Pertama saya ingin menjelaskan kepada pembaca bahwa sebenarnya saya tidak ingin menyebut diri sendiri sebagai seorang peneliti. Gelar pekerjaan tersebut terasa begitu berat untuk dijadikan identitas saya saat ini yang masih seorang pembelajar dengan begitu banyak ketidaktahuan. Namun perjalanan saya di bidang akademik, atau lebih tepatnya sebagai pelajar, membawa saya pada dunia penelitian. Karena sejatinya pelajar pada titik tertentu akan masuk ke dalam dunia tersebut dari alasan yang paling sederhana seperti tuntutan tugas dan nilai. Contohnya pun bisa sesederhana mencari kalimat pokok dalam satu paragraf atau menganalisis rima dalam puisi. Sampai saat ini, kesibukan saya dalam dunia penelitian pun masih di sekitar tuntutan tersebut, karena itulah saya ingin berbicara dalam tulisan ini sebagai pelajar, bukan peneliti.

Sebagai seorang manusia biasa, saya terbiasa untuk menjalani kehidupan sehari-hari dengan mengisi kepala saya dengan setumpuk ekspektasi. Pada beberapa titik, ekspektasi tersebut akan menjadi pemantik motivasi dalam melakukan berbagai hal termasuk belajar dan melakukan penelitian. Bahkan hipotesa, jika dimaknai secara lebih sederhana dalam kacamata orang awam, menurut saya tidak lain merupakan suatu bentuk ekspektasi yang dimiliki oleh peneliti. Ekspektasi tersebut akan menggerakkan fisik dan pikiran untuk berjalan ke perpustakaan, laboratorium, lapangan, atau ruang apapun yang dijadikan ruang penelitian. Namun pada saat yang sama, ekspektasi tersebut akan menimbulkan konflik-konflik tertentu.

Pemaknaan paling sederhana dari konflik adalah saat ekspektasi tidak sejalan dengan kenyataan. Hal seperti ini kita hadapi dalam dunia sehari-hari, kegiatan yang kita lakukan setiap hari, walaupun terkadang tidak disadari. Contoh kecil adalah saat kita berekspektasi akan membeli makanan kesukaan kita di satu tempat yang sudah menjadi langganan, dan dengan ekspektasi itulah kita mau meninggalkan rumah untuk membeli makanan dan menuruti keinginan kita. Namun begitu sampai di tempat yang menjual makanan tersebut, ternyata makanan yang kita inginkan habis. Maka kita pun terpaksa membeli makanan yang lain yang sebenarnya tidak terlalu kita inginkan. Hal serupa bisa terjadi dalam lingkup yang lebih serius, yakni dalam dunia penelitian.

Sekali lagi, sebagai seseorang yang belum bisa disebut sebagai peneliti, saya pun selalu memiliki banyak ekspektasi dalam melakukan penelitian. Salah satu momentum yang memberikan banyak pelajaran adalah saat penyusunan novel pertama saya, Buku Harian Keluarga Kiri. Begitu banyak ekspektasi yang bergemuruh dalam kepala saya saat itu sebagai seorang penulis pemula dengan idealisme tinggi ingin menguak versi lain dari narasi sejarah pasca 65. Saya berusaha mendapatkan informasi tambahan di samping kisah pengalaman keluarga saya sendiri di beberapa perpustakaan dan museum di Malang. Pada saat itu saya berekspektasi akan mendapatkan begitu banyak informasi dari buku-buku dan artefak-artefak yang ada. Namun kenyataannya, tidak banyak yang bisa saya tambahkan ke dalam buku saya.

Begitu pula saat melakukan penelitian untuk keperluan skripsi di jenjang kuliah sarjana. Saya memang punya ketertarikan untuk menganalisis fenomena dalam payung sosiologi sastra daripada membahas satu karya saja. Keterbatasan sumber dan keterbatasan dalam mengakses sumber itu sendiri membuat pembimbing saya untuk memutuskan bahwa saya harus berhenti pada titik kesimpulan bahwa memang ada unsur politis dalam pelarangan karya John Steinbeck di beberapa negara bagian di Amerika Serikat oleh sejumlah organisasi. Terdapat banyak hal yang belum sempat dibahas dalam skripsi tersebut yang sempat membuat saya agaknya kecewa dengan hasil penelitian saya itu.

Saya ingat betul bagaimana saya sampai menangis beberapa kali karena kekecewaan yang tidak lagi bisa dibendung. Bahkan sempat terbersit untuk sama sekali tidak menyelesaikan pekerjaan itu. Untunglah pada saat itu ada beberapa rekanan yang setia mendampingi proses penyusunan novel tersebut, sampai akhirnya bisa diterbitkan. Bagaimana saya sampai menangis dan merasa putus asa menyimpan satu nilai tersendiri yang pada beberapa titik dapat mendewasakan saya saat ini.

