Karena memikirkan rencana tesis yang mau tidak mau akan saya hadapi juga, saya jadi teringat dengan dosen pembimbing skripsi saya yang berambut gondrong, mengajar dengan ‘sesajen’ segelas penuh kopi hitam dan -waktu itu- rokok Magnum, dan senyum juga kata-kata penuh sarkasme. Membahas tentang motif politik dari tindakan sensor terhadap karya sastra, selama masa-masa bimbingan dosen saya itu menjadi tidak lebih sarkasme.

Malah katanya bahasan tersebut pertama kali diangkat di jurusan -yang perlu dan harus diakui terlalu lama terpenjara di dalam bui unsur intrinsik karya- tempat saya menghabiskan beberapa tahun untuk minum kopi, berkasih-kasih, dan menemukan diri; yakni sociology of literature. Terminologi ini merujuk pada bahasan bagaimana novel atau karya sastra diproduksi dan dipublikasikan, beserta implikasi sosialnya. Subjek penelitian yang saya pilih pada saat itu adalah The Grapes of Wrath, salah satu novel klasik Amerika yang paling sering dilarang atau ‘diserang’ sejak pertama kali diterbitkan pada tahun 1939.

Jujur saja saya memang senang dengan apa yang sudah saya lakukan selama proses penelitian berbasis studi pustaka tersebut, karena secara nomenklatur jurusan saya bukan ilmu sejarah atau ilmu sosial, namun secara langsung ketertarikan saya dalam kedua bidang tersebut -ditambah dengan ilmu bahasa dan sastra- tertuang di dalam karya tersebut. Namun dalam tulisan ini saya akan membahas apa yang dikatakan oleh Terry Eagleton sebagai ‘level berikutnya’ dari sociology of literature, yakni kritik sastra Marxisme.

Tentu istilah Marxisme bukan lagi sesuatu yang asing di telinga atau pengetahuan masyarakat umum, baik pemahamannya bersifat objektif secara keilmuan atau tidak. Namun sepertinya tidak terlalu banyak yang pernah mengetahui tentang kritik sastra Marxisme, yang dianggap melebihi sociology of literature karena selain membahas bagaimana suatu karya sastra diproduksi, kritik sastra Marxisme juga mempertanyakan apakah karya tersebut menyebut tentang keberadaan kelas pekerja. Tujuan dari diskursus ini adalah mencari ‘tendensi’ politik dari suatu karya sastra; menjelaskan karya sastra secara lebih mendetail dalam hal bentuk, gaya dan makna; dan menentukan apakah bentuk penyampaian atau isi dari karya tersebut bersifat progresif secara sosial.

Menurut sejarahnya, walaupun Marx dan Engels mulai menuangkan gagasannya tentang konsep teori Sosialisme secara mendetail pada pertengahan abad 19, Teori Sastra Marxisme baru tersistematisasi pada 1920an, tepatnya setelah Revolusi Oktober Rusia tahun 1917. Sebagai konsekuensinya, nilai ideal sastra di Rusia dan Eropa pun menganggap realisme sosialisme sebagai tingkat yang paling unggul.

Dasar dari badan analisis kritik sastra Marxisme adalah bahwa karya sastra tidak lain merupakan produk sejarah yang bisa dianalisis dengan melihat kondisi sosial dan material di mana karya tersebut diproduksi. Secara substansial, prinsip ini berkaitan erat dengan pemikiran Marx yang tertuang dalam Capital: ‘mode produksi kehidupan material menentukan proses kehidupan sosial, politik, dan intelektual. Bukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaan mereka, tapi justru sebaliknya, keberadaan mereka sebagai makhluk sosial yang menentukan kesadaran mereka’. Dalam kata lain, situasi sosial penulis menentukan karakter yang akan dituliskannya, aspek politik dan sosial yang akan ditunjukkannya dalam suatu karya.

Menurut konsep ini, sastra memiliki hubungan dialektik dengan konteks sosialnya sebagai media untuk menyampaikan protes. Sehingga banyak pula pemikir Marxis yang menganggap bahwa sastra merupakan bagian dari seni yang bisa dijadikan sebagai suatu media pemberontakan revolusioner bagi kelas tertindas. Disamping itu, bagi kritikus Marxis, hubungan antara sastra dan ideologi, bentuk dan isi, representasi dan realitas, teks dan konteks tidak bisa dipisahkan 1

Dan jika saya memberanikan diri untuk berpendapat dan menjawab pertanyaan kenapa jurusan -tempat saya pernah menghabiskan beberapa tahun untuk minum kopi, berkasih-kasih, dan menemukan diri- terkungkung dalam penjara unsur intrinsik adalah karena kurangnya pengetahuan yang coba digali oleh peserta didik, padahal sumber bacaan bisa digapai dengan cukup mudah. Sehingga pembahasan tentang kritik sastra Marxisme pada tulisan ini yang sedikit namun gratis dan sangat mudah disebar ini semoga bisa menjadi bom peledak ruang kreativitas berpikir yang terkungkung.

  1. W. Herlambang, Kekerasan Budaya Pasca 1965, 2013, Tangerang: Marjin Kiri