Dengan mudahnya kita mengakses informasi saat ini, semakin mudah juga hegemoni dibentuk, terutama oleh mereka yang memegang kekuasaan. Baru-baru ini saya ingat penjelasan Kiki Syahnakri di Simposium Nasional bertema “Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan PKI”. Saat ditanya oleh wartawan tentang perbedaan komunisme, Marxisme, Leninisme; berikut penjelasannya:

“Kalau Anda benar-benar baca Marxis, jelas-jelas kok itu ateisme. Sekarang Marxis dari mana? Dia dapat materialisme dialektika dari mana? Itu kan dari Aristoteles. Jadi Marxis itu Aristoteles. Materialisme dialektika yang dijelaskan dia (Aristoteles) tidak percaya alam semesta ada yang menciptakan. Pikiran-pikiran Plato tentang alam semesta, dia tidak percaya alam semesta ada yang menciptakan, tapi jadi dengan sendirinya. Barulah kemudian berdialektika menimbulkan ide-ide materialisme dialektika. Itu jelas loh ateis karena tidak percaya adanya Tuhan.” [1]

Kemudian saya tiba-tiba merinding, membayangkan kalau berita itu dibaca oleh anak sekolah melalui laptop, telepon genggam, atau koran; lalu penjelasan itu terpatri dalam pikirannya hingga terbawa sampai dia dewasa, salah kaprah yang terpelihara. Dan dia pun akan berkawan dengan yang harusnya ditentang dan melawan yang harusnya dibela. Sehingga dibutuhkan penjelasan teori yang benar, obyektif dan sesuai. Berikut tentang materialism dialektika, jadi apakah benar teori ini menimbulkan gagasan ateisme seperti kata Kiki?

 

Filsafat Materialisme Dialektik

            Sebelum masuk ke dalam pembahasan ideologi materialisme dialektik yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat, kita perlu memasuki pintu gerbang dari ideologi tersebut, yakni filsafat. Filsafat dilahirkan dari pikiran-pikiran yang hidup di dalam perjuagan manusia sehari-hari untuk mempertahankan dan mempertahankan dan memperbaiki kehidupannya dan mempertinggi martabat kehidupannya. Pikiran filsafat mencerminkan kenyataan-kenyataan khusus dan konkret, bersifat hakiki, umum, dan abstrak. Dan ilmu filsafat adalah studi tentang hubungan antara pikiran manusia dan keadaan sekelilingnya, antara dunia subyektif dan dunia obyektif.

Sudah tentu banyak persoalan di dalam hubungan pikiran dan keadaan di sekelilingnya. Tetapi yang paling pokok adalah antara pikiran dan keadaan – antara ide dan materi, mana yang lebih dulu?

Bagi mereka yang berpendapat bahwa pikiran atau ide ada terlebih dulu atau primer, dan keadaan atau materi adalah sekunder karena dilahirkan atau ditentukan oleh pikiran, maka tergolong dalam kubu idealisme. Sebaliknya yang berpendapat bahwa keadaan atau materi itu primer dan pikiran atau ide itu sekunder, tergolong dalam kubu materialism. Dua kubu besar filsafat itu, sejak dulu sampai sekarang berlawan satu sama lain dalam segala pandangannya.

Sepanjang sejarahnya, umumnya materialism selalu mewakili pandangan kelas yang maju, sedangkan idealism mewakili dunia kelas yang reaksioner. Ketika borjuasi Eropa melawan kekuasaan feodalisme, mereka mengangkat materialism sebagai senjata ideologi, misalnya borjuasi Perancis yang mengibarkan materialism tinggi-tinggi pada abad ke 18 menjelang revolusi Perancis (1789).

Kini materialism umumnya menjadi senjata ideologi kelas dan rakyat revolusioner dalam perjuangan demokrasi dan kebebasannya, dan idealisme menjadi senjata ideologi kelas dan penguasa yang reaksioner dan kontra revolusioner.

Latar belakang sejarah kelahiran Materialisme Dialektik

Materialisme dialektik bersumber pada filsafat Jerman abad ke 19. Pada abad ke 19, kapitalisme mulai berkembang di Jerman, kaum borjuis Jerman berada di bawah telapak kekuasaan feodalisme; kaum Jongker. Sedangkan di Inggris, Perancis, dan negeri-negeri barat Eropa, kapitalisme sudah berkembang maju, dan borjuasinya sudah berhasil menumbangkan kekuasaan feodalisme dan menjadi kelas yang berkuasa.

