Terlepas masih ‘menariknya’ hari Kartini sampai hari ini, akhir-akhir ini sedikit sekali adanya pembahasan tekstual tentang Door duisternis tot licht (Through Darkness into Light [pen. Agnes L. Symmers] –  Habis Gelap Terbitlah Terang [pen. Armijn Pane]). Sosok Kartini dan karyanya dewasa ini disebut-sebut setiap tahun semata karena kita ingin terlihat turut merayakan Hari Kartini. Sementara itu, apakah kita benar-benar memahami makna dikotomi ‘gelap-terang’ yang disampaikan oleh Kartini pada tulisannya?

Judul Door duisternis tot licht sebenarnya bukanlah ciptaan Kartini. Kartini pada saat itu “hanya” menjalin hubungan korespondensi dengan beberapa kawan sekolahnya yang berkebangsaan Belanda, antara lain Stela Zeehandelaar dan Rosa Abendanon. Bahkan sepertinya Kartini tidak pernah membayangkan surat-suratnya itu pada suatu hari akan dikumpulkan oleh mantan kepala Dinas Pendidikan, Agama dan Industri setelah kematiannya dan kemudian menjadi perbincangan orang-orang di luar keraton. 

Pada surat pertamanya yang ditulis pada 25 Mei 1899,  Kartini menyampaikan kegundahannya atas kekangan aturan adat, karena “jika (saja) aturan negaraku mengizinkan, maka aku akan melakukan apapun”. Kartini kemudian menjelaskan bahwa ‘apapun’ itu tidak semata hanya tindakan untuk mencari kesenangan atas dirinya sendiri, namun upaya menciptakan kebahagiaan dan kesejarahteraan untuk orang lain. Kemudian ia juga menyampaikan kemarahannya atas ketidakadilan yang harus diterimanya karena jenis kelaminnya dengan membandingkan kehidupannya sendiri dengan kehidupan para anggota keluarganya yang laki-laki. Menurut pengamatannya, para laki-laki itu  secara umum jauh lebih bebas untuk menentukan pilihan hidupnya dan berkelana di luar area domestik.

Di surat pertama ini Kartini menyebut lichtpunten, atau titik terang, yang digunakannya untuk mengagungkan pendidikan Belanda yang pernah ditempuhnya dan menggambarkan keberadaan teman-temannya dari belahan dunia lain yang mau mendengarkan keluh kesahnya melalui surat. Bahkan Kartini menyampaikan, “aku mungkin sudah mati, atau bahkan yang lebih buruk- jiwa dan hatiku sudah mati” tanpa kedua hal tersebut.


Pada surat kedua yang dikirim ke Stella, ditulis pada 18 Agustus 1899, Kartini ingin meyakinkan kawan korespondensinya betapa ‘sulitnya’ menjadi seorang perempuan Indonesia, atau tepatnya seorang perempuan Jawa. Ia menjabarkan sejumlah aturan yang harus dipatuhinya sebagai penghuni keraton. Salah satunya adalah tindakan yang harus dilakukan adiknya sendiri yang tidak boleh berjalan di depannya begitu saja karena berusia lebih muda. Adik Kartini harus harus mengesot di lantai dan saat bertemu harus memberikan hormat (sembah) kepada kakaknya sendiri. Selain itu, perempuan juga harus berjalan dengan pelan dan langkah kecil-kecil karena jika berjalan dengan cepat mereka akan dicemooh “seperti kuda” yang sedang berlari.

Pada suratnya yang kedua ini Kartini juga menyampaikan kebanggaan atas dirinya sendiri sebagai seorang perempuan yang berusaha mendobrak nilai-nilai yang dianggapnya membelenggu perempuan dan. Ia menceritakan bahwa ia selalu berusaha membangun hubungan yang lebih cair dengan saudara kandungnya, dan ia tidak takut dicemooh seperti kuda karena ia selalu berjalan cepat, suka melompat dan tertawa lebar dengan menunjukkan giginya.

Kritik terhadap agama disampaikan Kartini di suratnya yang ketiga yang ditulis pada 6 November 1899. Kartini mengakui bahwa ia adalah penganut Muhammad (agama Islam) karena keluarganya, bukan karena ia memahami sepenuhnya agama tersebut. Ia mengkritik ‘kesucian’ kitab agama yang ditulis dalam bahasa Arab tersebut yang tidak boleh diterjemahkan ke bahasa lain. Sedangkan di lingkup keraton pun tidak ada yang menguasai bahasa Arab. Hal tersebut membuat seorang Kartini geram, seperti yang disampaikannya “bagaimana aku bisa mencintai agamaku jika aku tidak mengetahuinya?” Bahkan ia dengan eksplisit menulis, “Oh, Tuhan, terkadang aku berharap agar tidak ada agama” untuk menggambarkan kesedihannya melihat orang-orang harus terpisah atau menjadi berbeda-beda karena agama. Tentu saja kritik tersebut merupakan salah satu bentuk perlawanan yang cukup berani, karena ia menyinggung satu hal yang dianggap suci dan tidak boleh dilanggar, atau untuk sekedar dipertanyakan, terlebih karena ia adalah seorang perempuan.


