Sebenarnya apa yang akan saya bahas dalam tulisan ini tidak terlalu mendesak dan seru isunya layaknya berita tentang keputusan-keputusan kontroversial pasangan Anies-Sandiaga. Namun materi ini munculnya karena obrolan yang ada di sekitar saya, terutama golongan pemuda biasa yang secara hirarkis tidak ada kaitannya dengan bisnis di panggung politik. Karena obrolan tentang pernikahan memang tidak pernah menjadi hal biasa jika dibumbui dengan perdebatan tentang nilai-nilai yang diturunkan dari generasi-generasi sebelumnya.

 Istilah ‘kesadaran palsu’ atau dalam bahasa Inggris ‘false consciousness’ pertama kali digunakan oleh Freidrich Engels untuk merujuk sebuah skenario di mana ideologi kelas yang berkuasa terwujud oleh kelas yang tertindas (Engels, 1893). Kemudian pada perkembangannya, istilah tersebut digunakan oleh para pemikir dan penulis Marxisme untuk mmenganalisis keadaan sosial ekonomi yang berkaitan dengan relasi kelas. Sehingga ‘kesadaran palsu’ pun secara lebih luas dimaknai sebagai sebuah proses material, ideologis, dan institusional yang terjadi di masyarakat untuk menyesatkan kaum proletar dan kelas tertindas lain. Proses ini dilakukan untuk mengaburkan hubungan antar kelas yang sebenarnya dan juga urusan kepemilikan harta yang kaitannya dengan eksploitasi yang dialami kelas proletar.
Dalam kata lain, menurut pemikir Marxisme, kesadaran palsu diterapkan oleh kelas borjuis dan pemegang kekuasaan lain terhadap kelas proletar agar mereka tidak memiliki kesadaran kkelas. Atau sederhananya, kelas pekerja tersebut dibuat tidak sadar kalau mereka sedang dieksploitasi. Tujuan dari kesadaran palsu dalam masyarakat kapitalis adalah mempertahankan kekuasaan borjuis untuk melakukan eksploitasi terhadap kelas proletar.
Selanjutnya dalam ilmu sosial, istilah ‘kesadaran palsu’ digunakan tidak hanya untuk membaca fenomena pertentangan kelas ala Marxisme, namun juga pada hal-hal lain yang terjadi dalam lingkungan masyarakat. Subyek yang dikritik tidak lagi negara atau pemilik modal saja, dan yang dianggap menjadi korban proses kesadaran palsu pun tidak melulu kelas pekerja atau proletar. Oleh karena itu, saya pun menganggap salah satu fenomena sosial yang terjadi di sekitar saya ini, yakni pernikahan, pun bisa dianalisis menggunakan konsep kesadaran palsu.
Kebanyakan teman yang sudah mengenal saya dengan cukup baik tahu bahwa pernikahan belumlah menjadi prioritas dalam kehidupan saya. Yang saya lakukan malah mengkritik wacana-wacana menarik terkait pernikahan. Mungkin memang cukup menyebalkan untuk dibaca oleh kawan-kawan yang sudah menikah atau ingin menikah. Tapi berada dalam jarak tertentu memungkinkan kita untuk menilai secara lebih kritis.
Dan rasanya perlu untuk saya jelaskan di sini bahwa dalam tulisan ini saya tidak berusaha menjatuhkan siapa pun secara personal, terutama kawan-kawan pembaca yang tertarik dengan wacana pernikahan atau yang memang sudah menjalankan bahtera pernikahan. Tidak juga ada upaya untuk mendiskreditkan pola pikir dan sudut pandang orang lain, apalagi menjatuhkan kawan sesama perempuan. Yang saya upayakan dalam tulisan ini malah sebaliknya, yakni membangunkan kesadaran palsu yang mungkin bersarang dalam kepala kita karena paparan budaya dan adat yang sebagai akibatnya menempatkan perempuan pada posisi di mana ia dinilai tidak sebagai individu yang berdikari, namun membutuhkan orang lain untuk bisa dihargai.
Tentu saja sesungguhnya banyak sekali kesadaran-kesadaran palsu yang dibentuk di sekitar kita terkait isu pernikahan. Salah satunya adalah terkait usia ideal pernikahan yang seringkali diterima begitu saja, bahwa usia 20-an merupakan waktu yang tepat untuk melangsungkan pernikahan terutama karena dasar alasan moralitas. Namun kali ini saya tidak akan membahas tentang usia ideal, karena ada hal yang bagi saya lebih menarik.
