dibawa, dan mengetahui bahwa setelah sekian tahun berlalu ternyata yang ditunggu-tunggu tidak pernah datang kembali. Dan sejurus saya merasa ia adalah ‘keluarga’ baru dari kami, generasi penerus yang masih merasa sejarah merupakan hal yang penting, yang menyadari bahwa kebenaran sudah waktunya dibongkar satu persatu.

Sedangkan di sisi lain saya juga merasa cukup kecewa dengan diri saya sendiri, karena saya tidak bisa membantu banyak. Bukannya kenapa, karena saya sendiri pun sempat merasakan kesulitan untuk mengumpulkan informasi yang sifatnya autentik atau dianggap sebagai valued data jika kita masuk ke dalam ranah penelitian. Dan pertemuan kami yang singkat belum sempat membawa ke obrolan yang lebih mendalam. Namun melalui tulisan ini saya menyampaikan dukungan moral untuk proses pengerjaan skripsi yang akan dilakukannya, atau mungkin jika pada tengah jalan proyek tersebut harus terhenti karena beberapa alasan, saya harap akan ada karya lain yang ditulisnya atas nama kakeknya itu. Pintu ini terbuka untuk diskusi dengan beberapa gelas kopi, batang rokok, dan tumpukan buku.

Salam sukses untukmu!