Selanjutnya, Kartini menjelaskan kepada Stella keadaan masyarakat di luar keraton pada surat yang ditulisnya pada 12 Januari 1900. Ia membahas tentang gaji yang diterima oleh para inlander atau pribumi pada saat itu, dan membandingkannya dengan kekayaan alam yang sebenarnya dimiliki oleh Indonesia. Selain itu ia juga mengkritik ketidaksetaraan hak atau privilese mendapatkan pendidikan yang dimiliki kaum Belanda, inlander ningrat, dan inlander bawahan, yang menyebabkan bangsanya sulit berkembang.

Menurutnya, “Hollander (orang Belanda) menertawakan kebodohan kami, namun saat kami mencoba bangkit, mereka menyulitkan usaha kami.” Dia juga mengkritik orang-orang Belanda yang menyepelekan kemampuan inlander untuk mengerti bahasa Belanda. Pada surat ini Kartini juga membahas tentang emansipasi perempuan Indonesia yang harus dilakukan secara berdikari, sama dengan “perjuangan wanita dan perempuan muda di tempatmu (Stella) yang dulu ditentang oleh penguasa”. Menurutnya, represi oleh sistem patriarki di kerajaan Belanda yang pernah terjadi dulu juga terjadi di Jawa, dan membuat “kekuatan tersebut (perempuan) terhambat.”

Surat kedua Kartini pada tahun 1900 menunjukkan gagasan-gagasan pemberdayaan kaum pribumi secara umum dan perempuan khususnya. Ia mengkritik program pemerintah Belanda yang ingin menaikkan derajat pribumi dengan memberikan pendidikan bagi para pejabat dan aristokrat Jawa, namun melewatkan perhatian terhadap mental masyarakat yang menurutnya krusial. Kartini menganggap pendidikan bagi perempuan adalah hal yang sangat penting, karena “di atas pangkuan perempuan-lah pendidikan pertama manusia didapatkan”. 


Cuplikan surat Kartini kepada Abendanon dalam bahasa Belanda tertanggal tahun 1903/1904. Sumber: Majalah De Boekenwereld, 32: 4 (2016)

Setelah beberapa surat yang menunjukkan keberanian Kartini untuk menyuarakan kritiknya atas sistem feodal berbumbu patriarki yang dikembangkan pemerintah kolonial Belanda dan kerajaan Jawa, ia mulai mengutarakan ketidakberdayaanya saat ia tidak punya pilihan lain di samping menikah dengan seorang pria beristri tiga di usia yang masih sangat muda. Ia menuliskan kisah tentang tiga perempuan berkulit coklat yang hidup di sebuah masa dengan aturan yang menyatakan “perempuan harus menikah: harus punya suami tanpa perlu bertanya apa, siapa, dan bagaimana”. Ketiga perempuan yang dimaksud adalah dirinya sendiri dan kedua saudarinya.

Kartini sebenarnya tidak ingin menikah pada saat itu karena ia enggan berada di bawah teman-teman perempuan Belanda-nya atau para saudara laki-lakinya yang mendapatkan kesempatan untuk bersekolah tinggi. Ia mengharap sampai berlutut di depan ayahnya, namun jawabannya adalah “tidak!”. Anak perempuan itu telah dijodohkan oleh seseorang yang tidak pernah dikenalnya, dan dengan penuh kesedihan ia menyadari bahwa masa sekolahnya harus berakhir, berganti dengan kehidupan domestik sebagai seorang istri yang dituntut untuk melayani suami.

Selanjutnya pada surat yang ditulis pada 23 Agustus 1900, Kartini mencurahkan segala kegundahannya pada Stella tentang kegigihan ayahnya untuk menikahkannya pada seorang pria beristri. Ia semakin memperjelas apa yang dialami oleh perempuan di lingkungannya: “aku adalah istrinya walaupun aku tidak menginginkannya, dan jika ia tidak menceraikanku, kehidupanku akan dikendalikannya, sedangkan ia akan tetap bebas untuk menikahi berapa pun perempuan yang disukainya tanpa meminta izinku”.

