Jika saya diberi sebuah kesempatan untuk bisa menjelajah ke masa lalu dan memilih satu kejadian untuk dialami, maka saya akan memilih upacara kematian Marx pada bulan Maret 1883 di pemakaman Highgate, London, agar menambah jumlah pelayat menjadi 12 orang. Mungkin akan sulit untuk dipercaya bagaimana Marx yang pemikirannya menyebar ke seluruh dunia tidak mendapatkan penghormatan terakhir yang meriah, apalagi jika dibandingkan dengan fenomena arakan karangan bunga yang khas di antara tokoh-tokoh berpengaruh di masa sekarang.

Frederick Engels, komrad dan kolaborator terbaik Marx sampai akhir hayatnya, bertugas membacakan pidato pelepasan jenazah pada hari pemakaman itu. Ia menutup pembacaannya dengan sebuah kesimpulan, bahwa walaupun Marx adalah seorang kawan dan ayah yang setia, namun ia adalah ‘pria yang paling dibenci dan dikutuk dalam masanya’.

Observasi Engels tentu tidak hanya didasarkan pada jumlah pelayat yang datang ke pemakaman Marx, namun pada kenyataan bahwa pada saat itu Marx sedang menjadi public enemy di tengah-tengah masyarakat Jerman dan Eropa yang antagonisme kelasnya semakin tajam. Namun kebencian terhadap Marx ternyata tidak hanya benar pada saat itu, bahkan masih berlaku sampai sekarang, satu abad lebih sejak kematiannya yang sepi itu. Pemikirannya disebut-sebut sebagai kuno dan terlalu utopis untuk diterapkan. Ia digambarkan sebagai seseorang yang tidak bertanggung jawab atas keluarganya karena kematian empat dari tujuh anaknya saat masih usia anak-anak dan juga pria tidak bermoral karena dikabarkan pernah tidur dengan pelayannya. Bahkan yang paling parah ia dianggap bertanggung jawab atas beberapa tirani yang telah terjadi di Rusia, Cina, Kamboja dan lain-lain. Begitu banyak orang dengan beragam latar belakang ilmu pengetahuan telah mengutuk Marx, mulai dari ekonomi, politik, sosial, sejarah, sampai filsafat. Masyarakat telah membunuh Marx berkali-kali bahkan setelah tubuhnya meringkuk di bawah urukan tanah kuburan. Sebenarnya apa yang membuat Marx begitu dibenci dan mengapa orang-orang membenci Marx? Kita akan cari tahu di tulisan ini.

Jawaban utama dan pertama atas pertanyaan apa yang membuat Marx begitu dibenci  tentu saja adalah gagasannya. Orasi Engels di pemakaman kawan karibnya itu berisi observasinya tentang teori yang telah dicetuskan oleh Marx:

‘seperti layaknya Darwin yang telah menemukan hukum evolusi di alam, Marx telah menemukan hukum evolusi pada sejarah manusia. Fakta sederhana yang sampai sekarang disembunyikan oleh ideologi yang berkembang secara berlebihan, bahwa manusia pertama-tama harus bisa makan, minum, memiliki tempat berlindung dan pakaian, sebelum bisa mempelajari politik, sains, seni, agama, dll; oleh karena itu, produksi alat dan bahan, dan tingkat perkembangan ekonomi yang dicapai oleh orang-orang tertentu atau selama zaman tertentu, merupakan fondasi di mana institusi negara, konsepsi hukum, seni, dan bahkan gagasan tentang agama dari orang-orang yang bersangkutan telah berevolusi, dan seperti itulah evolusi masyarakat harus dijelaskan, bukan sebaliknya, seperti yang telah terjadi sebelumnya.’.

Inti dari gagasan Marx adalah penjabaran bahwa masyarakat sosial itu dibagi ke dalam kelas-kelas yang berdasarkan pada properti yang dimiliki dan dikendalikan, serta bahwa sejarah kehidupan masyarakat merupakan sejarah pertentangan kelas yang tidak kunjung berakhir antara kelas yang mempunyai kekayaan dengan yang tidak. Namun tidak peduli betapa benar dan nyatanya gagasan mendasar Marx tentang masyarakat itu, belum mampu menjawab sepenuhnya pertanyaan yang telah disampaikan di atas.

