Keagungan industri telah menjadikan hampir segala hal di dunia ini sebagai komoditas, suatu praktik yang diistilahkan dengan komodifikasi. Mulai dari benda, ide, sampai tubuh secara sadar maupun tidak sadar telah hilang substansi awal yang biasanya bersifat praktikal atau berhubungan dengan nilai pakai, karena bergeser menjadi kegunaannya dalam ekonomi atau nilai tukar. Sebenarnya saya tidak punya niat untuk menempatkan perempuan sebagai satu-satunya golongan yang terpengaruh (baca: terjerumus) dalam pusaran komodifikasi. Namun bahasan kali ini akan menyoroti hal-hal yang semakin hari semakin dianggap lumrah oleh kalangan perempuan, terutama dalam hal penampilan.

Salah satu hal tersebut adalah jilbab. Saya paham betul betapa sensitifnya masyarakat terhadap isu-isu terkait jilbab. Tiba-tiba seseorang bisa terkenal karena memutuskan memakai atau melepas jilbab. Atau karena memodifikasi jilbab sedemikian rupa sehingga terlihat menarik. Entah disadari atau pun tidak, jilbab dalam lingkaran masyarakat industri sesungguhnya telah jauh dari substansi awalnya, yakni menutup bagian tubuh yang dianggap terlarang untuk dilihat dan disentuh lawan jenis.

Argumen tersebut didasarkan pada nilai fungsi dan pakai dari jilbab itu sendiri. Dengan anggapan bahwa jilbab pada esensinya adalah menutup rambut, telinga, area tengkuk dan leher, dan mungkin juga dada, yang hubungannya dengan aspek spiritual, harusnya jilbab tidak perlu dinilai secara estetika. Namun yang terjadi saat ini, jilbab tidak lagi hanya dinilai nilai fungsinya untuk menutup aurat, melainkan dinilai cantik atau tidaknya karena motif atau corak, model, warna, atau mengikuti tren tertentu. Banyak yang melihat fenomena jilbab ala selebritis merupakan hal yang lumrah, bahkan kemudian sampai perlu diikuti atas nama tren. Padahal itulah bukti nyata bagaimana jilbab telah menjadi komoditas.

Sistem ekonomi industri bermain dengan anggun untuk merespon gejala-gejala budaya (terutama populer) yang berkembang di masyarakat. Para pelaku industri bermain-main dengan konstruksi tuntutan sosial yang berhubungan dengan prestis, konsep kecantikan, dan gaya hidup konsumerisme. Sehingga seringkali yang terjadi adalah para pelaku industri tidak perlu lagi mencantumkan nilai guna dari jilbab, melainkan hanya menampilkan nilai tukarnya. Jika Anda memakai model atau warna jilbab A, maka Anda akan dinilai memiliki kesesuaian dengan mode tertentu, memiliki kapital ekonomi yang cukup atau bahkan tinggi, dan kemudian memiliki posisi yang lebih baik di masyarakat.

Agar tidak dianggap bias, saya juga akan membahas komodifikasi benda lain yang dianggap tidak terlalu berhubungan dengan aspek spiritual, yakni kebaya. Beberapa golongan masyarakat masih mengagungkan kebaya sebagai salah satu artefak budaya Indonesia yang perlu dilestarikan. Salah satunya dengan ramai-ramai mengenakan kebaya untuk memperingati Hari Kartini. Sayangnya seringkali kita tidak sadar bahwa industri juga telah merespon pola pikir masyarakat tentang pentingnya melestarikan kebaya tersebut.

Melalui foto dan kisah biografi seorang Kartini, kita bisa melihat sendiri bagaimana ia dan saudara-saudaranya mengenakan kebaya yang jauh berbeda dengan yang ada pada saat ini. Tidak ada hiasan batu mahal, atau bahkan sekedar payet. Tapi sekarang para perempuan yang katanya mengagumi Kartini itu malah berlomba-lomba untuk membeli dan mengenakan kebaya yang mewah dan buatan desainer tersohor. Tujuannya pun sama dengan jilbab, menjadikan diri mereka sendiri sebagai representasi anggota masyarakat yang perlu ditempatkan dalam kelas atas.

Sehingga terdapat suatu paradoks besar yang dapat ditemukan dalam perayaan Hari Kartini pada akhir-akhir ini, entah apakah perempuan itu berjilbab dan mengenakan kebaya atau tidak. Karena ada kesadaran kelas yang tidak disadari atau tidak mau disadari oleh perempuan generasi teknologi saat ini. Kesadaran kelas yang dimiliki Kartini membuatnya ingin bebas, upaya mendapatkan liberasi atas kungkungan supremasi laki-laki dan sistem masyarakat partriarkal yang mencegahnya untuk bersekolah. Namun keengganan kita untuk membaca Kartini lebih dari sekedar berpenampilan seperti Kartini membuat perempuan hanya terjebak pada lubang lain yang tidak bisa dibilang lebih baik. Budaya konsumerisme menempatkan perempuan sebagai masyarakat yang haus untuk terlihat seperti Kartini namun tidak berpikiran seperti Kartini.

Dengan mengambil contoh dua benda yang saat ini dianggap penting dalam semangat pergerakan feminisme, yakni kebebasan untuk berjilbab dan keinginan untuk melestarikan keperempuanan Indonesia, kita bisa menganggap bahwa perayaan Hari Kartini akhir-akhir ini pun telah kehilangan esensinya. Kartini telah dikomodifikasi oleh industri, melahirkan komoditas-komoditas yang diberi embel-embel inovasi. Jika Hari Kartini terus-terusan hanya diperingati dengan berpenampilan seperti Kartini tanpa ada upaya untuk membangun kesadaran kelas seperti yang dilakukannya, maka Hari Kartini tidak lain akan menjadi sasaran sistem ekonomi kapitalis yang berfoya-foya di atas hiper-realitas kaum perempuan.