Dalam surat tersebut ia juga kembali mengkritik ajaran agama (Islam) yang menurutnya memberi ‘kelonggaran’ pada laki-laki sehingga mereka dapat menikahi lebih dari satu perempuan. Kartini juga menyayangkan banyaknya pernikahan yang terjadi di sekitarnya tidak atas dasar kebahagiaan karena dilakukan dengan sistem perjodohan. Ia pun kemudian mengajak kaumnya untuk melawan ketidakadilan tersebut, “ayo para perempuan, saling bergandengan tangan dan bekerja bersama untuk merubah bangsa ini.”


Selanjutnya, pada paruh akhir tahun 1900, Kartini menceritakan kebahagiaannya dengan kepada Stela setelah ayahnya mengizinkannya untuk kembali ke sekolah. Ayahnya setuju agar Kartini meneruskan pendidikannya setelah ia mengutarakan keinginannya untuk menjadi seorang guru. Kali ini ia menempuh pendidikan di Batavia. Izin tersebut memunculkan kembali rasa optimismenya karena “emansipasi ada di udara, sedang dipersiapkan”. Dalam surat-suratnya pada akhir tahun 1900 Kartini berkali-kali menyatakan rasa sayangnya kepada ayahnya yang akhirnya mau mengizinkannya kembali bersekolah. Pemberian izin untuk bersekolah di institusi pendidikan guru di Batavia membuatnya sangat bahagia setelah permintaanya untuk pergi ke Belanda untuk bersekolah di bidang kesehatan ditolak mentah-mentah.

Setelah mendapatkan izin tersebut, Kartini terus membahas tentang cita-citanya untuk menjadi seorang pengajar. Pada surat tertanggal 21 Januari 1901, ia menulis pandangannya tentang pendidikan yang menurutnya “merupakan pembentukan pikiran dan jiwa.” Selain itu, menurut Kartini, pendidikan untuk perempuan akan mendorong kesejahteraan publik karena mereka “berkontribusi pada peningkatan moral kemanusiaan”. Ia juga beranggapan para perempuan Belanda mampu mendidik anak-anaknya sendiri–tanpa bantuan emban seperti di keraton–karena mereka berpendidikan.


Kartini menyampaikan secara implisit pemaknaan ‘terang’ dalam suratnya pada bulan Mei 1901 yang masih ditujukan untuk Stella. Menurut Kartini, seiring berjalannya waktu, pertanyaan “apa yang akan kulakukan (sebagai perempuan) di masa depan?” yang sebelumnya tidak bisa dijawab sekarang telah menunjukkan titik terang. Kartini telah mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan sekolah dan beberapa tahun kemudian ia akan mencapai cita-citanya, yakni menjadi seorang guru. Oleh karena itu, kata “terang” dapat dimaknai sebagai hancurnya belenggu patriarki dan terbentuknya kemerdekaan bagi perempuan sebagai jalan untuk mengantarkan perempuan di garis depan perjuangan dan perkembangan bangsa.


Terlepas dari digunakannya judul Habis Gelap Terbitlah Terang, sesungguhnya kisah hidup Kartini pada akhirnya tidak seterang itu. Karena pada akhirnya, ia tidak berhasil melanjutkan studi di Batavia karena pernikahannya harus segera dilangsungkan, seperti yang dituliskannya pada tahun 1903 “singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin.” Pernikahan tersebut akhirnya dilangsungkan pada 12 November 1903 dan mengakhiri semua mimpi Kartini. Bahkan setelah menjadi istri keempat dari Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, ia melahirkan seorang putra dan beberapa hari kemudian meninggal dunia. ‘Terang” yang sempat menjadi harapannya beberapa bulan sebelum menikah ternyata harus pupus. Lalu apakah sebenarnya Kartini benar-benar melewati fase ‘habis gelap terbitlah terang’?

Dengan mempertimbangkan alur kehidupan Kartini, bisa dikatakan bahwa ia sebagai seorang individu sebenarnya belum melewati fase tersebut, walaupun pada beberapa surat terakhirnya yang ditulis setelah menikah, ia menyatakan bahwa pernikahan “akan membawa keuntungan tersendiri”. Pernyataan-pernyataan serupa yang ditulisnya setelah menjadi istri keempat dari bupati Rembang cenderung menunjukkan upayanya untuk ‘menghibur diri’ setelah semua cita-citanya pupus karena supremasi patriarki. Terlepas dari hal tersebut, Kartini telah meninggalkan pesan kepada para perempuan generasi selanjutnya, termasuk kita semua, tentang keberanian untuk mencapai suatu titik ‘terang’ dalam kehidupan kita. Pencapaian cita-cita perempuan pada perjalanannya akan dikungkung oleh belenggu patriarki, maka keberanian itu harus dimunculkan dalam diri perempuan sendiri.