Saya sebenarnya sudah cukup lama ingin membahas fenomena ini ke dalam tulisan, namun sempat berpikir berkali-kali sebelum akhirnya memutuskan untuk benar-benar menjadikannya suatu teks. Pertimbangan tersebut berhubungan dengan refleksi terhadap diri saya sendiri sebagai seorang mahasiswa yang walaupun kritis tapi tidak mau menjadi polisi moral. Tapi kemudian saya menemukan sebuah jalan tengah kesimpulan yang meyakinkan saya sendiri bahwa tulisan ini bukan tentang moralitas, namun hubungannya dengan intelektualitas mahasiswa.


Dari judul para pembaca pun pasti bisa paham bahwa yang ingin saya bahas adalah fenomena budaya masa kini di mana banyak mahasiswa yang ingin menjadi dikenal di dunia maya. Saya sendiri harus mengakui bahwa saya pun adalah seorang mahasiswa yang aktif menggunakan media sosial dengan frekuensi penggunaan yang bisa dibilang cukup tinggi. Namun terdapat suatu perbedaan mendasar dalam tujuan penggunaan media sosial tersebut yang pada akhirnya menimbulkan kegelisahan dalam benak saya.

Dan saya pun paham benar bahwa banyak dari kawan sesama mahasiswa yang akan mengernyitkan dahi tanda tidak setuju. Bahkan saya akan lebih ‘dinyinyiri’ daripada apa yang bisa saya tulis di sini. Dan nanti juga pasti ada yang berkata “suka-suka saya dong mau ngapain”. Tapi kesemuanya sebenarnya sah-sah saja, ini hanya tentang kemauan untuk menjadi sadar atau tidak. Sesederhana itu.

