Setelah pada bagian sebelumnya kita membahas tentang filsafat dasar dan latar belakang perkembangan Materialisme Dialektik, tulisan kedua dari seri Memaknai Ideologi: Materialisme Dialektik ini akan membahas hukum dan metode dari teori ini.

Dunia obyektif

Sama seperti filsafat materialis lainnya, materialisme dialektika mengakui bahwa materi atau keadaan (being) adalah primer, dan ide atau pikiran adalah sekunder.Penjelasannya adalah seperti ini: pertama, suatu ide atau pikiran mesti dilahirkan oleh suatu materi yang dinamakan otak. Tanpa otak tidak akan ada ide atau pikiran. Kedua, menurut isinya, sesuatu ide mesti merupakan pencerminan dari kenyataan obyektif atau materi, seabstrak apapun materi tersebut.

Materi yang dimaksud di sini tidak hanya benda, tapi juga segala sesuatu yang adanya secara nyata (riil), dapat ditangkap oleh alat-alat indera kita, dapat dilihat, didengar, dicium, diraba dan dirasakan. Dengan kata lain adalah segala sesuatu kenyataaan yang riil dan konkret.

Selain itu, hal yang mendasar adalah bahwa materialisme dialektik mengakui materi atau kenyataan obyektif itu berada di luar kesadaran subyektif kita, artinya adanya sesuatu materi tersebut tidak ditentukan oleh kesadaran atau pengetahuan kita. Contohnya adanya pengah resesi dunia kapitalis dalam kehidupan ekonomi kita, kita menyadari atau tidak, kenyataan itu tetap ada dan berlaku.

Selanjutnya, materialisme dialektik berpendapat bahwa dunia materiil atau kenyataan obyektif itu merupakan suatu kesamaan organik, artinya setiap gejala dan peristiwa yang terjadi di dunia sekeliling kita ini tidak berdiri sendiri, namun memiliki saling-hubungan satu sama lainnya. Oleh karena itu, “sesuatu gejala bisa dimengerti dan diterangkan kalau dipandang dalam hubungannnya dengan keadaan-keadaan yang tidak terpisahkan dengan gejala-gejala di sekelilingnya, sebagai segala yang ditentukan oleh gejala-gejala di sekitarnya.”

Hukum dialektika dan metode dialektika

Dunia materiil atau dunia obyektif itu selalu dalam keadaan bergerak dan berkembang, baik kita menyadarinya ataupun tidak. Pandangan inilah yang kita sebut dengan pandangan dialektika-materialis. Secara mendasar pandangan ini berlawanan dengan dialektika-idealis yang melihat dunia kenyataan sekeliling kita ini tidak lain adalah perwujudan atau penjelmaan ‘ide absolut’.

Adapun gerak dan perkembangan dunia kenyataan obyektif itu tidak digerakkan oleh sesuatu kekuatan yang ada di luarnya, dan bentuk geraknya tidak terbatas pada gerak mekanis, melainkan digerakkan oleh kekuatan yang ada dalam dirinya sendiri. Bentuk dari gerak itu juga tidak terbatas, termasuk gerakan mekanis ataupun gerak alam dalam pikiran kita.

Gerak dan perkmbangan obyektif itu memiliki hukumnya sendiri-sendiri. Dan hukum-hukum yang menguasai gerak dan dunia kenyataan obyektif (materiil) itulah yang dinamakan dengan hukum-hukum dialektika. Oleh karena itu, hukum-hukum dialektika adalah hal yang obyektif, artinya baik kita menyadari atau tidak, hukum-hukum itu ada (eksis) dan tetap berlaku.

Kemudian, metode dialektika adalah cara atau metode memandang, menyelidiki dan menganalisis segala sesuatu atau hal-hal konkret yang kita hadapi, dengan menggunakan dasar hukum-hukum dialektika yang berlaku secara obyektif.

Dalam pengaplikasiannya, jika hendak memecahkan permasalahan konkret dengan menggunakan hukum dialektika, maka dengan sendirinya kita tidak bisa memecahkan atau menyelesaikan permasalahan tersebut. Hukum umum dialektika bukanlah resep yang mujarab untuk semua penyakit, melainkan hanya merupakan pedoman untuk mengenal hal atau persoalan yang konket. Oleh karena itu guru-guru besar revolusioner seperti Marx, Engels, Lenin, Stalin, dan Mao Tse Tung selalu menasehati kita: “jangan banyak bicara umum dan abstrak, tetapi pecahkan sesuatu hal secara khusus dan konkret.”

 

—bersambung—