Kembalinya Rizieq Shihab ke Indonesia, seperti yang telah diperkirakan oleh sejumlah pihak, akan menimbulkan intrik lain dalam sejarah sepak terjangnya sebagai pemimpin kelompok berbasis agama, Front Pembela Islam. Pemberitaan yang mengabarkan Rizieq memutuskan untuk menyerahkan diri ke polisi setelah dinyatakan sebagai tersangka dalam pelanggaran aturan terkait upaya menekan penyebaran virus COVID-19 pun ditanggapi beragam oleh publik masyarakat.

Beberapa orang menganggap penyerahan diri Rizieq tidak lebih dari strateginya untuk mencari perhatian dan dukungan publik. Ia seakan-akan ingin memunculkan dirinya sebagai seseorang yang telah merundukkan egonya, citraan yang berbeda jauh dengan yang selama ini dikenal. Sementara itu, di sisi lain, masyarakat juga menyimpan ketakutan terkait respon yang akan diberikan oleh pendukungnya jika Rizieq benar-benar menjadi tahanan kepolisian.

Pendapat publik tersebut tentu sah-sah saja berkembang, karena tentu kita semua sudah familiar dengan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh pendukung Rizieq, khususnya dengan merebut ruang-ruang dan fasilitas-fasilitas publik untuk kepentingan kelompok mereka sendiri. Tetapi agaknya bagaimana pun, pembelaan (baca: perjuangan) yang ditorehkan oleh para pendukung Rizieq tidak bisa dilepaskan dari permainan retorika pemimpin kelompok tersebut dalam mempengaruhi pemikiran dan keputusan para pengikutnya.

Baca juga: Tunduk terhadap Kelompok Fundamentalis (?)

Kemauan pendukung Rizieq untuk berkumpul dalam jumlah banyak di tengah masa pandemi sejujurnya mengingatkan saya pada umat People’s Temple di bawah pimpinan Jim Jones yang tergerak meninggalkan rumah mereka dan pindah ke Guyana untuk hidup dalam satu tatanan masyarakat baru. Di sana mereka bekerja untuk mengembangkan Peoples Temple Agricultural Project, atau yang lebih dikenal dengan nama Jonestown, dengan melakukan kerja bercocok tanam dan memelihara binatang ternak.

Peoples Temple of the Disciples of Christ, atau Peoples Temple, merupakan salah satu gerakan agama baru di Amerika Serikat yang berkembang selama tahun 1955 sampai 1978. Pesan atau ajaran yang disebarkan oleh gerakan tersebut merupakan kombinasi dari paham Kristiani, komunisme, dan sosialis, dengan menekankan pada kesetaraan ras. Gagasan yang ditawarkan Jim Jones sebagai pemimpin gerakan tersebut terasa seperti angin segar bagi masyarakat Amerika Serikat yang pada saat itu sedang menghadapi gencar-gencarnya perang komunisme, isu Perang Vietnam dan segregrasi ras antara kulit hitam dan kulit putih. Dalam waktu yang cukup singkat, Peoples Temple mendapatkan banyak massa yang sebagian besar merupakan masyarakat marjinal dalam konteks Amerika Serikat pada saat itu.

Publik Amerika Serikat dan internasional sempat terkejut saat Jim Jones menyatakan akan melakukan migrasi ke Guyana pada 1973. Diberitakan sejumlah orang tua tidak setuju dengan kepindahan anaknya yang tergabung dalam kelompok tersebut. Pada saat yang sama, Jim Jones juga mulai dikenal sebagai pemimpin sekte, bukan lagi layaknya pastor atau romo pada biasanya. Jim Jones meyakinkan para pengikutnya bahwa kepindahan ke Guyana akan mengakhiri penderitaan mereka setelah selama ini hidup di Amerika Serikat sebagai masyarakat yang marjinal.

Jim Jones dan petinggi organisasi tersebut menutup rapat pemberitaan keluar dari Jonestown, sehingga tidak banyak yang mengetahui seperti apa kehidupan yang dijalani pengikut Peoples Temple di Guyana. Bahkan pemerintah Amerika Serikat sempat kesulitan untuk menggali informasi terkait aktivitas kelompok tersebut di basis mereka yang baru, karena otoritas setempat menolak kedatangan mereka, juga organisasi-organisasi kemanusiaan.