Jika dibandingkan dengan Darwin, teori Marx memang memiliki kelemahan dalam hal penemuan saintifik. Sehingga walaupun teori evolusi Darwin tidak disetujui oleh semua orang, namun sosoknya tidak dikritisi dan dibenci mati-matian seperti layaknya seorang Marx. Maka untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu merujuk lagi pada pidato Engels pada pemakaman Marx:

‘Karena Marx, di atas segalanya, adalah seseorang yang revolusioner. Misi utamanya dalam kehidupan adalah berkontribusi dengan satu cara atau yang lain untuk melengserkan masyarakat borjuis dan bentuk pemerintahan yang muncul karenanya, dengan tujuan untuk berkontribusi pada pembebasan kaum proletariat masa kini.’

Dalam pernyataan itulah kita menemukan jawabannya, bahwa Marx bukan sekedar seorang pria dengan pemikiran revolusioner. Ia sendiri adalah seorang sosok yang revolusioner, yang ingin mempraktikkan gagasan-gagasan yang dipikirkannya. Marx merasa risih dengan para pemikir atau filsuf yang berbicara banyak tentang kejahatan masyarakat kapitalis namun tidak melakukan apa-apa untuk merubah keadaan tersebut. Ia memperkaya pengetahuannya tentang masyarakat di dunia dengan membaca karya-karya filsuf sebelum zamannya, dan berkesimpulan bahwa intinya, harus dilakukan perubahan.

Upaya perubahan itu dimulai Marx dengan menjadi bagian dari kelas yang tertindas sejak usianya masih muda, membuatnya terusir dari Jerman, Belgia, dan Perancis karena terlibat dalam pemberontakan buruh di ketiga negara tersebut. Akhirnya di usianya yang ke 31 tahun, Marx pergi ke Inggris di mana tidak ada kendali imigrasi dan menetap di sana sampai akhir hayatnya. Lalu ia bekerja sebagai seorang jurnalis investigatif yang menyibukkan dirinya dengan informasi-informasi yang disebarkan oleh pemerintahan reaksioner pada saat itu tentang aktivitasnya. Tujuan dari pekerjaan Marx adalah mencari informasi relevan dan menerbitkannya untuk membantu perjuangan kaum buruh. Tulisan besarnya bersama Engels, Manifesto Partai Komunis disusun saat organisasi yang dibentuknya, Liga Sosialis kehilangan semua anggotanya kecuali mereka berdua. Marx terhitung menghabiskan 20 tahun karirnya untuk menulis karya-karya besar tentang pandangan dan teori komunisnya, seperti Manifesto Partai Komunis, Kritik terhadap Ekonomi Politik dan Gundrisse, serta publikasi-publikasi lain. Jika merunut beberapa pijakan besar dalam sejarah karir Marx, tiga yang berikut ini membuktikan kegigihan Marx sebagai seorang pemikir revolusioner yang seakan memang sudah siap untuk dibenci orang banyak, terutama mereka yang dilawannya dengan mati-matian.

Dimulai dengan Internasional Pertama, yang diawali dengan pembentukan Asosiasi Pekerja Internasional pada 1864, didasarkan pada gagasan para ketua persatuan buruh yang sudah muak dengan impor tenaga kerja yang terus-menerus untuk mematahkan pemogokan dan melemahkan serikat buruh. Mereka merasa perlu untuk menuliskan tujuan-tujuan mendasar perkumpulan, namun tidak ada satu pun dari mereka yang mampu menulis. Lalu mereka meminta bantuan Marx yang kemudian diangkat sebagai sub-komite asosiasi tersebut dan kemudian terbitlah artikel Internasional pertama yang padat dan jelas mengenai emansipasi kelas pekerja. Asosiasi tersebut kemudian menerbitkan kartu anggota untuk mengidentifikasi para pengikutnya. Terbitan kedua Internasional membahas tentang hak pilih universal. Gagasan ini sebenarnya sudah pernah dijadikan tuntutan oleh kaum Chartis, namun kemudian kandas dengan kekalahan partai tersebut. Sebuah organisasi baru, Liga Reformasi yang terbentuk pada 1866 dibentuk untuk menghidupkan kembali tuntutan tersebut. Lalu Marx membentuk perkumpulan kecil untuk menggerakkan Liga Reformasi ke arah cita-cita hak pilih universal. Namun salah satu kelemahan dalam sifatnya yakni optimisme yang tidak diikuti dengan kesabaran, yang menjadikannya tidak mampu mendorong gerakan sosialis yang dibentuknya berkembang, sehingga Liga Reformasi pun dengan cepat musnah.

