Kematian Sukarno pernah menjadi sebuah momen penting dalam narasi sejarah Indonesia, baik sejarah sosial maupun politik. Beberapa anggota keluarga saya termasuk di antara orang-orang yang berjejal di pinggir jalan yang dilewati oleh mobil pembawa jenazah Sukarno ke Blitar. Sukarno pernah menjadi sebuah diskursus yang diagungkan, dipertentangkan, dan coba dihancurkan. Upaya penghancuran tersebut melibatkan tidak hanya kelompok militer di Indonesia, namun juga sejumlah negara seperti Inggris dan Amerika Serikat.

Pasca pernyataan kemerdekaan Indonesia dan didapuknya jabatan presiden oleh Sukarno, terutama semenjak penetapan Nasakom sebagai filosofi pelaksanaan pemerintahan, pemerintah Inggris dan Amerika Serikat telah mencium sebuah ancaman besar. Ancaman tersebut adalah kebangkitan komunis di Indonesia. PKI memang telah berhasil menjadi salah satu partai politik berbasis komunis terbesar di dunia dengan anggota berkisar jutaan orang. Ancaman lain muncul dari sikap politik Sukarno yang menekankan pada kemandirian negara dengan menolak bantuan ekonomi dari negara-negara lain.

Baca juga: Sukarno yang Dibuang Secara Ideologis

Indikasi pertama yang menunjukkan ketertarikan Inggris dan Amerika Serikat untuk menghancurkan Sukarno terdapat dalam Memorandum CIA tahun 1962. Dalam dokumen tersebut, Perdana Menteri MacMillan dan Presiden John F. Kennedy setuju untuk “melikuidasi Presiden Sukarno tergantung pada situasi dan kesempatan”.

Rencana taktis untuk menggulingkan Sukarno mulai diwujudkan pada musim semi 1965. Sir Andrew Gilchrist, Duta Besar Inggris untuk Indonesia, dengan Joe Garner, kepala Kantor Urusan Luar Negeri, untuk mengirimkan Norman Reddaway menjalankan misi di Indonesia. Reddaway pada saat itu merupakan salah satu anggota di Kantor Urusan Luar Negeri Inggris yang dikenal mampu menjalankan misi-misi propagandis. Garner memberikan uang sejumlah 100.000 Pondsterling kepada Reddaway agar “melakukan apapun untuk memusnahkan Sukarno”.

Pemerintah Inggris dan Amerika Serikat merasakan ketakutan yang sama terkait strategi-strategi politik Sukarno. Pada tahun 1952, Amerika Serikat telah membaca prospek kerugian yang akan mereka alami jika Indonesia, di bawah kepemimpinan Sukarno, sepenuhnya terlepas dari pengaruh barat, maka negara-negara lain di daerah Asia Tenggara yang masih berusia muda bisa saja mengikuti jejak Indonesia. Dan hal tersebut dapat membawa kerugian ke perekonomian negara-negara barat yang bergantung pada hasil perkebunan karet, pertambangan timah dan bahan bakar. Di samping itu, komunisme memang telah lama menjadi musuh besar bagi Inggris dan Amerika Serikat.

Kantor urusan luar negeri Inggris bekerja sama dengan CIA yang telah melakukan diskusi dan mempersiapkan diri untuk melakukan intervensi kepada sejumlah negara selama Perang Dingin. Dalam salah satu dokumen rahasia CIA yang dibuka pada tahun 2017, disebutkan adanya perencanaan di dalam tubuh CIA untuk melakukan pembunuhan atas beberapa tokoh politik penting yang berseberangan dengan dasar politik Amerika Serikat, antara lain Fidel Castro, Patrice Lumumba, dan Sukarno. Richard Bissell, mantan Ketua Deputi Perencanaan CIA menegaskan bahwa kematian Sukarno pada tahun 1970 sama sekali tidak memiliki hubungan dengan CIA, namun ia membenarkan adanya diskusi dan perencanaan terkait pembunuhan presiden Indonesia pertama tersebut.

Peristiwa G30S, terlepas dari kontroversi tentang siapa saja sutradara dan aktornya sampai hari ini, menjadi momentum kesempatan yang krusial dalam upaya pemusnahan Sukarno. Pasca peristiwa tersebut, tepatnya pada 5 Oktober 196, Alec Adams, penasihat politik untuk Kepala Komandan Asia Timur, menyampaikan sarannya kepada Kantor Urusan Luar Negeri untuk “menjadikan PKI sebagai kambing hitam di mata militer dan rakyat Indonesia”. Saran tersebut diterima dan Kantor Urusan Luar Negeri Inggris setuju untuk melancarkan propaganda yang mengangkat kekerasan oleh PKI dan intervensi Cina sebagai negara komunis.

Baca juga: Hantu Komunisme

Penyerahan kekuasaan oleh Sukarno kepada Suharto pada 1966 kemudian menjadi kudeta “paling sukses” yang dilancarkan Kantor Urusan Luar Negeri Inggris, menurut Reddaway. Arsip Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia dari 1964 sampai 1968 pun menunjukkan pengetahuan dan dukungan pemerintah Amerika Serikat terhadap pembunuhan massal yang terjadi di Indonesia paca G30S. Sementara itu, Orde Baru juga sempat meluncurkan upaya untuk membinasakan Sukarno dengan memberikan hukuman tahanan rumah atas tuduhan telah berpartisipasi dengan PKI dalam peristiwa G30S sampai kematiannya pada 21 Juni 1970 dengan status tahanan.

Baru sembilan tahun kemudian, tepatnya pada peresmian makam Sukarno di Blitar, Suharto melihat masyarakat Indonesia masih menjadikan sosok Sukarno sebagai pahlawan negara. Sebagai strategi politik, Suharto pun mulai menunjukkan simpatinya di hadapan masyarakat dengan membacakan pidato yang terkesan mengagungkan seseorang yang pernah berusaha dihancurkannya itu.

Sumber: Britain’s Secret Propaganda War 1948-77′ oleh Paul Lashmar dan James Oliver