Judul: Dari Salemba ke Pulau Buru: Memoar Seorang Tapol Orde Baru

Penulis: Kresno Saroso

Tahun: 2002

Penerbit: Institut Studi Arus Informasi

Jumlah halaman: 324

Kita pasti sudah sering mendengar pernyataan “sejarah itu ditulis oleh para pemenang” sejak pertama kali disampaikan oleh George Orwell dalam esainya yang berjudul As I Please dan diterbitkan pada tahun 1944. Gagasan tersebut merujuk pada bagaimana dalam sejarahnya, sejarah kebanyakan dibuat oleh orang-orang yang memiliki kepentingan lebih besar dari masyarakat kebanyakan, baik itu tokoh politik atau masyarakat. Sehingga banyak pula yang menjadi sedikit apatis dengan sejarah dengan menjadikan gagasan tersebut sebaga suatu alasan untuk tidak mempelajari apa yang terjadi di masa lalu. Namun buku Dari Salemba ke Pulau Buru: Memoar Seorang Tapol Orde Baru merupakan kisah sejarah yang diuraikan oleh ‘seorang biasa’ sesuai dengan pengalaman hidupnya.

Bahkan dalam pengantar buku ini disampaikan dengan gamblang bahwa “penulis dari naskah ini adalah orang biasa saja, orang kebanyakan, sebagaimana pembaca pada umumnya’. Harusnya pernyataan ini menarik perhatian para pembaca lebih dalam untuk mengetahui seperti apa sejarah yang tidak ditulis oleh seorang pemenang, terutama dalam hal ini sejarah seorang tahanan politik Orde Baru.

Walaupun menggunakan bahasa dan penyampaian yang cenderung mudah dimengerti, namun karya ini tidak bisa dianggap remeh dan dikesampingkan dari bahan studi sejarah Indonesia. Bahkan hal tersebut bisa dianggap sebagai salah satu keunggulan dari buku ini, yakni memungkinkan pembaca dari berbagai usia untuk bisa mengikuti alur cerita dan mendapatkan pelajaran dari kisah memoar tersebut tanpa menemui kesulitan dalam memaknai suatu istilah. Dan penggunaan bahasa yang sederhana terbukti lebih mampu membuat pembaca tertarik untuk terus mengikuti kisah hidup seorang Kresno Saroso. Diceritakan di bagian awal bahwa sang penulis merupakan seorang mahasiswa kedokteran Universitas Indonesia. Dan seperti layaknya mahasiswa lain, ia sempat merasakan perploncoan dari kakak tingkat, lalu tergabung dalam partai atau kelompok organisasi mahasiswa, dan tidak lupa tetap menjalankan tanggung jawab sebagai seorang pelajar. Semuanya biasa saja.

Tensi cerita mulai naik saat penulis menceritakan kisah hidupnya sebagai mahasiswa kedokteran tingkat empat pada tahun pecahnya G30S. Dan beberapa bulan setelah peristiwa tersebut, tepatnya pada Januari 1966, Kresno Saroso yang merupakan anggota CGMI ditangkap oleh KAMI, dan seketika statusnya sebagai ‘mahasiswa’ berubah menjadi ‘tahanan’. Beberapa bab selanjutnya menjelaskan tentang nasibnya berpindah dari satu penjara dan penjara lain hingga akhirnya turut menjadi tapol yang diberangkatkan ke Pulau Buru. Masih dengan cara penceritaan yang sederhana, penulis mampu menarik perhatian pembaca dengan menjelaskan tugas-tugas uniknya selama menjadi tapol di Pulau Buru karena pengetahuan dan pengalamannya dalam pendidikan medis walaupun tidak begitu lama, misalnya menjadi perawat di rumah sakit unit.

Kisah memoar ini menyimpan banyak pengetahuan sejarah yang bisa dikuak oleh pembacanya yang jeli, yang tidak sekedar menikmati kisahnya seperti sebuah pemaparan profil seseorang. Pertama, buku ini secara umum menggarisbawahi kecacatan hukum yang berlangsung selama penangkapan dan pemenjaraan beberapa golongan yang terjadi pasca G30S, bagaimana seorang mahasiswa kedokteran bisa menjadi seorang tahanan politik tanpa tuduhan yang jelas dan tidak menjalani proses peradilan. Kedua, penulis yang menekankan tentang status sosialnya sebagai ‘orang biasa’ ternyata mampu menuliskan pengalamannya dengan cara yang sangat menarik dan rinci sehingga mudah dipahami. Sehingga walaupun ditulis orang biasa, namun karya ini bisa dibilang luar biasa.