Tanggal 5 Mei lalu, beberapa orang mengingat dan merayakan ulang tahun Karl Marx ke-203. Pengakuan atas perannya sebagai salah satu dari empat pemikir terbesar di dunia cukup sulit dibantah jika mengingat masih cukup banyak pembacaan atas fenomena-fenomena kontemporer dengan kerangka teori atau pemikiran Marx. Salah satunya pembacaan atas pandemi dan isu-isu kesehatan dengan kacamata Marxisme.

Pemikiran Marxisme membawa kita pada pemaknaan akan kerja-kerja ekspliotatif yang terjadi dalam kerangka sistem kapitalistik. Untuk mengatakan sistem kapitalistik menjadi penggerak utama dan satu-satunya dari eksploitasi tidaklah tepat juga. Karena eksploitasi oleh manusia, khususnya atas alam, telah berlangsung bahkan semenjak era pra-industri atau pra-kapitalis. Yang terjadi adalah pergeseran persepsi, tujuan dan skala dari eksploitasi tersebut.

Kapitalisme sebagai sebuah sistem bekerja dengan logika profit. Oleh karena itu, aktivitas-aktivitas yang berlangsung dalam sistem masyarakat kapitalistik menjadikan profit sebagai dasar pemikiran dan tindakan, serta tujuannya. Ciri-ciri utama dari mode produksi kapitalistik antara lain kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi, ekstrasi nilai keuntungan oleh kelas pemilik modal sebagai upaya akumulasi kapital, dan komodifikasi.

Baca juga: Skenario Ekonomi di Masa Pandemi

Marx menganggap kapitalisme sebagai satu tahapan historis yang pada akhirnya akan mengalami stagnansi atau kebuntuan karena kontradiksi internal dalam sistem tersebut, yang kemudian akan digantikan oleh sosialisme. Berkembangnya kapitalisme di Eropa, paling tidak sejak Revolusi Industri dengan mekanisasi dan kemunculan pekerjaan-pekerjaan berbasis gaji, sampai hari ini menjadi sebuah sistem yang dianut secara global, menjadikannya terasa sulit untuk dihindari apalagi ditentang. Masing-masing dari kita menjadi individu konsumtif dalam ranah dan tarafnya sendiri-sendiri. Hal-hal yang disebut sebagai kebutuhan dasar–pangan, sandang, papan–kini tidak lagi menjadi hal yang “dasar”, karena kita digiring untuk mengonsumsi lebih dari yang dibutuhkan. Pangan harus dibeli di rumah makan tertentu, sandang harus merek tertentu, papan harus lebih dari sekadar atap di atas kepala.

Pertanyaannya kemudian adalah apakah apa yang dikatakan Marx sebagai kontradiksi internal yang menyebabkan kebuntuan kapitalisme itu benar-benar ada? Jika ada, kapan akan terjadi? Dalam hal ini, jika pandemi Covid-19 belum dapat dikatakan sepenuhnya akan meruntuhkan kapitalisme, sesungguhnya situasi yang masih kita hadapi ini telah menunjukkan tanda-tanda kontradiksi tersebut. Mari kita lihat apa yang terjadi di salah satu negara penggerak ekonomi global ketika penyakit yang pertama kali ditemukan di Wuhan tersebut pada akhirnya menjadi pandemi, yakni Amerika Serikat.

Baca juga: Kemelut Pandemi dan Gig Economy

Amerika Serikat telah menjadi salah negara dengan ekonomi yang paling berkembang dan akses terhadap pengetahuan dan teknologi canggih, termasuk di bidang kesehatan. Namun, Amerika Serikat juga menjadi salah satu negara yang mengalami dampak paling besar pada awal merebaknya virus Corona pada paruh awal 2020. Kontradiksi tersebut telah dibaca oleh sejumlah peneliti dan pengamat dari segi politik dan kesehatan publik, menempatkan keputusan Donald Trump untuk mencabut Patient Protection and Affordable Care Act atau yang lebih dikenal dengan Obamacare sebagai salah satu alasan utamanya.

