Beberapa hari yang lalu saya terlibat dalam suatu percakapan yang bisa dibilang ringan namun sebenarnya menjadi sebuah refleksi pemahaman nilai moralitas mereka yang tergabung dalam lingkaran diskusi tersebut. Saya tidak terlalu ingat bagaimana pembicaraan itu bisa tercetus, namun yang menjadi bahan diskusi utama adalah orientasi seksual. Sebenarnya karena saya bisa dibilang adalah anggota baru dan termuda dari lingkungan tersebut, saya memutuskan untuk lebih cenderung menjadi pendengar dan penilai -dalam ruang kebatinan- daripada memberikan pendapat atau lebih tepatnya sanggahan atas sudut pandang mereka.

Dengan laptop di hadapan masing-masing dari kami, pembicaraan bergulir dengan saling menatap lawan bicara dari balik monitor. Saya menangkap beberapa kata kunci dari pembicaraan yang cenderung singkat itu, seperti jantan, feminin, normal, dan tidak normal. Terkadang saya suka agak sebal sendiri karena terlalu sensitif dengan stigma-stigma sosial yang dianggap sebagian orang bukan sebuah material konstruktif namun natural. Saya bisa menjamin mereka itu belum bisa membedakan antara jenis kelamin dan gender.

Jadi intinya untuk semakin memanaskan pembahasan tentang orientasi seksual itu, orang-orang ‘berpendidikan’ itu menambahkan kisah-kisah tentang kerabat mereka yang dianggap ‘nyeleneh’ atau bahkan ada yang sempat menyeletuk ‘tidak normal’. Tentang teman laki-laki mereka yang memiliki kesukaan pada sesama jenis, memiliki penampilan yang tidak seperti laki-laki lainnya, dan lain-lain. Jujur saja saya dongkol dalam hati, maksud saya adalah bayangkan kalau kalian yang diberi cap ‘tidak normal’, apakah bisa kalian terkekeh-kekeh seperti sekarang ini? Saya di sini tidak bermaksud menjadikan diri sendiri sebagai korban yang perlu dibela, namun saya cukup tahu bagaimana rasanya dianggap tidak memenuhi nilai umum masyarakat, dengan ketertarikan saya pada tato dan kesukaan saya pada tembakau. Dan itu sama sekali bukan hal yang menyenangkan.

Mudah memang untuk berkata orang yang memiliki nilai tidak serupa dengan kita adalah tidak normal. Bahkan hampir masing-masing orang memiliki definisinya sendiri akan normal dan tidak normal. Namun pengaruh yang muncul dari pemberian label itu sejatinya lebih menyakitkan dan menentukan. Menentukan di sini adalah bahwa untuk beberapa orang penilaian tersebut mampu mematikan karakter, pola pikir, kreativitas, atau bahkan harapan seseorang untuk hidup. Terkadang kita tidak berpikir sejauh itu, dengan berkelit ‘ah itu kan hanya guyonan’.

Heterogenitas adalah normal, feminin adalah normal bagi perempuan, dan macho adalah normal bagi laki-laki. Siapa yang membentuknya? Kenapa dengan mudah setuju dan menjadikannya sebagai senjata untuk membunuh karakter orang lain?

Di sini saya tidak bermaksud mengharapkan kita semua menganut nilai-nilai permisif absolut, di mana semua hal dianggap tidak bertentangan. Saya masih percaya dengan nilai-nilai moral yang tujuan penerapannya adalah untuk kebersamaan, kenyamanan, kemerdekaan bersama. Misalnya jika pada suatu tempat terdapat ruang yang tidak diperbolehkan penghuninya merokok, maka saya pun tidak akan merokok di tempat itu karena bisa mengganggu kenyamanan dan kemerdekaan orang lain. Sedangkan stigma sosial menurut saya bukanlah suatu aturan yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan komunal tersebut, namun mengizinkan suatu golongan untuk ‘menjajah’ yang lain.

Saya harap para pembaca adalah kalian yang kritis dalam berpikir, walaupun saya tidak bisa menuntut semua orang untuk setuju dengan gerundelan dalam benak saya ini. Namun yang perlu saya garis bawahi adalah bagaimana kita harus mulai mencoba lebih sensitif -tidak melulu tentang percintaan- dalam lingkungan sosial masyarakat. Saya pribadi memiliki orientasi seksual kepada lawan jenis, dan saya tidak tahu bagaimana rasanya jika memiliki orientasi seksual kepada sesama jenis, karena itulah saya tidak mau sok tahu dengan berkata ‘ah, orang itu pasti jadi homo karena trauma atau lingkungan yang buruk’, selain itu saya juga tidak mau sok suci dengan berkata ‘doa orang itu pasti tidak akan diterima karena dia homo’, dan lain sebagainya. Yang lebih saya lakukan adalah -selain tidak semata-mata menjadi penganut permisif absolut- adalah berusaha menghilangkan dikotomi ‘normal’ dan ‘tidak normal’ dalam memandang fenomena sosial dan berusaha berhenti memberikan stigma sosial terhadap siapa pun. Kenapa kata ‘berusaha’ saya rasa perlu dicetak miring? Karena di sini pun saya tidak mengatakan bahwa saya adalah seseorang yang sudah sangat bijak, masih banyak yang perlu saya usahakan dengan sebisa mungkin tidak menyakiti siapa pun juga.