Hal ketiga yang dianggap paling membuat banyak orang membenci Marx adalah keterlibatannya dalam penulisan pamflet berjudul Perang Saudara di Perancis yang ditulisnya pada 1871. Pamflet tersebut membahas Komune Paris yang dibentuk oleh kelas pekerja Paris dalam suasana negara dalam semangat revolusioner pada Maret 1871. Setelah dua tahun pembentukannya, Komune Paris mendapat tekanan keras dari pihak militer. Marx mencoba terus mengikuti pergerakan komune itu dengan meminta semua kerabat, teman, dan keluarganya untuk mencari informasi dari Paris. Dan ketika tekanan yang diberikan semakin tajam, Marx menyusun Perang Saudara di Perancis yang kemudian dibacakannya di depan dewan Internasional itu. Tulisannya menekankan pada sifat-sifat demokratis yang dimiliki oleh komune tersebut, bahwa mereka tidak hanya menetapkan aturan namun juga melaksanakannya, bagaimana komune tersebut menggantikan permesinan negara kapitalis dengan demokrasi yang sepenuhnya baru yang tidak akan pernah bisa ditolerir oleh kapitalisme dan antek-anteknya. Pamflet Perang Saudara di Perancis dianggap merupakan pergabungan dari ketajaman jurnalisme dan semangat revolusioner Marx:

‘Ketika Komune Paris mengambil alih pengelolaan revolusi dengan tangannya sendiri; Ketika pekerja biasa untuk pertama kalinya berani melanggar hak istimewa pemerintah tentang “keunggulan alamiah”, dan dalam keadaan yang sangat sulit melakukan pekerjaan mereka dengan rendah hati, hati-hati dan efisien -melakukannya dengan gaji yang tertinggi yang hampir tidak sampai seperlima dari apa yang menurut otoritas tinggi sebagai bayaran minimum yang dibutuhkan oleh seorang sekretaris dewan sekolah metropolitan- dunia yang lama berguncang dalam kemarahan karena melihat Bendera Merah, simbol Republik Perburuhan, yang berkibar di atas Hotel de Ville.’

Paragraf di atas, dan tentu termasuk juga keseluruhan pamflet menarik kita semakin dekat pada jawaban atas pertanyaan mengapa Marx menjadi sosok yang sangat dibenci dan dikutuk dalam jangka waktu yang sangat lama. Jika kita menelisik lebih jauh pada tulisan-tulisannya, kita akan menyadari bahwa yang dilakukan Marx semasa hidupnya bukan hanya menantang gagasan-gagasan kapitalisme, namun juga berupaya keras untuk mempraktikkan perlawanan yang sesungguhnya dengan menggunakan konsep yang dirancangnya.

Orang menyampaikan bahwa gagasan Marx sudah kuno. Itu adalah ucapan untuk menolak kenyataan bahwa sampai sekarang kelas masyarakat itu masih ada, dan eksploitasi masih terjadi di antara hubungan kelas tersebut hampir di seluruh bagian di dunia. Kelas yang memiliki dan mengendalikan harta kekayaan sampai sekarang masih memiliki kekuatan sosial yang lebih besar daripada mereka yang bergerak di bawah gedung pencakar langit, dan karena kekuatan dan kekuasaan itu tidak ingin tumbang dengan mudah, ejekan dan kutukan terus diserangkan kepada Marx dengan gagasan, serta gerakan revolusionernya. Bahkan sekarang bisa kita lihat bahwa mereka yang memiliki jiwa revolusioner, mereka yang ingin meneruskan cita-cita Marx untuk membentuk masyarakat adil tanpa kelas pun ikut diejek oleh mereka yang menduduki kelas sosial borjuasi. Namun paling tidak di balik semua ejekan yang berusaha membunuh Marx, kalimat penutup pidato Engels pada pemakaman Marx benar-benar terbukti, bahwa ‘namanya akan dikenal selama berabad-abad, dan begitu juga karyanya.’

Kutipan mengenai pidato Engels pada pemakaman Marx diambil dan diterjemahkan dari: https://www.marxists.org/archive/marx/works/1883/death/burial.htm