Untuk membela dan mengembangkan kepentingannya, untuk memperjuangkan pembebasannya dari kekangan dan tekanan kekuasaan feodalisme, kaum borjuis Jerman membutuhkan suatu senjata ideologi yang mampu memberikan bimbingan dan pimpinan dalam perjuangan itu. Filsafat klasik Jerman pada abad ke 19 itu justru merupakan proses perkembangan dari perjuangan untuk mendapatkan senjata ideologi itu.

Dalam batas-batas tertenu, perjuangan kelas di Jerman antara kaum feudal dan kaum borjuis kala itu, berlangsung lebih berat disbanding sebelumnya di Inggris dan Perancis. Di Jerman, baik kaum feudal yang berkuasa maupun borjuis yang dikuasai, masing-masing telah dapat menarik pelajaran dari pengalaman sejarah perjuangan kelas di Inggris dan Perancis.

Sementara itu, perkembangan kapitalisme secara tidak terhindarkan melahirkan suatu kelas baru, kelas proletar yang semakin tumbuh besar dan perkasa, musuh utama borjuasi dalam masyarakat kapitalis. Gerakan-gerakan kaum buruh yang sudah mulai bangkit di Inggris, Perancis, dsb juga mempengaruhi alam pikiran kaum borjuis di Jerman.

Disamping itu, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesar karena dorongan perkembangan kapitalisme pada ketika itu, ikut mempengaruhi perkembangan pikran. Dalam situasi itu, kaum borjuis Jerman pada satu pihak berkepentingan menumbangkan kekuasaan feodalisme untuk mengembangkan kapitalisme, tapi pada pihak lain mereka juga mengkhawatirkan ancaman kebangkitan kelas proletar, sehingga hal ini memunculkan keraguan dalam benak meeka. Ini tercermin pada filsafat klasik Jerman abad ke 19, mulai dari Hegel yang dialektik tapi idealis, sampai Feuerbach yang materialis tapi mekanis dan tidak konsekuen. Kedua tokoh tersebut sangat erat hubungannya dengan kelahiran materialism dialektik.

Hegel sangat berjasa dalam membuat ide-ide dialektik menjadi sistem yang dikenang sepanjang sejarah filsafat. Ini merupkan segi progresif dari filsafatnya, tapi dialektika Hegel kala itu berdasarkan pada idealisema. Ini merupakan segi reaksionernya. Menurut Hegel, gejala-gejala aalam dan gejala-gejala sosial perwujudannya berasal dari “gagasan absolut” yang senantiasa bergerak dan berkembang. Marx berpendapat bahwa dialektika Hegel itu berjalan dengan kaki di atas dan kepala di bawah, terjungkir balik.

Filsafat Feuerbach adalah filsafat materialism mekanik yang pernah menjadi senjata ideologi kaum borjuis Perancis dalam revolusinya pada abad 18. Feuerbach juga yang berani menghidupkan kembali materialism dan mengibarkannya di tengah lautan idealism yang menguasai seluruh Eropa pada saat itu. Dengan materialisme yang terbatas itulah Feuerbach mengkritik agama yang berkuasa pada saat itu, dia mau menciptakan agama baru di atas bumi yang nyata, bukan di awang-awang. Ini justru mencerminkan tidak konsekuennya pandangan materialis Feuerbach.

Marx secara kritis mengubah dialektika Hegel yang idealis menjadi materialis, dan materialism Feuerbach yang mekanik (non-dialektik) menjadi dialektik. Dengan demikian terbentuklah suatu sistem filsafat Materialisme-Dialektik. Berdasarkan filsafat tersebut, Marx mengadakan penyelidikan dalam bidang sejarah, menelaah sejarah perkembangan masyarakat manusia, maka lahirlah materialism histori atau pandangan sejarah materialis. Menurut materialisme histori Marx, masyarakat berkembang menurut hukum-hukumnya, dan tidak dapat ditentukan oleh ide atau kehendak seseorang atau segolongan orang. Dan menurut hukum perkembangan masyarakt yang obyektif ini, terutama hukum-hukum yang menguasai perkembangan masyarakat kapitalis, Marx menyimpulkan bahwa masyarakat kapitalis pasti akan diganti oleh masyarakat yang lebih maju, yaitu masyarakat sosialis. Ini adalah suatu keharusan sejarah. Dan keharusan sejarah ini akan diwujudkan, dan hanya dapat diwujudkan oleh proletariat.

[1] https://m.tempo.co/read/news/2016/06/02/078776181/kuliah-kiki-syahnakri-di-jumpa-pers-marxisme-itu-aristoteles

(bersambung ke Memaknai Ideologi: Materialisme Dialektik (Bagian II))