Saya merasa perlu menulis tentang banjir bandang di Batu karena alasan yang sederhana, yakni karena saya lahir dan menghabiskan 24 tahun dari hidup saya di Malang, ada cukup banyak anggota keluarga saya yang tinggal di Batu, dan beberapa hari terakhir orangtua saya mengabari kalau mereka (yang tinggal di dekat perbatasan Malang–Batu) tidak dapat beraktivitas seperti biasanya karena saluran air PDAM di rumah tidak mengalir. Sesederhana itu.

Sampai hari ini saya masih ingat salah satu “guyonan ekologis” yang cukup populer di masyarakat Batu dan Malang, yakni “kalau Batu sampai banjir, berarti dunia sudah akan kiamat”. Logika di balik guyonan itu sederhana saja, karena Batu–yang sampai Juni 2001 menjadi bagian dari daerah administratif Malang–berada di dataran tinggi dan dekat dengan Gunung Arjuno dan Gunung Welirang. Jadi kalau kota yang ada di kawasan pegunungan saja banjir, daerah-daerah di sekitarnya pasti akan terdampak dengan cukup signifikan.

Baca juga: Berkilah Limbah

Guyonan itu memang cukup popular di kalangan masyarakat, dan ada benarnya juga, tapi tentu saja tidak punya kekuatan apapun untuk memengaruhi pengambilan keputusan pemerintah daerah ataupun pemerintah nasional dalam kaitannya dengan pembangunan dan dampaknya terhadap lingkungan. Saya pun menyadari semakin lama semakin jarang yang melontarkan guyonan itu. Pada saat yang sama, semakin gencar pula pembangunan situs-situs destinasi pariwisata di Batu. 

Saat saya masih belum sekolah sampai kira-kira usia sekolah dasar, tempat pariwisata yang cukup rutin kami kunjungi adalah Songgoriti dan Taman Pariwisata Selecta yang sejarahnya dapat ditarik sampai ke zaman Kerajaan Medang. Pada saat itu, saya sering merasa dongkol dengan orangtua saya yang selalu bersemangat mengajak saya dan kakak saya untuk “mencari udara segar” di Batu. Karena kami harus bangun subuh dan berusaha keras menahan dinginnya udara yang terasa menggigit tulang. 

Apalagi kami harus berenang di kolam yang airnya terasa seperti es sampai membuat gigi bergemeletak. Namun seiring berjalannya waktu saya merasa bersyukur sempat mengalami itu semua, sampai akhirnya kami tidak lagi rutin ke sana, khususnya sejak dibukanya Jawa Timur Park 1 yang berbarengan dengan ditetapkannya Batu sebagai kota administratif baru, terpisah dari Malang. 

Baca juga: Indonesia, Bencana, dan Perjanjian Paris

Saya merasa perlu menyebut Jatim Park 1 karena menurut pengamatan saya banyak sekali hal yang berubah sejak dibukanya tempat wisata itu. Jatim Park 1 berhasil menarik perhatian pencari suaka penghiburan dari aktivitas pekerjaan dari kota-kota di luar Jawa Timur. Mereka datang berbondong-bondong ke Batu, memenuhi jalanan dengan kendaraan yang mengeluarkan asap pekat dari knalpotnya, dan menggelontorkan uangnya untuk sekelebat eskapisme. Tentu saja hal tersebut mendorong pemasukan untuk daerah, dan segala hal tentang konservasi lingkungan menjadi pembicaraan selintas saja, jika pernah dibicarakan sama sekali. 

Buktinya kemudian dibangun lebih banyak Jatim Park dan taman wisata lain yang memakan lahan sangat luas, termasuk lahan terbuka tempat tumbuhan dan hewan-hewan hidup. Sejak saat itu, cerita perjalanan ke Batu tidak lagi tentang menahan dinginnya udara, tapi menahan emosi karena jalanan yang dipenuhi mobil-mobil yang menunggu masuk ke tempat parkir taman wisata. Sejuk yang tersisa adalah angin segar proyek pembangunan yang menguntungkan segelintir golongan. 

Baca juga: Bencana 'Alam' Sudah Punah

Lalu bagaimana dengan guyonan yang juga ikut punah bersama pepohonan cemara dan pinus? Saya tidak punya kemampuan dan keinginan untuk meramalkan kiamat atau berakhirnya bumi ini berotasi dan menampung manusia. Namun yang jelas, banjir bandang yang terjadi di Batu harusnya menjadi pengingat kita semua untuk memperlambat langkah, melihat ke belakang, dan mungkin mulai mendengarkan kecemasan masyarakat yang dibalut dalam kata candaan dan tawa getir.