Masuk ke dalam dunia penelitian semakin tidak terelakkan begitu saya memutuskan untuk meneruskan studi ke jenjang magister. Dalam waktu studi empat semester, kami dituntut bisa melakukan penelitian yang bersifat baru dan menuangkannya dalam tesis. Tidak lagi bersifat deskriptif, harus analitik. Saya pun sudah melakukan penelitian awal untuk proyek ini, yakni mengangkat topik Lekra Malang. Harus diakui bahwa saya memang memiliki satu ketertarikan tersendiri pada segala hal yang pernah ada selama periode pasca tragedi 65. Hal tersebut didasari pada alasan bahwa masih begitu banyak yang tidak kita ketahui, atau paling tidak yang selama ini dijadikan abu-abu dan pada akhirnya menjadi kesadaran palsu. Karena itulah dalam penelitian tesis saya ingin membahas Lekra Malang yang memang belum pernah dijadikan satu lahan penelitian akademis dan belum pernah dijadikan satu narasi sejarah yang utuh.

Sebagai langkah awal, sesuai dengan saran beberapa orang, saya mendatangi rumah Prof. Henricus Supriyanto di Malang. Beliau sudah lama menjadi orang yang dicari oleh dosen atau peneliti yang ingin mencari sumber terkait ludruk, kesenian daerah, maupun sejarah umum, terutama yang hubungannya dengan daerah Malang. Waktu itu perjalanan harus ditempuh dengan hujan mengguyur dan ketahanan tubuh yang mulai berkurang. Rumah Prof. Henricus pun pada sore itu gelap gulita, karena ada kabel listrik yang putus di sekitar situ. Kami pun mengobrol dengan ditemani dua batang lilin di dalam perpustakaan pribadinya. Kedatangan saya dan teman saya disambut hangat, dengan senyuman lebar di wajahnya. Ia memakai pakaian yang santai, seakan menemui rekannya yang sudah lama dikenal.

Penulis bersama Prof. Henricus Supriyanto (dokumentasi pribadi)

Setelah menyampaikan maksud kedatangan kami, Prof. Henricus tidak basa-basi lagi untuk mengatakan bahwa penelitian saya ini tidak mungkin dilakukan. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya lagi sumber tertulis dan saksi sejarah langsung tentang Lekra Malang. Di masa berjayanya, karya-karya sastra dipublikasikan oleh para penulis Lekra Malang menggunakan media stensil, atau yang kita kenal sekarang sebagai zine. Dan begitu tragedi 65 pecah, banyak seniman dan sastrawan Lekra di seluruh Indonesia yang diamankan atau dieksekusi oleh militer. Orang-orang pun ketakutan untuk menyimpan kertas-kertas stensil yang dipublikasikan oleh Lekra Malang, mereka membuangnya atau membakarnya tanpa sisa.

Sejurus saya terhenyak. Perasaan saya bercampur aduk. Jelas saya merasa kecewa karena saya berangkat ke rumah yang menjadi saksi berdirinya Dewan Kesenian Kabupaten Malang itu dengan penuh ekspektasi. Saya berharap akan dapat menemukan paling tidak satu saja sumber tertulis tentang karya sastra yang pernah ditulis di masa berjayanya Lekra Malang. Namun rupanya nihil. Semuanya telah lenyap. Bahkan mungkin jika masih ada pun, waktu empat semester yang saya miliki tidak akan cukup untuk menemukannya. Namun Prof. Henricus, sebagai seorang akademisi, menawarkan beberapa topik lain yang masih bisa saya angkat yang masih ada hubungannya dengan kesusastraan Lekra. Saya tentu menerima saran tersebut dengan senang hati.

Penulis bersama Prof. Henricus Supriyanto (dokumentasi pribadi)

Tetapi ada hal lain yang saya sadari kemudian. Saya tidak sampai menangis dan meratapi kenihilan yang harus saya hadapi pada sore itu. Dalam diam saya memikirkan langkah selanjutnya yang harus saya jalani, karena nasib saya memang diperhitungkan dengan waktu dan kemauan saya untuk bangkit lagi. Pada titik inilah kemudian saya menyadari bahwa dunia penelitian memberikan pelajaran yang lebih dari sekedar mencari data dan menganalisisnya dengan teori yang dicetuskan para pemikir besar itu. Yakni pelajaran untuk mengelola ekspektasi dan mengelola emosi. Dalam lingkup akademik, saya menjadi sadar bahwa memang beberapa hal tidak bisa kita ketahui atau kuasai dengan membaca beberapa buku dalam sekali duduk. Diperlukan ketelitian dan konsistensi untuk terus mau mengorek informasi dan data terkait suatu isu. Sedangkan dalam pelajaran kehidupan, diperlukan suatu kemampuan untuk mengelola ekspektasi, bahkan dalam tingkat kehidupan sehari-hari. Bahwa tidak segala hal akan sesuai dengan rencana dan ekspektasi, dan yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menerima ketidakpautan itu dan mencari jalan lain.

Ekspektasi akan terus ada, bahkan harus selalu ada menurut hemat saya. Karena dialah yang menjadi alasan bagi kita untuk membuka mata dan berjalan, paling tidak dalam kehidupan pribadi saya. Yang kemudian penting adalah bagaimana kemudian ekspektasi itu seharusnya tidak malah menjadi pematah kemauan jika kemudian dihadapkan pada satu kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Pengalaman ini mungkin tidak pernah dialami oleh semua orang yang sudah menjadi peneliti besar, atau pelajar-pelajar lain di luar sana. Namun bagaimana dunia penelitian bisa memberikan pelajaran yang begitu bermakna dalam langkah hidup saya semoga bisa menjadi refleksi bersama dalam menjalani kehidupan yang dipenuhi hal-hal yang sulit kita jangkau.