Baca juga: Kekariban Agama dan Kekuasaan

Sampai akhirnya pada 1978, masyarakat kembali terperanjat setelah mendengar kabar Jim Jones menginisiasi tindakan bunuh diri massal para pengikutnya dengan racun sianida yang dicampur dalam air mineral. Sejumlah 918 orang tewas di kawasan pemukiman, di bandara, dan di gedung yang dikelola Peoples Temple di Georgetown–ibu kota Guyana. Penuturan korban selamat dan rekaman suara menunjukkan bahwa Jim Jones menggerakkan pengikutnya untuk meminum larutan racun dengan propaganda “bunuh diri revolusioner”, dan melakukannya akan menyelamatkan mereka dari dunia yang telah mengalienasi mereka.

Setelah dianggap semua pengikutnya sudah mendapatkan jatah racun mereka, dan meminumnya, Jim menyusul dengan menembakkan sebuah pistol tangan di pelipisnya.


Kembali ke kasus Rizieq dan para pengikutnya, memang sepertinya belum ada peneliti atau pengamat yang menyatakan kelompok tersebut sebagai kultus. Meskipun begitu, rasanya hubungan yang terjalin antara Rizieq dengan anggota kelompok agama tersebut bisa dikatakan telah melebihi hubungan yang umumnya terjalin antara guru dengan murid atau pemimpin dengan anggota organisasi. Dan (mungkin) Rizieq juga tidak pernah terpikir untuk memindahkan massanya ke sebuah tempat atau pulau yang jauh dari Indonesia untuk membangun komunitasnya sendiri. Tetapi seperti yang saya sempat sebut di awal, kerelaan dan kemauan pendukungnya untuk berkumpul dalam jumlah banyak saat mereka semua mengetahui konsekuensi terpapar virus yang dapat mengakibatkan kematian, adalah suatu hal yang agaknya perlu ditinjau lebih lanjut.

Pemimpin kelompok agama, terutama yang berorientasi pada eksklusivitas, kebanyakan memainkan kecemasan dan ketakutan sebagai amunisi untuk menggalang massa. Dengan menggarisbawahi gagasan “kesengsaraan bersama”, pemimpin kelompok agama muncul dan terus menerus mengolah pencitraannya sebagai sosok pendengar, pemberi perhatian, dan pada akhirnya, penyelamat.

Baca juga: (Mungkin) Kita Semua adalah Penganut Kultus

Setelah mencengekeram kepercayaan massanya, mereka terus memanfaatkan rasa takut tersebut dengan retorika yang biasanya berisi janji-janji keilahian yang tidak dapat dirasakan hasilnya saat ini atau dalam waktu dekat. Hasil yang hanya dapat diperoleh di masa mendatang tersebut terpatri sebagai harapan dalam benak pengikut kelompok, yang kemudian direspon kembali oleh pemimpin kelompok dengan membentuk keyakinan bahwa hanya dengan terus berada di bawah naungan kelompok tersebutlah mereka akan mendapatkan hasil dari perjuangan dan kesetiaan mereka.

Retorika biasanya disusun tanpa dasar pemikiran analitik dan sangat dibumbui oleh kepentingan individu atau kelompok yang membuat dan menyampaikannya. Selanjutnya, karena aspek mental dari para pengikut telah berhasil dikuasai, retorika tersebut dapat diterima dengan cukup mudah, bahkan pada beberapa kasus sangat mudah–meruntuhkan logika dan mempengaruhi keputusan-keputusan yang diambil.

Dalam hal ini, dan dengan berkaca pada apa yang terjadi Peoples Temple dengan Jim Jones sebagai pemimpinnya, agaknya kita perlu mulai menyikapi tindakan Rizieq tidak hanya semata sebagai perebut ruang-ruang dan fasiilitas-fasilitas publik atau fenomena kebangkitan populisme agama setelah runtuhnya pemerintah otoriter, tetapi juga strategi yang dilakukannya untuk menambah dan mempertahankan basis massanya.