Setelah menjadi perbincangan (baca: perdebatan) di antara para pengguna media sosial, wajah dari tokoh utama film Tilik, Bu Tedjo, semakin mudah ditemukan di jagat internet dalam bentuk meme dan stiker. Beberapa perbincangan kebanyakan menempatkan Bu Tedjo–yang di film tersebut menjadi penyulut pergunjingan–sebagai bahan pembicaraan, mulai dari cara berbicaranya, ekspresi dan mimik wajahnya, dan tentu dialog-dialog yang disampaikan. Namun tulisan ini saya tujukan untuk Mbak Dian, tokoh yang dibicarakan di sepanjang film tersebut.

Mbak Dian, kamu bukan tokoh perempuan pertama dalam karya fiksi yang karakternya dibentuk melalui persepsi dan dialog tokoh-tokoh lain. Naskah drama Fatimah! yang ditulis oleh Hoesin Bafagih pada 1938 dirayakan sebagai salah satu karya sastra yang mengangkat budaya kelompok masyarakat Hadrami di Indonesia adalah contoh yang sesuai untuk strategi kontruksi penokohan seperti yang kamu alami di film Tilik.

Yah, meskipun kamu tidak muncul di ujung cerita di dalam keranda layaknya Fatimah, namun kehadiranmu di akhir film juga tidak memberikanmu kesempatan untuk mendefinisikan siapa dirimu sebenarnya. Kamu seperti tokoh yang ada, pembicaraan tentangmu menggerakkan alur cerita, namun kuasamu dimatikan.

Alangkah herannya saya mengapa para pembaca teks itu tidak ingin mengenalmu lebih lanjut. Baiklah, Bu Tedjo memang memiliki karakter yang kuat, dan di zaman sekarang ini terkadang menjadi trending topic dan pembahasan di status media sosial itu lebih berharga dari penghargaan-penghargaan.

Baca juga: Pertentangan Tagar dan Dasar

Dan kamu, Mbak Dian, sekali lagi diam (baca: didiamkan) di tengah keriuhan istilah dan pemikiran yang bertebaran dan berseliweran dengan cepat; representasi, stigmatisasi, budaya kolektif, relasi kota-desa, blah, blah, blah. Lalu saya menjadi berpikir, keberadaanmu tidak hanya dipinggirkan dalam film tersebut, namun juga di kalangan penonton.

Oleh karena itulah saya tidak akan mengulang hal-hal yang telah diperbincangkan dan diperdebatkan melalui kolom komentar di media sosial. Saya lebih tertarik untuk berbicara dengan Mbak Dian, yang sudah didiamkan dalam dua ruang: intrinsik dan ekstrinsik karya.

Iya, saya tahu bahwa praktik stigmatisasi yang dimunculkan dalam film itu memang masih terjadi, dan sebenarnya tidak hanya dalam lingkungan masyarakat pedesaan dan di antara ibu-ibu berjilbab yang menjadikan pengajian sebagai kegiatan rutin mereka. Bahkan dalam lingkaran-lingkaran penduduk kota yang digadang-gadangkan sudah lebih kritis, pergunjingan semacam itu masih sangat mudah didapati. Tapi pertanyaan saya adalah mengapa film tersebut masih menggunakan strategi tekstual yang semacam itu?

Mengapa di zaman seperti ini yang katanya sudah banyak orang melek dengan gagasan-gagasan revolusioner feminisme, kamu tidak dimunculkan sebagai karakter yang berani melawan stigma? Alih-alih di akhir cerita, penonton seakan dibuat percaya dengan semua tudingan Bu Tedjo yang sesekali didukung oleh beberapa ibu yang lain melalui interaksimu dengan (mantan?) suami bu lurah. Apakah memang tidak ada cara lain untuk mengangkat situasi masyarakat kita yang masih menjadikan nilai dominan sebagai kebenaran absolut di dalam karya fiksi?

Baca juga: Perploncoan Perempuan Lintas Generasi

Mbak Dian, (sayangnya) kamu tidak sendirian. Kamu adalah citraan yang berulang dalam perjalanan dan perkembangan “dunia kreatif” yang ternyata masih mempertahankan strategi teks usang. Lalu apakah bentukanmu yang serupa akan terus muncul di karya-karya lain dan kamu akan terus menerus tidak sendirian?

Dan apakah para pemikir hebat yang meluangkan waktu untuk menulis di status media sosial mereka masih akan terus mengkritik masyarakat luas yang direpresentasikan dalam karya tanpa memerhatikan hal-hal subtil seperti keberadaanmu dalam cerita? Mungkinkah kamu akan terus tidak sendirian?