Keengganan Trump untuk meneruskan kebijakan terkait akses terhadap layanan kesehatan publik sebenarnya bukanlah alasan mendasar. Namun, hal tersebut sebenarnya merupakan konsekuensi logis dari berlakunya sistem kapitalistik. Dalam hal ini, perlu diakui kapitalisme telah mendorong secara signifikan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan modern. Mekanisasi yang terjadi pada momentum Revolusi Industri pertama di abad ke-19 berkembang lebih lanjut dan melahirkan sejumlah penemuan-penemuan yang sebelumnya dianggap sebagai pembayangan fiksi ilmiah atau bahkan tidak pernah terpikirkan. Di bidang kesehatan, produksi alat-alat kesehatan, pembangunan rumah sakit, pembuatan dan penyebaran vaksin untuk mencukupi kebutuhan negara-negara di dunia; semuanya terjadi karena didukung oleh sistem produksi massal, globalisasi, tuntutan untuk memenuhi kebutuhan dalam jumlah besar dan waktu yang singkat. Beberapa contoh tersebut tidak akan pernah dirasakan manusia jika mode produksi yang berlaku sampai hari ini adalah kerja-kerja manual yang tidak mengenal interaksi dan transaksi lintas negara.

Permasalahannya terletak pada posisi yang diduduki oleh urusan kesehatan publik di tengah ekosistem kapitalisme. Menurut logika kapitalisme, kesehatan publik bukanlah ranah yang menguntungkan, apalagi jika tujuannya adalah memberikan layanan gratis atau paling tidak layanan murah kepada orang banyak. Sebagai konsekuensinya, penelitian dan pengembangan di bidang kesehatan dijadikan aktivitas industri yang bersandar pada rantai pasok–permintaan (supply–demand) dan bertujuan untuk meraup keuntungan oleh pelaku-pelaku swasta. Sementara itu, dalam Manifesto Komunis tercantum 10 planks of communism yang menggarisbawahi penghapusan kepemilikan pribadi (private property) atas layanan-layanan publik dan menekankan peran masyarakat dalam mengatur dan menjalankan fungsi-fungsinya.

Baca juga: McCarthyism ala Orde Baru

Ronald Reagan, pada tahun 1960-an, saat masyarakat Amerika Serikat masih mengalami sisa-sisa dari Red Scare dan McCarthyism, menyatakan di depan publik bahwa layanan kesehatan gratis merupakan ciri dari komunisme. Propaganda tersebut dilancarkan untuk meyakinkan publik bahwa Amerika Serikat bukanlah negara komunis dan tidak akan memberikan layanan kesehatan gratis kepada masyarakat. Dan saat pandemi melumpuhkan rantai sistem mode produksi dan konsumsi kapitalis karena aturan-aturan pembatasan guna mengurangi risiko penularan virus, layanan kesehatan berbayar tidak dapat diakses oleh semua golongan masyarakat. Kebutuhan akan layanan kesehatan meningkat, sementara masyarakat kehilangan pekerjaannya, atau pelaku-pelaku usaha harus menutup bisnisnya. Bahkan kelumpuhan tersebut berdampak langsung pada para pekerja di bidang kesehatan yang sampai harus kehabisan alat-alat pelindung kesehatan.


Situasi pandemi telah menunjukkan kontradiksi internal dari kapitalisme yang telah membesarkan Amerika Serikat sebagai salah satu negara adidaya di sektor ekonomi. Layanan kesehatan yang telah menjadi kegiatan bisnis dengan logika mode produksi pencarian keuntungan tidak berhasil menyelamatkan masyarakat saat suatu krisis terjadi. Dalam situasi tersebut, kelas pekerja menjadi salah satu golongan yang rentan baik secara kesehatan maupun ekonomi dikarenakan lingkungan kerja yang buruk, hak jaminan kesehatan yang tidak disiapkan untuk mengatasi krisis kesehatan publik, belum lagi ditambah dengan ancaman penurunan pendapatan bahkan pemberhentian kerja. Kematian pekerja dalam jumlah besar pada akhirnya juga akan mengganggu jalannya produksi.

Dalam hal ini, keberlanjutan (sustainability) perlu menjadi logika baru dalam sistem ekonomi yang jelas-jelas menjadi roda penggerak kehidupan masyarakat. Pemutusan rantai pasok–permintaan yang bertujuan pada penggalian profit untuk kelas pemilik modal agaknya perlu dilakukan seiring upaya pemutusan rantai penularan virus.