Menarik karena kesadaran palsu tersebut diterima dan bahkan dikembangkan oleh kalangan pemuda yang sudah saya klasifikasi tadi. Yakni kesadaran palsu tentang konsep menantu idaman, dengan perhatian utama adalah menantu perempuan idaman. Bukan berarti tidak ada kesadaran palsu dalam konsep menantu laki-laki idaman, namun pada saat ini saya benar-benar tertarik dengan pendapat-pendapat yang keluar dari teman-teman perempuan saya yang kaitannya dengan pernikahan.
Mungkin beberapa dari kita pernah mendengar, atau bahkan mengatakan sendiri, entah secara sadar, setengah sadar, atau tidak sadar sama sekali pendapat seperti ini. “Saya baru saja mencuci pakaian dan membersihkan rumah. Sungguh menantu idaman.” Lalu radar sensitif saya mulai berbunyi, dan kepala saya pun mulai dipenuhi dengan kata-kata yang ingin mematahkan pendapat tersebut.
Kata-kata yang ada dalam kepala saya sesungguhnya adalah tumpukan pertanyaan tentang konsep ‘menantu idaman’ yang diagung-agungkan itu. Pertama mengapa kita tidak menganggap kemampuan membersihkan lingkungan sekitar dengan baik sebagai salah satu kebutuhan untuk bertahan hidup atau kemampuan untuk hidup secara mandiri sebagai seorang perempuan. Mengapa sesuatu yang bahkan kita lakukan dengan tangan kita sendiri masih harus dinilai dan dihargai menggunakan anggapan bahwa perempuan harus dimiliki agar bisa berguna.
Dalam hal ini, saya teringat dengan omongan ibu saya yang memutuskan untuk kuliah walaupun sering dicemooh oleh lingkungan sekitar. Keputusannya dianggap sebagai perlawanan terhadap konsep perempuan ideal Jawa sebelum abad ini, yakni pendidikan tinggi itu bukan untuk perempuan. Dunia yang disediakan untuk perempuan adalah untuk menjadi istri, rencang mburi dari laki-laki. Posisi perempuan sebagai rencang mburi atau kawan yang berada di belakang berhubungan erat dengan peran perempuan dalam rumah tangga yang berada di balik layar, yakni ruang domestik.
Nilai ideal perempuan itu kemudian berhubungan erat dengan nilai ideal menantu. Saya selalu terganggu dengan konsep menantu ideal yang erat hubungannya dengan kemampuan manajemen ruang domestik. Seingat saya, tidak pernah ada seseorang yang mengatakan perempuan yang menjadi aktivis, profesor, atau seniman, adalah menantu idaman. Karakteristik yang dikaitkan dengan definisi perempuan menantu idaman adalah kemampuan untuk merawat diri, membersihkan rumah, menyiapkan makanan. Sangat menarik bagaimana nilai tersebut bertahan selama sekian tahun dari generasi ke generasi.
Lalu bagaimana bisa konsep menantu idaman tersebut dianggap sebagai kesadaran palsu yang berangkatnya dari analisis sosial ekonomi kaum Marxis? Jika menurut pemaknaan awal kesadaran palsu merupakan suatu proses yang dibentuk kelas borjuis agar mereka terus bisa melakukan opresi terhadap kelas proletar, maka proses yang hampir sama juga terjadi pada kasus ini. Relasinya bukan lagi pemilik modal dan buruh, melainkan pemegang norma dan (dalam kasus ini) perempuan. Pemegang norma bisa siapa saja dengan kepentingan dan kekuasaan masing-masing, bisa orang tua, pemuka agama, pengajar, dan lain sebagainya. Kepentingannya bisa saja keuntungan secara materi maupun sosial.
Di pihak lain, perempuan dengan dicekoki dengan proses kesadaran palsu tersebut, menjadi terus menerus dibatasi keinginan lahiriah dan batiniahnya. Bukankah tidak semua perempuan ingin melahirkan anak dari rahimnya sendiri? Bukankah tidak semua perempuan lebih suka memasak daripada berorasi? Ada opresi terhadap nilai-nilai kebebasan individual yang dilakukan oleh pemangku norma dan nilai-nilai ideal melalui proses kesadaran palsu menantu ideal sehingga perempuan bisa terus menerus menjadi sesuatu yang tidak bisa dinilai dan dihargai semata karena prestasi dan kemampuan pribadinya.
Menurut hemat saya, dengan kesempatan yang terbuka lebar saat ini, pilihan ada di tangan masing-masing orang. Mungkin jauh lebih tidak berdosa bagi kita untuk manggut-manggut menurut daripada melakukan perlawanan. Tapi perubahan memang tidak akan pernah terjadi tanpa perlawanan, seperti yang sudah ditunjukkan oleh para perempuan yang memperjuangkan kesetaraan hak di masa lalu sampai perempuan abad 21 bisa seperti ini. Mengetahui adanya proses kesadaran palsu dan tidak berupaya melawannya adalah kesia-siaan.