Pemukulan yang dialami pasangan lesbian Melanie Geymonat dan Chris di London oleh sekelompok pria yang memaksa mereka berciuman di tempat umum adalah bukti apa yang saya sebut dengan homofobia terselubung. Hal tersebut sebenarnya bukanlah hal yang baru dan dapat ditemukan di lingkungan sekitar kita, namun seringkali narasinya kalah dibandingkan tindakan kekerasan berbasis homofobia yang lebih nyata.

Homofobia adalah perasaan atau tindakan negatif terhadap homoseksualitas atau orang-orang yang mengidentifikasikan diri mereka sebagai homoseksual. Orang-orang yang memiliki kecenderungan homofobia tidak akan ragu-ragu untuk menyatakan kebencian mereka terhadap wacana homoseksualitas dan homoseksual. Di saat yang sama, banyak juga orang-orang yang seakan-akan memberikan empati dan simpati kepada homoseksualitas dan homoseksual namun menunjukkan kecenderungan ambiguitas dalam menilai homoseksualitas dan homoseksual. Hal tersebut yang saya sebut dengan homofobia terselubung.

Salah satu contoh dari homofobia terselubung yang paling sering saya temukan di lingkungan sekitar adalah laki-laki heteroseksual yang mengaku mendukung lesbian namun tidak bisa menerima gay. Saya cukup sering mendengar mereka membanggakan diri sering menonton film porno pasangan lesbian untuk menunjukkan seakan-akan mereka terbuka dan menerima homoseksualitas. Bahkan salah satu situs porno terbesar di dunia, Pornhub, merilis data pada tahun 2016 yang menunjukkan bahwa kategori film porno lesbian menduduki peringkat pencarian pertama pada tiga tahun terakhir. Pengguna yang melakukan pencarian film porno lesbian terdiri dari perempuan dan juga laki-laki.

Data pencarian film porno di situs Pornhub tahun 2016

Jika beberapa orang menganggap ranking pencarian film porno lesbian tersebut sebagai sebuah pertanda baik dari toleransi gender dan orientasi seksual, saya tidak berpikir demikian. Karena kecenderungan selera film porno tidak berkorelasi lurus dengan penerimaan atas homoseksualitas dan homoseksual. Kebanyakan laki-laki heterokseks–di lingkungan sekitar saya–yang mengaku menonton film porno lesbian sesungguhnya tidak memiliki simpati atau empati terhadap homoseksualitas. Mereka menonton film porno lesbian hanya karena mereka suka melihat perempuan–sepasang atau lebih–berhubungan seksual tanpa harus menonton penis dan/atau mendengar suara desahan laki-laki. Pada saat yang sama, mereka menganggap gay sebagai hal yang menjijikkan atau tidak sepantasnya terjadi.

Sayangnya saya belum pernah mendengarkan kesaksian dari perempuan yang menonton film porno gay untuk membandingkan kecenderungan tersebut. Namun saya berasumsi tendensi homofobia terselubung dapat juga ditemukan pada perempuan yang mengaku suka menonton film porno gay. Karena pola pikir terkait isu gender dan seksualitas tidak bergantung atau tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan kesadaran dan kemampuan pribadi untuk “memanusiakan manusia”.

Baca juga: Kerentanan Ruang Personal dan Publik Perempuan

Homofobia terselubung mengimplikasikan ketidakmampuan individu atau kelompok untuk “memanusiakan manusia”, karena mereka menunjukkan kecenderungan melihat homoseksual sebagai objek seksual. Laki-laki yang menonton film porno lesbian namun tidak berempati dan bersimpati terhadap hak homoseksualitas tidak lain hanya berupaya memuaskan hasrat heteroseksual mereka dengan melihat lesbian sebagai objek seksual.

Perkara itulah yang melatarbelakangi tindak kekerasan yang dialami oleh Melanie dan Chris. Mereka dipandang oleh kelompok penyerang–yang notabene laki-laki–sebagai objek seksual yang menarik untuk ditonton, bukan sebagai manusia yang memiliki hak penuh untuk menentukan identitas gender, orientasi seksual, dan aktivitas seksualnya. Para pelaku memaksa pasangan tersebut berciuman untuk memuaskan hasrat heteroseksual mereka. Dan saat Melanie dan Chris menolak untuk melakukannya, tindakan kekerasan dilakukan oleh pelaku untuk menunjukkan superioritas mereka baik sebagai laki-laki–yang mengimplikasikan patriarki–dan sebagai heteroseks–yang mengimplikasikan dominasi dan toksisitas heterosekualitas–yang masih berlangsung sampai hari ini.

Baca juga: Toksisitas Wacana Dominan Heteroseksualitas

Homofobia terselubung sudah waktunya mendapatkan perhatian khusus dalam kampanye kemanusiaan berbasis isu gender. Peningkatan ketertarikan terhadap film porno homoseksual perlu dikaji lebih lanjut sebelum mengarah ke kesimpulan yang menyatakan telah meningkatnya kesadaran dan penerimaan masyarakat terhadap homoseksualitas. Selain itu, media juga perlu mengoreksi konstruksi pencitraan homoseksualitas yang selama ini juga masih sering menunjukkan kecenderungan untuk mengedepankan seksualitas dari mereka, di samping eksistensi mereka sebagai individu manusia.