Mau dikata sebuah kampus memiliki akreditasi kurang atau kualitas pendidikannya di bawah rata-rata, terdapat sebuah anggapan umum yang menyatakan bahwa mahasiswa merupakan bagian dari elit intelektual. Anggapan tersebut bahkan sempat dibentuk oleh pemikir Frankfurt School yang mengkritik kenaifan Marx tentang revolusi proletar. Marx semasa hidupnya sangat yakin bahwa proletar yang menduduki kelas sosial masyarakat bawah dan tertindas memiliki suatu kekuatan untuk meruntuhkan struktur bentukan kelas pemilik modal dan pengendali kuasa, karena jumlahnya jauh lebih besar dibandingkan kelas borjuis. Sehingga gerakan sosial kaum proletar harus dilakukan oleh sekelompok buruh untuk mencapai demokrasi proletar yang pada akhirnya akan mengangkat status ekonomi dan sosial mereka yang sebelumnya termarjinalkan.
Namun para pemikir Frankfurt School beranggapan bahwa mempercayakan suatu revolusi bentuk negara dan kemasyarakatan merupakan hal yang kurang tepat. Dibutuhkan satu kelas lain yang berada di posisi tengah, bukan pemilik modal atau tuan tanah, dan bukan juga buruh pabrik atau buruh tani. Yang dimaksudkan adalah kaum elit intelektual, yakni mahasiswa, pengajar, peneliti, akademisi, guru besar, dan orang-orang lain dalam lingkaran tersebut. Mencoba mematahkan pendapat utopis Marx, pemikir Frankfurt School menganggap bahwa kaum proletar yang secara umum kemampuan keilmuannya rendah, tidak akan mampu mengemban tugas seberat revolusi sistem kuasa. Diperlukan pemikir-pemikir dari bangku kuliah untuk mengumpulkan dan menggerakkan massa dengan strategi yang lebih manis untuk mencapai tujuan gerakan revolusi.
Terlepas dari benar tidaknya anggapan bahwa kaum proletar saja tidak bisa meruntuhkan struktur kuasa kelas borjuis, namun saya rasa pendapat bahwa mahasiswa sebagai anggota kelas elit intelektual memilki peran yang penting dalam perkembangan negara cukup benar adanya. Secara umum, ilmu yang diperoleh mahasiswa lebih mendalam pada subjek atau bidang tertentu. Selain itu, mahaiswa bukan lagi pelajar yang dipaksa untuk menghafal rumus atau teori saja, namun juga berpikir kritis dan kreatif terutama dalam melihat fenomena yang ada di sekitarnya.
Fenomena selebgram yang naik dengan begitu cepat akhir-akhir ini ternyata, yang menarik, tidak mampu dikritisi secara intelektual oleh beberapa mahasiswa. Malah yang terlihat adalah indikasi krisis kebudayaan di mana anggota masyarakat tertarik mengikuti arus besar dan kehilangan kemampuannya untuk berpikir ‘waras’. Mudahnya adalah ikut-ikutan tren. Kemunculan akun-akun seperti ‘nama kampus’ diikuti dengan ‘cantik’, ‘hits’, ‘seksi’, ‘ganteng’, ‘gondrong’, benar-benar menganggu pikiran saya. Terlebih saat mengetahui banyak mahasiswa baik yang saya kenal langsung atau pun tidak, merasa ada suatu kebutuhan untuk mengunggah foto diri untuk kemudian ditandai dengan akun tersebut agar diunggah atau disebarkan ulang.
Paling tidak ada dua alasan mendasar yang mengganggu pikiran saya. Yang pertama adalah manfaat dari kegiatan tersebut. Sejak kemunculan media sosial, saling membagi berita, opini, tulisan, gambar, dan bentuk-bentuk informasi lain menjadi terlampau sangat mudah. Saya dalam hal ini tidak akan membahas fenomena berita bohong yang juga menjadi permasalahan laten lain dalam etika masyarakat informasi teknologi. Namun jika aktivitas membagi berita atau opini melalui media sosial dapat paling tidak membantu persebaran suatu kabar dan informasi, saya tidak menemukan hal yang sama dengan jika saya mengunggah foto saya dan menandainya dengan akun sampah di balik nama institusi agar diunggah ulang. Hal yang sama saat saya membuka akun-akun tersebut. Biasanya mencantumkan nama, fakultas, dan jurusan, sebagai identitas dari orang yang foto wajahnya terpampang di situ. Tidak ada informasi berguna yang saya dapatkan dari sana, secara seksual pun libido saya tidak tiba-tiba naik karena melihat foto-foto mereka itu. Lalu apa?
Kenapa para mahasiswa itu melakukan hal yang secara substansial kurang atau bahkan tidak berguna? Jika mungkin motif di balik itu semua adalah keinginan untuk diakui, semendesak itukah kebutuhan untuk diakui sebagai cantik dan ganteng sebagai mahasiswa? Sekali lagi sebagai mahasiswa yang notabene nilainya diukur dari kemampuan berpikir dan keahlian?
Alasan kedua yang mengganggu benak saya adalah ketumpulan pemikiran beberapa mahasiswa itu untuk berpikir secara kritis terhadap fenomena ini. Mahasiswa sering membanggakan status yang mereka miliki karena masuk ke dalam satu kelas elit tertentu, yang membedakan mereka dari siswa sekolah, pekerja, atau politisi. Kebanggaan itu dilegitimasi oleh gelar, kemampuan intelektual, kemampuan ekonomi, dan bahkan kesempatan karir yang bisa lebih baik. Namun di balik kebanggaan yang terlegitimasi tersebut, beberapa dari mereka terseret ke dalam kebutuhan untuk menjadi ‘eksis’ dengan bantuan media sosial. Muncul kengerian dalam benak saya saat menyadari mereka mau-maunya menjadikan diri mereka seperti komoditas yang hanya dinilai menurut penampilan fisik saja. Akun-akun sampah itu menjadi layaknya katalog barang kebutuhan yang menampilkan komoditas yang mereka ‘jual’ yang bisa diberi tanda ‘suka’ atau diberi komentar mulai yang netral sampai yang seksis.
Mengapa para mahasiswa itu tidak berpikir sejauh itu sebelum mengunggah foto diri dan menandainya pada akun-akun sampah itu untuk disebarkan ulang? Mengapa tidak terpikirkan oleh mereka bahwa itu bukan sekedar gaya hidup masa kini yang membuat mereka diakui, namun juga sebuah budaya populer yang mereduksi nilai mereka sebagai kaum intelektual?
Rasanya menggelikan dan mengerikan untuk menyadari bahwa mereka yang punya legitimasi sebagai elit intelektual tidak mampu menangkal dirinya sendiri dari gejala krisis kebudayaan. Seakan-akan kita bisa dengan mudah membuat kesimpulan, bahwa revolusi kini pun tidak bisa ditugaskan atau diamanatkan kepada mahasiswa. Karena mereka menikmati menjadi anggota masyarakat yang terseret arus, bahkan bangga jika nilainya tereduksi oleh tindakan mereka sendiri. Paradoks pencarian eksistensi dan reduksi nilai ini mungkin tidak akan menjadikan suatu institusi pendidikan turun akreditasinya atau turun peringkatnya, namun dalam hemat saya akan menurunkan kredibilitas kaum elit intelektual sebagai ujung tombak pergerakan yang berpihak pada rakyat.